Inspirasi dari Hasballah; Menekuni Dunia Burung dari Hutan ke Hutan

Hasballah, seorang yang dikenal sebagai Profesor Burung di Kawasan Ekosistem Leuser.

Hutan Leuser memiliki banyak jenis fauna yang ikonik, dapat disebut juga langka, dan nyaris punah. Jika ditemukan, itu pun kawasan pedalaman hutan yang sangat jauh, seperti di dalam Kawasan Ekosistem Leuser(KEL). Semua itu di sebabkan oleh tingginya harga jual beli hewan tersebut seperti burung Rangkong Gading, Murai Batu dan banyak jenis lainnya. Sehingga menimbulkan tingginya tingkat perburuan yang terjadi secara besar-besaran.
Kegiatan ilegal trersebut dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, oknum manusia serakah yang merusak dan hanya memikirkan keutungan sesaat tanpa memikirkan dampak jangka panjang dan pentingnya keseimbangan.

Dari sekian banyak orang yang melakukan perburuan di hutan, namun ada juga beberapa yang memang menjaga dan memiliki kecintaan yang lebih terhadap hewan, terutama burung. Hasballah namanya, namun kami lebih sering memanggilnya dengan sebutan Tgk. Hasbalah, dia juga dijuluki sang Profesor Burung, hal tersebut karena ia memiliki keahliah terkait dunia burung. Beliau lahir di Pasi Lembang, sekitar tahun 1970, dan menyelesaikan sekolahnya hanya sampai tingkat sekolah menengah atas, dan ia pernah juga menempuh pendidikan di pesatren.

Dengan ketekunan yang ia miliki, sehingga pada tahun 1995, Tgk. Hasbalah mulai menggeluti dunia konservasi yang berfokus dalam penelitian burung, ilmu yang beliau miliki tak terlepas dari pengalaman-pengalaman yang ia jalani. Selama penulis mengenal kiprahnya dalam dunia burung, ia pernah ditugaskan di lokasi atau tempat yang berbada-beda. Awal mulanya, ia ditugaskan di pedalaman hutan Subulussalam yaitu Stasiun Riset Lae soraya. Setelah itu, mulai berpindah ke daerah lain, seperti Besitang atau yang sering didengar Aras Napal.

Dengan ilmu dan pemahaman yang mendalam terkait burung, ia terus berperan menjadi guru sekaligus pejuang konservasi dalam upaya melihat dan memantau persebaran jenis-jenis burung yang masih ada di suatu tempat atau wilayah. Dia sekarang bertugas dan menetap di Soraya, meskipun terkadang berpindah-pindah dari wilayah riset Forum Konservasi Leuser (FKL) yang tersebar di berbagai titik di wilayah Provinsi Aceh. Setiap harinya, ia mengelilingi setiap plot yang sudah ditentukan di kawasan hutan, hal ini dilakukan untuk memantau persebaran burung yang ada di KEL.

Bagi penulis, ada sesuatu yang menarik dan membuat saya terkesima kepada Hasbalah, ia mampu mengingat 500 nama jenis burung lengkap dengan bahasa latinya. Dari total kurang lebih 600 sampai 700 jenis burung yang ad di Sumatera, tak hanya daya ingat Hasbalah yang kuat, namun pendengaran ia pun masih segar luar biasa. Setiap melakukan kegitan dalam pengecekan setiap plot atau pun mendampingi mahasiswa yang melakukan penelitian terhadap burung, akan dimudahkan dengan adanya pendampingan Hasbalah, karena jika jenis burung itu tidak terlihat dan tidak dapat difoto, namun, dengan hanya mendengar suara burung tersebut dari jauh saja, Hasballah mampu mengindetifikasi dan mengenali jenis burung tersebut.

Saya melihat, aktivitas Hasballah setiap paginya, dengan pakaian rapi dan mino kulernya yang tergantung di lehernya, serta golok yang terikat di pingganya, ia kemudian memasuki kawasan hutan hijau untuk melamukan pengamatan terhadap burung, walaupun terkadang ia lakukan secara sendiri., namun tak menyurutkan semangatnya.

Dengan tubuh kurusnya, setiap harinya ia melintasi jalur yang sedikit menguras mental dan tenaga, seperti lereng, tanjakan dan turunan yang agak sedikit terjal. Namun demikian, baginya hal tersebut adalah hal yang biasa dan menjadi terbiasa dengan tanjakan yang terjal.

Di kawasan Stasiun Riset Lae Sora, terdapat rekam jejak Hasbalah yang menarik bagi saya, ia banyak membimbing para siswa, mahasiswa, peneliti muda, hingga para peneliri dalam dan luar negeri. Kini usia Hasballah saya rasa tak muda lagi, tubuhnya mulai terasa lemah dan satu tahun terakhir, ketika saya bertemu dengannya mulai sakit-sakitan dan pandangannya pun terkadang sudah sedikit buram dan jarak pandangnya tak sejauh dulu lagi.

Namun demikian, ia masih tetap semangat belajar dan mengajar di hutan, sering sekali saya melihat ia duduk di ruangan tengah dengan kacamata kecilnya membaca buku dan masih terus semangat belajar. Tak kalah menariknya lagi, bagai saya, ia adalah orang yang selalu terlihat tenang dan taat dalam beribadah, serta berpendirian yang kokoh.

Ketika kami pernah berdiskusi secara kecil-kecilan, Hasballah memiliki harapan kepada generasi muda agar lebih giat dalam belajar lagi dan menekuni sesuatu bidang dengan konsisten, agar akan tumbuh generasi-generasi yang lebih cakap dari dirinya di masa yang akan datang. Sehingga, agar dapat menggantikan dirinya apabila kedepannya ia sudah menghadap Allah Swt.

“Teruslah belajar walau usia tuk muda lagi, karna ilmu apapun itu pasti ada manfaatnya, jika dibawa kearah yang positif dan baik akan menghasil sesuatu yang baik pula, jika dijalani dengan proses yang baik.” Nasehat Hasballah di sela diskusi kami.

Menurut Hasbalah, meneliti dan menyukai burung bukan hanya sekedar hobi baginya, namun telah dianggapnya sebagai praktik dan bernilai ibadah, serta demi keberlangsungan populasi burung agar tidak punah dan hilang. Burung-burung yang memiliki peran yang sangat penting demi keseimbangan ekosistem, burung memiliki peran yang sangat penting bagi penyerbukan tumbuhan ataupun pohon-pohon.

Tak hanya itu, untuk sekeimbangan rantai makanan yang ada di hutan atau di kawasan pertanian masyarakat untuk mengurangi hama ulat yang mengakibatkan tanaman petani jadi rusak dan mati, kemudian berdampak kerugian bagi petani. Dengan demikian, mari sama-sama kita mulai menjaga populasi burung demi keberlangsungan hidup kita kedepannya. Semoga!

Penulis adalah Mukhlis Akbar, Pegiat Konservasi

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi