Semua yang Kulakukan Hanya Untukmu

Oleh : Eno Malaka

Tubuh manusia terhempas ke udara, kemudian jatuh amat keras ke bumi. Debu dan tanah berhampuran, bertebaran mengenai wajah dan baju mereka, bercampur dengan cairan merah yang mengucur deras dari setiap bagian masyarakat bangsaku. Benda putih runcing menerobos keluar dari setiap anggota tubuh mereka, di kaki, tangan, wajah, dada, hingga kepala. Tidak peduli yang masih kecil, yang sudah agak dewasa, yang sudah dewasa, yang sudah bungkuk dengan bagian atas tubuhnya seolah tertarik gravitasi, tidak ada yang selamat dari ledakan-ledakan itu.

Kembali teringat khotbah Jumat “Jika lebih 37.000 orang yang mati syahid, 70.000 yang terluka, dan dua juta orang terlantar dan tidak mampu membangunkan hati umat ini, apa yang dapat dilakukan oleh kata-kata saya.” Ucap imam agama, dengan kepasrahan yang nampak jelas dari raut mukanya, dengan kemarahan yang terdengar jelas dari sudut matanya, kekecewaan mencuat terang-terangan dari intonasi suaranya, sungguh tidak mungkin ada penderitaan yang melebihi kami Masyarakat Palestina.

Aku sudah tidak merasakan kesakitan yang saudara-saudaraku alami, aku juga mengalami hal yang sama. Selama 18 bulan aku keliling wilayah Palestina, semata-mata untuk meliput penderitaan kami dan mengabarkan pada dunia bahwa kami memang menderita. Keahlianku adalah menulis, karena masih muda, tubuhku juga sangat cekatan. Kegesitanku bukan karena aku dari kalangan militer, aku dan banyak yang seusiaku sejak kecil sudah terbiasa berlari, menghindari kejaran pasukan kejam. Karena keahlianku, kemudian aku direkrut sebagai peliput berita.

Namun seperti yang sudah aku sangka-sangka, aku kemudian dituduh sebagai seorang penembak jitu di Batalyon yang mereka anggap teroris. Sungguh aku tidak mengerti maksudnya, apakah penaku sangat tajam sampai disamai dengan peluru, atau apa yang aku tulis adalah kejujuran yang terlalu pahit untuk mereka. Entahlah, namun sejak saat itu aku menjadi buronan.

Kehidupanku menjadi penuh terror sejak saat itu, awalnya rumahku digusur, restoran keluargaku juga dihancurkan, 30 anggota keluargaku juga menghilang. Mereka pasti tidak sekedar hilang, tapi pasti dimusnahkan atau dijadikan bahan eksperimen seperti banyak warga negaraku lainnya. Aku tahu bangsa bejat itu punya pabrik kulit manusia, mungkin kesanalah masyarakat bangsaku yang hilang sekarang berada.

“Wahai prajurit Tuhan, di surga tidak ada tempat untuk kesedihan.”

“Ini bukan kesedihan, wahai Malaikat. Kami tidak pernah bersedih, kami berjuang untuk Tuhan dan negara dengan suka cita.”

“Wahai prajurit Tuhan, di surga tidak ada tempat untuk kemarahan.”

“Ini bukan kemarahan, wahai Malaikat. Kami yang berjuang atas nama Tuhan, tidak berperang dengan kemarahan.

“Wahai prajurit Tuhan, di surga tidak ada tempat untuk kabar-kabar mengerikan”

“Ini bukan kabar mengerikan, wahai Malaikat. Apa yang aku sampaikan adalah kebenaran.”

“Wahai prajurit Tuhan, di surga tidak ada tempat untuk ketakutan.”

“Ini bukan ketakutan, wahai Malaikat. Kami yang jiwa dan raganya untuk Tuhan dan Negara, sudah kehilangan rasa takut bahkan sejak pertama kali paru-paru kami menyapa udara”

“Maka sebarkanlah salam Tuhan untuk mereka. Sebentar lagi, mereka pasti bahagia.”

Kami adalah Masyarakat paling bersyukur di muka bumi, hal-hal sederhana membuat kami bahagia. Kami hidup dengan damai, saling memandang manusia sebagai suadara belaka. Itulah mengapa saat kami melihat banyak keluarga datang, mereka diusir dari tanah mereka di Jerman dan kerepotan menjadi buronan tentara, kami menerima mereka dengan sukacita. Memberikan pertolongan, menawari bantuan, menjanjikan perlindungan, hingga memberikan mereka kesempatan untuk sementara menetap hingga keadaan aman.

Namun orang asing tetaplah orang asing, mereka yang sejak awal berada di luar haruslah tetap di luar. Aku tahu mereka sangat cerdas, melampaui kami penduduk asli tanah para Nabi. Malapetaka datang tak disangka-sangka, mereka yang datang dengan paras kasihan, tubuh kurus kulit terbungkus tulang, wajah lelah kepucatan, sekarang menjelma mengerikan, tangan mereka mematikan dan setiap hari diletakan di atas kepala dan pundak masyarakat bangsaku.

“Aku minta maaf atas umatku, wahai prajurit Tuhan.”

“Ini bukan salah anda wahai kekasih Tuhan, Musa. Aku tahu dulu anda juga kerepotan mengatasi mereka.”

“Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiran mereka. Dulu Tuhan memerintahkanku menguasai sebuah tanah, aku dan umatku harus merebut dari bangsa yang jahat. Umatku menentangku, mereka tidak mau berperang denganku. Sekarang mereka dengan percaya diri mengatakan bahwa, tanah kalian adalah milik mereka. Sungguh aku merasa bersalah atas nasib kalian.”

“Ini bukan salah anda wahai kekasih Tuhan, Musa. Engkau adalah penerima kemuliaan Tuhan, tidak ada yang menerima kemuliaan seperti yang Tuhan percayakan padamu. Sungguh ini bukan kesalahanmu.”

“Berbahagialah kamu wahai prajurit Tuhan, telah datang berita dari Tuhan padaku. Kemenangan kalian akan segera datang. Semua yang berjuang atas nama Tuhan akan ke surga. Aku sendiri yang akan datang menyambut masyarakat bangsamu.”

Selama menjadi buronan aku selalu siap menghadapi kematian, aku yakin bahwa cepat atau lambat pasti itu akan datang. Aku terus berkeliling, menulis berita dengan sejujur-jujurnya dan mengabarkan pada semua manusia. Drone, tank, prajurit-prajurit kejam, menjadi pemandangan setiap hariku. Entah karena suatu firasat, aku kemudian menuliskan sebuah surat wasiat. Aku selalu membawah surat itu di saku bajuku.

Saat genjatan senjata, Masyarakat bangsaku menerima dengan tangan terbuka. Para prajurit melepaskan tawanan mereka, para tawanan merasa nyaman ditawan prajurit bangsaku. Kondisi awalnya berjalan dengan baik, hingga peluru, misil, dan serangkaian bom dikerahkan di atas kami. Sebuah surat kabar menyebutkan, bahwa teroris negaraku mencoba menyerang. Bahkan tidak ada teroris di negaraku.

Ini kabar bohong, jelas kabar bohong. Semua yang sudah ditandai termasuk diriku langsung diburu. Tanpa ampun, pemukiman-pemukiman menjadi sasaran, rumah sakit tidak luput, masjid-masjid tinggal puing-puing, sekolah luluh lantak, hancur berkeping-keping. Tempat-tempat itu dihancurkan, dengan dalih sebagai tempat persembunyian teroris. Aku yang waktu itu sedang dalam perjalan meliput berita, tanpa peringatan sebuah bom jatuh ke atas mobilku. Ledakan tidak terelakan, aku pergi ke surga seketika.

“Apa yang kau tunggu, wahai Prajurit Tuhan. Masuklah ke dalam, jangan hanya berdiri di gerbang. Di dalam surga banyak keindahan”

“Apakah aku pantas, bersenang-senang Malaikat. Sedangkan masyarakat negaraku menderita?”

“Kamau adalah manusia yang baik, meski bukan prajurti manusia namun Tuhan sudah menjadikanmu prajurit-Nya. Apa yang kamu perjuangan akan menjadi inspirasi bagi yang masih hidup.”

“Aku merasa sangat berdosa, Malaikat. Tidak banyak yang bisa aku lakukan.”

“Hentikanlah penyesalanmu, wahai prajurit Tuhan. Yang seharusnya berdosa adalah mereka, yang melihat saudaranya menderita namun tidak melakukan apa-apa. Bahkan sekedar untuk berbicara, mereka enggan mengeluarkan suara.”

“Baiklah, Malaikat. Tapi katakan, dengan apa aku membantu yang masih hidup.”

“Suratmu akan dibaca, kalimat-kalimatmu akan tersebar ke seluruh dunia.”

“Baiklah, aku akan masuk Malaikat.”

Pintu-pintu dibuka, para penjaga berbondong-bondong, berbaris sepanjang jalur sang prajurit Tuhan. Dengan takzim pebuh kehormatan, mereka berseru.

“Salamun’alaikum tibtum fadkhuluha khalidin.”

“Jika Anda membaca ini, itu berarti saya telah dibunuh. Kemungkinan besar menjadi sasaran, oleh psaukan Israel. Saat ini semua dimulai, saya baru berusia 21 tahun. Seorang mahasiswa dengan Impian seperti orang lain. Selama 18 bulan terakhir, saya telah mendedikasikan setiap momen hidup saya untuk rakyat saya. Saya mendokumentasikan kengerian di Gaza utara, menit demi menit. Bertekad untuk menunjukan pada dunia kebenaran yang mereka coba kubur. Saya tidur di trotoar, di tenda, di manapun saya bisa. Setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup. Saya menahan lapar selama berbulan-bulan, tetapi saya tidak pernah meninggalkan keluarga saya. Demi Tuhan, saya telah memenuhi tugas saya sebagai jurnalis.”

Salam Hormat

Hossam Shabat

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi