Kritik dan Humor

Oleh: Syarifuddin Abe

Dalam kehidupan umat Islam, demi tercapai kemajuan, kritik dianggap sebagai bagian yang sangat penting. Salah satu kewajiban seorang Muslim adalah ber-amar ma’ruf dan nahi munkar, kepada siapa dan terhadap apapun. Di Indonesia secara khusus, kritik tentunya belum menjadi budaya secara keseluruhan. Masih ada yang menganggap kritik sebagai kecemburuan atau sebagai suatu ejekan. Dalam dunia politik, kritik malah dianggap sebagai bagian dari intrik yang tujuannya untuk menjatuhkan.

Dalam sebuah negara yang menganut sistem demokrasi, kritik harus menjadi bagian dari sistem demokrasi itu. Secara umum, kritik bertujuan untuk  membangun, menjaga dan mengarah jalannya demokrasi. Seorang pemimpin harus berterima kasih kepada orang-orang kritis yang selalu mengkritik perjalanan kepemimpinannya. Pengkritik adalah orang-orang yang mengontrol, apakah itu perkataan, perilaku atau kebijakan dari seorang pemimpin.

Kritik berasal dari bahasa Yunani, clitikos yang berarti ciri pembeda. Maka orang yang suka mengkritik atau berlaku kritis selalu dianggap orang yang berbeda. Yang secara khusus berbeda dalam sudut pandang. Lebih kasar lagi dan ini aneh, orang yang mengkritik dianggap orang ‘yang tidak suka’, alias sirik. Ada juga yang mengatakan, kritik berasal dari kata krites yang berarti ‘hakim’ dari kata kerja krinein secara dasarnya berarti ‘menghakimi’. Orang boleh setuju boleh tidak, yang penting adalah sampai pada kejujuran dan keadilan. Kritik tak lain adalah sebuah respons yang mengandung penilaian terhadap sesuatu perkataan dan perbuatan dari seseorang yang dilakukan oleh seseorang dengan penilaian yang objektif serta seimbang serta jujur terhadap sesuatu hal.

Kita pernah mendengar kata-kata, “kritik boleh, asal membangun”. Orang boleh saja merasa tidak siap terhadap kritik atau merasa takut apabila ada yang mengkritik. Hanya karena ingin duduk nyaman dalam sebuah posisi atau jabatan, sehingga menganggap kritik sebagai sebuah perlawanan. Dalam tradisi Islam, sepanjang sejarah, Nabi Muhammad Saw., sendiri sangat terbuka dan tak segan-segan menerima kritikan dan pendapat dari para sahabatnya.

Semangat kritik sangat kuat tertanam dalam tradisi Islam. Dalam Islam, kritik tidak hanya dipandang sebagai hak rakyat saja, melainkan juga dipandang sebagai sebuah kewajiban setiap rakyat. Nabi tidak pernah menginginkan pemimpin Islam tersesat, kalau mereka tidak mau bertanggung jawab di akhirat kelak, maka mesti menjadikan kritik sebagai sebuah masukan demi kemajuan. Dalam dunia Islam, kritik kepada pemimpin seharusnya dilakukan oleh golongan ulama, namun sebagian ulama justru asyik-masyuk masuk istana dan ingin selalu berada di dekat pemimpin.

Saksikanlah lelucon menjelang pilkada, banyak wajah ulama di baliho-baliho besar terpampang di pojok dan tengah kota, dengan berbagai atribut dan simbol keulamaannya yang dipoles dengan berbagai bentuk senyuman, mendukung salah satu calon bahkan penuh senyum di samping calon yang dijagokannya. Untung-untung kalau calon yang didukungnya itu menang dan tentu akan membuat program-program yang menguntungkan ulama itu, tapi betapa lucunya kalau calon yang didukungnya itu kalah, lalu baliho yang tertancap itu belum juga diturunkan sampai calon yang tidak didukung oleh ulama itu dilantik, malah masih bertahan sampai tradisi seratus hari kepemimpinannya berjalan. Masyarakat tiap hari melewati di bawah baliho itu dan melihat sang ulama dengan calon yang didukungnya yang kalah tapi masih saja tersenyum di situ.

Kritik dalam Humor, Humor dalam Kritik

Bagi sebagian orang, humor dianggap aneh, saking anehnya menganggap humor dapat menjadikan orang kehilangan wibawa. Betapa banyak orang menahan ketawanya hingga terkentut-kentut, hanya karena takut hilang wibawanya serta dianggap sebagai orang yang tidak serius. Pertanyaannya, apakah ada hubungan antara serius dengan wibawa? Bagi sebagian orang menganggap, pembawaan serius bagian dari wibawanya, namun sebagian yang lain malah menjadi ejekan akibat seseorang terlalu serius yang justru membuatnya menjadi kaku dan ini menjadi lucu-lucuan orang lain. Intinya, antara serius dengan wibawa tergantung yang mengartikannya saja.

Humor dapat juga menjadi bagian dari tradisi dalam berkomunikasi. Gus Dur yang merupakan mantan presiden ke empat Republik Indonesia, selalu menggunakan humor sebagai bagian dari strategi berkomunikasi, termasuk ketika bertemu dengan berbagai pemimpin dunia. Salah satu yang menghebohkan adalah ketika Gus Dur berkomunikasi dengan Bill Clinton yang tak lain waktu itu sebagai presiden Amerika Serikat. Ketika Bill Clinton terlihat tertawa terkekeh-kekeh oleh Gus Dur, tentu saja menjadi heboh dan semua ingin tahu, apa gerangan yang disampaikan Gus Dur sehingga membuat Bill Clinton tertawa? Apalagi peristiwa yang membuat presiden negara adikuasa itu ‘tertawa’ tidak pernah terjadi dan itu hanya mampu dilakukan oleh seorang Gus Dur?

Banyak juga tokoh yang menggunakan humor untuk meraih simpatik masyarakat pada kontestasi politik, sebagaimana halnya yang dilakukan oleh komedian Komeng yang kemudian menghebohkan jagat politik Indonesia, hanya senyum nyeleneh pada gambar pemilihan, justru mengantarkannya ke salah satu kursi DPD di Senayan. Sebelumnya, hal yang sama juga sudah dilakukan oleh komedian Aceh, Haji Uma. Di tingkat dunia, ada komedian Volodymyr Zelensky yang sekarang menjadi presiden Ukraina. Dalam dunia filsuf ada Marcus Tullius Cicero (106-43 SM) yang merupakan politikus Romawi Kuno, seorang pengacara sekaligus negarawan Romawi yang tidak pernah berhenti mengkritik dan menentang munculnya kediktatoran pada akhir masa republik, yang dalam sejarah dikatakan memenangkan berbagai perkara politik hanya dengan sentuhan humor.

Berdasarkan pengalamannya, Cicero kemudian beranggapan bahwa humor mampu meruntuhkan batas antara seseorang yang berprofesi sebagai orator dengan komedian. Maka apabila humor itu dapat digunakan dengan kadar yang tepat serta bijak di depan masyarakat, maka humor akan menjadi senjata yang ampuh untuk mempengaruhi masyarakat. Sungguh humor itu dapat menjadi alat komunikasi dalam memenangkan kuasa sosial bahkan politik sekalipun. Maka jangan salah kalau humor banyak digemari oleh pemuka agama, dosen, politisi, konten kreator bahkan oleh para kepala negara sebagai alat untuk berkomunikasi dengan pemimpin dunia dan masyarakat luas.

Humor bukanlah sesuatu yang aneh, termasuk bukan sebatas lelucon yang membuat siapa saja dapat tertawa terbahak-bahak bahkan terpingkal-pingkal. Humor harus menjadi sebuah wahana yang didalamnya menyimpan seribu makna untuk menjawab berbagai persoalan yang hadir di tengah-tengah masyarakat. Orang hanya suka humor seolah-olah hanya sebatas untuk mengajaknya tertawa dan sejenak melupakan kepenatan hidupnya. Padahal humor tidak boleh hanya sampai di situ, humor harus menjadi senjata untuk mencerahkan hidup masyarakat secara keseluruhan. Humor harus menjadi alat untuk membimbing dan mendidik para pemimpin ketika pemimpin lupa di belakangnya banyak masyarakat yang bergantung pada kepemimpinannya. Rakyat bukanlah sebatas bantuan sosial dan semacamnya, setelah itu para pemimpin dengan mudah dapat mengatakan, “ini semua keinginan rakyat”. lalu dapat melakukan apa saja seenaknya. Rakyat hanya menjadi alasan untuk melegitimasi keinginan dan nafsu serakah birahinya dari keputusannya. Apa pun yang menjadi keputusan, seolah-olah, kata “rakyat” menjadi kata akhir yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat. Padahal, kalau ditanya, “rakyat yang mana? Mana alamatnya?”, tidak dapat dijawab juga?

Suatu ketika, sebagai dosen pada sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Banda Aceh, saya diberi kesempatan membawa ‘orasi ilmiah’. Kebetulan materi saya tentang “Humor dan Filsafat”. Di samping saya menyampaikan posisi humor dengan filsafat, saya mensisipi beberapa humor yang saya balut dengan kritik. Di situ juga, saya mengkritik seorang teman dan teman yang saya kritik ada di situ. Saya mengkritik dengan membumbuhi humor, malah orang yang saya kritik itu yang paling ngakak tertawanya. Saya tidak tahu, teman saya ini entah tahu, entah tidak? Padahal yang saya kritik adalah dirinya, eh teman saya ini malah ngakak? Yang paling membingungkan saya, ketika saya turun dari podium, temah saya ini menyalami saya dengan sedikit menyanjung sambil mengucapkan selamat. Saya tidak tahu, yang bersangkutan paham atau tidak apa yang saya sampaikan. Tahu entah tidak, salah satu yang saya kritik, ya dia. Malah saya menganggap yang bersangkutan orangnya sangat baik dan sangat demokratis, sehingga ketika saya kritik, dia dapat menerimanya dengan lapang dada.

Tiba-tiba, dua hari kemudian, ada sahabat saya yang lain menghampiri saya dan mengabarkan bahwa teman yang saya kritik itu sangat marah kepada saya, karena dua hari yang lalu saya mengkritiknya. Ketika saya tanya kok marah? Kemarin setelah saya turun dari podium, malah dia memberikan apresiasi kepada saya, kok tiba-tiba bisa marah? Kata sahabat saya itu, iya, kemarin diberitahu oleh temannya (sambil sahabat saya itu menyebut nama yang memberitahukan). Saya tidak kaget, tapi malah bingung? Artinya, untuk tahu kok mesti diberitahu oleh temannya? Tentu orang boleh menerima atau menolak kritik, namun harus diketahui bahwa, kritik merupakan suatu kewarasan dalam dunia ilmiah dan demokrasi. Maka kritik perlu ada bumbunya, salah satunya adalah humor. Hal ini dilakukan agar kritik menjadi indah, halus dan penuh estetika di samping ada etikanya juga.

Kalau ada orang yang marah karena kritik, siapa saja, maka orang itu perlu dipertanyakan IQ-nya. Jongkok atau tiarap. Jangan tegang kalau dikritik, biasa saja. Kalau tegang karena di kritik, apa bedanya anda dengan terong? Kita paham, budaya Indonesia tidak mampu menerima kritik secara langsung. Pada masa Orde Baru, betapa banyak para seniman, pekerja sosial, para elit partai, bahkan para dosen dari Perguruan Tinggi, semua menjadi momok pemerintah hanya karena dikritik. Kita mengenal Hardi, seorang pelukis yang ditangkap, sekitar tahun 1970-an atau 1980-an karena melukis dirinya, lukisan itu diberi judul ‘Presiden RI 2001’, ia ditangkap karena dianggap karyanya provokatif dan berpotensi makar terhadap Predisen Soeharto. Lukisan fenomenal itu merupakan bentuk satir dan kritik terhadap kondisi politik Indonesia di bawah otoriter rezim Orde Baru waktu itu.

Kita juga mengenal Si Burung Merak, WS. Rendra, seniman, dramawan, ia juga tak luput dari penjara tahun 1970-an oleh rezim Orde Baru karena dianggap makar mengkritik Presiden Soeharto. Di tahan di Pusat Penahanan Polisi Militer Guntur selama sembilan bulan, tanpa diadili hanya karena aktivitas seninya yang dianggap menentang rezim Orde Baru. Banyak puisi-puisi Rendra berisi kritik tajam yang menjadikannya diawasi dan ditangkap oleh aparat negara waktu itu. Pada 27 Juni 1994 saat memprotes pembredelan majalah Tempo, Detik dan Editor, ketika itu Rendra membacakan puisinya yang memprotes kesemena-menaan Orde Baru, ia ditangkap karena dianggap tidak ada izin berkumpul meskipun aksinya waktu itu damai.

Masih banyak kasus lainnya, seperti kasus Teater Koma dengan Naskah “Suksesi”-nya, kasus Arief Budiman, Sri Bintang Pamungkas, dan masih banyak lagi. Di sinilah letaknya, bagaimana pentingnya kritik itu. Kritik dengan dibumbuhi humor menjadi sebuah strategi yang cocok karena sesuai dengan tradisi kepribadiaan bangsa Indonesia.  Untuk itulah, maka hubungan antara kritik dan humor boleh dibilang sangat erat kaitannya, humor menjadi satu-satunya alat yang mumpuni dalam menyampaikan kritik. Sebagaimana kisah teman saya di atas, ketika saya memakai humor sebagai media kritik, teman saya ini juga ikut tertawa sambil menggeleng-geleng kepala. Ia larut dengan humor saya, dengan tertawa ia menjadi lupa ke mana dan kepada siapa arah kritik saya itu.

Humor juga dapat menjadi sebuah media yang sangat efektif untuk menyuarakan ketidakpuasan, mengomentari persoalan sosial, bahkan untuk menentang status quo. Biasanya hal yang demikian ini lebih mudah diterima dibandingkan kalau kita mengkritik secara langsung dan fulgar. Kadang orang yang kita kritik lebih suka kita bodoh-bodohi dibandingkan kita mengkritiknya secara terhormat dan bermartabat. Padahal kritik secara langsung itu dapat membuat seseorang dianggap sangat terbuka bahkan bijaksana dalam menerima kritik. Makanya, ada orang yang lebih suka dianggap pandai, terhormat, padahal perilakunya lebih teruk dibandingkan piaraannya di rumah. Lebih suka basa-basi. Senang disanjung. Bangga kalau dipuja dan dipuji. Tapi marah dan pendendam kalau dikritik, apalagi kalau merasa tidak dihormati.

Kritik merupakan sebuah kewajaran dan humor kalau tidak mau disebut sebagai bumbu, mungkin boleh dibilang sebagai sebuah jalan keluar. Dalam kritik, humor harus lebih jujur dan bijaksana, karena humor dianggap dapat meredakan ketegangan. Menyampaikan secara lembut mungkin dapat meninabobokan orang yang sedang kita kritik. Kritik disampaikan secara cerdas menjadi lebih mudah diingat dibandingkan dengan sebuah argumen yang dianggap lugas. Malah dianggap lebih mudah dipahami oleh yang mendengar dan bahkan orang yang mengkritik dengan bumbu humor dipandang lebih terhormat, cerdas, jenius dan lebih bijak.

Humor adalah sebuah media yang sudah lama ada, sudah ada sejak masa Yunani Kuno. Pada masa Yunani Kuno, melalui komedi teater, difungsikan sebagai media kritik sosial dan politik secara kuat. Para tokoh komedian pada masa itu menggunakan satir dan parodi untuk mengolok-olok para tokoh publik, filsuf (sebagaimana yang dialami Plato dan Socrates), dan masyarakat Athena secara langsung dihadapan publik. Kita mengenal Aristophanes yang hidup di Yunani abad ke-5 SM. Ia dikenal sebagai tokoh komedian dan karyanya masih tersimpan hingga saat ini. Komedinya dikenal memiliki humor yang kasar, suka mengomentari masyarakat Athena melalui humornya serta suka mengkritik tokoh publik, termasuk mengkritik Socrates setelah kematiannya yang membuat Plato naik pitam karena merasa memperolok-olok gurunya.

Namun demikian, humor adalah humor. Akan banyak penafsiran terhadap makna dan definisinya. Khususnya dalam bentuk satir dan parodi, humor sering digunakan untuk mengkritik figur yang memiliki otoritas, bahkan institusi tertentu, sebagaimana kasus yang viral beberapa bulan sebelumnya dan ramai di media sosial, Pandji Pragiwaksono dengan Mens Rea-nya. Maka humor terkadang dapat menjadi senjata bagi orang-orang yang lemah untuk mengkritik kekuasaan. Dalam perspektif baru, ternyata humor dapat juga menyoroti hal-hal yang absurd atau yang inkonsistensi pada sebuah situasi, hal yang demikian ini dapat mengarahkan orang lain untuk melihat masalah berdasarkan sudut pandang yang tidak terduga bahkan mendorong orang untuk berpikir kritis. Bukankah humor yang kita tonton selama ini, pada akhirnya melahirkan hal-hal yang tidak kita duga. Ketika kita ditanya begini, jawaban menurut kita ini, ternyata jawabannya lain. Lalu sambil berpikir, kita tertawa dan akhirnya geleng-geleng kepala.

Pada skala sosial dan lebih luas, humor dapat digunakan untuk mengkritik norma yang berlaku dalam masyarakat atau pada suatu institusi tertentu atau bahkan dapat juga digunakan untuk mengkritik suatu kebijakan tertentu, hal demikian ini sebagai sebuah cara yang dapat dianggap sehat dan bermoral bagi suatu masyarakat dalam melampiaskan hal-hal yang selama ini telah menjadikan masyarakat frustrasi. Maka humor merupakan salah satu corong yang jenius, sehingga permasalahan yang lama terpendam dapat disalurkan dengan cara-cara yang dapat diterima. Secara singkat dapat dikatakan bahwa, humor merupakan salah satu jalan keluar dalam mengkritik yang disampaikan secara tidak langsung, mudah dipahami, memiliki kesan tersendiri bahkan menjadi lebih efektif dalam mencapai suatu perubahan. Semoga.

 

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi