Misi Pencerdasan Generasi Aceh Bersama AMMPA

Oleh Zulfata., M.Ag (Ketua Umum Angkatan Muda Mudi Perjuangan Aceh)

Agenda berkelanjutan seperti yang tertuang dalam proklamasi kemerdekaan RI-mencerdaskan kehidupan bangsa tidak bisa ditawar, harus dilanjutkan mesti langit runtuh mala mini. Angkatan Muda Mudi Perjuangan Aceh (AMMPA) berusaha mengambil peran dari semangat proklamasi tersebut guna menggugah ulang dari sektor penguatan sumber daya manusia (SDM) genersi muda Aceh agar tak semakin terpuruk oleh suramnya iklim ekonomi, pendidikan dan politik hari ini.

Layaknya masa dedik-detik kemerdekaan RI, Aceh satu-satunya daerah yang tersisa dan menyatakan Indonesia belum dijajah (baca Radio Rimba Raya). Namun tampaknya sejarah tersebut memukul mundur generasi Aceh hari ini, generasi muda Aceh nyaris dijajah oleh “elitnya” sendiri, oleh pendahulunya sendiri, dengan tidak dibodohi oleh “pendaulunya”. Kondisi ini bukanlah kutukan atau warisan petaka politik buah perdamaian Aceh tanpa integritas dan kacaunya arah memimpin daerah.

Kondisi suram Aceh hari ini mesti dijadikan daya lecut bagi generasi Aceh untuk tangguh bangkit, siap memulai, berani mengambil resiko untuk menentukan sikap, aktif berkolaborasi dalam kegiatan yang menunjang kemampuan berfikir, bertindak dan berinovasi agar dapat memberi solusi untuk daerah Aceh yang kaya raya namun salah urus.

Beberapa peluang yang harus disikapi oleh generasi muda Aceh di antaranya adalah kemiskinan ekstrim, tingginya angka pengangguran, birokrasi yang korup, mutu pendidikan anjlok, daya saing global rendah, hingga kebijakan merusak lingkungan tak terbendung.

Generasi muda Aceh hari ini harus berani mengambil bagian untuk tampil sebagai sosial kontrol melalui berbagai kegiatan yang kreatif dan produktif. Kegiatan yang terkoneksi dengan networking (jejaringan) internasional seperti negara-negara yang nasibnya lebih baik dari Indonesia saat ini. Misalnya negara Malaysia, Spanyol,Tingkok, Amerika hingga Iran.

Menuju koneksi ke arah yang dituju tidak hadir dengan mudah, butuh mengeluarkan keringat tenaga, keikhlasan untuk berbenah diri melalui kegiatan “lapangan” guna mengasah kemampuan manajemen dan kepemimpinan personal. Alih-Alih mengasah personal touch atau kemampuan berdiplomasi level internasional, gerenasi Aceh tentu membutuhkan wadah pembelajaran yang selalu memberi pencerahan, wadah yang selalu setia membimbing dan mementori untuk tetap berproses di jalan yang visioner dan penuh pembuktian kinerja.

Wadah inilah yang sedang penulis pimpin hari ini, yaitu Angkatan Muda Mudi Perjuangan Aceh (AMMPA) yang menjadi bagian dari Partai Perjuangan Aceh (PPA) yang dipimpin oleh sosok memiliki rekam jejak kepemimpinan dan manajemen level internasional. Publik mengenal Ketua Umum PPA dengan sebutan Prof. Marniati. Bagi penulis, sosok Prof. Marniati adalah seorang perempuan tangguh, berani mengambil resiko turun dari “istana” pendidikan dan bisnisnya untuk dapat terus berbagi dengan jangkauan lebih luas untuk seluruh lapisan rakyat Aceh.

Tentu visi pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan hingga bisnis yang tersimpan di benak Prof. Marniati harus diterjemakan dan dikolaborasikan dengan aspirasi anak muda kekinian. Sehingga cerminan, perpaduan, dan pendulum gagasan Prof. Marniati seayun dan selangkah dengan aspirasi generasi muda Aceh saat ini yang mungkin sudah letih menonton sandiwara elit politik Aceh.

Sederhananya, AMMPA dapat disebut sebagai kenderaan kolektif antara sosok yang memiliki jejaringan internasional dengan membuka ruang minat dan bakat generasi muda Aceh untuk memiliki skil hingga kepemimpinan filantropi untuk rakyat Aceh hari ini dan ke depan.

Generasi muda Aceh tidak boleh dibiarkan berpangku tangan sembari mengutuk keadaan Aceh yang berkerja dengan kejam tak mengenal belas kasihan, apatisme anak mudah harus dihadang dan dipulihkan. Aceh sebagai daerah yang diuji oleh korban penyalahgunaan kekuasaan harus diselamatkan oleh generasi yang “energik”, visioner dan berani berkarya. Hanya dengan pandangan seperti inilah mungkin generasi muda di Aceh patut mempertimbangkan agar terlibat aktif bersama AMMPA yang hari ini sedang penulis pimpin.

Memalui AMMPA, ada sederet tahapan “laboratorium” kepemimpinan yang asah,asuh dan asih. Ada seperangkat fasilitas yang mungkin dapat menunjang skil generasi muda di lintas sektor, mulai dari kesenian budaya hingga kecakapan menggunakan teknologi mutakhir tanpa terperangkap oleh dampak akal imitasi (AI) yang bersembunyi di baliknya.

Terdapat pintu-pintu akses yang sengaja diberikan karpet merah untuk generasi Aceh yang melek bisnis dan perdagangan. Ada pembelajaran moral dan karakter generasi yang harus ditempa. Serangkaian inilah yang akan dilalui AMMPA agar menjadi rule model bagi wadah pencerdasan generasi muda Aceh. Adapun visi dan misi AMMPA adalah sebagai berikut:

Visi:

“Terwujudnya Generasi Muda Aceh Berintegritas, Visioner, dan Berdaya Saing Global dalam Memperjuangkan Aspirasi Rakyat secara Bermartabat”

Misi:

1. Membangun kualitas intelektual, spiritual, dan kepemimpinan kader AMMPA yang berlandaskan nilai keislaman, dan keacehan,

2. Mengembangkan kader yang militan, berintegritas, serta berani memperjuangkan keadilan dan hak-hak dasar rakyat Aceh secara konstitusional,

3. Mendorong budaya organisasi yang profesional, transparan, dan akuntabel dalam setiap gerakan dan pengambilan kebijakan,

4. Menguatkan peran pemuda melalui kolaborasi strategis, inovasi, dan adaptasi terhadap dinamika sosial, politik, dan teknologi,

5. Berkontribusi aktif dalam pembangunan Aceh yang berkelanjutan, berkeadilan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi