Penulis Syarifuddin Abe
Loh, ketawa saja kok dilarang? Apa tidak ada kerja lain? Tertawa itu kan sebuah ekspresi? Satu daripada sekian kebudayaan manusia? Apa sebagai manusia tidak boleh berekspresi? Apa tertawa telah mengganggu orang yang tidak suka kepada tertawa? Kalau anda tidak mau tertawa, kenapa mesti menyalahkan orang yang tertawa? Bukankah tertawa juga merupakan sebuah kebebasan, yang mesti dinikmati oleh siapa saja? Kalau anda tidak mau tertawa, setidaknya menjadi penikmat terhadap tertawa orang lain. Bukankah tertawa itu sebuah kenikmatan tersendiri, dapat melepas sebagian persoalan yang menyesakkan dada?
Kalau dipikir-pikir, tertawa itu seperti orang yang kecanduan kopi. Demi segelas kopi pancông dalam masyarakat Aceh, orang rela bangun pagi-pagi hanya ingin menikmati kopi pagi. Demikian juga bagi yang penikmat kopi lainnya, mereka rela menembus belantara, mengarungi sekian lautan, hanya ingin mecari nikmat kopi. Mengejar rasa. Rasa adalah sebuah kenikmatan yang bagi sebagian orang ingin mencapainya walau harus menembus skat dunia.
Demikian juga dengan tertawa, tidak perlu dilarang. Mungkin orang lagi senang atau bahagia, maka tertawa salah satu pelampiasan dalam mencapai sebuah kepuasan. Tertawa merupakan aktivitas yang paling banyak dijumpai dalam situasi dan kondisi apa pun, terutama dilakukan dalam pertemuan-pertemuan dan perkumpulan-perkumpulan, secara khusus dalam hubungan sosial. Tertawa tidak dapat dilarang, justru melarang orang tertawa, itu melanggar Hak Asasi Manusia, yaitu hak asasi tertawa.
Tertawa juga melekat dengan humor, sebagaimana halnya segelas kopi dengan sepotong dua potong kue. Humor telah menjadikan manusia ngakak. Dari awalnya malu-malu untuk tertawa sampai membuat orang tertawa hingga lupa daratan. Bahkan bagi seorang pengantin baru menjadi lupa kalau di sampingnya ada mertuanya. Humor telah dicipta oleh orang-orang kreatif (humoris) dengan sengaja hanya untuk mengundang agar orang tertawa. Orang-orang kreatif itu siap memutar dan memeras otaknya menciptakan joke-nya dengan berbagai cara agar orang dapat tertawa.
Kalau ditanya, mana duluan ada; tertawa atau humor? Jawabannya tentu tidak memerlukan pemikiran yang harus memeras energi. Tentu tertawa sudah ada jauh sebelum humor itu dikenal. Apalagi menurut Jayasuprana, humor sudah banyak mengalami metamorphosis makna dalam setiap sejarah eksistensinya. Tertawa yang selalu kita wujudkan lewat indra pendengaran dan pandang, lebih mudah dideteksi dibandingkan dengan humor yang sifatnya lebih abstrak. Oleh karenanya, dalam upaya menganalisis tertawa, semua yang dilakukan manusia tidak kalah layaknya untuk ditertawakan ketimbang kita menganalisis humor yang secara hakikatnya sulit untuk dapat diuraikan.
Siapa pun, paling benci yang bernama kesedihan, kesialan, bahkan kecemasan. Betapa banyak orang yang ingin bunuh diri, hanya karena lupa bagaimana seharusnya tertawa. Orang yang putus asa lalu bunuh diri adalah orang-orang yang menyesal di kemudian hari ketika mereka menemukan lezat dan asyiknya tertawa. Ketika orang menggemari film dan sinetron yang bergenre komedi, bukankah itu menunjukkan orang sangat ingin tertawa? Orang-orang sangat menggemari acara-acara televisi, seperti stand-up comedy, lawak, ketoprak humor, extravaganza, dan lain sebagainya, itu menunjukkan orang sangat ingin tertawa. Orang yang masih tertawa menunjukkan orang tersebut masih normal. Ada istilah, kejarlah daku kau akan kutertawakan!
Ternyata, tertawa juga merupakan sebuah perilaku yang sangat demokratis. Dengan tertawa orang seperti melupakan sekat-sekat yang kadang hadir dalam sebuah masyarakat. Mungkin anda pernah melihat, ketika seseorang yang takut tertawa, namun ia tahan sampai urat-urat di leher dan dahinya kelihatan hanya karena takut tertawa dan takut hilang wibawa. Tertawa telah menghapus sekian sekat dan perbedaan, kita tertawa kadang lupa siapa diri kita sebenarnya, bahkan menjadi lupa siapa orang yang ada di samping atau di sekitar kita. Boleh saja seorang bos di sebuah perusahaan karena tertawanya menjadi lupa kalau di sampingnya ada bawahannya, yang setiap hari perilakunya menjaga wibawa anak buahnya. Tertawa dapat melebur batas perbedaan; antara si kaya dan si miskin, pejabat dan rakyat, pria dan wanita, yang berpangkat dan yang tidak berpangkat, yang kuat dan yang lemah, tuan dengan seorang hamba. Hanya karena tertawa, walau hanya sesaat menjadikan manusia seperti sederajat bahkan semartabat.
Hati-hati loh, kita jangan sampai tahu nikmatnya tertawa ketika kita tidak lagi dapat tertawa, stroke misalnya. Pernahkah anda melihat orang stroke tertawa? Mungkin ada, tentu terbatas. Tidak lagi bisa tertawa sampai ngakak, paling sebatas kemampuannya saja. Namun untuk tertawa lepas mungkin tidak bisa lagi. Maka tertawalah, karena tertawa itu penting. Tertawa juga menunjukkan suasana hati di samping juga mengekspresikan rasa gembira. Namun demikian, ada juga situasi yang dianggap tidak baik untuk tertawa, misalnya lagi serius, lagi keadaan berduka atau orang lain lagi sedih.
Kalau anda ingin tertawa, lalu anda tidak mau tertawa, coba anda bayangkan, berapa usia yang anda miliki yang hampir sepertiganya anda sia-siakan. Bahkan karena anda tidak mau tertawa, berapa hak hidup yang anda miliki telah anda cemoohkan. Kalau boleh saya katakan, anda telah menghina sebagian hak yang anda miliki itu. Tertawa bukan sesuatu yang mubazzir yang Tuhan ciptakan. Tertawa bukan sebuah kesia-siaan yang Tuhan sediakan, sehingga anda demikian membencinya. Tertawa adalah anugerah Tuhan yang nilainya tidak dapat diungkapkan. Berapa banyak orang yang ingin tertawa tapi tidak dapat tertawa. Jangan sampai karena bencinya terhadap yang namanya tertawa, sehingga ketika anda ingin tertawa; tapi anda justru mati duluan. Siapa pun perlu waktu-waktu yang khusus hanya untuk tertawa.
Banyak orang dengan keyakinannya sendiri mencari makna hidupnya, tidak sedikit yang mengakhiri hidupnya di tali gantungan. Rasa kecemasan, keterasingan, kehampaan, hilang orientasi hidup, sering gelisah, termasuk terlalu tidak percaya pada diri sendiri serta retak nilai-nilai kepercayaan yang diyakininya. Ketika makna hidupnya kabur, jalan keluar tidak pernah ditemukan, keputusan akhir boleh saja buntu, maka dalam kebuntuan itu diakhirinya dengan sebuah kesadisan. Menyakiti diri sendiri dengan keputusan yang menyedihkan. Mengakhiri hidup sebuah jalan keluar dari keputusasaan yang sia-sia itu.
Tertawa boleh saja menjadi jalan awal sebagai sebuah wadah untuk orang-orang yang memerlukan penanganan terhadap masalah yang dihadapinya, sebagai jalan awal untuk melepaskan beban yang dialaminya. Di sinilah tertawa seperti sebuah senjata yang tersembunyi, yang Allah ciptakan untuk manusia agar dapat belajar dan bahkan dapat memetik pelajarannya. Walau ada sebagian orang takut tertawa, bahkan menghororkan tertawa dengan ayat-ayat dan hadis-hadis tertentu dengan penafsiran yang tidak karuan dan asal-asalan sekenanya. Padahal Rasulullah sendiri merupakan orang yang senang tertawa dan bercanda.
Banyak di negara-negara tertentu menjadikan tertawa sebagai sebuah terapi, bahkan untuk terapi tertawa saja harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit. Terapi lewat tertawa adalah sebuah metode dengan pendekatan humor yang dapat membantu seseorang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya, karena gangguan fisik maupun gangguan mental. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Amerikan Hearth Association, menyatakan bahwa dengan tertawa dalam suasana hati yang baik dapat menurunkan hormon stress, mengurangi peradangan di arteri serta dapat memperbaiki kadar kolesterol pada diri seseorang.
Yang harus diakui adalah secara keseluruhan jiwa manusia sangat cenderung kepada kesenangan dan kebahagiaan, semua orang ingin bebas dari berbagai beban rasa sedih dan takut. Tertawa adalah sebuah ekspresi dari emosi yang dialami manusia, terutama ketika manusia dirundung hati senang dan bahagia. Terlalu senang, orang akan tertawa. Sebaliknya, terlalu bahagia orang akan menangis. Dengan tertawa akan mengurasi hormon stress yang dialami manusia bahkan dapat meningkatkan imunitas serta dapat menambah kekebalan tubuh manusia.
Ada sebuah mitos di dunia Yunani yang berhubungan dengan tertawa ini. Di Yunani ada Dewa Gelo yang sangat berpengaruh, sehingga disembah sebagaimana dewa-dewi yang lain di Yunani. Dewa Gelo disembah karena dianggap satu-satunya dewa yang dapat membuat manusia tertawa. Untuk itulah oleh para pelawak, badut dan komikus menganggap sebagai pelindung bagi mereka. Mereka memuja dan memuji Gelo agar selalu melindungi mereka, mereka selalu dapat tampil maksimal, para penonton dan pemirsa puas serta dapat tertawa. Itulah sebabnya tertawa merupakan berkah dan anugrah dari Sang Ilahi.
Dalam tradisi Romawi ada Dewa Risus, yaitu dewa yang memberikan kebahagiaan dan kegembiraan. Dewa ini selalu disembah oleh para pelawak termasuk oleh masyarakat umum waktu itu. Bagi masyarakat Romawi, rasa senang yang penuh dengan gelak tawa sangat erat kaitannya dengan rasa bahagia dan gembira. Begitu juga sebaliknya orang akan terlihat gembira dan bahagia ketika mereka terlihat tertawa. Orang tertawa bukan karena orang-orang itu memiliki harta yang berlimpah termasuk bukan karena memiliki kekuasaan yang kuat. Namun karena rasa gembira dan bahagialah membuat orang dapat tertawa. Untuk itulah, dalam tradisi Romawi, yang secara khusus berhubungan dengan tertawa, Dewa Risus dianggap sebagai dewa paling sakral dan suci bahkan melebihi dari dewa dan dewi lainnya. Maka setiap melakukan ritual, pemujaannya penuh dengan suasana yang gembira, pesta pora serta menghadirkan para badut, komikus dan para pelawak yang dapat membuat suasana penuh gelak tawa.
Coba anda bayangkan; dunia yang semakin canggih dan modern ini, kebutuhan manusia yang semakin kompleks plus spiritualitas semakin terkikis, apa yang diperlukan manusia? Apa yang menjadi pencarian manusia agar hidupnya tidak goyah dan terasing? Tentu manusia memerlukan jalan keluarnya. Bila jalan keluarnya buntu dan semakin terasing, tentu akan terjerumus ke jalan yang negatif. Di sinilah jalan kebahagiaan menjadi salah dimaknai. Semua yang dilakukan dan dijalani, entah yang bersifat positif dan negatif, seolah-olah itulah kebahagiaan. Akhirnya makna kebahagiaan menjadi sebuah pertaruhan. Bagi yang negatif dan sifatnya sementara yang dirasa, putus asa akan terus dialami, akhirnya mencari kebahagiaan dengan cara-cara yang tidak sepatutnya atau dengan mengakhiri hidupnya. Pola hidup yang tidak seimbang itu biasanya akan mendatangkan malapetaka, boleh saja mengalami suatu penyakit. Makanya orang memerlukan obat atau jalan hanya untuk menemukan kebahagiaan.
Salah satu obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut adalah tertawa. Tertawa dapat menghilangkan racun yang ada dalam darah, sebagai penawar untuk penyembuhan, dapat menjadi olah raga, serta menghilangkan susah dan sedih. Manusia adalah makhluk yang tidak sempurna, namun demikian manusia memiliki cara dan penawar dalam mengartikan agar lebih berarti dan bermakna. Tertawa dapat menjadi salah satu cara untuk menjadikan manusia bergairah dan bertahan hidup. Manusia perlu mentertawakan diri sendiri, hal ini juga sebagai sebuah refleksi untuk mentransformasikan dirinya, maka oleh Abdul Majid S, tertawa dianggap sebagai hal yang bijaksana. Tertawa selain dianggap dapat memberi kesehatan, juga sebagai sebuah hikmah dan kecerdasan untuk dapat menerima dan memahami hidup.
Rideo ergo sum, boleh jadi sebagai filosofi hidup sebagian manusia; aku tertawa, maka aku ada. Tertawa adalah salah satu tabiat yang dimiliki manusia dan tertawa adalah bagian dari kebutuhannya, apalagi tertawa dapat memberikan rasa kepuasan tersendiri. Sebagai makhluk yang humoris, maka tertawa adalah hakikat dari manusia. Di sinilah tertawa menjadi salah satu kebebasan yang dimiliki manusia. Manusia sebagai sebuah kedirian, tertawa menjadi bagian dari diri manusia; aku ingin tertawa, lalu kamu mau apa? Jangan larang aku tertawa, kalau di mulutmu penuh kebohongan?



























































Leave a Review