Katacyber.com | Meulaboh – Di bawah sejuknya kaki pegunungan Kecamatan Pante Ceureumen, sebuah mimpi besar tentang kemanusiaan perlahan terancam layu. Dewi, gadis berusia 18 tahun asal Gampong Sikundo, Kabupaten Aceh Barat, kini harus menaruh impiannya sebagai seorang dokter dan perawat setelah lulus dari MAN Muhammadiyah Meulaboh pada pertengahan 2026 ini.
Impian Dewi terhalang tembok besar bernama biaya, memaksanya menunda melanjutkan kuliah dan memilih membantu orang tuanya berjualan di warung kecil demi menyambung hidup di kawasan pelosok.
“Saya punya niat kuliah tapi ibu belum memberikan izin dikarenakan faktor ekonomi jadi harus bantu orang tua dulu. Rencananya juga saya mau mencari pekerjaan dulu ke kota. Nanti kalau sudah ada uang, saya akan kuliah,” ungkap Dewi kepada Katacyber.com, di kediamannya, Kamis (23/7/2026).
Bagi anak-anak di kota besar, kuliah adalah fase lanjutan yang lumrah, namun bagi Dewi, pendidikan adalah medan pertempuran fisik. Jalan menuju kampus terasa sangat jauh dan melelahkan bagi Dewi, karena sekolah di daerah pedalaman berarti harus siap bertaruh nyawa melawan rintangan alam setiap hari.
Selama masa sekolah, ia terpaksa menembus kepungan lumpur pekat, mendaki perbukitan, hingga menerobos kepungan banjir yang sering memutus jalan utama, terkadang kenderaaan roda dua yang di kendarainya kerap tergelincir akibat jalan yang licin dan berlubang .Infrastruktur yang rusak parah menjadikan sebuah potret diskriminasi geografis yang tak kasat mata.
Selain itu, Isolasi digital kian memperparah ketertinggalan gampong tempat tinggalnya yang masih menjadi zona buta sinyal (blackspot). Demi mengintip dunia luar lewat internet atau sekadar mencari informasi edukasi, warga Sikundo terkadang hanya memanfaatkan jaringan Starlink milik sekolah.
Namun, kata Dewi, jaringan tersebut kerap tidak difungsikan dikarenakan kehabisan paket. Sehingga terkadang warga harus bertaruh menyusuri jalur berbahaya menuju kawasan Jambak yang terletak berkilo-kilometer dari rumah. Di tengah era digitalisasi global, Dewi dan generasi muda di desanya justru dipaksa hidup dalam kesunyian teknologi akibat nihilnya infrastruktur telekomunikasi.
“Disini memang ada jaringan Starlink milik sekolah, namun terkadang sering tidak difungsikan akibat paketnya kehabisan, sehingga saya dan teman-teman termasuk warah harus ke desa tetangga yang lumayan jauh untuk mencari jaringan guna mendapatkan informasi,” ujar Dewi.
Akhir ceritanya, ia menyuarakan harapannya agar pemerintah segera membangun jalan yang layak dan menyediakan jaringan internet di desanya. Ia juga berpesan agar pemerintah dapat lebih memperhatikan anak-anak di pedalaman sehingga mereka juga memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan tinggi.
“Semoga pemerintah bisa membantu membangun jalan kami yang rusak parah, membangun tower telekomunikasi supaya kami juga dapat merasakan bermain media sosial dan mendapatkan informasi penting khususnya di bidang pendidikan seperti anak-anak di perkotaan,” kata Dewi dengan penuh harapan.
Kisah nyata ini menjadi bumerang dan perhatian bersama, khususnya pemerintah daerah. pemerataan pembangunan dan pendidikan di daerah pelosok Aceh harus menyeluruh. Banyak anak berbakat di pedalaman terpaksa menunda cita-cita mereka bukan karena kurang pintar, melainkan karena kalah dalam akses, fasilitas, dan kesempatan ekonomi. (GM)























































Leave a Review