Alpukat Asyifa, Harapan Baru dari Tanah Sabang

DI TENGAH citra sebagai destinasi wisata bahari, Kota Sabang mulai menunjukkan geliat baru di sektor pertanian. Dari pekarangan rumah warga hingga lahan terbuka di sejumlah gampong, tanaman alpukat kini tumbuh sebagai potensi ekonomi yang kian diperhitungkan. Salah satu yang mencuri perhatian adalah varietas lokal yang dikenal dengan nama Alpukat Asyifa Sabang.
Varietas ini tidak lahir dari riset laboratorium atau program besar berskala nasional. Ia bermula dari kebiasaan sederhana masyarakat menanam biji buah yang tersisa. Halimah, seorang warga Sabang, menjadi salah satu sosok di balik awal mula kemunculan alpukat tersebut.

Ia menanam biji alpukat di halaman rumahnya tanpa ekspektasi khusus. Seiring waktu, pohon itu tumbuh dan mulai berbuah. Namun hasilnya menunjukkan karakter berbeda dibanding alpukat pada umumnya.

“Buahnya lebih lembut, rasanya juga lebih enak. Ada perpaduan manis dan gurih,” ujar Halimah.

Perbedaan itu kemudian menarik perhatian warga sekitar. Buah tersebut mulai dibagikan dan diperbincangkan, hingga akhirnya dikenal lebih luas. Dari situlah muncul penyebutan Alpukat Asyifa, yang kemudian melekat sebagai identitas varietas lokal.

Dinas Pertanian dan Perkebunan Kota Sabang mencatat perkembangan tersebut dan mulai melakukan pendataan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa Alpukat Asyifa memiliki karakteristik yang layak untuk dikembangkan sebagai varietas unggulan daerah.

Saat ini, varietas tersebut telah memperoleh tanda daftar sebagai varietas tanaman lokal oleh Pemerintah Kota Sabang. Proses selanjutnya adalah pelepasan varietas, yang menjadi syarat sebelum dilakukan pengembangan secara luas.

“Masih dalam tahap pendaftaran. Setelah pelepasan varietas, baru bisa diperbanyak secara resmi,” kata perwakilan dinas terkait.

Secara teknis, Alpukat Asyifa Sabang memiliki sejumlah keunggulan agronomis. Tinggi tanaman dapat mencapai 14,70 meter dan telah berkembang lama di Kota Sabang, diperkirakan selama sekitar 30 tahun. Dari sisi produksi, satu pohon mampu menghasilkan antara 175 hingga 250 kilogram buah per tahun.

Daging buahnya memiliki rasa sedikit manis tanpa pahit, dengan aroma yang lembut. Persentase bagian buah yang dapat dikonsumsi berkisar antara 54,03 hingga 64,45 persen. Ketebalan daging buah berada pada rentang 15,19 hingga 22,67 milimeter, dengan berat per buah antara 458 hingga 660 gram.

Sementara itu, berat daging buah tercatat antara 286,71 hingga 376,39 gram per buah, dan berat biji berkisar 43,32 hingga 88,52 gram. Dalam kondisi suhu kamar sekitar 28 derajat Celsius, daya simpan buah dapat mencapai 8 hingga 9 hari setelah panen.

Karakteristik tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mendorong pengembangan varietas ini secara lebih terarah.

Di lapangan, tanaman alpukat mulai tersebar di sejumlah wilayah seperti Balohan, Cot Bau, Ie Meule, Aneuk Laot, hingga Paya Seunara. Sebagian besar ditanam secara mandiri oleh warga di pekarangan rumah.

Jumlahnya diperkirakan telah mencapai ratusan batang. Namun data tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil, karena banyak tanaman yang belum tercatat secara resmi.
Agus, seorang petani di Sabang, menilai bahwa kondisi tanah di daerah tersebut sangat mendukung pertumbuhan alpukat.

“Tanah di Sabang ini cocok untuk banyak varietas alpukat,” ujarnya.

Ia menyebutkan beberapa jenis yang telah tumbuh dengan baik, di antaranya alpukat non biji, miki, aligator, red vietnam, kelud, Sab 034, siger, hingga varietas premium lainnya.
Menurutnya, hal ini menjadi indikasi bahwa Sabang memiliki peluang besar untuk menjadi sentra produksi alpukat dengan beragam varietas.

Dukungan terhadap pengembangan Alpukat Asyifa juga datang dari legislatif. Wakil Ketua DPRK Sabang, Albina Arrahman, menilai bahwa varietas lokal ini memiliki nilai strategis bagi masyarakat.
“Ini bukan sekadar buah, tetapi peluang ekonomi,” katanya.

Ia mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat pendampingan kepada petani, mulai dari pembibitan hingga pemasaran.

“Kalau dikelola dengan baik, ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Selain itu, ia juga melihat potensi Alpukat Asyifa sebagai bagian dari identitas baru Sabang. Tidak hanya dikenal sebagai kota wisata, tetapi juga sebagai daerah penghasil komoditas unggulan berbasis lokal.

Rencana pengembangan ke depan mencakup pembentukan kelompok penangkar. Bibit akan diperbanyak melalui teknik sambung pucuk guna menjaga keseragaman kualitas.

Proses ini akan diawasi oleh petugas pengawas benih untuk memastikan standar tetap terpenuhi. Pemerintah menilai langkah ini penting agar produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasar.
Di sisi lain, masyarakat berharap agar pengembangan ini disertai dukungan konkret, termasuk akses pelatihan, permodalan, dan jaringan pemasaran.

Sejumlah pelaku usaha mulai melihat peluang pengolahan alpukat menjadi produk turunan, seperti minuman dan bahan kuliner. Hal ini membuka potensi nilai tambah yang lebih besar.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi, mulai dari keterbatasan distribusi hingga minimnya promosi. Selain itu, faktor cuaca dan perubahan iklim juga menjadi perhatian dalam pengembangan sektor pertanian.

Namun dengan potensi yang ada, optimisme tetap terjaga. Alpukat Asyifa dinilai dapat menjadi salah satu komoditas unggulan yang memperkuat ekonomi lokal.

Lebih dari itu, kisah ini mencerminkan bagaimana potensi besar dapat tumbuh dari hal sederhana. Dari biji yang ditanam di pekarangan, kini berkembang menjadi peluang yang lebih luas.
Di tengah perubahan yang terjadi, Sabang perlahan menunjukkan bahwa masa depan tidak hanya bertumpu pada laut, tetapi juga pada tanah yang selama ini mulai mendapat perhatian baru.
Dan dari tanah itulah, harapan terus tumbuh.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi