Penulis Syarifuddin Abe
Pada tulisan ini, saya melanjutkan pembahasan tentang humor pandangan Plato. Dari sekian banyak karya Plato, ada satu karya Plato yang membahas tentang cinta dan keindahan, yaitu Symposium (385-370 SM). Dalam Symposium ini, Plato mencoba menempatkan pikirannya dengan wawasan yang tinggi tentang cinta kepada sosok seorang wanita. Ironinya, sosok wanita tersebut justru tidak ada. Dalam sebuah perjamuan dengan tokoh-tokoh terpilih, kepada setiap tokoh tersebut diberi waktu untuk menyampaikan pidatonya, hanya tentang cinta.
Socrates dalam Symposium Plato
Symposium karya Plato ini merupakan dialog yang bersifat filosofis yang mengisahkan tentang sebuah perjamuan. Perjamuan tersebut menghadirkan para tamu yang kemudian secara bergiliran diberi kesempatan untuk berpidato yang isinya tentang pujian terhadap cinta. Dengan imajinasinya atau berdasarkan pengalaman masing-masing tokoh, mulailah dengan pengembaraannya masing-masing menyampaikan arti, makna bahkan pandangannya tentang cinta.
Karya Plato ini juga, boleh dibilang merupakan pemikiran dan wawasan Plato yang memadu tentang seni dan filsafat. Dalam pertemuan itu juga para tamu yang hadir mendiskusikan tentang cinta secara khusus, berkisar dari cinta fisik, tidak hanya sampai di situ, bahkan sampai kepada wawasan dan pandangan yang sangat mendalam tentang hakikat keindahan dan eksistensinya.
Dalam Symposium ini, Plato menghadirkan sosok Socrates sebagai filsuf yang tidak hanya sebagai tokoh sentral dalam diskusi yang dijalankan, melainkan sebagai sosok cinta dan pencari kebijaksanaan. Socrates menjadi sosok yang sangat penting dalam diskusi tersebut bahkan Plato menghadirkannya dalam konsep filosofis yang sangat dalam, bahkan Plato menghadirkannya melalui sebuah perumpamaan dan dialognya. Socrates menjadi pusat dialog yang mengajarkan bahwa cinta merupakan tangga yang menuju ke pemahaman tentang keindahan dan kebaikan. Socrates juga tidak berbicara secara langsung tentang cinta tertinggi, melainkan meneruskan ajaran dari nabiah Diotima. Melalui ajaran Diotima, Socrates menjelaskan dengan detail tentang yang dapat membawa seseorang dari awal tertarik pada tubuh sampai kepada pemahaman yang lebih tinggi dan kepada keindahan dan kebaikan abadi.
Symposium mencoba menjelajahi makna dari cinta atau eros, yang dilakukan melalui serangkaian pidato yang dilakukan oleh bbeberapa orang tamu dalam sebuah perjamuan. Dalam pertemuan itu, setiap tokoh menyampaikan interpretasi dari makna cinta yang dipahami berdasarkan sudut pandangnya masing-masing. Pertemuan itu penuh variasi dalam memandang cinta, dari hasrat fisik hingga cita-cita Paltonis. Symposium mencoba menjelaskan berbagai aspek hubungan manusia serta mengukuhkan makna dari keindahan serta pengetahuan sebagai elemen yang sangat penting dari cinta.
Kurang lebih, ada tujuh tokoh yang hadir dan masing-masing mewakili profesinya. Pertemuan atau perjamuan itu semacam pertemuan persahabatan antar-tokoh yang ada di Athena, mereka kemudian diberi waktu untuk menyampaikan pidato secara spontan. Mereka antara lain ada Socrates yang merupakan filsuf serta guru Plato sendiri. Pausanias, yang merupakan ahli hukum serta kekasih penyair tragedi Agathon, sekaligus sebagai tuan rumah dalam perjamuan itu. Pausanias dalam pidatonya menjelaskan cinta ada dua, yaitu cinta sehat/cinta uranian (cinta surgawi) dan cinta tidak sehat/cinta pandemian (cinta pada umumnya).
Ada juga Phaedrus, yang merupakan bangsawan Athena, juga terkait dalam lingkaran filsuf Socrates. Ia menjadi pembicara yang pertama sekaligus pengagum Socrates. Phaedrus dalam pidatonya memuji cinta dan menganggap cinta sebagai dewa tertua, terkuat, selalu memberi berkat bahkan dapat memberi kehormatan. Selanjutnya ada Eryximachus, seorang dokter, ia memberi pidato yang rinci dan mendetail tentang cinta. Baginya, cinta memberikan keseimbangan dan keteraturan dalam mencapai kesehatan dan harmoni.
Ada Agathon, seorang penyair tragedi, cantik, sangat terampil dalam retorika, sekaligus tuan rumah perjamuan dan dia merupakan istri dari Pausanias. Agathon menyampaikan pidatonya tentang eros yang penuh dengan keindahan dan kelembutan, namun kurang argumentasi filosofis. Pidatonya memukau dan meniru gaya kaum Sofis. Para hadirin perjamuan itu semua memuji karena keindahannya. Agathos menggambarkan eros sebagai dewa termuda yang sangat ideal, penuh kebajikan serta sumber segala kebaikan. Ketika Socrates berkesempatan menyampaikan pidato, secara halus membongkar semua argumentasi Agathos.
Ada Aristophanes, penulis drama komedi terkemuka di Athena. Ia menyampaikan mitos tentang asal-usul cinta. Menurutnya, manusia terbelah menjadi dua dan cinta merupakan sebuah pencarian untuk menemukan belahan jiwa yang hilang. Aristophanes lewat drama komedinya sering menghina dan memperolok-olok Socrates. Ini juga yang membuat Plato sangat marah kepadanya. Selanjutnya ada Acibiades, seorang orator ulung, politikus, negarawan dan seorang jenderal paling terkemuka, licik dan berbahaya di Athena. Ia datang terlambat dalam perjamuan itu, dalam keadaan mabuk, alih-alih dia menjelaskan tentang cinta, namun dia lebih menjelaskan tentang pesona dan hasratnya pada Socrates. Ia memandang Socrates sebagai sosok yang ideal. Acibiades digambarkan oleh Plato sebagai ambiguitas hasrat fisik yang dapat mengarah kepada jalan yang benar, yaitu dalam mencari keindahan sejati atau boleh saja ke jalan yang salah, yaitu dengan kelicikannya ia hanya mengejar nafsu individu.
Eros dan Cinta
Socrates dalam Symposium, oleh Plato dijadikan sebagai sosok yang memimpin diskusi dalam jamuan makan itu, secara khusus membicarakan tentang cinta (eros). Dengan dialeknya, Socrates mengajak para tamu untuk sampai pada sebuah pemahaman yang mendalam tentang cinta. Socrates juga dijadikan sebagai model cinta platonik. Socrates menjadi sebuah perwujudan cinta, berfokus pada aspek intelektual dan spiritual sekaligus. Socrates menggambarkan dirinya sebagai orang yang terlahir dari cinta dan kebijaksanaan. Sebagai pencari kebijaksanaan, Socrates menjadi sosok yang tidak pernah lelah bahkan tidak pernah berhenti sedetikpun dalam mencari dan mendiskusikan kebenaran. Oleh Plato, Socrates dianggap sosok yang mampu menuntun orang lain dalam meraih kebenaran melalui dialektikanya itu.
Eros yang Plato maksudkan dalam Symposium adalah suatu hasrat serta kerinduan sebagai sebuah kebaikan bahkan sebagai keabadian. Eros ini juga mendorong jiwa manusia dalam mencapai kesempurnaan. Eros tidak hanya sebagai cinta sensual atau cinta terhadap fisik, namun eros merupakan kekuatan yang bersifat transenden, melambangkan dorongan kreatif dalam mencari kebenaran dan keindahan sejati.
Dalam filsafat Plato, eros sebagai sebuah hasrat kesempurnaan, merupakan sebuah kekuatan yang dinamis, yang mengarahkan seseorang untuk mencari kesempurnaan, apakah pada seni atau filsafat. Eros juga sebagai jembatan menuju ilahi. Dalam bentuk tertingginya, cinta eros menjadi jembatan yang menghubungkan dunia fana dengan cita-cita abadi. Maka eros merupakan suatu mekanisme kerinduan, ia hadir dari sebuah kesadaran terhadap kekurangan yang dimiliki. Oleh Plato, melalui metode Socrates, eros hadir ketika seseorang menyadari perihal ketidaktahuannya, akibatnya seseorang itu memiliki kerinduan (photos) terhadap pengetahuan.
Eros diakui baik sebagai kekasih erotis, juga menginspirasi kegagahan, keberanian, perbuatan juga sebagai karya agung, bahkan mampu menaklukkan rasa takut alami manusia akan kematian. Eros dianggap melampaui asal-usul duniawinya bahkan mampu mencapai ketinggian spiritual. Peningkatan yang luar biasa dari konsep cinta melahirkankan pertanyaan; apakah makna yang paling ekstrem, mungkin dimaksudkan sebagai humor atau lelucon. Eros hampir selalu dimaknai sebagai cinta, dan kata dari bahasa Inggris ini punya variasi dan ambiguitasnya sendiri yang memberi tantangan dan tambahan dalam memahami Eros di Athena kuno.
Dalam mitologi Yunani, eros merupakan dua makna, dewa cinta dan gairah, oleh bangsa Romawi dikenal dengan cupid. Eros juga dikenal sebagai istilah filosofis dan psikologis, merujuk kepada cinta yang penuh gairah, hasrat bahkan sebuah energi bagi kehidupan. Dalam mitologi Yunani, karena eros sebagai dewa cinta yang penuh gairah dan hasrat seksual, sering digambarkan sebagai pemuda tampan yang memiliki daya tarik (busur dan anak panah) dan membuat siapa saja untuk jatuh cinta. Eros merupakan anak dewi cinta Aphrodite, dalam mitologi juga berasal dari banyak versi ayahnya, termasuk Ares (dewa perang) dan Zeus (raja para dewa). Eros juga dianggap sebagai penyebab kekacauan, karena dianggap sebagai dewa yang usil dan suka membuat kekacauan dengan membuat orang, pahlawan, bahkan dewa lain jatuh cinta di luar kendali.
Eros dalam Symposium, tidak hanya sebagai objek cinta, melainkan tentang seorang kekasih, orang yang dicintai serta berupa tindakan kreatif yang dihasilkan dari sebuah pertemuan antara seorang kekasih dengan orang yang dicintai. Di sini cinta tidak hanya berupa bentuk-bentuk, ada orang lain sebagai partisipan dalam aktivitas mencintai.
Salah seorang peserta, filsuf yang sekaligus pendeta wanita di Yunani Kuno, yang juga sebagai guru Socrates, Diotima. Dialah yang mengajari Socrates tentang cinta yang sangat mendalam. Diotima menjelaskan ada dua jenis eros, yaitu yang lebih rendah dan bersifat fisik atau hamil dalam hal tubuh dan yang lebih tinggi dan bersifat spiritual atau hamil dalam hal jiwa. Maka seseorang akan dapat mencapai eros spiritual yang lebih tinggi dengan memulainya pada eros fisik, eros rendah, lalu secara bertahap dan penuh kesabaran dapat naik melalui yang disebut dengan tangga cinta. Oleh Socrates, menganggap apa yang disampaikan oleh Diotima, eros bukan dewa yang sempurna, tapi sebagai sebuah perantara antara yang fana dan yang abadi, ia tak pernah berhenti menginginkan apa yang tidak dimilikinya, seperti keindahan dan kebaikan.
Humor dalam Symposium Plato
Harus diakui bahwa, banyak filsuf Yunani yang memandang negatif terhadap humor, termasuk Plato. Sebagaimana saya tulis pada tulisan sebelumnya, bagi Plato humor menjadikan orang berperilaku tidak rasional. Kebanyakan humor dilakukan oleh orang yang suka berlebihan. Menurut Plato, segala bentuk yang berlebihan itu perbuatan yang tidak baik, sia-sia. Plato memandang humor sebagai sesuatu yang detruktif, merendahkan bahkan merusak seni, budaya, agama dan moral. Menurut Plato juga, tertawa hanya pantas dilakukan oleh orang-orang berperilaku biadab, maka orang-orang yang beradab sepatutnya menjauhinya.
Dalam Symposium-nya, Plato juga menghadirkan teorinya tentang seni pada metafisikanya, yaitu tentang realitas atau kenyataan (reality) dan penampakan (appearence). Menurut filsafat Plato, pada tingkat tertinggi ada yang disebut dengan kenyataan ilahi, yaitu berupa ide-ide, merupakan bentuk yang paling sempurna dari segala dan berbagai bentuk yang ada di dunia ini. Maka seni menurut Plato, adalah sesuatu yang ditiru (mimesis) dari alam, sedangkan keindahan tertinggi terletak pada dunia ide (eidos), merupakan realitas yang sesungguhnya dibalik penampakan dunia fisik.
Sebagaimana pandangan Plato terhadap komedi (bagian dari seni pertunjukan) yang dianggap negatif, sama dengan seni juga, negatif menurut Plato. Karena seni sebagai hasil tiruan, seperti musik dan puisi, maka menjadi sangat berbahaya bagi jiwa bahkan mengancam akal budi. Seni dapat menjauhkan manusia dari kebenaran dan ide yang ideal. Walaupun Plato mengakui bahwa seni dapat mengarahkan manuisa kepada pemahaman yang lebih dalam, apabila manusia dapat menggunakannya secara lebih baik dan bijak. Dalam teori bentuk (form) yang Plato yakini, realitas berada pada dunia ide, sedangkan dunia fisik merupakan bayangan dari dunia ide itu.
Plato mempertegas, seni hanya meniru dunia fisik atau biasa disebut dengan tiruan tingkat kedua, akibatnya seseorang yang mendalami dan menjiwai dunia seni menjadi semakin menjauhkan manusia dari kebenaran. Seni menjadikan seseorang tidak jujur, karena semakin jauh dari kejujuran, yang terjadi hanyalah meniru. Plato juga sangat khawatir, baginya seni dapat membangkitkan emosi irasional dan mempengaruhi perilaku secara negatif, sehingga dapat merusak akal budi dan karakter moral individu manusia, sebagaimana kritik Plato dalam karyanya tentang puisi dan drama termasuk komedi.
Plato merasa khawatir terhadap seni, karena seni dapat menanamkan nilai negatif, dapat mencitrakan manusia kepada perbuatan yang buruk. Plato takut jika perbuatan buruk tersebut akan mudah ditiru. Demikian juga dengan seni, seni yang buruk akan mudah ditiru dan diikuti masyarakat. Plato mencontohkan karya Homer, lukisan dewa bersama seorang pahlawan di Yunani yang terlibat dalam tindakan tidak bermoral. Kisah-kisah seperti dalam lukisan, komedi, teater, musik, puisi yang menggambarkan keburukan akan mempengaruhi masyarakat untuk menirunya, seperti peristiwa kemarahan dan balas dendam, saling mengejek dengan tawa dan bukan justru menghargai hal-hal yang mengarah kepada kebijaksanaan, kebenaran dan keadilan. Di sinilah Plato mencurigai seni berpotensi akan merusak perkembangan moral dan intelektual seseorang serta dapat merusak tatanan sosial yang ideal.
Dalam Symposium, humor cenderung kritis, walaupun memiliki unsur ironi dalam dialognya, seperti mengejek sekelompok pria yang mabuk. Secara umum, Plato menganggap mentertawakan seorang teman karena keadaan tertentu, merupakan lelucon yang tidak baik (buruk). Sebagaimana pada tulisan sebelumnya, dalam Republik, Plato justru menginginkan dapat lahir sebuah negara yang tidak ada tawa di sana. Hal ini merupakan sikap skeptisnya Plato terhadap humor, baginya humor akan merusak tatanan sosial sekaligus merusak nilai-nilai moral yang ada dalam masyarakat. Bagi Plato, humor atau tawa yang ideal adalah humor atau tawa yang memiliki unsur-unsur bijaksana, kebaikan serta tidak merusak.

























































Leave a Review