Oleh: Mukhlis Akbar
Hutan di Aceh memang memiliki keindahan yang tak terduga-duga, sangat kaya dengan keaneka ragaman hayati yang ada di dalamnya. Hutanya begitu lebat, sejauh mata memangdang begitu menarik banyan pohon-pohon besar yang seakan di susun rapi di dalamnya. Maka, tak heran apabila saat ini menjadi tren bagi generasi-generasi muda untuk masuk kedalam kawasan hutan.
Untuk menjelajahinya, dan menjamahnya, serta melihat keidahan ciptaan Tuhan yang terbentang luas, hutan kita ekosistem Leuser namanya. Sangat tersohor sampai ke penjuru dunia, keseruan berpetualang di dalamnya terkadang tak mampu di jelaskan dengan sebuah kata-kata.
Dalam beberapa tahun ini, saya tak mengira kehidupan saya berubah drastis yang dulunya tak mengenal bagaimana alam, hutan, dan apapun sejenisnya yang berhubungan dengan konservasi. Walau saya tinggal di sebuah pedesaan yang dikelilingan bukit-bukit yang tersusun rapi, tinggi, bebatasan langsung dengan kawasan ekosistem leuser, yang dulunya menjadi tempat saya bermain dan dibesarkan, sama sekali tak pernah saya ketahui apa fungsi hutan itu sebenarnya.
Kini, hampir kurang lebih enam tahun lamanya saya berpetualang di dalam kawasan ekosistem Leuser yang ada di Aceh. Setelah saya menyelesaikan kuliah, kemudian saya diperkenankan bekerja pada salah suatau lembaga, sehingga saya memiliki kesempatan untuk berpetualang dan belajar di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).
Saya terus menimba ilmu di dalamnya, sungguh sangat menarik, tak hanya keidahan hutan dan segala jenis di dalamnya, saya juga dipertemukan dengan orang-orang yang menarik di dalamnya, dengan segudang ilmu pengetahuan dan pengalaman mereka. Sehingga saya dapat mepelajari sedikit demi sedikit ilmu baik itu tentang hutana ataupun flaura dan faunanya, apapun yang bermanfaat dari mereka saya pelajari.
Tak hanya itu, hutan juga seakan memberi ruang tampa batas yang sangat luas untuk saya, dan bisa jadi untuk kita yang senang mempelajarinya. Tanpa disadari, semakin lama kita di dalamnya, maka semakin banyak ilmu yang kita dapat, bahkan kita dapat menyatu dengannya. Bagaimana tidak, saya tinggal di dalam hutan bahkan lebih lama dari pada di rumah saya sendiri. Dalam satu bulan saya menghabiskan waktu berpetualang di hutan selama “dua puluh dua hari” yang jauh dari kata keramaian, jaringan internet atau segala jenis lainnya.
Namun dengan hal-hal sederhana, saya bersama kolega mengabiskan waktu dengan cara-cara sederhana pula untuk menghilangkan rasa bosan. Kami mengunjungi pondok-pondok kecil masyarakat yang sudah terlanjur memiliki kebun di kawasan hutan dan melakukan penanaman pohon bersama mereka, serta berbincang-bincang hangat dengan mereka untuk menambah ke akraban, serta bercerita bagaimana terkait hutan kita ke depannya agar kita jaga dan juga dapat menghasilkan bagi mereka.
Tak hanya itu, banyak kegiatan-kegiatan positif di hutan dengan keanekaragaman di dalamnya, kita juga dapat memanfaatjannya seperti kita dapat mengambil ikan di dalam sungainya, namun dengan etika-etika dan cara yang sudah dibenarkan tanpa merusak ekosistem air yang sudah ada. Seperti memancing, menjala dan memasang perangkap-perangkap ikan lainnya dengan cara yang masih tradisional, dengan kita menjaga ekosistem air yang ada, maka kita juga menjaga sumber mata pencarian masyarakat, yakni mencari ikan, dan kita juga dapat menjaga aliran air agar tidak tercemar, agar masyarakat yang ada di hilir sungani nyaman dalam mengkonsumsi ataupun memanfaatkan air yang mengalir di wilayah pemukiman masyarakat.
Semua pemahaman itu saya ketahui selama saya mulai berbaur dengan teman-taman yang memang sudah lama menekuni dunia konservasi, sehingga mereka mempelajari ilmunya dan berbagi dengan anak-anak yang baru seperti saya yang masih belajar mengenal dunia konservasi. Mereka memberi ilmu dan mengarahkan untuk menikmati cara belajar dan berpetualang di hutan, terutama wilayah KEL yang ada di Aceh.
Di setiap hutannya, baik itu di KEL atau di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), lembaga yang saya naungi ini memiliki pos di setiap wilayah-wilayah rawannya, ataupun pintu masuknya kegiatan-kegiatan ilegal di wilayah ini, seperti perambahan, perburuan dan ilegal loging. Di pos ini kami bertahan, belajar dan berpetualang dan bersahabat dengan hutan dalam rangka upaya mulai memperbaiki hutan yang terlajur dirambah.
Dengan cara merestorasi dan mendirikan pos pembibitan di dalam hutan, dan jika dihitung-hitung selama saya bekerja di sini, saya sudah menempati “delapan pos” yang ada di Aceh, seperti di daerah Aceh Tenggara, Abdya dan Kota Subulussalam.
Memang, waktu saya, bahkan rekan saya pun juga, waktu kami banyak dihabiskan lebih lama berpetualang di hutan, dan saat di hutan, saya merasa rindu akan suasasana riuhnya desaku, namun yang lebih uniknya lagi ketika di desa saya merindukan suasana ketenangan yang ada di dalam hutan. Kicauan burungnya, hembusan anginnya, sungai yang terbentang dengan air yang begitu jernih, serta pohon yang begitu besar memanjakan mata. Suasana natural seperti ini seakan membuat saya ada kepuasan yang tak didapat di desa tempat tinggal saya. Sebaliknya, tentu sesekali ada kerinduan yang hinggap seketika saat berada di hutan, itu mungkin soal keluarga dan suasana desa saja.
Untuk itu, hutan bagi saya bukan hanya sekedar tempat berpetualang dan belajar, tetapi juga dapat dianggap rumah kedua untuk pulang. Dengan sejuta manfaatnya untuk umat manusia, saya rasa kita dipandang penting untuk menjaganya sembari kita nikmati hari ini dan untuk kebaikan kolektif di kemudian hari.



























































Leave a Review