Membedah Socrates dengan Humor, 5. Sebuah Ironi (dari) Socrates

Oleh: Syarifuddin Abe

Tulisan ini tidaklah untuk mentertawakan Socrates. Namun yang menjadi persoalan utama adalah ‘ironi’ itu? Bukankah Socrates merupakan orang yang memiliki jasa tersendiri untuk negara yang bernama Yunani dan terkhusus Athena? Tidak hanya memiliki kejelasan nasionalisme kepada Athena, namun juga orang yang mampu mencerdaskan dunia, terkhusus lagi Yunani. Kalau disebut Socrates, semua orang pasti akan mengenalnya dan orang akan ingat Yunani dan Athena.

Pada dasarnya, ironi berhubungan dengan kehidupan manusia serta sangat berhubungan dengan sejarah hidup manusia. Sepanjang manusia hidup, ironi selamanya berlaku. Di mana ada manusia di situ ada ironi. Ironi adalah ketidaksesuaian antara yang sebenarnya dengan kenyataan yang sesungguhnya. Atau ketidaksesuaian dari apa yang tampak dengan apa-apa yang terjadi. Ada unsur kesengajaan. Ada unsur kebohongan dalam arti positif. Ada unsur memutarbalikkan fakta tujuannya adalah kebenaran.

Ironi ini juga menyangkut dengan perbuatan manusia terhadap lawan yang dianggapnya mengganggu. Boleh dibilang antara harapan dengan kenyataan menjadi sebaliknya. Berdasarkan fakta seharusnya begini, yang terjadi justru sebaliknya. Orang yang mengalami hal ini akan kaget, menjadi marah bahkan menolak menerima. Orang seharusnya dihormati, dihargai, yang terjadi justru dihina dan dibenci. Ironi ini boleh dibentuk dan diciptakan, seperti orang yang tidak bersalah di mata hukum, bahkan di mata manusia mulia, oleh yang membencinya kemudian dicari berbagai alasan dan fakta untuk menjeratnya, lalu diputuskan bersalah. Untung kalau bersalah di penjara, coba kalau kemudian dihukum mati. Sebagaimana halnya yang dialami oleh Socrates.

Secara kenyataan, ironi itu ada ketidaksesuaian antara apa yang dialami (tampak) dengan maksud yang sesungguhnya. Dalam ironi, akan melibatkan tentang bahasa serta pemahaman terhadap maksud dari makna bahasa yang diinginkan itu. Kalau boleh didefinisikan, ironi boleh dikatakan ketika makna yang sebenarnya dari sebuah kata, berlawanan dengan apa yang dinyatakan. Atau boleh juga, hasil yang berbeda dari apa yang diharapkan. Ironi bisa bersifat humor atau akan menunjukkan ketidaksesuaian antara penampilan dan kenyataan, yaitu ketika suatu situasi bertentangan dengan sebuah kenyataan.

Maukah anda tertawa pada ironi Socrates? Atau karena ironi, anda ingin mentertawakan kematian Socrates. Karena kematian Socrates bagi sebagian orang menganggap bukan sebuah tragedi, melainkan sebagai sebuah ironi. Kalau anda menangis demikian tragisnya kematian Socrates, Socrates malah ingin sebaliknya? Socrates malah tertawa geli menerima kematiannya sambil melihat anda yang bercucuran air mata? Bukankah oleh murid-muridnya sambil bermain mata dengan beberapa pihak pengadilan berharap agar Socrates melarikan diri? Tidak demikian oleh Socrates, malah Socrates kerasan menunggu hari di mana sebuah kata ‘ironi’ dipertaruhkan. Orang boleh saja merasa kehilangan, Socrates tidak justru demikian, ia ingin merayakan kematian itu dalam prinisp-prinsip ironi yang dicetusnya sendiri.

Rif’an Anwar (2011) menyimpulkan bahwa, ironi mengatakan lebih banyak dari yang sebenarnya, mengatakan yang kurang dari yang seharusnya, mengatakan dari yang kebalikan dari yang sebenarnya. Socrates merupakan orang yang ahli menggunakan ironi dalam filsafatnya, termasuk ahli dalam mempraktekkannya. Socrates boleh dibilang sebagai “master ironi”, walaupun dikemudian hari ironi itu sebagai sebuah kesimpulan dari kehidupannya. Orang akan memelas dada ketika melemparkan kata ‘ironi’ kepada Socrates. Memang benar-benar ironi? Salam satu bentuk ironi Socrates adalah kata-kata Socrates tentang ketidaktahuannya. Ketika Socrates berkata, “aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa”, sebenarnya oleh Socrates ingin menyindir kita. Bukankah Socrates orang yang paling bijaksana di Athena?

Ironi Sokrates merupakan ironi verbal dengan berpura-pura tidak tahu, hal ini untuk mengajarkan seseorang ke arah kesadaran yang dimilikinya. Ironi Socrates sengaja dipraktekkannya untuk memancing agar orang lain dapat mengungkapkan ketidaktahuan, ketidakjujuran serta kesalahan logika mereka lewat beberapa pertanyaan. Socrates selalu menampakkan dirinya seolah-olah tidak tahu dan hal ini juga untuk membuat lawan dialognya itu merasa aman dan senang menjawab bahkan menjadi lebih terbuka.

Kerja Socrates terus memancing lawan bicaranya, hingga pada akhirnya mereka sendiri yang akan menemukan jawabannya, apakah berupa kontradiksi atau berupa kelemahan-kelemahan dari argument mereka sendiri. Hal ini sebagaimana metode yang Socrates lakukan. Akhirnya Socrates senyum-senyum saja. Sebenarnya, metode Socrates ini tidak hanya untuk memancing logika orang yang diajak bicara, tapi juga mengharapkan orang yang diajak bicara tercerahkan dengan logikanya, akhirnya mereka mampu memahami dan mempraktekkan kebijaksanaan dalam hidup mereka, sebagaimana yang Socrates sendiri cari dan jalani.

Ada beberapa cara mempraktekkan ironi oleh Socrates, pura-pura tidak tahu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, hal ini juga seolah-olah Socrates bodoh dan ingin belajar dari orang lain. Menyingkap ketidaksesuaian, Socrates bermain dengan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana, kemudian akan menemukan kelemahan logika, kesalahan-kesalahan serta ketidakonsistenan pada keyakinan lawan bicara. Pada akhirnya, Socrates mengajak lawan bicaranya untuk berefleksi, khususnya lewat berpikir kritis tentang apa saja yang mereka percayai hingga mampu menyadari bahwa apa yang mereka percayai sama sekali tidak memiliki pemahaman sebelumnya.

Pada dasarnya, ironi ini ada pada fakta, yaitu dengan pura-pura tidak tahu. Kita boleh saja mengharapkan seorang teman untuk dapat mengungkapkan kesalahpahaman atau kontradiksi mereka sendiri, kemudian meminta mereka secara mendalam untuk merefleksikan dengan berpikir secara kritis. Inilah bagian dari metode pengajaran Socrates yang dikenal dengan dialektika Socrates atau dialog Socrates yang pada akhirnya juga menjadi sebuah ironi. Contohnya, sebagaimana dialog antara Socrates dengan Euthyphro dalam “Dialog Plato”, di mana Sokrates mempertanyakan Euthyphro tentang hakikat kesalehan. Sokrates mencoba untuk berpura-pura tidak memahami tentang kesalehan itu. Lalu meminta Euthyphro menjelaskannya. Melalui beberapa pertanyaan, Sokrates mengungkapkan ketidakkonsistenan dalam definisi Euthyphro, menunjukkan bahwa Euthyphro sebenarnya tidak memahami konsep ‘kesalehan’ sebaik yang diklaimnya.

Humor Ironi yang Menjadi Ironi

Ironi memang. Orang yang memiliki jasa terhadap negaranya, kemudian orang itu diperlakukan semena-mena hanya dikarenakan sebuah keputusan bersifat politis. Seperti halnya kasus seorang wanita dijambret, lalu suaminya mengejar si jambret. Karena si jambret ketakutan dan ketika ingin lari hilang keseimbangan lalu menabrak tembok dan tersungkur, lalu mati. Ironinya di mana? Si suami yang membela istrinya dari jambret lalu ditangkap dan di penjara hanya karena pihak penjambret punya pengacara dengan berbagai tuduhan dan alasan kepada si pengejar jambret. Ironis bukan?

Ironi, tidak hanya menimpa Socrates, tapi sebaliknya Socrates juga rada-rada menggunakan hidupnya dengan menggunakan konsep ironi. Kepura-puraan bodoh yang dijalani Socrates di Athena, ini juga bagian dari praktik ironi. Dalam sebuah sidang pengadilan, boleh saja seorang pengacara pura-pura tidak paham tentang suatu masalah, hal ini untuk memancing si saksi untuk menjelaskan suatu perkara. Pada akhirnya, tanpa disadari si saksi sendiri yang menunjukkan celah dalam kesaksiannya. Demikian juga dalam sebuah pertujukan, ada karakter yang pura-pura bodoh, padahal dia hanya menggantikan karakter lain yang menggunakan rahasia atau kebohongannya.

Ironi memang; Socrates yang seluruh orang-orang mengakuinya sebagai orang paling pintar di Athena, bahkan tiada duanya. Semua orang tahu bahwa Socrates memiliki murid yang banyak bahkan murid-muridnya dikenal pintar dan kritis. Semua orang menjadi tidak percaya, orang yang selama ini tempat mereka bertanya, bahkan orang menunggu kedatangannya hanya untuk mendapatkan pencerahan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup. Tapi tiba-tiba berlaku seperti orang bodoh, yang tiada henti bertanya dan bertanya, seolah-olah Socrates lebih bodoh dari orang yang ditemui Socrates untuk bertanya?

Socrates pernah dianggap gila dan ini sebuah ironi. Socrates yang dianggap orang paling bijaksana yang sehari-harinya adalah mengajarkan kebijaksanaan kepada pemuda-pemuda Athena, tapi dengan serta merta ada yang menuduhnya gila. Keeksentrikan Socrates membingungkan masyarakat Athena, kehidupannya yang penuh kesederhanaan, pakaian yang seadanya serta berjalan ke sana ke mari tanpa alas kaki, membingungkan masyarakat Athena. “Ini orang, waras tidak ya? Pintar, tapi membingungkan? Dibilang pintar, seperti orang gila? Dibilang gila tapi bijaksana?”.

Socrates dianggap gila oleh orang-orang di Athena kuno, apakah sudah pasti gila? Tentu saja tidak. Socrates dianggap gila dikarenakan tindakan dan kebiasaannya yang dianggap radikal. Kenapa tidak? Socrates kerap dianggap gemar mempermalukan para elit di Athena lewat dialog dengan mempertanyakan kebijaksanaan mereka di sembarangan tempat. Tidak hanya dengan mendatangi kediaman elit penguasa Athena, namun terkadang juga di tempat-tempat umum. Hal ini oleh para elit penguasa menjadi dillema tersendiri, sehingga timbul anggapan mereka bahwa Socrates ingin mempermalukan mereka? Dasar Socrates memang, apalagi Socrates suka menentang sistem demokrasi di Athena karena bagi Socrates seorang penguasa atau elit politik harus dari kalangan bijaksana, seperti seorang filsuf.

Dalam buku Kitab Kebijaksanaan Orang-Orang Gila, karya Abu Al-Kasim An-Naisaburi (2017), menjelaskan bahwa penyebutan ‘gila’ terhadap seseorang tidak sepenuhnya benar. Hal ini juga ditegaskan oleh filsuf Perancis kontemporer, Michael Faucault dalam bukunya Folie et Deraison (1961) yang menguatkan tentang kekeliruan tuduhan tersebut, yaitu klaim tentang kegilaan atau ‘gila’ tak lain adalah merupakan produk struktural. Ada kuasa yang suka mendikte perihal kategori kegilaan, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak selamanya klaim yang demikian itu objektif, namun hal tersebut lebih mengarah kepada subjektifitas yang pada prinsipnya jauh dari sebuah kebenaran. Boleh dibilang lebih banyak politis dibandingkan kebenarannya.

Kejam memang, tapi tetap ironi. Kenapa tidak, seolah-olah Socrates ingin menyudutkan mereka hanya karena tidak suka pada demokrasi. Sebenarnya lewat dialog itu, Socrates ingin menyadarkan orang-orang di Athena untuk tidak terpaku pada doxa (opini), seharusnya orang-orang lebih mengarahkan diri kepada pengehuan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bukan percaya pada ungkapan atau berita yang tidak jelas juntrungannya. Tiudak sedikitpun oleh Socrates bermaksud menjatuhkan elit Athena, justru sebaliknya hanya satu yang diinginkan Socrates, yaitu mencerdaskan. Hanya karena keinginan untuk mencerdaskan itulah yang oleh pihak pengauasa, yang dikenal dengan pihak status quo, menuduh Socrates telah menyesatkan masyarakat Athena. Sebuah ironi tanpa ampun, Socrates dihukum mati. Orang yang telah membesarkan nama Athena, bahkan Yunani, suka atau tidak suka kepada Socrates, tetap ada. Namun demikian, dihukumnya Socrates, apakah itu menunjukkan sebuah kekalahan bagi Socrates? Tentu saja tidak.

Akhirnya, stigma tersebut kemudian berkembang dan menjadi tuduhan kriminal kepada Socrates. Socrates dianggap mempermalukan dan merendahkan para elit Athena. Sikap dan ajaran Socrates yang semula mencari kebenaran dan kebijaksanaan dengan notabene mendobrak kebiasaan, justru sebuah ironi baginya yang sulit untuk dibantah. Sikap untuk mencerdaskan masyarakat Athena, menyampaikan dan mengajak berdialog dengan siapa saja, tanpa memandang kelas, tidak peduli masyarakat bawah atau para elit penguasa, justru menjadi sebuah tragedi yang menuh kebencian serta dendam kesumat. Ketika kemudian memuncak justru menjadi sebuah ironi, awalnya dicintai, digemari berakhir dengan sebaliknya, dibenci yang pada akhirnya hukum berbicara.

Boleh saja kita berkesimpulan bahwa, tidak ada yang perlu diratapi kematian Socrates. Bukan Socrates yang salah sebenarnya, tapi hukum dan para pengacara ketika itu, tidak mampu memaknai takdir secara serius atau secara humor. Para penuduh boleh saja menciptakan kata “bahagia” sambil membaca buku humor atau sambil mengisi TTS pada masa itu. Para pembela hanya satu kata mungkin, ‘meratapi’ dan merasa kehilangan yang berkepanjangan. Perjalanan Socrates sudah selesai, bukan karena takdir, bukan karena sudah pada waktunya. Di sinilah humor Socrates yang penuh misteri dia mainkan. Kita tidak tertawa, tapi Socrates terbahak-bahak dalam kematiannya.

Socrates adalah sosok anti humor yang mampu mengolah humor dalam kehidupannya termasuk menjelang kematiannya. Yang dibunuh pada hakikatnya bukan Socrates, melainkan kita-kita, kita merasa asing oleh kebebasan berpikir kita, sehingga pikiran kita menjadi liar oleh ratapan kita ketika melihat kematian Socrates. Bukan kematian semestinya yang terus kita bicarakan? Ironi memang? Melainkan pesan-pesan dan seluruh dialektika yang Socrates bangun yang semestinya kita hidupkan. Hanya saja, Socrates tidak pernah berkata demikian, melainkan kita mesti mendengar lewat jawabannya dalam menerima keputusan pengadilan. Dengan demikian, Socrates tidak pernah mati, Socrates selalu hidup sepanjang zaman.

Yang perlu kita hidupkan bukan kematian itu, melainkan harapan. Yang mereka hukum bukan Socrates, melainkan mereka itu sendiri. Yang hilang bukan hidup Socrates, melainkan energi mereka yang menginginkan Socrates mati. Hidupnya Socrates seperti sebuah kematian bagi musuh-musuh Socrates, kematian Socrates pun seperti kematian juga bagi mereka dalam bentuk ketakutan itu. mereka mentertawakan kematian Socrates, hakikatnya mereka justru mentertawakan diri mereka sendiri. Kelucuan yang mereka ciptakan justru menjadi permainan pikiran mereka, kenapa tidak?

Kelucuan mereka melahirkan konflik pikiran lewat nafsunya, batinnya, nuraninya. Seperti yang ditulis oleh Ermansyah R. Hindi dalam Ironi dan kelucuan, Ironi dan kelucuan tidak hanya sebagai bentuk esensial melalui tatanan kehidupan yang ditandai oleh air mata, tawa dan benda-benda. Akan tetapi, ironi dan kelucuan merupakan relasi esensial terhadap hukum logis yang diakuinya sebagai sebuah fungsi dan penandaannya. Ironi menjadi bentuk untuk keluar dari proses berpikir melalui jalan yang telah dibuatnya sendiri, bahkan melebihi kebenaran yang ditertawakan. Kelucuan boleh saja sebagai sebuah usaha untuk menolak yang dipikirkan di luar ironi dan hukum logis di balik kehidupan. Hal yang mesti kita pikirkan adalah ironi menjadi berserak-serakan di bumi.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi