Menggali Potensi Restorasi sebagai Destinasi Wisata

Oleh: Mukhlis Akbar

Restorasi hutan kembali yang dilakukan di beberapa titik seluruh wilayah Aceh memang memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap kelestarian kawasan Ekosistem Leuser. Meski kini masih terancam oleh peran orang-orang yang tidak bertanggung jawab, hal ini terutama di hutan lindung maupun Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang lama ke lamaan semakin berkurang.

Perubahan ini terlihat drastis dari hutan-hutan yang telah rusak akibat kegiatan-kegiatan pembalakan, namun secara bertahap, kini kembali hijau dan segar. Semua itu tak terlepas dari peran beberapa lembaga pemerintahan maupun swasta yang terus berkolaborasi dalam program restorasi yang ada di Aceh, terutama pihak pemangku kebijakan yang bekerjasama dengan Forum Konservasi Leuser (FKL).

Dari hasil kegitan restorasi yang sudah dilakukan ini memang memicu hasil-hasil yang positif, selain menghasilkan tutupan tumbuhan yang sudah mulai terlihat bagus, juga banyak memperkaya jenis-jenis kayu atau tumbuhan yang ada di dalamnya. Selain itu, juga dengan kembali hijaunya hutan-hutan yang sudah direstorasi jelas mengembalikan fungsi hutan. Dulunya ketika huta rusak, banyak hewan yang hilang dari wilayah hutan yang rusak tersebut, namun setelah dilakukan restorasi kembali banyak hewan-hewan yang dulunya jarang terlihat kini kembali menampakkan wajahnya, dan hewan tersebut merasa kembali ke rumah habitatnya yang dulu pernah hilang.

Namun, yang tambah menarik dari hasil restorasi yang telah dilakukan ini tak hanya mengundang satwa-satwa yang dulu hilang/pergi, tetapi juga menarik perhatian bagi pelancong (pecinta alam) untuk menjadikan wilayah yang sudah pulih ini tempat wisata. Bahkan hampir semua usia suka datang ke wilayah ini. Terkadang tak hanya wisatawan lokal, melainkan juga dari pelancong manca negara. Bagaimana tidak, di wilayah ini terdapatvarian sepot foto yang memanjakan mata, terlebih lagi tak jarang terkadang mereka melakukan kegiatan berkemah di wilayah tepian sungai yang indah sepanjang melintasi wilayah restorasi, sehingga menambah daya tarik bagi para pengunjung.

Selain itu, di era digitalisasi ini memang mempengarungi pola pikir dan perilaku para generasi muda, ada kecenderungan saat ini bahwa mengunjungi wilayah tertentu memiliki keunikan dan suasana baru. Selain menjadi tempat menenangkan pikiran dari kebisingan kota, hutan juga menjadi tempat memicu inspirasi bagi para konten kreator dalam menentukan konten-konten yang menarik tentang hutan dan satwa-satwa di dalamnya. Dengan kecakapan para konten kreator yang sering berwisata ke hutan, ada banya kemasan wawasan dan ilmu pengetahuan yang dipublisnya ke dunia tanpa batas.

Di wilayah kawasan restorasi juga para konten kreator selain mendapatkan konten yang bagus dan mengedukasi, ia juga mendapatkan terkait tata cara melakukan reboisasi, mulai dari pemilihan benih bibit dan penyemaian sampai di tahap usia berapa bibit sudah bisa ditanam. Bahkan para pengunjung juga akan diberi kesempatan dalam menyumbangkan tenaganya untuk melakukan penanaman bibit dalam upaya menanam satu pohon untuk kelestarian hutan, dan hal itu juga bagian dari amal ibadah dalam menjaga bumi ciptaan Tuhan demi kemaslahatan umat manusia.

Proses restorasi yang begitu panjang memang penuh tantangan dalam melakukan pada suatu wilayah-wilayah yang sudah terdampak kerusakan parah, tak jarang juga nyawa menjadi taruhan dalam melakukan proses tersebut. Namum proses memang tak pernah mengkhianati hasil, dari proses panjang itu kita melihat bagaimana hutan-hutan yang rusak kembali pulih secara perlahan, dan manfaatnya dapat kita rasakan secara umum, bukan hanya di tempat-tempat yang dilakukan restorasi saja, melainkan nikmat itu hampir dirasakan seluruh manusia bukan hanya dari udara, oksigen, namun sejauh mata memandang juga seakan dimanjakan oleh hutan yang kembali hijau dan memukau.
Dalam hal ini restorasi juga memiliki fungsi yang sangat signifikan selain dari beberapa poin yang telah disampaikan di atas, yaitu salah satunya dengan dilakukannya restorasi juga dapat menghambat abrasi di wilayah tepi sungai di kawasan restorasi. Dengan demilian,dabat menghambat proses terjadinya banjir bandang karena ada pohon-pohon membesar setelah ditanam.

Misalnya, menanam pohon bambu di tepian sungai selain membuat suasana lebih indah dan menjadi tempat wisata bambu, juga menjadi tanaman yang menghambat abrasi, selain itu dengan banyaknya tumbuhan-tumbuhan yang mulai memadati kembali di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), yang dulunya rusak juga kini banyak menimbukan sumber-sumber mata air baru yang menambah keelokan lokasi tersebut. Sehingga memiliki kepuasan tersendiri baik kami selaku staf yang melakukan reboisasi dengan cara restorasi maupun para pengunjung yang datang kelokasi tersebut.

Namun halnya yang sangat ditekankan kepada para pengunjung saat memasuki KEL yang sudah ramai dikunjungai masyarakat agar tetap menjaga kelestarian lingkungan sekitar, sehingga nantinya dapat menciptakan lokasi tersebut tigak kembali tercemar atau bersampah. Jangan sempat proses restorasi yang begitu panjang kemudian dapat rusak dalam satu hari oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab.

“Mari cintai hutan dengan sepenuh jiwa, datangi aku, berpetualanglah padaku, tetapi tetaplah menjagaku, agar kita semua terjaga”.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi