Oleh: Syarifuddin Abe
Coba anda bayangkan, seandainya konser Dewa 19 jadi dilaksanakan di Kota Lhokseumawe beberapa waktu lalu, mungkin dengan terjadinya banjir bandang di Lhokseumawe dan kawasan Aceh Utara, oleh beberapa pihak akan dengan gampang menuduh, bahwa banjir bandang yang menelan korban jiwa dan kehancuran yang cukup parah itu menjadi satu-satunya alasan karena diadakan konser. Akan tetapi, konser tidak jadi dan batal dilaksanakan. Namun, kenapa bencana tetap terjadi? Di mana letak kesalahannya? Jangan-jangan, para pihak yang anti musik khususnya para agamawan dan pihak yang melarang konser itu menjadi akibat dari terjadinya bencana?
Kalau dulu para pihak agamawan itu dengan mudahnya menuduh kegiatan masyarakat yang dianggapnya tidak sesuai syari’at dapat membawa musibah atau bencana. Dengan rasa superioritasnya yang penuh arogansi melarang ini-itu dengan alasan dapat mendatangkan bala dari Tuhan, tsunami atau banjir misalnya. Sekarang boleh juga kita sebagai masyarakat beranggapan; jangan-jangan larangan itu sebagai akibat dari perbuatan terselubung, perbuatan terhijab para yang melarang dan mencurigai konser itu, sehingga Tuhan tidak rela dan akhirnya Tuhan mengirim bencana? Boleh saja Tuhan akan berkata, “Jangan rebut hak dan wilayah-Ku”, kata Tuhan. Memang, harus diakui, Tuhan itu Maha Humor.
Apa mungkin, kaum agamawan itu punya dosa? Boleh jadi. Boleh juga pasti. Tidak mungkin tidak? Tapi yang namanya manusia pasti tak luput dari yang namanya dosa. Siapa bilang para agamawan tidak punya dosa? Mungkin, kita-kita yang awam selalu menganggap para agamawan itu tidak ada dosa. Atau mereka selalu dalam lindungan dan kasih Allah? Belum tentu. Pasti tidak mungkin. Kecuali para agamawan itu memang memiliki jalur yang tersambung dengan Allah. Namun demikian, mereka juga dituntut selalu bertaubat kepada Allah. Kita sering mendengar, Nabi saja tidak luput dari salah, apalagi para agamawan itu, lebih banyak salah dan mengakibatkan berdosa? Hanya saja, para Nabi setiap saat bertobat, mungkin beda dengan para agamwan? Jadi, kita jangan terlalu merasakan, bahwa Tuhan selalu mengamini keinginan kita. Kalau yang kita sembah malah bukan Allah; dunia, harta, wanita misalnya. Bahkan tanpa sadar, hantu pun kadang kita sembah. Apa mungkin Tuhan akan menerima dan akan mengamini semua keinginan kita? Termasuk melarang konser, misalnya? Humor Tuhan memang penuh rahasia.
Humor Tuhan membuat manusia tidak dapat tertawa, selucu apa pun anda, anda pasti tidak sanggup tertawa dengan humor Tuhan. Humor Tuhan menjadikan manusia yang sok tahu tentang Tuhan terdiam. Hilang kesadarannya. Jauh dari logika. Bahkan logika manusia sekalipun tidak dapat melampaui logika Tuhan. Hilang makna tawa yang selama ini mereka tertawa lewat fatwa-fatwa superioritasnya. Humor Tuhan memberi peringatan kepada orang-orang yang merasa dirinya melebihi Tuhan. Memang ada orang yang berani melarang humor Tuhan? Apakah ada orang yang berani menganggap humor Tuhan itu haram?
Humor Tuhan seperti sebuah peringatan bagi orang-orang yang merasa dirinya Tuhan dengan segala kecongkakannya, keangkuhannya, ke’aku’annya. Seakan-akan dia satu-satunya yang mampu menterjemahkan keinginan Tuhan. Seakan-akan mereka satu-satunya yang mampu mengetahui segala yang Tuhan ingin dan yang tidak Tuhan inginkan. Masyarakat diposisikan sebagai makhluk tidak tahu apa-apa, tidak belajar agama, tidak berilmu, sebagai petaka, perusak, pendatang murka Tuhan, makhluk rendahan yang tidak paham tentang agama dan Tuhan. Sehingga semua aktifitas masyarakat dicurigai, diintip-intip, ditakut-takuti, lalu dilarang. Manusia itu makhluk yang dibekali akal oleh Tuhan, tidak hanya selesai dengan melarang, tapi sertakan juga alasan bahkan solusinya. Bila perlu ajak mereka diskusi. Jangan digantung?
Tuhan demikian kejam? Seolah-olah, kerja Tuhan hanya mendatangkan bencana seperti tsunami dan banjir. Hanya karena ulah manusia melaksanakan suatu kegiatan yang menurut segelintir orang haram dilaksanakan, lalu dengan mudah beralasan akan mendatangkan murka Tuhan. Memangnya apa yang masyarakat atau individu lakukan di Aceh tidak dilakukan di tempat lain? Lalu, kenapa hanya di Aceh yang akan Tuhan turunkan bala? Kenapa di tempat lain tidak? Apakah murka Tuhan begitu murah harganya? Apakah Tuhan dapat didekte dengan ulah segelintir manusia? Bukankah Tuhan telah memberikan beberapa peringatan serta hak-hak kepada setiap makhluk-Nya? Termasuk alam dan manusia? Terus, bagaimana kita berani mengambil sebuah keputusan yang seolah-olah kita begitu dekatnya dengan Tuhan? Sehingga dengan beraninya, semua yang kita pikirkan, semua yang kita putuskan, merupakan keputusan Tuhan? Lalu, kapan anda bertemu Tuhan sehingga dengan beraninya menganggap keputusan anda itu merupakan bulat dan sesuai dengan keputusan Tuhan? Yang perlu kita ingat selalu adalah, “tidak semua keputusan kita, sesuai dengan keputusan Tuhan”, atau “tidak semua mau-nya kita sebagai manusia, akan sesuai dengan mau-Nya Tuhan?”. Maka janganlah engkau berjalan di atas muka bumi ini denga penuh sombong dan congkak.
Setiap ciptaan yang Allah ciptakan, Allah juga telah memberikan hak ferogatifnya kepada masing-masing makhluk-Nya itu. Itulah yang namanya ‘hukum alam’. Lalu kenapa kita sibuk dengan saling mengancam? Suka menyalahkan? Bahkan dengan gagahnya kita berani memveto sehingga dengan penuh keberanian juga kita mendahului Tuhan? Apa tidak ada cara lain, untuk memberitahukan atau menyampaikan sesuatu? Apakah demikian lemahnya kita, sehingga mengancam merupakan jalan akhir? Apakah akal yang telah Allah beri, tidak sanggup kita pertanggungjawabkan dengan mempergunakan akal sebagaimana mestinya? Atau akal yang kita bangga-banggakan demikian tumpul, sehingga kita sampai tidak sanggup menggunakannya? Sehingga kita menistakannya dan meremehkan serta merendahkannya. Kalau kita tidak mampu memposisikan akal sebagai senjata dalam berpikir dan mengambil sebuah keputusan, apa gunanya kita mengaku sebagai manusia yang notabenenya kita bangga menganggap diri sebagai khalifah fil ardh? Lalu apa bedanya kita dengan makhluk lainnya di atas dunia ini yang Allah telah bebaskan dari akal? Inilah yang dikatakan dengan manusia yang merendahkan martabat dirinya?
