“Panglima Kohler Aceh” dan Perangai Pemimpin Daerah Hari ini

Oleh Zulfata., M.Ag (Ketua Umum DPP AMMPA)

Peristiwa kericuhan momen perdamaian Aceh 15 Agustus 2026 di Mesjid Raya Baiturahman (MRB) Banda Aceh satu sisi adalah momen krusial bagi Aceh. Ada banyak cerminan evaluasi dan niali hostoris di dalamnya yang barang kali patut kembali dibuka dan dihayati. Dalam perspektif perjuangan Aceh, MRB bukan sekedar bangunan ibadah formal, melainkan pernah dinobatkan sebagai lokasi kunci peradaban Aceh. Politik, kedaulatan, kolonial punya irisan kuat dengan MRB.

MBR pernah menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dunia semacam fungsi universitas level global hari ini, di sekitaran MBR juga pernah menjadi simbol rule model atau daerah modal dalam membangun kedaulatan bangsa Indonesia, tidak terhenti di situ, MRB pernah tercatat sebagai pusat pergerakan politik dan perlawanan penjajah. Kematian Jenderal Belanda bernama Johan Harmen Rudolf Kohler saat memimpin agresi militer Belanda Pertama di Aceh (1873).

Tewasnya Jenderal Kohler adalah satu bukti rakyat Aceh tangguh melawan dan menghadang penjaja/kolonial Belanda, rakyat Aceh tak kenal menyerah, nilai tahuhidan yang menyatu dalam adat, militant dalam aksi tak mampu digoyahkan oleh intervensi dan persuasif manipulasi pihak manapun. Artinya tewasnya Jenderal Kohler saat hendak menguasai Aceh dalam konteks ingin melemahkan pusat pergerakan di MRB mengalami gagal total. Dalam konteks inilah sejatinya generasi Aceh mesti paham betul bagaimana ambisi Jenderal Kohler dan potensi kekuatan militansi rakyat Aceh dalam menjaga marwah bangsa Aceh.

Dari penggiringan khazanah Aceh secara singkat di atas, dapat dikontekstualisasikan dengan persoalan simbol negara (bendera merah putih), semangat melawan penjajah, hingga tren merosotnya moral dan intergritas pemimpin daerah Aceh saat ini. Meski Jenderal Kohler telah tewas di halaman MRB, namun tidak menutup kemungkinan perangai (perilaku, tabiat, karakter) Belanda Kohler mirip-mirip dengan penguasa lokal Aceh saat ini. Ciri-cira “perangai Belanda” tersebut adalah menjajah masyarakat Aceh, memanipulasi, menyengsarakan rakyat hingga mengadu-domba rakyat. Dalam praktik politik penjajah, rakyat selalu menjadi korban, kekuatan rakyat dijadikan instrumen untung-laba.

Politik Kohler Aceh merupakan suatu gambaran daya memimpin dengan pola menjajah dan mengeksploitasi kekyaan alam untuk kepentingan pribadi, hingga merawat kemiskina dan ketergantuan rakyat Aceh. Rakyat Aceh diposisikan sebagai komoditi dan penguasa lokal dianggap sebagai raja yang selalu melakukan negosiasi harga. Fakta menguatnya politik Kohler Aceh hari dibuktikan dengan mengerek naiknya angka kemiskinan, pengangguran dan penyalahgunaan kekuasaan.

Di balik hal tersebut, tantangan rakyat Aceh hari ini adalah bagaimana mengelola nilai sejarah heroik Aceh untuk kembali menciptakan kewibawaan Aceh melalui menjaga harus dan transformasi kepemimpinan Aceh yang bermartabat dan tak terperosok ke dalam perangai politik Kohler Aceh. Lantas, siapakah Panglima Kohler Aceh saat ini?

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi