In Memoriam Wak Pur: dari Driver Menjaga Leuser

Penulis : Mukhlis Akbar

Dari belantara wawasan Leuser, penulis mengenal Purnomo, nama asli lelaki “tua” yang penuh ceria, namun para kolega lebih sering memanggilnya Wak Pur, ia memiliki sikap ramah, itu semua menjadi salah satu ciri khas yang melekat padanya, sehingga membuat para kolega ramah dan akrab dengannya. Pengalaman mengajarkan penulis, tak ada rasa kaku ketika duduk dan bercengkerama dengannya.

Bagi saya, bersama Wak Pur, ada cerita ceria namun syarat makna pendidikan hidup di dalamnya. Dengan segelas kopi dan rokok gudang garam ditangannya , ia gemar meramu cerita terkait pengalamannya yang sudah puluhan tahun dalam mendedikasikan diri di dunia konservasi, tak tahun berapa jutaan kilo meter jalan yang sudah ia lewati, berapa banjir yang ia trobos, dan berapa tanah longsor ia tempuh, hujan terik mentari nyaris jadi makanan sehari-hari, namun dari perjalanan itu, ia tetap tegar menjalani hidup di usia yang tak muda lagi.

Namanya hampir tak asing bagi kalangan pegiat konservasi di Aceh. Ia dikenal melalui lintas kantor-kantor yang berhubungan dengan konservasi, terutama di sektor mengurus Leuser. Mungkin bagi orang yang tak paham tugas Wak Pur, mungkin ia tak begitu penting karena ia hanya dianggap sebagai dirver pada suatu lembaga konservasi.

Saya mencernati, tugas Wak Pur yang terlihat terkesan memang biasa saja untuk hutan dan konservasi, namun di balik itu, ada tugas berat yang ia jalankan selama bertahun-tahun, yaitu ”memastikan siapa yang ia bawa sampai ke tujuan dengan selamat”, tak peduli siang atau tegah malam atau subuh, ia tetap menjalankan tugasnya sesuai perintah dan panggilan atasan.

Sebagai driver, ia memecah sunyi di tengah malam sembari mendengar musik klasik yang, di tambah mengisap rokok “suria” untuk menopang mata yang mulai terasa berat, rutinitas itu ia lakukan agar “stiur” mobilnya tetap terkendali dan terarahnya, sehingga orang-orang penting yang harus ia hantarkan sampai sesuai jadwal yang ditentukan selamat, dan berdampak untuk kepentingan publik yaitu kelestarian Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Melalui keuletan dan ketelatenannya dalam mengemudi, ia cukup dikenal sebagai pekerja yang telah mahir membawa tamu pecinta Leuser, baik dari dalam negeri maupun dari luat negeri, namun begitulah cara ia mendedikasikan hidupnya untuk menjaga Leuser sesuai kemampuan yang ia miliki, karena, dari dia saya dapat belajar bahwa “untuk hutan Leuser, semua ilmu diperlukan untuk saling melengkapi”.

Kini, Wak Pur telah meninggalkan catatan hidup yang mungkin masuk dalam kategori penjaga leuser dari kemampuan drivernya, ia sudah tiada, kini tubuhnya terbujur kaku tanpa suara menghadap yang maha kuasa.

Saat kabar kepergian itu saya dengar, saya merasa tersentak dengan tanpa sadar air mata menetes beriringan dengan titisan kenangan bercengkerama bersamanya, dalam kekalutan itu pula, perasaan tak percaya saya terus meronta, namun itulah faktanya, Wak Pur telah tiada, malam Minggu jam 9 malam itu ia menghembuskan nafas terakhirnya menghadap sang ilahi di saat perjalanan pulang setelah mengujungi Leuser di Aceh Tenggara.

Ia sempat dilarikan ke rumah sakit di sela perjalanan tugasnya,namun takdir berkata lain, ia langsung menyusul istrinya yang juga telah awal menghadap Allah SWT.

Meski mengaku dekat, saya tak tahu pasti berapa usianya, bagi saya, jasanya sangat besar untuk upaya kelestarian ekosistem Leuser, saya sangat berterima masih, mungkin sebagai sahabat bahkan guru hidup, melaui pengalaman dan ilmu yang telah ia bagikan kepada saya khususnya, semua ini menjadi amal jariah Wak Pur, selamat jalan Wak Pur, semoga tenang disisiNya, perjuangan Wak Pur belum selesai, namun akan diteruskan oleh generasi muda yang cinta lingkungan dan hutan. Alfatihah untuk Wak Pur.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi