Oleh : Eno Malaka
“Jangan lupa ya Om, sampaikan pesan Laila pada Ibu.”
Gadis manis itu meninggakanku sendirian. Dia pergidengan ekspresi riang, langkah kakinya ringan, sepanjang berjalan merekah senyum di wajahnya. Perawakan nya seperti anak usia 5 tahun, meski setelah mendengar ceritanya, jelas itu bukan umur aslinya. Jika dia tersenyum, akan nampak lesung pipi mungil yang berada dekat dengan bibir, rambutnya lurus dengan ujung bergelombang dan diikat ke belakang. Alis matanya lebat dan tinggi menyentuh poni rambut. Dia anak kecil yang manis, senyumnya membuat senang dan suaranya adalah suara paling indah yang mungkin bisa didengar manusia.
Pertemuanku dengan Laila, terjadi secara tidak sengaja.Waktu itu rabu malam, seperti biasanya aku selalu melaksanakan puasa hari rabu, untuk memperingati hari lahirku sendiri. Aku biasanya menggabung puasa hari lahirku dengan puasa sunah senin-kamis. Kegiatan pusa hari rabu banyak membantuku menyelesaikan banyak hal, pada akhirnya hidup akan mudah dilewati jika kita menghargai diri sendiri. Tidak seperti hari rabu pada umumnya, rabu malam itu rasa kantuk terlalu cepat datang, pukul 21.00 WIB. Alam semesta seolah menolakku terus terjaga, dimulai dari kasur yang menggoda untuk berbaring, setelah berbaring gravitasi langsung meningkat di sekitarku, hawa panas khas Semarangpun seolah enggan mendekatiku. Aku didukung tidur cepat rabu malam itu.
Bagaimanapun tidak ada yang bisa menang melawan kekuatan alam semesta, warna hitam mulai mengerubungiku hingga akhirnya dunia di sekitarku gelap total. Setelah terbangun, entah mengapa aku langsung pergi ke sebuah tempat,sebelumnya aku belum pernah kesana. Sungguh aku tidak tahu apa yang dipikirkanku saat itu, hanya keinginan jalan-jalan yang muncul di kepala. Kemudian aku sampai di sebuah padang bunga.
Tapi aku bersyukur menuruti isi kepalaku, padang bunga ini ternyata sangat menawan. Sepanjang aku memandang, padang itu diisi oleh bunga-bunga warna merah jambu dan kuning. Aku melihat rada jauh terdapat gundukan tanah dengan pohon besar seperti pohon oak. Terdengar juga suara percikanair, aku memutar dan dibelakangku rada jauh, aku melihat hamparan gunung-gunung yang di tengahnya mengalir sungai-sungai. Aku memutar lagi, terdengar suara “Hehehe hehehe hehehe.”
Suara itu berasal dari anak kecil yang sedang berlarian, dia sedang dikejar kupu-kupu. Aku bisa melihat senyum indah di pipi chubby merah muda, matanya yang besar menambahkan efek manis, sedangkan lesung pipinya menambah efek menggemaskan. Tanpa diduga ternyata dia menyadari keberaanku. Anak kecil itu kemudian berlari ke arahku, astaga aku malah jadi takut. Pertama aku tidak tahu ini tempat apa, jelas bukan sesuatu yang pernah aku kunjungi. Kedua ada anak kecil yang tiba-tiba lari ke arahku, bagaimana jika dia anak jin. Aku kemudian mematung.
Anak kecil itu kemudian berdiri 30cm di depanku. Wajah manis dengan lesung pipi, rambut lurus dengan ujung bergelombang yang diikat kebelakang, baju merah jambu dengan motif bunga-bunga, mata besar dengan alis tinggi nyari menyentuh poni. Aku melihat semua keimutan sosoknya dengan jelas. Tapi bagaimana kalo dia beneran anak jin? Bukankah jin bisa menyerupa menjadi tampilan apa saja?
Bocil itu menengadah ke arah wajahku, dia menampilkan senyum yang ramah. Terlihat jelas bibir tipis merah jambu, lesung pipi di ujung bibir, mata bulat dengan bulu mata lentik. Semuanya menampilkan bentuk terbaiknya dalam sekali senyum.
“Om Om, sini.” Dia memberiku intruksi untuk merendah, mungkin agar tinggi kita setara.
Aku menekuk kedua lututku hingga menyentuh tanah, membentuk huruf L sempurna. Aku sekarang setara tingginya dengan bocil di depanku.
“Hallo Om, apa kabar?” Dia menyapaku dengan melambaikan tangan. Tapi aku tidak kenal anak ini, jadi jelas aku bukan Om nya. Ahh anak kecil memang selalu sok kenal dan sok dekat. Anak ini punya ekspresi senyum yang sumringah, dan setiap kali berbicara akan memutar tubuh dari kepala hingga pinggang 180 derajat ke kanan dan kiri.
“Kabar baik, namamu siapa Dek?”
“Aku Laila Om.” Ucapnya.
“Kamu sama siapa di sini?”
“Aku sendirian Om”
“Orang tuamu mana?”
“Aku anak yang dibuang Om.”
Astagfirullah, anak ini tau ga sih artinya dibuang? Dia mengucapkan kalimat horror itu dengan ekspresi yang sumringah, tidak masuk akal.
“Terus mereka dimana?”
“Mereka ga di sini Om.”
“Terus mereka ada di mana Adek?” Aku mencoba bersenyum ramah.
“Mereka di dunia manusia Om”
Bukan main, udah ku sangka dari awal kan? Anak ini pasti anak Jin, dan dunia yang indah ini adalah dunia Jin. Bangsa Jin memang bisa merubah diri ke bentuk apa saja. Apa yang diinginkan bocah Jin ini? Terus dia memanggilku Om? Astaga aku jadi Om nya Jin.
Maafin Laila ya Om, ga ada maksud membuat Om takut, tapi memang Laila sudah tidak tahu harus ngomong ke siapa. Tapi Laila pernah dikasih tahu sama Om yang satu lagi, kalo Ibu Laila sering ngobrol sama Om. Jadi Laila ajak Om kesini deh.
Jujur Om, Laila kesini itu bentuknya ngga kegini. Dulu Laila dipungut dalam bentuk gumpalan daging, ga punya tangan, kaki, rambut, mulut, mata, ga punya apa-apa termasuk Ibu. Pasti jelek banget sih, katanya juga bau. Laila dipungut dari kloset.
Saat Laila mulai datang ke sebuah tempat yang hangat, Laila berjumpa dengan Kawan-kawan mungil berbentuk putih. Mereka baik banget, selalu ambilin Laila makanan juga minuman yang katanya meluncur dari pembuluh darah. Setiap hari mereka bolak-balik, dan bergantian menjaga Laila. Mereka punya pengawas yang super lembut, namanya Plasenta. Nah dia yang selalu mengecek makanan dan minuman, mana yang bolehdan tidak boleh dikasih ke Laila. Sering banget Laila lihat dia ngomel-ngomel. “Jangan dibawa, ini memabukan. Nanti bisa pendarahan.” Plasenta selalu galak kalo temen-temen putihLaila, bawa makanan kotor dan minuman kotor. Tapi Plasenta selalu baik, berjaga setiap hari dan membelai Laila.
Plasenta juga ngasih tahu, kalo Laila ada di perut seorang Perempuan. Laila ga tau apa itu Perempuan, tapi Plasenta jelasin kalo Perempuan itu adalah makhluk paling kuat dan sangat baik. Wah Laila seneng banget dong dengernya, Laila ada di tubuh yang kuat dan baik. Hari-hari di perut Perempuan ini jugamenyenangkan, sampai Laila bosen dan mulai bertanya lebih lanjut tentang Perempuan. Plasenta menjelaskan banyak banget, dari Perempuan ini nantinya akan dipanggil Laila dengan sebutan Ibu, terus katanya Ibu adalah orang yang rela kedinginan demi Laila hangat, juga rela kelaparan demi Laila kenyang, juga rela hidup sengsara demi Laila bahagia. Wah keren banget yah Ibu. Dan yang paling membahagiakan, ternyata Laila juga katanya akan jadi seorang Perempuan. Berarti Laila akan jadi seorang Ibu juga, wahhh seneng banget.
Suatu hari Laila lihat Plasenta sedang marah-marah, dia kelihatan mau ngamuk. Wah Laila takut, apasih yang terjadi sampai Plasenta kelihatan mau berantem kegitu. Tapi itu tidak terlalu lama sih. Setelah Plasenta kembali, dia mendengus sebal terus memaki-maki tamu rewel yang datang. Tamu itu namanya Kortisol, katanya dia mau jenguk Laila. Tapi Kortisol itu nakal, dia ga dateng buat berteman, tapi mau mengganggu Laila. “Kenapa sih mereka terus-terusan dateng.bikin pusing aja.” Plasenta kelihatan capek banget. Memang iya sih, Kortisol ko sering banget ya dateng, sejak Laila sampai ke perut Ibu kayane ga pernah ga kedatengan Kortisol.
“Eh Plasenta. Kenapa Kortisol sering dateng?” Lailamencoba bertanya
“Itu karena Ibu mu, kebanyak mikir aneh-aneh dia.”Plasenta masih saja sebel. “Aku jadi kerepotan nih ngurus kamu, pokoknya kalo nanti kamu lahir aku mau dikuburin dengan bunga-bunga yang wangi dan banyak.”
“Kalo itu mah pasti Plasenta, kan katanya Ibu itu orang paling kuat dan paling baik.”
Laila yakin Ibu pasti akan memperlakukan Plasenta dengan sangat baik, dia adalah saudaraku selama di perut Ibu. Jadi ga mungkin kan Ibu jahat ke saudara Laila.
Tapi ga hanya tamu yang rewel saja, beberapa juga ada tamu baik yang dateng. Plasenta sering banget melayani mereka dengan baik, ramah, dan penuh keakraban. Namnya Endorfin. Wah keren banget deh si Endorfin, Laila selalu dihibur, katanya Laila bakalan punya Ibu yang keren. Orangnya cantik, baik, dan penyayang. Wah keren banget ya Ibu tuh, Laila ga sabar pengen ketemu Ibu.
Menyenangkan banget loh di perut Ibu, ehh tapi tahu nggak, temen baik Laila bukan hanya Plasenta dan Endorfin. Ada namanya Progesteron, keren banget temen Laila satu ini. Gede, tinggi, kekar, juga penyayang. Dia yang bertugas menjaga rumah Laila, wah baik banget deh pokonya. Katanya Progesteron itu yang sering berkelahi, sama penjahat-penjahat yang mau ganggu Laila. Progesteron juga yang membangun rumah Laila, rumah buatannya itu cakep soalnya lembut, adem, juga wangi. “Perempuan manis, aku akan selalu ada untukmu dan menjagamu” Ahhhhh gagah banget Progesteron.
Nah suatu hari, mungkin hari yang paling malang untuk Laila. Segerombolan Kortisol nakal datang mengobrak abrik rumah Laila. Aku bisa melihat Plasenta kewalahan membendung mereka, jumlahnya banyak banget. Aku juga lihat Progesteron babak belur, dihajar sama sosok yang jahat banget. Lebih besar dari Progesteron dan tampangnya kejem banget. Namanya Mifepriston, aku ketakutan sambil kasian lihat Progesteron dibuat ga berdaya, dia dipukul, ditendang, ditusuk, dibanting, hingga akhirnya Progesteron tidak berdaya.
Dia melihatku dengan kesedihan, disisa-sisa tenaganya Progesteron masih mau ngomong sama Laila. “Jangan benci Ibu ya Perempuan manis.” Brukkk Progesteron ambruk dan tak bernyawa.
Laila sangat ketakutan, Kortisol yang nakal dan Mifepriston yang jahat kemudian mendatangi Laila.
“Heyy Perempuan kecil buruk rupa, kamu tidak diinginkanIbumu.” Mifepriston jahat banget.
“Bohong, Ibuku baik.” Laila berbicara sambil ketakutan.
“Haaaaaahhhaaaaahhhaaaa. Bodoh sekali kamu ini. Aku itu disewa Ibumu, buat membunuh mu tahu.” Semakin serem wajah penjahat ini.
“Enggak, kamu bohong. Dasar jahat, kejam, jelek, bau, serem.” Sebisa mungkin Laila harus usir penjahat-penjahat ini.
“Aku harus membunuhmu bocah.” Mifepriston jahat ini kemudian mencekik leher Laila, sakit banget rasanya. Laila menendang-nendang rumah yang dibangun Progesteron hingga rusak, Laila juga ga sengaja menyikut makanan dan minumanyang disediakan Plasenta, jatuh berhampuran. Maafin Laila ya Progesteron-Plasenta, rumah dan makanan dari kalian sudah rusak semua. Laila terus merasa kesakitan, panas, dan Laila mulai berdarah. Semakian kuat Laila bergejolak, semakin kuat cekikan Mifepriston ini.
Saat Laila mulai tidak sadarkan diri, dari arah belakang ada yang menyentuh Laila. Sentuhan itu berasal dari sosok yang penuh cahaya, senyumnya indah banget. Kortisol yang nakal dan Mifepriston yang jahat, sangat ketakutan melihat dia datang. “Ayo Perempuan manis, kamu ikut saya yah.” Sosok ini tersenyum dengan menawan.
Cahaya putih menyinari kami, Kortisol dan Mifepriston serentak menutup mata mereka dan berteriak kesakitan.
Laila sampai di sebuah tempat yang sangat berbeda dengan perut Ibu. Laila juga bentuknya berubah, berbeda banget saat di perut Ibu. Kata sosok itu, ini adalah tempat paling indah yang diinginkan manusia. Laila juga dikasih tahu banyak hal, seperti yang bentuknya panjang di tubuh atas Laila itu namanya tangan, sedangkan yang panjang di bawah itu namanya kaki. Terus yang bisa membuat Laila melihat namanya mata, tempatnya di kepala, di kepala ada hidung, alis, bibir, mulut, rambut, telinga dan banyak lainnya.
Laila juga dikasih tahu, kalo sosok itu adalah laki-laki. Laila boleh panggil dia Om, katanya. Terus nama Laila juga Om itu yang ngasih. “Om kasih nama kamu Laila yah? Artinya malam yang Indah.” Ucapnya dengan penuh senyum.
“Oh ya sebenarnya Om itu siapa?” Laila penasaran dongOm baik ini siapa.
“Om itu orang yang ditugaskan membantu semua umat manusia. Dari dulu, saat Om masih di bumi hingga saat ini. Om masih membantu umat manusia, untuk terbebas dari segala derita.”
“Wah baik banget Om. Cerita ke Laila dong.”
“Kapan-kapan ya Laila.”
Om ini baik banget, semua tentang apa itu manusia, perempuan, laki-laki, Ayah, Ibu, semuanya Om ceritakan.
“Om apakah benar, Laila ga diinginkan Ibu Laila?” Laila beranikan diri bertanya
“Apakah Laila sayang Ibu Laila?”
“Awalnya sayang Om, tapi Ibu jahat banget kirim penjahat buat bunuh Laila.” Laila menggelembungkan muka Laila. Jahat banget sih Ibu, Laila kira Ibu orang baik.
“Kalo Ibu jadi orang baik, Laila mau ngga bertemu Ibu?”Om itu mengelus kepala Laila dengan lembut.
“Mau Om, awalnya Laila sayang banget sama Ibu. Laila selalu dikasih makanan dan minuman yang enak, Plasenta selalu bilang ini dikirim sama Ibu. Laila juga seneng selalu dihibur sama Endorfin, katanya dia dikirim sama Ibu buat menghibur Laila. Progesteron yang kuat dan baik hati, juga selalu bilang kalo dia dipekerjakan sama Ibu, buat bangun rumah untuk Laila. Jadi Laila pengen ketemu Ibu. Tapi ko Ibu jahat ya, Ibu ngirim Mifepriston buat nyekik Laila.”
“Kalo Ibu Laila jadi baik, seperti yang dikatakan teman-teman Laila. Apa Laila mau bertemu Ibu Laila?”
“Mau banget Ommmmmm.”
“Tapi Ibu Laila belum jadi orang baik”
“Yah, kenapa Ibu ga jadi orang baik?”
Om itu hanya tersenyum, semua yang nampak pada wajah Om ini sangat menyejukan. Suaranya lembut, senyumnyamembuat tenang, ekspresi wajahnya juga menyenangkan. Om itu kemudian memperlihatkan sebuah tontonan, terlihat Ibu Laila yang sedang gelisah dan mengetik-ngetik layar yang disebut gawai. Di sana tertlulis sebuah nama.
“Nah Laila, gimana kalo kamu ngobrol sama Om itu. Kamu titipkan pesan-pesan buat Ibu Laila pada Om itu. Nanti kamu bilang aja, kalo Ibu mau jadi orang baik, nanti Laila akan datang merayu Allah buat maafin Ibu. Gimana?”
“Mau om, mau.” Laila mengangguk cepat mendengar ucapan Om itu.
Akhirnya Laila berhasil membawa Om kesini, Laila akan menceritakan semuanya. Semoga Om ga curiga ya sama Laila. Laila ga nakal ko kaya Kortisol dan jahat kaya Mifepriston.
“Jadi kamu bayi yang digugurkan?” Aku menelan ludah atas cerita bocah ini.
“Betul Om.”
Aku tidak habis pikir, mengapa ada Ibu yang tega membunuh bayi dalam kandungannya. Seharusnya jika belum siap mempunyai anak, ditahan dulu nafsu birahinya, jangan sampai berbuat celaka seperti ini. Ahh tapi memang manusia itu unik, selalu menjauhi hal-hal yang menyakitkan padahal yang paling menyakitkan, biasanya berbentuk hal paling menyenangkan.
Kasian sekali anak ini, jika lahir dengan sehat dan tumbuh dengan baik, pasti akan menjadi gadis paling cantik yang pernah dilihat siapapun. Sayang banget nasibnya harus malang. Aku selalu menolak ungkapan bahwa, nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Lihatlah bocah kecil ini, dia harus melihat kengerian karena tidak dilahirkan.
“Om mau ngga bantu Laila?”
“Apa yang bisa Om bantu, Laila?”
“Om ceritakan ke Ibu Laila, kalo di sini Laila baik-baik saja. Terus Om juga kasih tahu Ibu Laila, di sini Laila terus mendoakan Ibu. Juga kasih pesan ke Ibu, buat jadi Perempuan yang baik.”
Senyum bocah ini sekarang sangat menawan. Setelah mengetahui bahwa dia bukan anak Jin, juga setelah mendengar ceritanya aku tidak lagi merasakan takut. Justru marah dan kasihan memenuhi dadaku, segala ungkapan makian sudah berkumpul di batang tenggorokan dan siap aku keluarkan kapan saja jika aku ketemu Ibu bocah ini. Tapi aku tidak tahu siapa Ibu bocah ini, mungkin juga tidak pernah bertemu dengannya. Tapi kata bocah ini aku sering berkomunikasi dengan Ibunya, seingatku aku tidak punya kenalan Perempuan yang akhir-akhir ini hamil.
Tapi jika memang ucapannya benar, maka seharusnya Ibunya masih muda. Mungkin usia mahasiswa. Akhir-akhir ini aku memang berkomunikasi dengan mahasiswa, khususnya klien sesi konselingku. Tapi siapa? Yang mana?
“Om tahu nggak, kenapa Laila dibuang kesini?”
Aku tersadar dari lamunanku.
“Om yang nemenin Laila ga mau ngasih tahu, dia malah tanya balik apakah Laila sayang Ibu dan mau mendoakan Ibu. Gitu.” Pipinya yang menggelembung sungguh ironi, imut dengan nasib tragis.
Aku bingung dengan pertanyaan ini, setahuku ada banyak alasan bagi manusia untuk menggugurkan anaknya. Paling sering dijumpai adalah karena ekonomi, biaya mempunyai anak sangatlah besar dari merawat dalam kandungan, hingga persalinan, juga setelah itu harus merawat agar anak bisatumbuh dan berkembang. Hanya mereka yang seutuhnya menjadi manusia, dan mempunyai urat saraf kuat saja yang bisa membesarkan anak. Selain itu ada alasan anak haram, meskipun tidak ada anak haram. Orang tua mereka tipe yang tidak mempunyai pikiran jangka panjang, berusaha mencari kesenangan dengan hubungan badan. Biasanya dilakukan oleh sepasang kekasih dengan status pacaran, atau suami–istri yang selingkuh dan dari selingkuhannya terjadi kehamilan.
Meski ada kondisi darurat, seperti kecelakaan, penyakit serius yang memaksa keguguran, atau kondisi kritis lainnya. Tapi orang tua dalam kondisi ini, tentulah menderita. Mempunyai anak dalam rumah tangga, selalu dianggap sebagai berkah tersendiri. Anak-anak dijuluki malaikat kecil, mereka selalu menjadi penghibur orang tua. Bahkan seorang anak adalah sumber kekuatan orang tuanya, banyak rumah tangga yang terselamatkan karena kehadiran seorang anak. Anak jelas sangat berharga, sampai beberapa pasangan ada yang mau melakukan apa saja demi mendapatkannya.
Sungguh jahat kau Ibunya Laila, apakah kau tidak membayangkan nasib buruk yang akan menimpamu. Sesosok makhluk tidak berdosa, harus mengetahui dirinya tidak diinginkan. Disiksa dengan sesuatu yang mengerikan, bahkan sebelum dia mengenal apa itu penderitaan. Apakah tidak ada rasa kemanusiaan di hatimu, apakah begitu tidak tahannya dirimu untuk mengumbar nafsu. Apakah kamu tidak mendapatkan pelajaran yang baik di keluargamu. Sungguh aku ingin melihatmu disiksa, dengan siksaan yang mengguncang seluruh dada dan isi kepalamu.
“Om juga tidak tahu Laila.” Aku berusaha tersenyum simpatik.
“Oh gitu yah.” Mata bocah ini mulai berkaca-kaca.
“Ehh tapi Laila sayang sama Ibu?” aku buru-buru menyambar, aku tidak mau lihat bocah ini menangis.
Bocah ini hanya mengangguk, setetes air tidak sabar keluar dari matanya. Mulutnya mengatup rapat, bibir bawahnya terdorong kedepan. Ahh kumohon jangan menangis Laila, kumohon jangan. Wajahmu terlalu manis untuk menangis.
“Tapi Om janji, akan kasih tahu semuanya ke Ibu Laila.”
“Beneran Om?” Syukurlah dia mulai ceria kembali.
“Iya Om, janji.”
“Tapi Om jangan marahin Ibu Laila yah, sebelumnya Ibu Laila baik ko.”
Ahh bocah manis, kenapa kamu masih baik sama Ibumu. Kamu tidak tahukah yang dilakukan Ibumu itu bejat. Mungkin hanya manusia yang bisa membunuh bayinya sendiri, beberapa Binatang mungkin punya kebiasaan membunuh calon bayi Binatang lain. Seperti ular yang memangsa telur burung, beberapa kadal yang memakan telur kadal lain. Tapi mereka tidak membunuh calon bayi mereka sendiri, beberapa ayam mungkin melakukan hal tersebut tapi itu karena alasan stress di peternakan. Ayam liar tidak membunuh telurnya sendiri.
Jika kamu mengetahui hal ini, apakah masih sayang sama Ibu Laila?
Aku sampai tidak sadar sedang berada di tempat yang sangat indah, gambaran semua keindahan yang dijelaskan oleh manusia semuanya tampak berbeda. Tempat ini mungkin sejuta kali lebih indah dari semua penjelasan keindahan yang diketaui siapapun. Tapi bagaimanapun, seindah apapun tempat yang aku pijaki tidak ada artinya jika yang bisa didengar hanyalahkesedihan.
“Om juga kasih tau Ibu ya, suruh cari Ayah yang baik buat calon Ayah adiknya Laila nanti.”
“Siap laksanakan. Eh tapi Om ga tahu siapa Ibunya Laila”
“Ga papa Om, nanti Ibu Laila yang akan menghubungi Om.”
Aku senang bocah ini kembali ceria, entahlah rasanyaenergi bocah ini seolah membuatku bahagia. Sungguh sial kau Ibunya Laila, sudah membuang gadis manis baik hati seperti Laila. Mengapa sampai sebegitunya tidak menginginkan Laila, atau sebenarnya kamu juga kaget dengan kehadiran Laila.Setelah bergulat dengan seorang lelaki, tidak sengaja dari pergulatan ini terjadilah kehamilan. Kamu takut ketahuan, karena mungkin kamu dan lelakimu bukan suami istri, lalu karena nuranimu rapuh dan setan terlanjur memasuki, akhirnya kamu memilih aborsi. Menderitalah yang lama, kau sungguh perempuan yang jatuh cinta pada dosa.
“Ayo Om, jalan-jalan.”
Bocah ini meraih tanganku, dia mengajakku berkeliling taman. Sepanjang jalan-jalan, bocah ini sangat riang dan antusias menjlaskan banyak hal di taman. Dia bercerita tentang kupu-kupu yang bisa bicara, mereka selalu bernyanyi. Ada juga beberapa kelinci, katanya setiap hari para kelinci membawakan makanan dan minuman yang enak. Sungai-sungai di tempat ini, nyaris tidak punya arus. Meskipun aku melihat hulu sungai-sungai di sini yang berupa air terjun, mengalir deras di antara bukit-bukit. Udara di sini pun sangat memanjakan paru-paru, aku seperti bisa hidup seribu tahun lagi.
Dalam kebahagiaan menemani bocah ini jalan-jalan, Cahaya terang melingkupi kami, mengaburkan pandangan. Semua keindahan yang aku lihat sekarang menjadi buram. Bocah ini melepaskan genggamanku, dia berjalan menjauh dengan melapai ramah. Lama-lama cahaya ini mulaimenyilaukan. Tepat ketika cahaya itu sempurna memenuhi mata, aku terbangun dari tidurku. Ah sial cuma mimpi ternyata.
Mimpi adalah fenomena yang kompleks, terjadi selama taap REM tidur. Aktivitas otak di hipokamus dan amigdala berperan aktif selama mimpi. Biasanya mimpi berfungsi sebagai pemrosesan informasi sehari-hari, makanya kadang kita mimpi orang terdekat kita dengan lokasi yang juga familiar dengan kita. Selain itu mimpi juga berupa pertunjukan alam bawah sadar kita, sesuatu yang sangat kita inginkan namun belum kesampaian akan diwujudkan saat mimpi. Namun karena hanya proses sementara, seseorang kadang lupa hari ini dia bermimpi tentang apa.
Namun mimpiku ini aneh, aku tidak kenal bocah Laila juga sedang tidak punya keinginan pergi ke taman. Selain itu mimpi ini bisa aku ingat setiap detailnya, seolang memang terjadi secara nyata. Hingga berhari-hari aku masih bisa membayangkan Laila, aku juga masih bisa mendeskripsikan taman bunga itu. Atau memang ini pertanda, ahh lupakanlah. Memang ada kajian tentang tafsir mimpi, tapi mimpi bertemu bocah korban aborsi apa maknanya. Lebih baik aku menghabiskan malam-malamku dengan membaca buku.
“Selamat malam Mas Eno.” Sebuah pesan WA masuk.
TAMAT






















































Leave a Review