Humor, Tuhan dan Logika Manusia, bag.2

Oleh: Syarifuddin Abe

Secara lahiriyah, semua kita tentu sangat menyukai seni dan itu tentunya sedari kecil kita selalu didendangkan syair-syair dalam bentuk apa saja oleh ibu atau orang tua kita yang lain; walaupun hal itu dilakukan oleh orang-orang tua kita untuk meninabobokan kita. Atau ada juga orang tua kita, ketika mengandungkan kita dengan mendengar musik dan sejenisnya agar kita kelak ketika lahir menjadi cerdas dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa kita sejak kecil sudah ada benih-benih seni atau musik yang ditanamkan oleh orang tua kita. Gunanya adalah untuk kecerdasan kita kelak.

Seni adalah kreatif, kreatif dalam memanfaatkan semua ciptaan Tuhan hanya untuk menghasilkan suara, bunyi dan irama. Jangankan batang pohon, jenis rumputan, bahkan tulang belulang pun lewat kreatifnya manusia kemudian menghasilkan irama. Jauh dari itu semua, alam juga lewat berbagai ciptaan Tuhan untuk kebutuhan manusia juga telah menghasilkan berbagai bunyi dan suara. Semua itu kemudian lewat kreatifnya manusia dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai bentuk bunyi dan irama. Kreatifitas manusia sungguh luar biasa dan itu juga merupakan anugerah dan rahmat dari Tuhan sebagai pemilik bunyi dan irama itu.

Tanpa kita sadari juga, lewat anggota tubuh manusia juga dengan segala kreatifitasnya telah melahirkan berbagai bentuk bunyi dan irama. Bagi yang pandai memainkan suara mulutnya, anak-anak muda kemudian membentuk group-group nasyid. Lewat suara-suara tepuk tangan, manusia kemudian mengolahnya dan menghasilkan group didong di dataran tinggi Gayo misalnya. Lewat suara jari dan anggota tubuh lahir group-group tari, seperti seudati di Pidie misalnya. Masih banyak lagi dan ini semua lahir dari kreatifitas manusia yang berkecenderungan menggunakan bunyi dan suara untuk menjadi sebuah irama yang kemudian dapat dinikmati oleh siapa saja. tidak hanya sampai di situ juga, dengan menggunakan kulit-kulit binatang misalnya, dengan kreatifnya manusia telah menciptakan berbagai alat musik yang kemudian juga melahirkan berbagai suara dan irama dengan dipukul.

Saking kreatifnya kita waktu kecil dulu, kita dapat menciptakan alunan bunyi, suara dan irama dari berbagai bahan dan tumbuhan yang ada di sekeliling kita dan itu semua adalah ciptaan Tuhan. Setelah para petani panen di sawah, dengan kreatifitas, kita membuat serunai dari batang jerami. Lewat buluh kita dapat membuat seruling. Dari daun kelapa kita dapat membuat terompet. Dari olahan papan dan triplek kita dapat membuat berbagai bentuk gitar dan alat musik lainnya. Lewat kulit kambing dan sapi kita dapat membuat drum, rebana, gendang, bahkan beduk yang selalu kita pukul ketika ada kematian atau saat buka puasa pada bulan Ramadhan. Lewat perpaduan irama bambu kita dapat menciptakan angklung. Serta masih banyak lagi jenis musik yang lahir kreatifitas manusia, yang kreatifitas itu sendiri datangnya Tuhan dan semuanya ada di alam ciptaan Tuhan. Melahirkan berbagai irama. Dengan perpaduan beberapa alat tersebut malah kita dapat menikmati musik. Itu juga lahir dari kreatifitas manusia dan kreatifitas itu anugerah Tuhan yang mesti manusia syukuri.

Tidak bisa kita pungkiri, setiap kita pasti menggandrungi salah satu jenis musik. Rock-kah. Qasidahkah. Dangdutkah. Pop-kah. Atau irama melayu. Atau irama padang pasir. Atau lagu-lagu hindi yang mengalun itu. Itu juga merupakan anugerah Tuhan bagi manusia. Pada sisi yang lain, Tuhan juga menganugerahkan irama-irama yang lain, yang lahir dari alam yang Tuhan ciptakan. Suara kodok di waktu hujan misalnya, yang penuh irama dan berbagai bentuk suara. Suara burung di belantara hutan dan pagar rumah kita. Suara nyamuk dalam gelap malam yang kadang mengganggu tidur kita. Suara berbagai jenis jangkrik dan serangga di waktu senja. Suara air misalnya; suara ombak, air terjun, arus sungai, tetesan hujan, gemersik dedaunan, desir angin, dan sebagainya. Bukankah itu alunan alam, yang oleh manusia dengan berbagai kelembutan pikiran dan hati menjadi inspirasi dalam melahirkan karya irama seni. Kita di Indonesia saja, ada musik tradisional; angklung, keroncong, gambang kromong, sasando. Demikian juga musik modern dari pengaruh global; dangdut, seriosa, jazz, pop, hip hop, rap, EDM, reggae, blus, rock, R and B, klasik, blues, pop melayu dan sebagainya.

Musik adalah salah satu anugerah Tuhan untuk menjadikan hati manusia agar mengenal kelembutan. Untuk mengenal irama hidup. Dapat menjadi sarana ekspresi diri manusia, sebagai hiburan, dapat juga sebagai sarana terapi kesehatan mental/fisik, serta sebagai alat pendidikan. Yang terjadi justru sebaliknya, seolah-olah musik berubah menjadi hantu bagi orang-orang yang keras hatinya. Seolah-olah musik menjadi sarana yang dapat mendatangkan bencana, serta hal-hal yang negatif lainnya. Jauh dari kelembutan tapi merasa Tuhan demikian dekat dan mendengar panggilannya. Padahal Tuhan Maha Lembut, dan suka kepada jiwa, hati dan panggilan yang lembut. Tuhan pasti tidak menyukai orang-orang yang keras dan kasar hatinya.

Musik merupakan salah satu alunan kelembutan yang dapat mengajarkan manusia memahami kelembutan. Lewat alunan irama musik itu hati akan mampu menangkap hal-hal yang lembut. Maka sepantasnya manusia harus mengajari atau membiasakan hatinya untuk mengenal kepada hal-hal yang lembut, di antaranya adalah melalui alunan dan irama musik. Dengan demikian, jiwa yang lembut akan dapat menangkap Yang Maha Lembut. Maka kalau jiwa kita kaku dan keras, bagaimana mungkin kita akan mengenal Yang Maha Lembut. Bahkan jiwa yang kaku dan keras akan sulit untuk masuk ke dunia yang lembut.

Menurut Fahruddin Faiz (2025), dunia batin adalah dunia yang lembut. Kondisi jiwa yang siap menerima kelembutan di antaranya adalah melalui musik. Di sinilah kita dapat memahami, kenapa para sufi banyak menggunakan musik sebagai salah satu media dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Seperti menggunakan syair-syair, lalu, tarian dan lain sebagainya. Media itu sebagai wadah para sufi untuk dapat menyentuh jiwa. Bagi yang suka menonton film misalnya, ketika suasana sedih maka film akan mengiringi sebuah suasana dengan iringan musik sedih, ketika kita kemudian mengeluarkan air mata, terharu, bahkan ada yang terisak-isak, itu menandakan musik ternyata telah menyentuh jiwa kita sehingga kita dapat sedih bahkan menangis. Betapa dahsyatnya irama musik itu. Ketika kita memusuhi musik berarti kita telah kehilangan sebuah kedahsyatan yang Tuhan ciptakan dan kita akan kehilangan kesempatan dalam menikmati kedahsyatan yang Tuhan berikan itu. Seharusnya kita tidak munafik, dalam kehidupan saja misalnya, ketika sedang menghadapi sesuatu, kita menyenangi suara apa saja ketika itu. Bukankah itu juga bagian dari sebuah irama, walau ketika kita menghadapi sesuatu irama yang hadir tidak dalam bentuk music. Boleh angina. Boleh hiruk pikuk. Boleh suara ombak. Boleh suara teriakan, dan sebagainya.

Orang-orang yang anti kepada musik, biasanya memiliki jiwa yang keras. Jarang paham akan kelembutan Yang Mahalembut. Setiap kata, kalimat, bahkan ayat-ayat Tuhan dia membacanya dengan sentak dan nada yang meninggi dan keras. Mata dan air mukanya lebih tegang dan nampak kasar. Apalagi bicaranya, tidak ada kesan lembut dan bersahaja. Kalau kita sarankan kepada orang yang demikian, paling akan dijawabnya, “saya memang sudah begini, dari kakek-nenek sudah begini, bahkan dari Tuhan pun saya sudah seperti ini”. Kalau kita pikir-pikir, bagaimana ia mampu menangkap Yang Mahalembut, jiwanya saja masih keras. Masih kaku. Sifatnya masih kasar. Sikap tidak mau tahu lebih dominan daripada sikap kasih sayang. Ke-Aku-annya lebih tinggi daripada rendah hatinya. Orang-orang seperti ini, entah bagaimana menjadi mengabar ayat-ayat dan firman Allah.

Kata Seyyed Hossein Nasr, “milikilah sense of esthetic (rasa estetik) agar hidup anda tidak kaku”. Rasa estetik biasanya dapat didekati melalui rasa. Rasa adalah dunia batin. Dunia batin tak lain adalah dunia yang lembut. Salah satu kondisi jiwa yang siap menerima kelembutan adalah melalui irama-irama musik. Kata Rumi dalam Matsnawi, bait 733 dan 734 yang menjelaskan keterhubungan antara manusia dengan batin semesta. Musik menurut Rumi adalah nada-nada yang lahir terinspirasi dari pergerakan bintang dan suara yang keluar dari berbagai alat musik pada hakikatnya pantulan dari simfoni batin semesta. Oleh karenanya, musik menjadi haram menurut Rumi adalah ketika beradunya sendok dan garpu orang kaya di meja makan yang didengar oleh tetangganya yang miskin. Untuk itulah pada sufi banyak memakai dunia seni dalam mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Apakah itu lewat syair, tarian, lagu-lagu atau lain sebagainya. Semua itu oleh para sufi untuk menyentuh jiwa. Beda dengan ceramah yang terkadang orang sukar tersentuh. Namun, ketika orang mendengar musik, orang-orang akan tersentuh, sedihkah, menangiskah dan sebagainya.

Bagi Rumi, musik merupakan jalan spiritual dalam mendekatkan diri kepada Tuhan, membantu menyatukan antara dunia fisik dengan spiritual serta dapat menghubungkan antara individu dengan kebenaran Ilahi. Menjembatani jiwa dengan semesta. Sebagai ekspresi kerinduan secara spiritual, bahasa jiwa dalam mengungkapkan kerinduan yang mendalam terhadap Sang Kekasih. Bagi Rumi, musik sebagai simfoni Ilahi, sebagai sebuah manifestasi dari simfoni langit yang dapat dirasakan oleh mereka yang menempuh jalan spiritual. Musik dapat dijadikan sebagai terapi spiritual secara psikologis, dalam meningkatkan kesejahteraan batin serta mengatasi penyakit spiritual.

Bagi Rumi, musik tidak hanya sekadar bunyi, tapi dapat berarti suara kehidupan, sebagaimana halnya suara sendok-garpu tetangga yang miskin, hal ini dapat diartikan sebagai penumbuh rasa empati dan perhatian terhadap penderitaan tetangga sebagai bagian dari spiritual. Musik bukan saja pantulan simfoni Ilahi dan sebagai sarana dalam mencapai ekstase spiritual, tidak sekadar hiburan duniawi, tetapi juga mengajarkan empati sosial lewat musik kesederhanaan hidup. Berbeda pandangan pihak konservatif yang menganggap musik haram, bagi mereka musik dapat melalaikan bahkan mengarah kepada maksiat. Menurut Rumi, niat dan pengaruh spiritual merupakan kunci. Musik yang dapat mengarahkan kepada keindahan serta dapat mendekatkan diri kepada Tuhan merupakan sesuatu yang baik, demikian sebaliknya.

Agama diposisikan sebagai apa saja yang kaum agamawan maksudkan. Apa saja yang di luar kemampuan mereka pahami, mereka anggap bid’ah, haram, bahkan sesat. Praktek agama masyarakat hanya menyenangkan kaum agamawan. Keinginan Tuhan dianggap sebagaimana yang mereka inginkan. Kemurkaan Tuhan dianggap apa saja yang menurut mereka akan mendatangkan kemurkaan. Semua yang mereka pikir dan perbuat dianggap sebagai agama atau yang Tuhan inginkan. Akhirnya agama kehilangan wujud, samar dari esensi bahkan maknanya sekalipun. Tuhan kehilangan wujud, kehilangan firman, bahkan hilang peran sekaligus.

Agama menjadi hantu bagi masyarakat. Agama tidak mampu memberi kenyamanan bagi masyarakat. Agama menjadi kehilangan ruh-nya. Bahkan agama kehilangan kebertuhanannya. Kalau demikian halnya, jangan salahkan masyarakat ketika masyarakat alergi terhadap agama hanya karena ulah dari segelintir agamawan itu. Agama justru menjadi sesuatu yang asing bagi mereka. Hal ini akibat dari kurang kreatif dan strategi bahkan pengetahuan dari agamawan itu sendiri. Kita dapat melihat dan membaca, kenapa di Barat dan Eropa masyarakatnya tidak mau tahu terhadap agama? Apa yang menyebabkan masyarakat Eropa banyak yang atheis? Kenapa masyarakat di Barat kadang alergi terhadap agama? Hal-hal inilah seharusnya dipahami juga oleh kaum agamawan di Aceh. Jangan sampai dianggap agama sebagai satu-satunya penghambat kreatifitas mereka. Para agamawan, selalu menganggap yang apa saja yang mereka pikirkan itu agama semua, ternyata bukan. Demikianlah humor Tuhan, membingungkan bagi agamawan yang yang tidak paham tentang humor Tuhan.

Tuhan, lewat rahman-rahim-Nya mau bermain-main dengan manusia, tapi Tuhan jangan dipermainkan. Tuhan dengan menciptakan khalifah di bumi untuk menjaga dan mewakilinya-Nya untuk dapat mengolah dan melestarikan keberlangsungan bumi, bukan untuk menjadi saingan-Nya. Bukan untuk memveto kekuasaan yang Tuhan punya kepada hamba Tuhan lainnya. Tidak usah sok mengancam. Tidak usah angkuh dengan seakan-akan kita paling tahu. Jangan merasa “Aku” yang paling paham. Selama kita dapat memahami bahwa Allah menciptakan khalifah, yang di antara mereka ada kekasih-Nya, alam ini tidak akan pernah berakhir, tidak akan pernah mendatangkan bencana. Yang perlu dilakukan dan dipahami adalah saling menjaga, saling menghormati, saling memahami, saling menghargai bahkan saling harmoni. Allah itu indah dan suka kepada keindahan.

Jangan melakukan kerusakan di bumi artinya jaga keharmonisan, harus saling asuh, asah dan asih sesama makhluk Tuhan, termasuk dengan alam dan hewan. Keberadaan agama, oleh Karl Marx pernah dianggap sebagai masalah masa lalu serta oleh Friedrich Nietzsche menganggap Tuhan telah mati, malah semakin terasa keberadaannya. Semangat beragama yang semakin dirasakan oleh masyarakat, khususnya di Aceh, jangan menjadi permainan kaum agamawan. Jangan menjadikan diri sebagai yang memiliki otoritas dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan. Lalu menjadikan masyarakat seperti tanah garapan. Merasa suci lalu berani gampang-gampangan dengan masyarakat. Semua keinginan dan keputusan yang dilakukan oleh para agamawan tidak hanya sampai pada tataran permukaan, namun jauh dari itu harus menusuk sampai ke kedalamannya pada tingkat solusi. Masyarakat semestinya dijadikan menjadi pintar, bukan justru diboh-bodohin lalu menjadi lading mencari keuntungan.

Agama adalah berkah dari Tuhan. Kalau kaum agama masih bermain-main, salah-salah agama dianggap menjadi sumber masalah bagi masyarakat. Masyarakat menjadi tidak dekat dengan Tuhan, jangan dengan mudah menuduh kafir atau istilah dalam bahasa Aceh; nuraka lhieh. Jangan-jangan masyarakat menjadi tidak percaya kepada agama karena ulah dan tingkah yang ditimbulkan oleh para agamawan itu sendiri? Agamawan terlalu over action. Agama kemudian menjadi bisul alias tumuet bagi masyarakat yang melahirkan sikap kebencian, dendam, meresahkan, ketidaknyamanan, rasa takut. Yang lucunya lagi, agama dijadikan sumber untuk menyingkirkan orang lain, menjadi sumber untuk merasa diri paling suci, paling dekat dengan Tuhan, paling merasa mampu memahami suara Tuhan, bahkan menjadi alat untuk mengintimidasi sesama dan masyarakatnya sendiri. Dengan agama merasa lihai dalam menuduh orang lain sesat. Lalu menakut-nakuti bahkan mengancam atas nama Tuhan agar masyarakat patuh dan mendengar ucapannya.

Menurut saya, seorang agamawan yang merasa mampu memahami maksud dan keinginan Tuhan, lalu dengan mudah mengancam orang lain, bahkan dengan berbagai serta-merta yang mudahnya menuduh orang lain sesat, merupakan seorang agawan yang mudah menyerah, penuh prustasi, bahkan sudah tumpul akal pikirannya dalam membina dan membimbing umatnya. Umat bukanlah gembala yang menjadi bahan gunjingan dan tuduhan seorang yang merasa paham agama dan Tuhan? Tuhan yang sebenarnya merupakan pemilik langit dan bumi saja tidak pernah merasa terusik oleh tingkah dan laku manusia? Konon lagi manusia yang menurut agamawan sudah tersesat? Tuhan itu Maha Pengampun. Maha Kasih dan Sayang. Tidak ada manusia yang tidak pernah diampuni dosanya, walaupun dosa manusia melebihi tinggi gunung? Tapi, bagi orang-orang yang prustasi hal ini menjadi batu sandungan sehingga perlu disingkirkan. Ditutup hidupnya dengan berbagai tuduhan, tidak hanya dianggap sesat, tapi nuraka lhieh. Demikian gampangnya menuduh orang lain sesat, ahli neraka. Seolah-olah kalau ada orang yang menurut mereka berdosa, akan mengotori jubah dan ridaknya? Lucu ya?

Agama dengan ajaran-ajaran Tuhan, harus sejuk bahkan menyejukkan. Terhadap itu semua peran para agamawan harus menjadi kewajiban mutlak. Para agamawan harus memahami betul; apa itu agama yang sesungguhnya? Untuk apa agama bagi manusia? Bagaimana harus bersikap setelah kita memahami agama? Sehingga agama yang disampaikan tidak melukai masyarakat. Tidak menakut-nakuti masyarakat. Harus damai dan selalu membawa perdamaian. Harus penuh cinta kasih dan selalu saling mengasihi. Selalu teduh dan meneduhkan. Maka agama jangan dikambinghitamkan hanya untuk demi menjadikan dan menampakkan diri ‘alim.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi