Mengapa Tak Ada Yang Mengajariku Tuk Memaafkan

Oleh Eno Malaka

Seorang laki-laki berhasil menangkap tangan kiriku, tubuhku bergelantung di tepi jembatan layang. Apakah aku akan gagal bunuh diri lagi, mengapa selalu saja begini. Aku mendongak ke atas, laki-laki itu mempunyai ekspresi yang tenang dan hanya tersenyum memandangku. Aku seketika memberontak, kugoyang-goyangkan tubuhku agar cengkraman laki-laki itu melemah dan akhirnya melepaskan genggamannya. “Lepaskan, lepaskan.” Teriakku. Laki-laki masih dalam ketenangan yang mengagumkan, seolah tubuhku terlalu ringan bagi dirinya. Aku terus memberontak, sambil terus bergumam ayolah biarkan kali ini berhasil, aku lelah atas kehidupan ini.

Tangan kiriku terasa sakit, sendi di tangan kiriku seolah tertarik ingin lepas. Aku kemudian berpegangan ke tepi jembatan menggunakan tangan kananku sebagai bantuan menopang tubuhku, kembali aku mendongak ke laki-laki itu. “Mas biarkan aku bahagia, tolong lepaskan aku.” Sesuatu yang hangat keluar dari mataku, terasa menyakitkan, padahal sebentar lagi aku mencapai tujuan hidupku selama ini. Laki-laki itu masih membisu, wajahnya masih tenang dan hanya tersenyum.

Laki-laki itu kemudian menyusulkan tangan kirinya, sekarang kedua tangannya sempurna memegangi tangan kiriku. Aku sudah tidak kuat bergelantungan, kususulkan tangan kananku hingga kedua tangan kami saling berpegangan. Dia kemudian menarikku dalam satu tarikan nafas. Sempurna sudah, aku gagal bunuh diri untuk yang ketiga kalinya.

“Kenapa harus menyelamatkanku Mas?” aku terisak dengan tubuh yang terlentang di atas jempatan. Mengapa nasib buruk selalu datang padaku, kehidupan mengutukku dan kematian juga mengutukku. Setan-setan di neraka pasti kecewa juga kali ini, mereka sudah gagal menonton orang yang disiksa dengan terjun dari gunung-gunung neraka untuk selama-lamanya. Aku menutup mataku dengan punggung tanganku, aku malu melihatkan wajah yang sudah ditolak kehidupan dan kematian.

“Apakah kamu gagal mencari makna hidup?” ucap laki-laki itu. Ia berdiri dengan tenang, lantas mengambil rokok dari saku jasnya. Dia kemudian duduk di satu sisi jembatan dengan kedua lutut ditekuk ke atas, dia memandang ke arahku. Aku mengusap air mataku dan beranjak duduk, aku hendak protes kepadanya.

“Kenapa kamu mencampuri urusanku? Kamu sudah merenggut kebahagiaanku.” Wajah dan mataku merah padam. Tidak adakah yang bisa mengertiku, aku hanya ingin bahagia.

“Kebahagiaan? Apakah menurutmu kamu bisa bahagia dengan cara seperti itu?” Aku merasa aneh dengan orang ini, padahal dia habis menyaksikan adegan bunuh diri. Seandainya dia gagal meraih tanganku tadi, maka dia akan melihat daging-daging berserakan di jalan raya. Namun laki-laki ini tetap tenang, sambil terus merokok seolah-olah tidak ada kejadian yang besar.

“Tentu saja, hanya dengan cara ini aku bahagia. Tidak ada lagi kesempatan untukku bahagia, selain dengan cara ini.” Aku galak membentak.

“Lantas bagaimana kamu akan mengabarkan bahwa kamu bahagia?” Ucapnya.

“Aku tidak butuh kebahagiaanku tersebar, memangnya siapa yang harus tahu aku bahagia?” Aku membantahnya.

“Entahlah, mungkin orang tuamu?”

Ternyata dia hanya laki-laki yang tidak tahu apa-apa. Semua rentetan usaha bunuh diriku, justru bermula dari orang tuaku.

Aku lahir dari keluarga yang berkecukupan, dengan kedua orang tua yang sangat sangat sangat egois. Mengapa aku harus menjadi anak yang pintar, hingga selalu dibangga-banggakan orang tua. Sejak sekolah dasar aku iri dengan teman-temanku, mereka selalu sederhana dalam menanggapi masa-masa sekolah. “Ngga papa ngga ranking, yang penting naik kelas.” Sungguh menyenangkan punya prinsip hidup seperti itu. Tidak perlu takut jika nilai di raport turun, tidak perlu ada omelan yang menyalahkan waktu mainku jika aku tidak peringkat, juga tidak ada yang menghinaku jika aku gagal meraih prestasi. Kesempatan sebagai bocah perempuan yang bahagia sudah sirna, saat itulah waktu kelas lima sekolah dasar, percobaan bunuh diriku yang pertama dimulai.

Aku berjalan ke kamar mandi membawa gelas kaca besar, aku memasukan pembersih pakaian ke dalamnya dan kuguyur dengan air secukupnya. Setelah mengaduknya, aku menenggak campuran itu. Setan-setan di neraka pasti sedang bahagia, sebentar lagi mereka akan menyaksikan tontonan yang menarik. Manusia yang dihukum meminum cairan neraka terus menerus tanpa henti, dan akan kekal didalamnya. Rasa pahit mencuat dari leherku, tenggorokanku juga perlahan terasa panas. Sesuatu seperti bergejolak diperutku, aku merasa perutku seperti panci dengan air mendidih bergelembu-gelembung dan ingin naik ke atas. Aku berjalan sempoyongan dari kamar mandi, kepalaku terasa berat dengan pandangan mulai kabur. Aku sampai di ruang keluarga, orang tuaku sedang duduk berdua di sana. Mereka menolah saat aku datang, hoeekkk aku muntah dengan hebat, dan seketika ambruk. Kedua orang tuaku dengan gerakan cepat menghampiriku, mereka meraihku. Aku bisa melihat cairan yang aku muntahkan, berwarna kekuningan dengan aroma busuk, mungkin itu asam lambungku.

Ayahku membalikan badanku, tangannya menopang kepalaku. Aku melihat kepanikan dari wajahnya, juga ibuku yang di samping kananku. Busa-busa putih terus keluar dari mulutku. Aku terus mengeluarkan muntah, tenggorokanku panas, perutku sakit dan perih, sungguh ini sangat tidak nyaman. Harusnya aku bisa bahagia karena ini, mengapa malah menyakitkan. Aku berhasil dibawa ke rumah sakit. Setan-setan di neraka jelas kecewa, mereka gagal mendapatkan tontonan yang menarik. Setelah aku pulih, aku menghadapi kengerian yang lain. Aku disidang ayah dan ibuku, aku dianggap sudah sesat, dan tidak tahu diuntung. Bukankah agama mengajari manusia agar memperoleh kebahagiaan, bukankah itu tujuan manusia beragama? Lantas salahku dimana jika aku sedang mengusahakan kebahagiaanku? Sejak saat itu rumah menjadi penjara.

“Orang tuaku tidak ingin aku bahagia, mereka hanya ingin aku sukses dan bisa dibangga-banggakan.” Aku melotot kepadanya dan pecah tangisku. Laki-laki itu dengan ketenangan yang tak tergoyahkan kembali menghisap rokok dan menghembuskannya.

“Bukankah sukses dan bisa dibanggakan merupakan suatu kebahagiaan?” Ucapnya.

“Tahu apa kamu tentang bahagia, bagiku itu bukan kebahagiaan. Aku tidak butuh itu semua. Aku hanya ingin bahagia.” Aku kembali protes.

“Lantas seperti apa kebahagiaan menurutmu, apakah dengan mati kamu yakin bisa melihat dirimu bahagia?”

Tidak terpikirkan di benakku hal itu, apakah dengan mengakhiri hidup aku bisa bahagia? Selanjutnya dengan cara apa aku bisa melihat diriku bahagia? Aku mulai menganggap laki-laki di depanku adalah orang yang bijak, seolah-olah dia mengerti tentang tindakan-tindakanku.

“Kematian selalu membawa kesedihan, jika tidak orang tuamu bagaimana dengan teman-temanmu. Mereka tidak akan bahagia melihatmu mati.”

“Tahu apa kamu tentang teman-temanku, aku bahkan tidak punya teman. Mereka adalah sumber penderitaanku yang lain.”

Ternyata dia hanya laki-laki yang tidak tahu apa-apa.

Justu teman-temanku adalah penambah luka dalam hidupku. Setelah usahaku yang pertama gagal, kehidupanku penuh aturan yang ketat. Jam keluar rumah selalu dibatasi, berangkat sekolah harus diantar pulang juga harus dijemput. Setiap hari aku hanya belajar, belajar, belajar dan menerima ceramah dari kedua orang tuaku. Pernah suatu hari aku main dengan temanku, waktu itu sekolah menengah pertamaku pulang cepat. Kami main ke warnet, satu jam terlewat dengan aku dan temanku tertawa melihat video-video lucu. Aku sangat bahagia waktu itu, hingga wajah gahar ayahku muncul dari balik tembok. “NGAPAIN DI SINI, CEPAT PULANG. HEH ANAK SETAN JANGAN SEKALI-KALI KAMU BAWA ALEA KE TEMPAT INI LAGI. KALAU PERLU JAUHI DARI ALEA.” Aku seperti dimarahi setan, aku melihat temanku ketakutan dituding ajahku dengan jari telunjuk. Aku melihat dia terisak. Sungguh malang temanku, padahal karena dia aku sedikit merasakan kebahagiaan. Sekarang konsekuensi dari memberiku sedikit kebahagiaan, adalah kemarahan ayahku padanya. Pengunjung warnet menjadi heboh, aku segera diseret ayahku pulang. Berita itu cepat menyebar dan selama tiga tahun masa sekolah, aku dijauhi anak-anak seusiaku. Mereka takut jika kemalangan dalam bentuk kemarahan ayahku menghampiri mereka. Aku masih harus belajar setiap hari, nilai-nilaiku selalu paling tinggi. Ayah dan Ibuku, sangat membanggakanku dan menyebutku sebagai anak baik yang cerdas.

Apa artinya menjadi anak yang baik dan cerdas? Itu tidak membawa kebahagiaan padaku. tiga tahun kulewati tanpa pertemanan, hingga aku masuk sekolah menengan atas. Karena nilaiku, aku masuk di sekolah favorit, gudangnya anak-anak berprestasi. “Semangat ya Nduk, kamu harus lebih pintar dari teman-temanmu yang lain. Sekolahmu diisi anak-anak dokter, anak DPR, anak Gubernur, anak Menteri. Kamu harus kalahkan mereka.” Ucap ayaku saat pertama kali tahu aku lolos masuk sekolah favorit itu.

Anak-anak itu memang dari kalangan yang terhormat, orang tua mereka sangat terpandang secara sosial maupun intelektual. Namun itu bukan jaminan bahwa mereka mengikuti jejak orang tuanya. Justru usaha bunuh diriku yang kedua disebabkan oleh mereka.

Aku tidak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan orang baru, otot-otot di tubuhku tidak mempunyai memori bagaimana berinterkasi dengan orang lain. Aku akhirnya bergaul secara serampangan, apapun aku lakukan untuk menyenangkan teman-temanku. Tujuanku hanya satu, diterima dalam lingkaran pertemanan mereka. Kemudian aku kenal dengan Dio, dia seangkatan denganku. Ayahnya seorang kepala bagian Direktorat pajak. Kami cepat akrab, personanya memang mudah bergaul dengan siapa saja. Aku nyaman dengannya, dan dia juga nyaman denganku, setidaknya itulah yang kupikirkan. Berkat dia aku kemudian punya banyak teman, aku dibawa ke lingkaran pertemanannya.

Penderitaan terasa menguap dari hidupku, aku bersama Dio dan teman-temannya banyak menghabiskan waktu bersama. Awalnya hanya saat di sekolah, lalu sepulang sekolah hingga sore hari. Aku selalu beralasan kerja kelompok, ayahku juga tidak mempermasalahkan hal itu. Setiap hari Dio mengantarku pulang, sesekali dia juga ngobrol dengan ayahku. Dengan bahasa yang sopan dan tindak tanduk yang berwibawa, ayahku terkesan padanya. Iblis memang bisa berubah menjadi sosok yang indah. Suatu hari setelah pulang sekolah, aku diajak Dio dan teman-temannya. “Ayolah ikut kita jalan-jalan. Besok dua hari akhir pekan, kita bisa liburan di villaku.” Ajaknya padaku. “Aku pasti dimarahi ayahku.” Aku masih takut dengan ayahku, meski dia percaya dengan Dio.

“Nanti aku yang minta izin ke ayahmu, kita bilang aja mau mengerjakan proyek kelompok untuk tugas sekolah. Ayahmu pasti ga akan marah.” Dio benar, ayahku tidak marah saat Dio minta izin. Ayahku justru senang, akhirnya aku punya teman yang baik. Seorang anak dari keluarga terpandang pasti hidup dengan bermartabat pikir ayahku.

Malapetaka datang tak disangka-sangka, saat di vila ternyata Dio dan teman-temannya mabuk-mabukan. Mereka asik bercanda dengan formasi melingkar, gelas terus berputar dari satu tangan ke tangan yang lain. Awalnya aku selalu melewati jatahku, namun semakin lama kesadaran mereka semakin kabur, aku kemudian dipaksa minum dan menurutinya. Dunia seolah berputar di kepalaku, namun uniknya aku merasa enteng dan justru mulai menikmatinya. Ternyata mabuk seenak ini. Tidak hanya minuman, salah satu teman kemudian mengambil lintingan-lintingan seperti rokok. Walaupun bukan perokok aku tahu, rokok yang dia bawa bukan yang dijual di toko-toko. “Ayahku dapat ini dari penjara. Katanya ini jatah bagiannya. Ayo kita isep, ini lebih enak dari minuman.” Ayahnya seorang kepala kepolisian dari salah satu Polres.

Karena sudah terbuai nikmatnya efek minuman, aku tidak mau ketinggalan tawaran kenikmatan yang melebihi minuman. Aku akhirnya mencobanya, dan betul saja tubuh menjadi lebih enteng, aku terbuai dalam kenikmatan. Akhirnya aku bisa merasakan kebahagiaan, gumamku dalam hati.

“Ada yang lebih nikmat dari minuman dan menghisap itu.” Dio berbisik kepadaku.

“Apa itu?” .

“Kamu mau?”

“Mau-mau” aku mengangguk cepat, tidak mungkin aku menolak kenikmatan. Jika minuman dan menghisap saja sudah nikmat, apalagi jika ada sesuatu yang lebih nikmat dari itu.

Aku meraih tangannya yang terulur, dia membawaku ke salah satu kamar. Pakaian kami mulai tanggal satu persatu hingga tidak ada yang tersisa. Bergumul lah kami dalam satu kenikmatan yang hebat. Aku terbangun dalam kondisi lemas dan kepala pusing, tubuhku tidak berpakaian. Akhirnya liburan kami selesai, kami pulang dengan kondisi bahagia.

Bulan berikutnya sudah waktunya aku datang bulan, namun ternyata aku tidak mengalaminya. Aku cuek saja, mungkin jadwalnya mundur. Selama beberapa hari kebelakang, aku memang sibuk belajar dan mempersiapkan diri untuk olimpiade matematika, stress dan kurang tidur pasti mempengaruhi hormonku. Namun entah mengapa hingga pertengahan bulan, aku tidak kunjung datang bulan dan justru aku sering mual-mual. Aku mengabarkan kondisiku ke Dio, kami akhirnya ke rumah sakit untuk mengecek kesehatanku. Ternyata aku hamil. Berita itu mengguncangku dan Dio.

Mau ditaruh dimana muka terhormat ayah Dio, juga akan seperti apa reaksi ayahku. Kami kelimpungan dan panik, akhirnya terbesit ide untuk menggugurkan kandunganku. Dio mengatakan akan selalu di sampingku, dia berjanji akan menikahiku setelah tamat sekolah. Sekarang yang terpenting adalah nama baik keluarga dan sekolah kami. Kandunganku akhirnya digugurkan. Setan-setan di neraka sedang membuat dua bangku di sana. Mereka pasti senang, akan datang dua teman baru mereka.

Berita kehamilanku tidak pernah menyebar, Dio membungkam pihak dan nama baik Ayahnya terselamatkan, ayahku juga tida tahu. Namun sejak itu Dio berubah, dia menjauhiku. Teman-temannya juga menjauhiku. Pandangan mereka seperti jijik padaku, sampai aku tidak tahan dengan sikap mereka. Suatu hari aku nekat menemui Dio, aku minta penjelasan atas sikapnya dan teman-temannya.

“Lepaskan tanganku perempuan jalang.” Dio mengibaskan tangannya, genggamanku terlepas dari pergelangan tangannya.

“Apa maksudmu?”

“Kamu itu perempuan jalang, murahan, lonte.”

“Tapi kamu bilang……”

“Hei dengarkan aku yah, mulai sekarang jangan dekati aku lagi. Kamu itu murahan.”

Aku jatuh terduduk, sesuatu yang hangat menerobos keluar dari mataku. Aku melihat punggungnya menjauh dariku. Hari-hari yang aku lalui menjadi suram, semua anak memandangku sebagai perempuan jalang, perempuan murahan. Hingga suatu hari saat pelajaran olahraga, waktu itu materi lempar lembing. Terbesit di benakku untuk mengakhiri hidup. Aku memegang salah satu lembing, aku goreskan ke pergelangan tanganku. Tidak terlalu susah melakukannya, ujung lembing selalu lancip dan tepinya juga tajam. Aku sukses mengiris pergelangan tanganku dan darah keluar dengan deras.

Setan-setan di neraka pasti sedang senang. Sebetar lagi mereka akan menyaksikan tontonan yang menarik, seorang manusia akan memotong terus tangannya tanpa henti dan kekal di sana. Lapangan menjadi heboh, guru olahraga segera membopongku ke UKS. Ambulans di datangkan, dan aku selamat. Ternyata yang aku iris bukan pembuluh nadi. Orang tuaku dikabari bahwa anaknya kecelakaan, tidak sengaja terkena lembing yang sedang melayang. Reputasi sekolah jelas yang utama. Setelah peristiwa itu aku semakin dijauhi teman-temanku, Perempuan jalang yang gila.

“Baiklah. Jika bukan orang tuamu atau teman-temanmu, bukankah kamu masih punya Tuhan?” Laki-laki itu tetap dalam ketenangan yang mengagumkan, dia sudah mengganti rokoknya.

“Tuhan tidak adil padaku, Dia jahat. Mengapa takdirku sangat buruk, mengapa aku selalu saja menderita. Hidupku tidak ada artinya”

“Bukankah hidup memang tidak ada artinya? Kehidupan selalu tidak punya makna yang pasti, tugas manusia lah yang harus menciptakan makna itu.”

“Aku sudah berusaha mencari makna hidup, tapi tetap saja menderita.” Pecah tangisku. Jembatan layang lengang, hanya suara tangisku yang terdengar. Setelah sekitar sepuluh menit, laki-laki itu menyodorkan sapu tangan. Aku mengusap air mata dengan itu.

“Hidup memang aneh, selalu penuh hal-hal tidak terduga, semuanya serba tidak pasti. Tak ada makhluk hidup yang terhindar dari itu semua, itulah mengapa kita harus melawan. Semakin melarikan diri dari kehidupan, justru semakin kita ditenggelamkan olehnya. Bukankah kamu sudah merasakannya sendiri, rasanya melarikan diri dari kehidupan?”

Tangisku mulai mereda. Entah mengapa ucapannya terasa terang Seolah dia mengerti betul tentang ketidakpastian kehidupan.

“Mengapa kamu tidak mencoba menyembuhkan diri?” Tanyanya.

“Dengan cara apa?” Aku akhirnya berbincang dengannya, setelah beberapa lama hanya membatah kalimatnya.

“Pendidikan dan cita-cita. Itu selalu menyembuhkan.”

“Justru karena mengejar cita-cita, aku semakin menderita.” Kembali aku membantahnya.

Ternyata dia hanya laki-laki yang tidak tahu apa-apa.

Cita-citaku adalah menjadi pakar kejiwaan. Aku ingin semua orang bahagia, Aku tidak mau hal buruk yang terjadi padaku juga terjadi pada orang lain. Aku memutuskan melanjutkan studiku di Universitas. Aku berhasil masuk ke Universitas terbaik, nilai dan prestasi sekolahku melancarkan semuanya.

Kehidupan di Universitas jauh berbeda di sekolah menengah, kehidupan di sini sedikit lebih bebas. Kedua orang tuaku juga tidak seketat sebelumnya, mereka memandangku sebagai perempuan dewasa sekarang. Tahun-tahun pertama kuliahku berjalan dengan baik, pengetahuan tentang psikologi manusia banyak membantuku. Aku mulai punya teman, dan tidak lagi memandang hidup dengan kacamata kesedihan. Aku seperti sedang rawat jalan.

Hingga datang waktunya aku menuntaskan tanggung jawabku sebagai mahasiswa, menyelesaikan skripsi. Aku mendapatkan dosen pembimbing satu dan dua yang baik Pak Karta dan Bu Lis. Aku banyak dimbing tentang bagaiman observasi yang baik, penelitian yang efektif dan penulisan skripsi yang benar. Namun Iblis bisa merubah dirinya menjadi sosok yang indah.

Pak Karta sudah menikah dan punya dua anak, usianya sekitar 50 tahun. Dia bugar dan cerdas bukan main, banyak mahasiswa mengidolakannya. Saat bimbingan skripsi aku dibuat kagum atas wawasannya. Sampai suatu hari saat bimbingan bab empat.

“Alea. Maafkan Bapak, hari ini banyak agenda yang harus Bapak urus.” Balasnya melalui pesan daring.

“Oh baik, Pak. Kalo besok apakah bisa Pak?” Lima menit menunggu

“Besok juga tidak bisa, seminggu ini Bapak Full.”

“Duh gimana ya Pak. Saya harus cepat-cepat mengejar wisuda bulan depan.” Tiga menit menunggu.

“Atau gini aja, nanti malam sekitar pukul 22.00 Bapak sudah free. Tapi karena lokasi acara di hotel, kamu kesini saja ya. Nanti Bapak kasih nomor kamar Bapak.”

“Baik, Pak. Nanti malam saya menemui Bapak di hotel.”

“Oke siap ditunggu.”

Tanpa curiga aku mengiyakan ajakannya, Pak Karta terkenal bermartabat dan penuh kesalehan. Ibadahnya tidak pernah bolong, bahkan dia tidak mau salaman langsung dengan tangan mahasiswi. Aku sampai di hotel sekitar pukul 21.30, aku tidak mau terlambat karena itu tidak sopan. Aku sudah memberikan kabar kepada Pak Karta dan sudah mendapatakan nomor kamar Pak Karta. Aku menunggu di loby sekitar 40 menit.

“Silahkan Alea.” Pesan daring dari Pak Karta.

“Baik, Pak.”

Aku segera naik lift dan menuju kamarnya, kuketuk dan menyampaikan salam. Beliau membukakan pintu dan menyambutku.

“Silahkan Alea.” Kami bersalaman dengan menyatukan telapak tangan masing-masing di depan dada. Kami bukan muhrim

“Silahkan duduk Alea.”

“Baik, Pak. Terima kasih.”

Kusodorkan berkas skripsiku yang sudah dicetak, Pak Karta membacanya dan membolak-balik tiap halaman.

“Oke ini kurang data, teorimu kurang masuk di sini.”

Aku takzim memperhatikan dan mencatatnya.

“Oh ya ini ada minuman dan makanan ringan, teman Bapak dari Jepang yang membawanya. Silahkan dinikmati.”

“Baik, Bapak. Terima kasih.” Aku mengangguk.

Sungguh Pak Karta orang baik, dia menuangkan minuman itu dalam gelas dan menyodorkannya padaku. Aku menerimanya dan meminumnya. Pak Karta melanjutkan koreksinya.

“Ini kurang penjelasan kasusmu, ini kurang penjelasan objekmu, ini kurang…….”

Aku ambruk tidak sadarkan diri. Aku membuka mata dan terbangun di ranjang hotel, aku mendapati diriku dalam kondisi telanjang. Aku menoleh ke samping, terbaring sosok yang juga telanjang, Pak Karta. Aku berteriak histeris.

“Pak kenapa ngelakuin ini ke saya?”

“Kamu yang minta dan memaksa saya Nduk.”

“Bapak bohong. Saya ga mungkin melakukan itu, saya segan sama Bapak. Saya tidak mungkin bersikap lancang seperti itu.”

“Sudahlah, jangan dianggap ini serius. Semua sudah terlanjur, saya sudah punya foto-foto kita. Jika ini tersebar maka yang rugi kamu, saya punya reputasi yang baik di kampus. Saya tinggal bilang dijebak dan dipaksa kamu, maka semua orang akan percaya saya.”

“Bapak Jahat.” Aku terisak.

“Sudahlah, skripsimu sudah saya acc. Kamu bisa wisuda bulan depan.”

Aku buru-buru menghalau tangannya yang mau membelai kepalaku, aku menamparnya. Aku segera mengambil berkas skripsiku, mengenakan pakaianku dan lari keluar kamar meninggalkannya.

“Heyy mau kemana mahasiswi jalang.”

Hidupku sudah sangat berantakan, tidak ada gunanya aku hidup. Aku bergumam dan berjalan seperti orang linglung di trotoar. Jalanan masih ramai oleh kendaraan, aku melihat ke arah jam di salah satu gedung, tertera 02.00. Udara mulai dingin, aku menaiki jembatan penyebrangan. Di bawahnya adalah jalan tol, kendaraan sangat ramai di sana. Aku jalan di jembatan itu dengan hati dan pikiran kosong, hingga terbesit di kepalaku untuk melompat. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku memutuskan untuk melompat. Seandainya tidak ada laki-laki ini, aku pasti sudah bahagia.

“Betulkah demikian, mengejar cita-cita membuatmu lebih menderita?.”

Aku hanya mengangguk dan menunduk. Dia tetap dengan ketenangan yang mengagumkan, rokoknya sudah diganti lagi.

“Sekarang coba dengarkan aku, kamu menderita karena kedua orang tuamu tidak mengerti dirimu. Lalu kamu tambah menderita, karena salah memilih lingkaran pertemanan. Penderitaanmu juga bertambah lagi, karena dikhianati orang yang kamu anggap saleh dan kamu kagumi. Betulkah?”

Aku hanya mengangguk dan masih menunduk. Laki-laki di depanku memperbaiki posisi duduknya, dia menurunkan lututnya dan sekarang duduk bersila.

“Sekarang coba kita telaah, seandainya kamu tidak menganggap sikap orang tuamu itu buruk apakah kamu akan menderita. Alih-alih menganggapnya sebagai kekangan, justru kamu menganggap sikap orang tuamu adalah bentuk pembebasan untukmu. Pembebasan dari kemungkinan kamu bodoh di masa depan.”

Aku mengakat kepalaku dan memandangnya, entah mengapa kalimatnya terdengar menarik.

“Lantas lingkaran pertemananmu. Jika dari awal kamu mematuhi ayahmu, dan mencoba dekat dengannya, apakah kamu masih membutuhkan perhatian laki-laki lain?”

Aku mulai memperbaiki posisi duduk ku.

“Jika sejak awal kamu menerima dunia yang absurd, apakah kamu masih menganggap hidup tidak adil. Jika sejak awal kamu mencoba mengalahkan hidup dengan menjalani semua keabsurdannya, serta menempuh jalan yang bermartabat, apakah ada laki-laki yang memanfaatkanmu? Kamu terlihat lemah, dan memang lemah. Itulah mengapa laki-laki ataupun dunia berani main-main denganmu.”

Sesuatu yang hangat keluar dari mataku, bukan kesedihan tapi entah perasaan apa ini. Mungkin ini gambaran dari pencerahan. Aku menangis terisak, bukan menyesali kehidupan, tapi menyesali diriku sendiri yang salah menjalani hidup. Jembatan layang lengang, hanya suara tangisku yang terdengar. 15 menit berlalu, laki-laki di depanku seperti mengerti betul kondisiku. Dia membiarkanku mencurahkan semuanya, aku mulai tenang. Entah mengapa setelah kepalaku sedikit jernih, aku mulai mengenali laki-laki itu. Wajahnya tidak asing, banyak terpampang di buku-buku. Pemikirannya juga banyak dibahas di YouTube, khususnya kanal yang membahas filsafat. Aku mengingat-ngingat, dan aku akhirnya yakin dialah orangnya.

“Apakah kamu…..” Kalimatku tiba-tiba terhenti.

“Iya kamu benar, akulah orangnya. Nah nona manis, sekarang daripada bunuh diri, mari kita menikmati secangkir kopi.”

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi