Menyengarkan Diplomasi Politik Aceh-Malaysia

Oleh Zulfata.,S.ud., M.Ag  (Ketua Umum DPP Angkatan Muda Mudi Perjuangan Aceh/AMMPA)

Pertemuan dan kerjasama antara sayap Partai UMNO (Putera UMNO Malyasia) dengan sayap Partai Perjuangan Aceh (PPA)-Anggkatan Muda Mudi Perjuangan Aceh (AMMPA) pada 22 Juni 2026 dapat disebut sebagai simbol diplomasi politik berkelanjutan. Peristiwa ini mengingatkan kita ke “romantika” masa keyajaan Aceh, tepatnya saat Aceh dipimpin oleh Iskandar Muda. Pada masa itu, simbol diplomasi politik Aceh-Malaysia diabadikan melalui pembembangunan Taman Putro Phang (Putri Pahang). Dalam konteks sejarah ini, ada misi tersirat dan alasan konkret mengapa Aceh dan Malaysia perlu dirawat diplomasi politik antar bangsa. Ada faktor politik di dalamnya, ada visi pertahanan dan sokongan ekonomi yang saling menguatkan antara Aceh dan Malaysia. Pada posisi ini, pertemuan antara Putera UMNO Malaysia dengan AMMPA menarik dicermati dari perspektif keberlanjutan politik diplomasi Sultan Iskandar Muda saat sukses memimpin Aceh dengan tegas, tanpa pandang bulu, tak mengenal belas kasihan, hingga anak kandungpun tak luput dari dampak kepastian dan keadilan hukum.

Bagi publik yang kurang memahami relasi sejarah politik antara Malaysia dan Aceh mungkin pertemuan dua sayap partai ini dianggap sesuatu yang biasa-biasa saja. Namun tidak bagi masyrakat yang sadar sejarah politik Aceh dan Malaysia. Bagi yang sadar sejarah, petemuan dua sayap partai ini adalah momentum penyegaran kekuatan politik antar generasi muda kedua bangsa. Melalui pertemuan ini, ada satu nilai yang dapat kembali hidup, yaitu dalam menyiapkan agenda transformasi politik hingga perkaderan politik, Aceh dan Malaysia dapat saling melengkapi kapasitas agar pencapaian politik Aceh-Malaysia yang sukses di bangun pada masa kerajaan dapat memberikan arah segar bagi pembangunan politik masa kini.

Jika membandingkan pencapain politik Aceh dan Malaysia, memang Aceh-Indonesia tergolong masih tertinggal, meskipun Indonesia pernah mengirim pengajar ke Malaysia, meski kerajaan Aceh pernah melakukan ekspansi terhadap beberapa bagian di Malaysia. Atas ketertinggalan yang dialami Aceh-Indonesia hari ini, tidak ada alasan gengsi bagi generasi muda Aceh, bahkan elite politik Aceh untuk kembali membuka diri agar bijaksana belajar terkait bagaimana Malaysia mampu melaju cepat melampaui Aceh-Indonesia.

Konon lagi, UMNO adalah partai tertua dan masih aktif serta memiliki power politik yang bergengsi dalam mengelola pendidikan hingga energi. Berbeda dengan Aceh yang selalu kecolongan mengelola pendidikan maupun energi. Aceh; usai konflik, justru jadi benalu bagi masyarakat sendiri, sungguh Aceh sial dan patut dibenahi. Melalui petemuan antara ketua sayap partai (Putera UMNO Malaysia-AMMPA) inilah dapat menjadi ruang penguatan politik generasi muda agar mampu belajar dan memperbaiki Aceh hari ini dan kemudian hari.

Meskipun ada stigma bahwa AMMPA perlu belajar dari nol terhadap Putera UMNO Malaysia, tentu waktu memulai bukan menjadi persoalan, yang penting adalah AMMPA mesti aktif mempelajari mengikuti ritme, memahami pola bagaimana UMNO dan Malyasia sukses mengelola pendidikan, ekonomi hingga korporasi energi. Sehingga dikemuadian hari Aceh diharapkan mampu lebih dari Malaysia hari ini.Tentu kemungkinan politik selalu terbuka bukan?

Dalam konteks ini pula, AMMPA menyambut hangat dan penuh hormat untuk menampung semua pandangan penguatan sumber daya manusia hingga diberikan kesempatan untuk mendapat akses ke pusaran politik UMNO. Tujuannya bukanlah untuk kepentingan politik praqmatis, melainkan agar jadi “matahari penerang” bagi AMMPA untuk mampu keluar dari jebakan sistem politik lingkaran setan yang sedang membelenggu Aceh hari ini.

Bagi saya, sebagai sosok yang diberikan amanah utuh oleh Ketua Umum PPA,Prof.Marniati untuk memimpin arah sayap partai, tentu momentum langka ini adalah sebuah kesempatan emas dalam menyiapkan peluang-peluang visioner agar Aceh terbebas dari praktik pembodohan, manipulatif, pengangguran ekstrim dan kecongkakan intelektual serta kuasa seperti yang dialami Aceh saat ini.

Untuk itu, diharapkan kepada seluruh lapisan masyarakat Aceh, diharapkan dapat membuka pikiran dan mata hati bahwa pertemuan PPA/AMMPA dengan UMNO/Putera UMNO Malaysia bukanlah agenda formalitas antar partai politik, melainkan petemuan ini adalah upaya menyegarkan kembali diplomasi dan kerjasama politik yang pernah dibangun oleh pejuang-pejuang Malaysia dan Aceh di masa lalu. Semua arah kerja politik ini semata-mata untuk mampu mendongkrak kemajuan bagi Aceh, memberikan jawaban bagi aspirasi seluruh masyarakat Aceh, memicu peradaban politik yang sehat untuk rakyat Aceh. AMMPA berusaha memberikan keteladanan politik agar masyarakat Aceh kembali kuat dan bersatu kompak melewati situasi dan kondisi sulit masa kini.

Atas kerjasama dua lembaga politik ini pula, tidak berlebihan rasanya jika mengatakan siang dalam malam PPA/AMMPA tidak pernah berhenti mencari ide dan cara dalam memperjuangkan agar Aceh mesti terbebas dari kemelut politik dan ekonomi yang terus-terus menghimpit masyarakat Aceh. Aceh harus dibebaskan dari kemiskinan, Aceh harus dijauhkan dari pemimpin zalim, Aceh mesti diinstal ulang, dan pertemuan PPA/AMMPA dengan Putera UMNO Malaysia adalah kunci untuk Aceh yang lebih berperadaban dan berkeadilan. Insya Allah.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi