Leuser, Antara Anugerah dan Kutukan

Penulis Syahputra Ariga Ketua Umum Perkumpulan Mahasiswa Gayo Lues Se-Indonesia (PMGI)

Kabut turun perlahan di dataran tinggi Gayo Lues, menyelimuti barisan pegunungan yang dari kejauhan tampak seperti dinding raksasa penjaga kehidupan. Di sanalah Gunung Leuser berdiri, sebuah benteng alam yang namanya kerap dielu-elukan sebagai kebanggaan Aceh namun sekaligus menyimpan luka lama: hutan yang dijaga sepenuh hati oleh masyarakat lokal, tetapi hasilnya dirasakan oleh pihak lain.

Pada pagi hari ketika matahari belum mengangkat warna emasnya, suara burung rangkong memecah kesunyian. Sungai-sungai kecil mengalir jernih dari perut hutan, menyusuri lembah hingga persawahan. Bagi masyarakat Gayo Lues, itulah anugerah paling nyata dari Leuser: air, kehidupan, dan identitas.

Namun semakin kita menatap Leuser hari ini, semakin jelas tampak sisi getirnya sisi yang oleh sebagian warga disebut sebagai “kutukan” yang diwariskan turun-temurun.

Penjaga Hutan yang Terlupakan

Sejak puluhan tahun lalu, masyarakat Gayo Lues menjaga hutan bukan karena undang-undang, tetapi karena adat, kosmologi, dan keyakinan. Dalam filosofi Gayo, hutan adalah umah seserenen rumah keseimbangan. Ia dijaga bukan karena hadiah, melainkan moral.

Ironisnya, ketika dunia mulai memahami betapa pentingnya hutan tropis, para penjaga pertamanya justru semakin tersingkir dari pusat pembicaraan. Di ruang rapat kementerian, Leuser dibahas sebagai penyerap karbon global dan paru-paru Sumatra. Tetapi di desa-desa pinggir hutan, yang terdengar adalah suara warga:

“Kami menjaga hutan dari dulu. Tapi apa yang kami dapat?”

Pertanyaan itu bukan sekadar keluhan, melainkan luka historis yang tak pernah dijawab.

Leuser yang Menopang Dunia

Secara ilmiah, Leuser adalah salah satu ekosistem terpenting di dunia. Ia menyimpan karbon dalam jumlah besar, menyediakan udara segar, mengatur tata air, dan menjadi penyangga pertanian ribuan hektare.

Banyak kajian menyebut potensi kompensasi karbon dari kawasan ini mencapai triliunan rupiah per tahun. Namun aliran manfaat itu tidak pernah menyentuh masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan.

Keanekaragaman hayati kelas dunia tinggal di sana orangutan, harimau, gajah, hingga ratusan tumbuhan endemik.

Leuser adalah anugerah tak terbandingkan.

Namun juga tanggung jawab yang memberatkan.

Ketika Anugerah Menjadi Tekanan

Dalam dua dekade terakhir, tekanan terhadap Leuser meningkat tajam: deforestasi, perambahan, perdagangan ilegal, hingga konflik manusia–satwa yang semakin sering terjadi. Namun dalam banyak kasus, masyarakat lokal justru kerap menjadi pihak yang disalahkan.

Padahal data menunjukkan kerusakan terbesar dilakukan oleh aktor-aktor luar yang masuk membuka lahan atau mengambil hasil hutan secara ilegal.

Sementara masyarakat Gayo Lues yang menjaga hutan secara turun-temurun justru hidup dalam ketidakpastian ekonomi.

Mereka harus menjaga hutan agar tetap utuh, tetapi tidak diberi peluang menikmati hasil layak dari kawasan konservasi yang mereka rawat sejak nenek moyang.

Itulah paradoks Leuser: anugerah yang terasa seperti kutukan.

Dilema di Hadapan Rumah Sendiri

Di sebuah desa dekat hutan, seorang petani tua pernah berkata:

“Leuser ini rumah kami, tapi dipagari orang lain. Kami disuruh jaga, tapi tak boleh menikmati apa pun di dalamnya.”

Kalimat itu menggambarkan dilema yang menjerat masyarakat adat dan pedesaan di sekitar Leuser. Mereka bukan anti-konservasi mereka justru penjaga terdepan. Tetapi konservasi yang berjalan tanpa keadilan sosial hanya akan melahirkan jarak dan ketidakpercayaan.

Wacana relokasi ribuan keluarga pada 2015 silam adalah salah satu bukti paling nyata. Bagi masyarakat, itu bukan solusi, tetapi pemisahan paksa dari identitas dan tanah yang mereka jaga.

Mengubah Kutukan Menjadi Berkah

Jika Indonesia ingin Leuser tetap menjadi mahkota ekologi dunia, masyarakat lokal harus menjadi pilar utama, bukan penonton. Beberapa langkah kunci untuk mewujudkannya:

1. Pembagian manfaat karbon yang transparan dan berpihak pada masyarakat

Kompensasi karbon harus nyata, terukur, dan dirasakan langsung oleh warga sekitar hutan.

2. Penguatan ekonomi berbasis hutan lestari

Agroforestry, ekowisata masyarakat, dan pemanfaatan hasil hutan non-kayu dapat mengurangi ketergantungan pada pembukaan lahan.

3. Partisipasi penuh masyarakat dalam setiap kebijakan

Konservasi tidak mungkin berhasil tanpa melibatkan mereka yang paling dekat dengan hutan.

4. Penegakan hukum yang adil dan tegas

Pelaku perusakan hutan yang sebenarnya harus ditindak, bukan warga yang berjuang bertahan hidup.

Bagaikan Akhir yang Belum Ditulis

Bagi masyarakat Gayo Lues, Leuser adalah rumah: tempat menggantung harapan, keyakinan, dan masa depan anak-anak mereka.

Namun apakah Leuser akan menjadi berkah atau kutukan di masa depan, bergantung pada keputusan hari ini.

Hutan mungkin tidak bisa berbicara.

Namun suara masyarakatnya sudah lama terdengar meminta keadilan, bukan belas kasihan; meminta kesempatan, bukan sekadar kewajiban; meminta hak untuk menentukan nasib rumah yang mereka jaga.

Leuser adalah anugerah bagi dunia.

Kini saatnya dunia menjadikan Leuser anugerah juga bagi masyarakat Gayo Lues.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi