Mengapa Sampah Selalu Berakhir di Sungai Alas?

Syifa Nuraini Arsit

Sebagai generasi muda Aceh Tenggara, penulis merasa malu melihat sungai-sungai yang ada disini. Mulai dari aliran sungai Alas yang melewati Ketambe, hingga sungai-sungai yang bermuara ke laut singkil. Sepanjang arus sungai, disuguhkan dengan pemandangan sampah berwarna-warni dan beragam bentuk. Mulai dari sampah rumah tangga hingga sampah otomotif dapat kita temui di bibir sungai Aceh Tenggara. Menjadi pertanyaan besar bagi kita, mengapa sampah-sampah ini seakan sengaja dibuang ke sungai alas?

Mirisnya, sampah-sampah ini memang sengaja dibuang oleh masyarakat ke sungai. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari minimnya pengetahuan masyarakat dalam mengelola sampah sehingga sampah tersebut tak tau harus diletakkan dimana dan berakhir ke sungai, agar tidak merusak pandangan mata.

Dalam hal ini kita perlu mengulik peran pemerintah daerah, mulai dari upaya pemerintah daerah memberikan edukasi kepada masyarkat dan memberikan media guna sebagai wadah sampah masyarakat. Hingga saat ini, keranjang sampah hanya diberikan di kutacane (kota) Aceh Tenggara saja. Sedangkan kehidupan bukan hanya ada di kota, di desa-desa yang penduduknya berinteraksi langsung dengan sungai tidak diberikan media dan kurang diperhatikan.

Apakah semua sampah di sungai berasal dari masyarakat (sampah rumah tangga) saja? Tentu tidak, banyak intansi-intansi besar pemerintahan di Aceh Tenggara bahkan tidak dapat mengelola sampah mereka, seharusnya menjadi contoh masyarakat malah menjadi nomor satu mencontohkan pencemaran lingkungan. Sekolah misalnya, intansi pendidikan ini belum dapat mencontohkan pengelolaan sampah yang baik bagi peserta didiknya dilingkungan sekolah, sampah yang mereka hasilkan banyaknya di bakar sehingga menciptakan polusi dan merusak tanah.

Sampah jika dikelola dengan baik dan sesuai dapat memberikan inovasi yang bermanfaat bagi setiap kalangan. Misalnya, kabupaten Banyumas di Jawa Tengah. Pada tahun 2023 dinobatkan sebagai kota pengelola sampah terbaik se-Asia Tenggara. Karena mendapatkan dukungan penuh dari pemeritah banyumas, program ini membawa peluang kerja bagi masyarakat banyumas. Berangkat dari daerah-daerah yang berhasil mengelola sampah, mengapa Aceh Tenggara tidak belajar dari daerah tersebut. Atau memang tidak tahu-menahu?

Tentu ada yang aneh ketika kita hanya berharap dan menunggu program dan kepedulian dari pemerintah daerah terhadap sampah, apakah sebagai manusia yang memiliki pikiran yang logis kita hanya berpangku tangan melihat hal ini? Mengapa kita tidak menjadi bagian dari pelopor masyarakat akan kepedulian terhadap sampah? Barangkali kita semua di Aceh Tenggara memang tidak memiliki kepedulian dengan tempat tinggal kita sendiri.

Aksi yang tidak berkelanjutan seperti gerakan sehari peduli sampah oleh beberapa komunitas yang ada di Aceh Tenggara. Menurut penulis tidak berperan banyak dalam penanganan sampah secara berkelanjutan.  Sehari setelah dibersihkan sampah-sampah akan mulai berdatangan lagi. Disatu sisi gerakan tersebut memang baik, tapi harus memicu yang lain untuk peduli sampah. Siapa yang lain tersebut? Jawabannya adalah Kita yang senantiasa menghasilkan sampah dalam kehidupan sehari-hari dan melibatkan ‘plastik’ di setiap aktivitas.

Apakah memang sungai di Aceh Tenggara tidak memiliki harapan untuk menjadi sungai yang bebas sampah? Tentu tidak, hal ini dapat kita patahkan dengan menghilangkan budaya buang sampah ke sungai. Dalam konteks ini, dapat diambil contoh lanjutannya dari sungai Nhieu Loc–Thi Nghe Vietnam. Sungai ini dulu merupakan sungai mati dan beracun bagi kehidupan, hal ini dikarenakan limbah industri dan sampah pemukiman penduduk yang bertempat tinggal di pinggiran sungai. Tapi sekarang sungai Nhieu Loc–Thi Nghe Vietnam menjadi salah satu sungai tercantik di Asia Tenggara dan menjadi tempat mata pencaharian sebagian masyarakat Vietnam.

Kembali ke Aceh Tenggara, sungai Alas Aceh tidaklah serusak sungai Vietnam kala itu. Tapi, tidak menutup kemungkinan jika kedepannya kita senantiasa melakukan ‘budaya buang sampah di sungai’dengan penduduk yang semakin bertambah. Maka beberapa tahun ke depan sungai Alas akan dinobatkan menjadi sungai terkotor se-Indonesia atau bahkan se-Asia.

Penulis berharap sebagai masyarakat khususnya generasi muda Aceh Tenggara, sudah saatnya kita lebih memperhatikan lingkungan, terutama sungai Alas. Menjaga sungai tidak hanya berdampak pada kita, tetapi banyak Ekosistem yang bergantung besar dengan setiap aliran sungai yang mengalir pada setiap lini kehidupan masyarakat Aceh Tenggara. Termasuk sebagai sumber ekonomi penduduk Tanoh Alas.

Penulis adalah Syifa Nuraini Arsit, Mahasiswi Pendidikan Biologi Universitas Gunung Leuser

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi