Oleh: Syarifuddin Abe
Pada artikel sebelumnya, saya telah menulis pandangan Plato tentang humor secara umum. Pada artikel ini, saya mencoba untuk menulis pemikiran Plato yang nyata-nyatanya sangat menolak humor dan tawa. Akan tetapi dalam buku dialog-dialognya itu, ada juga dialog-dialog yang mengundang tawa. Bagi Plato, itu bukan alasan ketidakkonsistensiannya, melainkan memang mesti begitu. Dialog yang menjadikan Socrates sebagai tokoh utama memang mesti ada dialog yang berbalut humor, apalagi Socrates memang memiliki sense of humor dalam hidupnya. Perlu diingat, Socrates juga tidak suka pada humor.
Plato mencontohkan tawa ini pada penampilan sebuah komedi. Di mana sebuah komedi selalu tampil dengan humor-humor yang konyol dan membuat orang penuh tawa. Humor dihadirkan dalam sebuah komedi lewat adegan-adegan yang konyol. Biasanya dengan menghina lawan mainnya atau dengan cara menyudutkan lawan mainnya. Ketika lawan mainnya terpojok, tentu orang terpojok itu akan menampilkan tingkah lucu karena terpojoknya itu. Tawa itu hadir di tengah sebuah pertunjukan tanpa mau memahami seseorang yang tampil sedang galau atau lagi dirundung kesedihan. Seorang komedian harus mampu tampil full tanpa harus mengingat kesedihan yang dialaminya. Harus mampu membuat penonton tertawa, ketika tawa hadir seorang komedian akan dianggap sukses.
Pada tulisan sebelumnya, saya juga sudah menjelaskan alasan Plato menolak humor. Bagi Plato, humor dan tawa justru menjadi hal tercela karena dapat menghilangkan sisi kecerdasan dan rasionalitas manusia. Sebenarnya, Plato tidak membahas secara khusus, apalagi mendetil tentang humor dan tawa dalam karya-karyanya. Melainkan Plato hanya menyinggung sekilas saja dan itu sebagai sebuah tanda bahwa Plato sangat menghindari humor dalam hidupnya. Saya menulis Plato dan humor dari tiga karya besar Plato secara terpisah dan akan saya bahas menjadi tiga tulisan, yaitu sebagaimana terdapat dalam Philebus, Republik dan Laws.
Pada tulisan ini, saya tulis pandangan Plato tentang humor dalam karyanya, Philebus (360-347 SM). Dalam karyanya ini, Plato memandang humor sebagai hal yang jahat dan kejam. Dalam karya ini juga, Plato mencoba membicarakan tentang kenikmatan menonton sebuah komedi, yang mana dalam komedi tersebut disusupi atau dibumbuhi berbagai bentuk humor. Oleh Plato, humor-humor yang hadir dalam sebuah komedi selalu dihadirkan dalam bentuk cemoohan-cemoohan atau memojokkan lawan yang dianggap lemah dengan ungkapan-ungkapan yang merendahkan. Cemoohan itu dihadirkan lewat humor dan tingkah lucu untuk memberi kepuasan penonton dengan cara mencemoohkan lawan mainnya. Di situlah tawa lahir.
Philebus, sebagaimana ciri khas karya Plato yang lain, ditulis dalam bentuk dialog yang menempatkan gurunya Socrates sebagai tokoh utama. Dalam Philebus ini juga, secara khusus merupakan dialog tentang hakikat kebaikan tertinggi dalam kehidupan manusia. Dalam karya-karya dialog Plato, Sokrates selalu berselisih dengan kelompok diskusinya dalam menyampaikan dan berargumen tentang suatu pendapat dalam berbagai topik, termasuk dalam hal ini aspek metafisika. Banyak hal yang diperselisihkan, mulai masalah agama dan sains, cinta, hakikat manusia bahkan tentang seksualitas. Lebih dari satu dialog mengontraskan persepsi dan realitas, alam dan adat istiadat, serta tubuh dan jiwa.
Philebus ini mendialogkan tentang dua hal yang menjadi perdebatan kehidupan manusia, kesenangan (hedone) atau berupa kebijaksanaan (phronesis) yang merupakan kebaikan yang unggul. Terhadap kedua hal ini, dialog Socrates berbeda dengan Philebus sebagai lawan bicaranya, bagi Socrates kebijaksanaan, akal, ingatan dan pemahaman yang benar menjadi sesuatu yang amat sangat penting. Berbeda dengan pendapat Philebus yang meyakini bahwa kesenangan merupakan satu-satunya kunci kehidupan yang membawa manusia kepada kesuksesan dan kebahagiaan (eudaimonia). Bagi Philebus, kesenangan itu, apakah yang murni atau yang lebih intens, merupakan tujuan utama bahkan sekaligus menjadi ukuran terhadap kebahagiaan yang diidamkan manusia.
Pada sisi yang lain, Philebus juga mendialogkan tentang teori komedi, yang mendefinisikan kekonyolan sebagai sesuatu yang mendatangkan kegagalan dalam mengenal diri seseorang. Humor merupakan sesuatu yang dapat menghadirkan sesuatu yang lucu atau suatu keadaan yang dapat menimbulkan tawa dan rasa gembira pada orang lain. Boleh juga humor dikatakan sebagai sebuah kualitas yang dimiliki oleh seseorang dalam memancing tawa pada orang lain.
Seorang humoris menurut Plato, menjadi konyol karena ketika membuat orang lain tertawa, terkadang ia lupa terhadap dirinya, secara kasar dapat dikatakan ia kehilangan akal untuk mengenal dirinya. Dia dibawa oleh suasana karena merasa asik dengan lelucon yang membuat orang lain tertawa. Akal sehat yang dimilikinya sering dilupakan, seperti orang kehilangan akal. Ia menjadi lilin yang menerangi kegelapan, tapi kehilangan dirinya yang asli. Ia rela menjadi tertawaan demi menghibur orang lain dengan mengesampingkan rasionalitas yang dimilikinya. Demikian juga orang yang tertawa, yang penting bahagia tanpa harus mau memahami si humoris ketika membuat gelak tawa, sedang bahagia atau lagi dirundung suka dan duka.
Maka perdebatan Socrates sesuatu yang sangat menggugah dalam karya Philebus ini. Philebus tetap pada argumentasinya, kebahagiaan adalah tujuan utama dan paling utama manusia dan jalan yang ditempuh adalah jalan kenikmatan. Philebus tidak mau peduli, kenikmatan (kebahagiaan) yang didapatkan, entah berdasarkan indrawi, entah berdasarkan pengembangan intelektual atau berdasarkan moral. Kenikmatan biasanya kebutuhan badaniah dan sifatnya sementara. Kalau orang yang mengejar kebahagiaan pada kenikmatan, berarti kenikmatan yang dikejar adalah kenikmatan bersifat semu, sesaat, yang penting saat itu ia merasa bembira dan bahagia. Socrates tetap pada pendiriannya, bagi Socrates kesenangan saja belum cukup, bagi Socrates keberadaan akal adalah sesuatu yang penting, termasuk pengetahuan dan ingatan, menjadi ‘penilai’ dalam menentukan kesenangan. Socrates menginginkan kebahagiaan yang berpangku pada kebijaksanaan, bukan yang sia-sia, tapi ada kebermanfaatnya bagi manusia.
Dalam Philebus, mungkin Plato menjadi tak habis pikir sendiri, kenapa banyak orang berkecenderungan mentertawakan orang lain ketika orang lain dalam keadaan yang tidak menentu, ketika orang lain lagi dirundung kesialan. Kenapa orang gemar mentertawakan nasib sial orang lain, seakan-akan mentertawakan kesialan orang lain menjadikan orang bahagia. Plato sendiri merupakan filsuf yang banyak bicara etika kehidupan, sehingga bagi Plato menjadi ganjil bahkan menjadi sebuah tragedi atau menjadi superior sendiri bagi seseorang manakala mentertawakan kelemahan orang lain. Karena merasa superior, maka dengan mudah menganggap orang lain lemah lalu seperti orang yang hilang akal sehat dan dengan mudah merendahkan orang lain.
Boleh juga berdasarkan pengalaman Plato sendiri ketika menjadi murid Socrates. Ketika banyak orang, khususnya kaum Sofis dan para oligarkhi yang mentertawakan Socrates ketika dijatuhi hukuman meminum racun, sehingga Plato memandang tawa sebagai sebuah sikap superior pada orang-orang yang gemar mentertawakan kelemahan orang lain. Komedi yang dibumbuhi humor sebagai sebuah tontonan di Yunani pada saat itu, membuat Plato berpikir ulang tentang keberadaan humor. Humor menjadi sesuatu yang aneh bagi Plato; karena humor banyak mentertawakan keganjilan dan bersifat superioritas. Seakan-akan, orang beramai-ramai menonton komedi yang tujuannya hanya untuk mentertawakan kesialan-kesialan yang diciptakan, pengaruhnya justeru menjadi tidak baik, menjadi sebuah kebiasaan dan kegemaran ketika melihat orang terjatuh atau ketika orang ditimba kesialan.
Tidak mungkin Plato keberatan terhadap humor dan tawa kalau tidak ada asal muasalnya? Tidak mungkin Plato menolak keberadaan humor dan tawa kalau tidak ada pengalaman yang melintasi hidupnya. Secara psikologis, seseorang boleh saja mengalami sebuah phobia terhadap hal tertentu, berdasarkan pengalaman yang dialaminya. Demikian juga Plato, ia merupakan intelektual yang ilmunya sudah terasah. Plato dididik oleh Socrates dalam pengabdiannya hingga Socrates meninggal dunia akibat hukuman mati.
Betapa sedihnya Plato ketika ditinggalkan oleh gurunya itu, sampai-sampai Plato tidak mau hadir ketika Socrates dieksekusi. Plato jatuh sakit, begitu berat bebannya memikirkan nasib gurunya itu. Keabsenannya itu merupakan duka yang sangat mendalam, sehingga Plato tidak sanggup menerima dan menyaksikan gurunya dihukum mati, apalagi dengan penuh kerelaan dan keikhlasan meminum racun. Apa yang tidak diberikan Socrates untuk Athena? Jiwa dan raganya sudah pernah dibuktikan dengan sikap nasionalisme ketika melawan kaum Sparta. Betapa tragis dan ironinya pengadilan itu yang dengan semena-mena dan penuh tawa menghukum Socrates dengan menghilangkan nyawanya.
Kesedihan Plato setelah ditinggalkan oleh Sokrates terwujud dalam perubahan besar dalam hidup dan pemikirannya, serta dalam karya besarnya yang abadi. Kematian gurunya itu menjadi sesuatu yang dianggap tidak adil. Plato juga tidak mau merintih terlalu lama, kematian gurunya justru membuatnya mampu menegakkan sumpah dan cita-citanya; Plato akan meneruskan cita-cita gurunya dan dengan sikap idealis yang dimilikinya, Plato ingin mengabdi dengan sepenuh hidupnya untuk melanjutkan menyebar filsafat seperti pengabdian yang dilakukan gurunya itu. Setelah peristiwa eksekusi Socrates dapat dilihat sebagai sebuah respons terhadap kematian yang dialami Socrates, yang bagi Plato sesuatu yang sama sekali tidak adil. Kematian Socrates juga menginspirasinya dalam membentuk idealisme filsafatnya dan lewat tragedi itu juga telah membangkitkan cita-citanya untuk dapat mewujudkan sebuah negara ideal yang kemudian dipimpin oleh seorang filsuf, tujuannya adalah untuk mencegah tragedi ketidakadilan sebagaimana yang menimpa gurunya Socrates.
Itulah sebabnya Plato merasa keberatan terhadap tawa dan menganggap tawa bersifat jahat. Bagi Plato, kenikmatan dari semuah komedi yang menghasilkan tawa merupakan bentuk dari sebuah cemoohan. Secara spesifik, tawa yang dihasilkan pada sebuah komedi merupakan sesuatu yang konyol dan bagi Plato hal ini sama seperti sebuah kejahatan yang sangat buruk. Yang dimaksud ‘keburukan’ oleh Plato adalah ketidaktahuan diri seseorang terhadap orang yang ditertawakan. Orang-orang yang mentertawakan orang lain lebih merasa dirinya terhormat dari orang yang menjadi objek tertawaan. Mereka merasa di atas, merasa hebat bahkan merasa lebih berbudi dibandingkan orang lain. Plato menganggap sifat mentertawan orang lain itu adalah suatu perbuatan jahat, tidak tahu diri bahkan memiliki moral yang tercela.
Dengan cemoohan itu menjadikan penonton tertawa, karena yang dicemoohkan menjadi terpojok bahkan menjadi tidak berkutik alias tidak berdaya. Seakan-akan dia sudah dikalahkan dan menerima saja demi membuat orang lain tertawa. Orang lain akan tertawa terbahak-bahak, tertawa dalam kepuasannya lewat sebuah kekonyolan, keterpojokan yang dialami oleh si pelakon komedi tersebut. Seolah-olah tidak ada cara lain, kalau tidak dalam bentuk cemoohan seakan-akan tidak kreatif dalam menghadirkan humor. Plato mengartikan kekonyolan itu sebagai kegagalan bagi seseorang dalam mengenal dirinya sendiri. Menjadi sesuatu yang menggelikan bagi seorang pemain komedi. Maka Plato menganggap, demikian kejamnya sebuah humor semacam ini.
Aristoteles sebagai filsuf yang sekaligus murid Plato, juga beranggapan bahwa komedi merupakan sesuatu yang konyol. Plato, dalam Philebus mendefinisikan hal-hal yang konyol sebagai suatu kegagalan dalam pengenalan diri seseorang, kegagalan semacam itu sebagai sesuatu hal yang menggelikan pada individu-individu yang memerankan dalam sebuah pertunjukan komedi. Bagi seorang komedian, menurut Plato akan terus menampilkan dirinya sebagai sosok yang selalu menjadi tertawaan banyak orang lewat berbagai kekonyolan yang ditampilkannya. Bagi seorang komedian, ketika membuat orang lain tertawa dianggap sebagai sesuatu yang sukses, walaupun kekonyolan itu oleh Plato diartikan sebagai sesuatu yang kejam. Bagi Plato, mentertawakan kekonyolan orang lain adalah sesuatu yang salah, kalau tidak mau dikatakan sebagai sesuatu yang kejam. Seorang komedian harus menjalani hidup sesuai dengan apa yang diinginkan orang lain, karena ia harus mampu menampilkan sesuai yang diinginkan penonton.
Plato sendiri merasa khawatir jika tawa menjadi tidak terkendali maka akan mengarah kepada merendahkan bahkan orang yang merasa ditertawakan dengan sendirinya akan merasa direndahkan. Orang akan dibuat malu, malah akan timbul rasa sedih pada diri seseorang akibat merasa ditertawakan. Pada sisi ini, dapat dilihat ketika seseorang terpeleset karena kulit pisang, misalnya. Atau ada seseorang yang terantuk di pintu kaca. Lihatlah, bagaimana ekspresi mereka ketika kita mentertawakannya. Menurut Plato, orang-orang yang tertawa memandang diri mereka lebih kaya, tampan, dan lebih saleh dari sesungguhnya, apalagi suka membandingkan dengan orang lain. Ketika menertawakan orang lain, seseorang sedang menikmati sesuatu yang jahat, dan itu secara moral tidak layak dilakukan.


























































Leave a Review