Introspeksi dan tabayyun lebih berharga daripada sebuah larangan dan ancaman. Memahami keberadaan diri dan akibat yang ditimbulkannya, lebih baik daripada sebuah cemoohan yang dapat merendahkan keberadaan diri kita masing-masing. Seseorang yang memiliki otoritas tertentu terhadap publik, seharusnya memiliki kerendahan hati serta memiliki kebijaksanaan dalam berkomunikasi dengan masyarakatnya (umat). Bukankah setiap masalah selalu ada solusinya? Tuhan tidak mungkin menciptakan sesuatu masalah, atau apa pun namanya, pasti Tuhan ciptakan juga solusinya. Allah berikan manusia akal, tujuan salah satunya adalah dalam menyahuti setiap masalah yang hadir dengan kebijaksanaan. Bukan main larang dan menghambat sesuka hatinya. Seharusnya, dalam anjuran dan larangan itu, tidak ada yang merasa punya power, tidak ada yang merasa memiliki superioritas. Segala sesuatunya dapat dikomunikasikan. Dan kepada pihak tertentu, bukan larangan seharusnya kekuatannya, melainkan solusinya. Jangan karena terlalu merasa ber-power atau merasa memiliki kewenangan, atau merasa lebih ilmunya dengan orang lain, atau merasa menguasai ilmu tertentu, atau bangga mengetahui halal dan haram, lalu berlaku seperti seorang diktator dengan kekuasaannya, bahkan dengan penuh kecongkakan dan kesombongan sudah seperti seorang tiran.
Yang perlu dilakukan oleh manusia adalah saling menjaga, menghormati, menghargai, selalu dalam kesabaran, tidak saling mengganggu, tidak saling mengancam, jangan seenaknya memperlakukannya. Mentang-mentang kita merasa punya ilmu dan merasa punya otoritas, lalu seenaknya juga mengancam dan menyalahkan. Makanya, tidak hanya antar manusia saja, antara manusia dengan alam juga punya ketentuannya dari Allah, saling menghormati dan menghargai, saling menjaga keselarasannya, menjaga kelestariannya, menjaga keharmonisan, jangan merusak. Alam juga bisa marah. Allah memberi hak kepada alam dengan hukum alamnya. Kapan alam boleh diam dan kapan alam boleh marah; telah Allah atur lewat yang namanya hukum alam. Kalau kita pikir-pikir, dengan hukum alamnya, sebuah bencana dapat saja terjadi walau sebuah habitat yang lain tidak ada pada lokasi dan tempat bencana itu terjadi. Tsunami 2004 misalnya, walau di Aceh tidak ada seorang manusia pun, secara hukum alam, tsunami tetap akan terjadi. Barang siapa yang tidak bersyukur dengan nikmat Allah, tunggu saja apa yang Allah berikan? Karena tsunami ada hubungannya dengan hukum alam, yang menjadi korban bukan orang yang dianggap jahat saja, yang baik juga boleh saja jadi korban.
Kalau kita pikir-pikir juga, demikian mubazirnya-kah ciptaan Tuhan? Apa Tuhan kelebihan energi, sehingga menciptakan sesuatu itu menjadi demikian tidak berguna? Termasuk musik yang selama ini menjadi masalah yang amat serius di Aceh. Setiap konser mau diadakan, ada saja pihak tertentu yang mengatasnamakan agama atau tertentu, melarang dan mengancam? Demikian hinakah mereka pemusik dan yang menyukai musik? Sehingga seakan-akan kalau konser jadi dilaksanakan, alam akan murka. Kalau memang alam demikian murka, kenapa tidak Allah perintahkan kepada alam agar menelan saja para pemusik itu. Dengan demikian tidak mengganggu pihak tertentu dan alam ini akan jauh dari irama musik itu.
Apakah kita tidak pernah berpikir, atau kita memang tidak mau berpikir lagi? Mubazir dong Allah peruntukkan akal kepada kita? Allah menciptakan alam disertai dengan irama-irama alam untuk menjadikan umat manusia tidak sepi. Dapat menambah rasa syukur yang mendalam melalui irama-irama itu. Melalui irama alam, lewat kreatifitas yang diberikan Tuhan kepada manusia, dan dengan kreatifitas Tuhan beri itu diolah, kemudian melahirkan irama, notasi-notasi, nada-nada, ketika disatupadukan jadilah sebuah alunan irama yang indah, menyejukkan dan menjadi asyik untuk dinikmati. Lewat alunan irama itu juga kebesaran dan keindahan Tuhan terhayati dan terbayangkan oleh manusia. Dengan itu pula manusia mengucap rasa syukur sambil membaca puisi-puisi dan syair-syair untuk mengagungkan Sang Pencipta, Allah seru sekalian alam. Namun relung-relung itu disumbat, ditutup, kalau boleh diancam dan dihancurkan. Dari mana lagi bagi sebagian manusia dapat mengagungkan keagungan Tuhannya itu?
Maaf. Mohon maaf sekali. Kenapa kita merasa musik itu menjadi sesuatu yang sangat mengganggu kita? Padahal irama musik itu memiliki nilai keindahan yang orang kadang tidak dapat mengucapkan dengan kata-kata. Bambu saja, seperti angklung di Jawa Barat, ketika dibuat dengan struktur yang semestinya, ketika dipukul dan dimainkan justru menghasilkan irama yang indah bahkan sangat enak untuk dinikmati. Dari situ juga lahir kekaguman manusia kepada setiap irama yang dihasilkan, bahkan lewat irama itu juga, orang dengan mudah bahkan tanpa sadar berucap, “Subhaanallah”. Lalu kenapa tidak boleh? Kenapa sampai pada tahap melarang? kenapa haram? Lalu, apa bedanya dengan membaca dalail khairat dan sejenisnya di menasah-menasah atau balai-balai, yang teriakannya kadang hingga larut malam, yang suara-iramanya sangat kacau sehingga mengganggu orang tidur? Bahkan membengkakkan telinga orang yang lagi istirahat?
Apakah kita boleh dengan serta-merta atau menurut kita bahwa yang kita lakukan itu tidak bertentangan dengan agama yang kita anut? Atau mungkin kita dengan serta-merta juga menganggap itu adalah berbentuk shalawat atau berupa puja-puji terhadap Tuhan yang kita sembah? Kalau ada orang yang menolak atau meminta untuk tidak menggunakan microfon, apakah mereka merupakan orang yang tidak mencintai Rasulullah atau merupakan orang yang anti kepada ajaran agamanya? Apakah dengan mengatasnamakan ‘agama’, lalu kita boleh dengan serta-merta teriak-teriak dengan irama yang tidak jelas dan tanpa peduli kalau apa yang kita lakukan juga mengganggu orang lain? Terutama saudara kita yang beda keyakinan? Apakah kalau ada orang yang tidak setuju dengan apa yang kita lakukan yang kebetulan mengatasnamakan ‘agama’, lalu orang itu boleh kita anggap tidak ada iman? Tidak mencintai Rasulullah? Anti agama? Telah murtad? Kafir?
Di sinilah kita perlu belajar rendah hati, belajar bijaksana, tabayyun. Sehingga kita tidak serta-merta mengambil sebuah kesimpulan yang cacat logika bahkan dapat digolong sesat pikir. Mungkin juga tidak semua orang suka atau setuju dengan tulisan saya ini, namun demikian inilah pandangan saya. Apabila salah, saya akan mendapatkan satu pahala, dan apabila benar, saya akan mendapatkan dua pahala. Namun demikian, saya telah mencoba untuk berijtihad dalam mencari sebuah kebenaran. Saling memahami, tidak saling menuduh, apalagi sampai coba-coba mencari-cari dalil untuk dapat mengharamkan bahkan mencari-cari dalil untuk dapat menganggap orang lain kafir; sungguh suatu ego dengan ke’aku’annya yang mencoba untuk melawan ketetapan Tuhan. Sifat rendah hati adalah sebuah kebijaksanaan tertinggi yang harus dimiliki manusia yang oleh Allah akan sangat mencintai orang-orang yang seperti ini. Apalagi kalau yang bersangkutan paham dan mengaku paham agama. Untuk apa kita mengaku bertuhan dan beragama, kalau tujuan akhir hanya untuk mencari dalil agar bebas menganggap orang lain kafir?
Wallahu a’lam bisshawab…



























































Leave a Review