Pesona Alam dan Sejarah di Pantai Sumur Tiga Sabang

Di TIMUR PULAU WEH, fajar selalu datang lebih lembut menyapu pasir putih seperti helaian sutra, sementara ombak membawa bisik-bisik sejarah yang belum selesai diceritakan.

Pantai Sumur Tiga bukan sekadar hamparan pasir indah di pesisir Kota Sabang. Ia adalah lanskap tempat alam dan sejarah saling menaut, menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menawan mata, tetapi juga mengajak pengunjung menelusuri jejak masa lalu yang pernah mewarnai Pulau Weh.

Terletak di Gampong Ie Meulee, Kecamatan Sukajaya, pantai ini menjadi salah satu destinasi yang paling dicintai wisatawan berkat perpaduan pesona alam, kekayaan budaya lokal, dan nilai historis yang menancap kuat di setiap sudutnya.

Nama Sumur Tiga berasal dari keberadaan tiga sumur air tawar yang berada hanya beberapa meter dari bibir pantai. Keberadaan sumur air tawar di lokasi sedekat itu dengan laut menjadi fenomena yang tak biasa. Dahulu, sumur-sumur ini menjadi sumber air penting bagi warga setempat. Kini, meski tidak lagi digunakan, ketiganya tetap berdiri sebagai saksi bisu kehidupan masyarakat Ie Meulee tempo dulu.

“Sumur ini bagian dari identitas pantai. Warga masih menghormatinya sebagai jejak sejarah yang tak boleh hilang,” ungkap Hendra, warga setempat yang sudah tinggal di kawasan ini sejak kecil.

Pantai Sumur Tiga menghadap langsung ke Selat Malaka sebuah posisi strategis yang turut membentuk peran pentingnya dalam sejarah. Pada 11–12 Maret 1942, Jepang mendarat di Pulau Weh sebagai bagian dari strategi militernya dalam Perang Asia Pasifik. Mereka membangun benteng pertahanan di berbagai titik pesisir, termasuk di Sumur Tiga.

Hari ini, sisa-sisa bunker dan benteng Jepang masih dapat ditemukan, meski sebagian telah termakan usia. Keberadaan struktur tua itu seakan menjadi pengingat bahwa keindahan Sabang tak hanya ada pada lautnya, tetapi juga pada rekam jejak sejarah yang pernah membentuknya.

Menurut Harry Susethia, Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, aspek sejarah ini justru menjadi kekuatan tambahan bagi kawasan tersebut.

“Pantai Sumur Tiga bukan hanya unggul dari sisi keindahan, tapi juga punya nilai historis yang sangat kuat. Ini daya tarik yang membedakan Sabang dari daerah wisata lainnya,” ujar Harry.

Ia menambahkan bahwa Pemko Sabang terus mendorong agar narasi sejarah di Pantai Sumur Tiga dapat diangkat lebih maksimal melalui penataan kawasan dan pemberian informasi bagi wisatawan.

Dibandingkan pantai-pantai populer lain di Pulau Weh seperti Iboih atau Gapang, Pantai Sumur Tiga memiliki karakter ombak yang lebih besar. Namun, justru itulah keunikannya. Ombak yang dinamis berpadu dengan pasir putih selembut kristal menghadirkan panorama yang dramatis, terutama saat langit berubah warna menjelang sore.

Bagi pengunjung yang ingin bersantai, pantai ini menawarkan ketenangan yang menenangkan. Pengunjung dapat berjemur, berjalan di sepanjang bibir pantai, atau sekadar duduk menikmati suara ombak yang bergulung pelan.

“Pantai ini seperti punya dua wajah, kadang tenang, kadang penuh energi. Tapi keduanya sama indahnya,” ujar Husnatul, warga Aceh Selatan yang sudah menetap di Sabang.

Sumur Tiga juga dikenal sebagai salah satu spot snorkeling ramah pemula. Hanya beberapa meter dari garis pantai, pengunjung bisa menemukan terumbu karang yang menjadi rumah bagi ikan-ikan berwarna-warni. Airnya yang jernih memudahkan siapa saja menikmati keindahan bawah laut tanpa harus menyelam terlalu dalam.

Beberapa penyedia jasa sewa alat snorkeling di sekitar pantai pun memudahkan wisatawan yang ingin mencoba aktivitas ini.

Akses menuju Pantai Sumur Tiga tergolong sangat mudah. Dari pusat Kota Sabang, hanya butuh waktu 15 menit menggunakan kendaraan. Jalan sudah mulus beraspal, membuat perjalanan terasa nyaman bagi wisatawan.

Salah satu hal yang membuat pantai ini semakin ramai dikunjungi adalah bebas biaya masuk. Tidak ada tiket, tidak ada pungutan tambahan. Pengunjung dapat menikmati seluruh keindahan tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun.

Menurut Harry Susethia, akses gratis ini merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk memberi ruang rekreasi terbuka bagi masyarakat dan wisatawan.

“Kami ingin memastikan bahwa keindahan Sabang bisa dinikmati semua orang. Pantai Sumur Tiga adalah ruang publik yang harus tetap inklusif,” tegasnya.

Penginapan di sekitar Pantai Sumur Tiga sangat bervariasi. Mulai dari homestay sederhana hingga hotel berfasilitas lengkap, semuanya tersedia sesuai kebutuhan wisatawan. Harga kamar pun relatif terjangkau, mulai dari Rp200 ribu per malam.

Menariknya lagi, sebagian besar penginapan menghadap langsung ke laut. Pengunjung bisa menikmati sunrise dari balkon kamar, ditemani angin pantai yang sejuk.

“Kami berusaha memberi pengalaman terbaik dengan harga yang tetap ramah wisatawan,” kata Ahmad, pengelola salah satu hotel di kawasan itu.

Pantai Sumur Tiga bukan sekadar tempat untuk melihat laut. Ia adalah ruang di mana pengunjung merasakan bagaimana alam, sejarah, dan budaya lokal saling menyempurnakan. Ada energi lembut yang membuat siapa pun betah berlama-lama; ada jejak sejarah yang mengajak kita merenung; dan ada keramahan masyarakat setempat yang membuat wisatawan ingin kembali.

Dengan semua daya tarik ini, tak heran jika Pantai Sumur Tiga menjadi salah satu destinasi favorit baik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang ke Sabang.

Jika Anda datang saat fajar, Anda akan memahami mengapa pantai ini begitu dicintai. Cahaya matahari pertama yang muncul dari balik laut memberikan warna emas pada pasir, sementara deru ombak pelan mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak dan menikmati kedamaian.

Pantai Sumur Tiga adalah permata yang memadukan keajaiban alam dan nilai sejarah dalam satu tarikan napas. Bila Anda berencana mengunjungi Sabang, jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan pesonanya secara langsung.

Di sinilah Sabang menaruh salah satu kisah terindahnya. [ADVERTORIAL]

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi