DPRK Aceh Barat Desak Evaluasi Nasib Guru Bakti Tanpa Gaji di Pelosok Sikundo

Katacyber.com: Anggota Komisi IV DPRK Aceh Barat - Fraksi Golkar, Fajar Ziyadi, S.E.(Ist)

Katacyber.com | Meulaboh – Anggota Komisi IV DPRK Aceh Barat dari Fraksi Golkar, Fajar Ziyadi, S.E., menyatakan keprihatinan mendalam atas nasib pilu yang menimpa guru bakti di kawasan pelosok, tepatnya di SD Swasta Sikundo. Menanggapi kondisi tenaga pendidik yang mengajar tanpa upah maksimal, ia mendesak pemerintah daerah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh demi memenuhi hak-hak para guru.

“Kita sangat prihatin terhadap kondisi guru bakti yang ada di pelosok Aceh Barat, yaitu di SD Swasta Sikundo. Saya rasa ini perlu kita evaluasi dikarenakan kondisi yang seperti ini ternyata masih ada, di mana hak-hak mereka belum dipenuhi,” ujar Fajar Ziyadi kepada Katacyber.com di Meulaboh, Minggu (26/7/2026).

Fajar menegaskan perlunya kajian mendalam mengenai kelayakan pemberian insentif tambahan bagi para pengajar di daerah terpencil. “Ya, saya rasa ini harus dievaluasi secara mendetail lagi, apakah kemudian wajar untuk kita berikan tunjangan khusus ataupun tidak,” tambahnya.

Selain masalah kesejahteraan guru, politisi Golkar ini juga menyoroti adanya kabar mengenai alih status sekolah dari negeri menjadi swasta di wilayah tersebut. Pihaknya berkomitmen untuk meninjau langsung ke lapangan dan berkoordinasi dengan instansi terkait demi menemukan solusi terbaik.

“Seperti yang kami dengarkan melalui pemberitaan bahwa ada status sekolah yang diubah dari negeri menjadi swasta. Hal ini perlu juga kita tinjau lebih lanjut. Ini segera akan kita tinjau dan evaluasi, dan kita akan menjumpai pihak terkait untuk mencari solusi, sepanjang hal ini bermanfaat bagi sekolah dan siswa termasuk tenaga pengajar,” tegas Fajar.

Ia menyayangkan ketimpangan yang terjadi, di mana para guru telah mendedikasikan waktu dan energi dengan sepenuh hati, namun tidak mendapatkan kompensasi yang layak. Kasus salah seorang guru di Sikundo yang tetap setia mengajar selama lebih dari empat tahun tanpa gaji menjadi pemantik bagi legislatif untuk mendorong langkah nyata dari pemerintah.

Sebagai langkah solutif jangka pendek dan menengah, Fajar mengusulkan agar pemerintah daerah mengoptimalkan sumber pendanaan alternatif, salah satunya melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).

“Saya pikir dana CSR bisa dialirkan untuk membantu guru-guru yang mengajar di pelosok. Intinya, kita selalu mencari jalan keluar yang terbaik untuk kemajuan daerah kita, terutama dalam bidang pendidikan,” cetusnya.

Di akhir penyampaiannya, Fajar memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh tenaga pendidik yang rela berkorban demi masa depan generasi bangsa di wilayah terisolasi. Menurutnya, mereka adalah potret nyata dari pahlawan tanpa tanda jasa yang memegang peran krusial sebagai fondasi peradaban.

“Tanpa guru, tidak ada generasi yang akan menjadi baik seperti yang kita rasakan sekarang ini. Namun, jika hal ini tidak kita perhatikan, saya rasa tidak ada lagi yang mau menjadi guru di kemudian hari jika kesejahteraan mereka sendiri belum disejahterakan,” pungkasnya. (GM)

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi