DIKENAL dengan pesona alam yang memikat, air laut sebening kristal, dan jejak sejarah yang masih berdiri tegak hingga kini, Sabang terus menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai daerah. Pulau Weh yang menjadi identitas utama kota ini tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga menyimpan nilai sejarah yang amat penting bagi Indonesia. Di tengah geliat kunjungan wisata yang mulai meningkat menjelang libur akhir tahun, DPRK Sabang mengingatkan bahwa keberlanjutan pariwisata hanya dapat terwujud apabila seluruh pihak, khususnya wisatawan, turut menjaga kelestarian lingkungan dan merawat situs sejarah yang menjadi warisan kolektif masyarakat Sabang.
Ketua DPRK Sabang, Magdalaina, menegaskan bahwa keindahan Sabang bukan hanya aset ekonomi, tetapi juga aset identitas. Ia mengajak setiap wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan alam dengan penuh tanggung jawab.
“Sabang adalah permata yang kita miliki bersama. Kami berharap setiap wisatawan dapat menjaga kebersihan dan keindahan alamnya, termasuk menghormati situs-situs sejarah yang menjadi bagian penting dari identitas kota ini,” ujar Magdalaina.
Ajakan ini tidak lepas dari upaya DPRK Sabang memperkuat regulasi dan pengawasan di sektor pariwisata, terutama pada destinasi yang mengalami peningkatan jumlah kunjungan signifikan. DPRK melihat bahwa pariwisata Sabang harus maju tanpa mengorbankan lingkungan dan nilai-nilai sejarah yang telah ada sejak masa kolonial dan masa perang.

Pantai Iboih, Tugu Nol Kilometer, dan Pulau Rubiah masih menjadi destinasi favorit wisatawan. Ketiganya menawarkan pengalaman berbeda, namun menyatu dalam satu kesan, ketenangan dan keindahan khas Sabang yang sulit ditemukan di tempat lain.
Pantai Iboih terkenal dengan airnya yang jernih serta panorama garis pantai yang begitu alami. Dari dermaga kecil di kawasan Iboih, wisatawan bisa menyeberang ke Pulau Rubiah, surga snorkeling yang terkenal dengan terumbu karang dan biota laut yang masih terjaga.
Sementara itu, Tugu Nol Kilometer menjadi landmark yang selalu ramai. Bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga sebagai simbol bahwa Sabang adalah titik awal perjalanan geografis Indonesia.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sabang, Harry Susethia, menekankan bahwa tiga destinasi tersebut telah menjadi wajah pariwisata Sabang, sehingga perlu dijaga secara kolektif.
“Keindahan Sabang adalah aset besar yang harus kita rawat. Kami terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, termasuk DPRK Sabang, pelaku usaha hingga masyarakat lokal, agar wisatawan merasa nyaman sekaligus sadar bahwa menjaga Sabang adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Harry juga menyebut bahwa sejumlah program peningkatan fasilitas wisata tetap berjalan, termasuk penataan jalur wisata, penguatan informasi sejarah, hingga pengawasan aktivitas wisata bahari.
Selain pesona alam, Sabang memiliki situs sejarah yang tak kalah menarik. Benteng Jepang Anoi Itam, Benteng Batre A, Batre B, hingga benteng-benteng peninggalan kolonial lainnya menjadi saksi perjalanan panjang Sabang sebagai kawasan strategis dalam konteks pertahanan dan maritim.

Pemerhati sejarah Sabang, Albina, menilai bahwa pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga mendapatkan pengalaman edukatif.
“Keberadaan situs-situs sejarah ini bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai pengingat atas nilai sejarah dan budaya Sabang. Kami mengimbau wisatawan untuk tetap menghormati aturan yang berlaku saat berkunjung ke tempat-tempat ini,” terangnya.
Albina menegaskan bahwa beberapa benteng telah mengalami kerusakan ringan akibat aktivitas pengunjung yang kurang hati-hati, sehingga kesadaran wisatawan menjadi kunci pelestarian.
Hal senada disampaikan Ketua DPRK Sabang, yang menilai pentingnya menempatkan situs sejarah sebagai bagian dari pembangunan karakter wisata Sabang. DPRK bahkan mendukung penguatan regulasi bagi setiap destinasi yang menyimpan nilai sejarah agar terlindungi secara hukum dan pengawasan.
Menjelang akhir tahun, geliat pariwisata Sabang semakin terasa. Pelaku usaha transportasi dan perjalanan mulai menerima banyak pemesanan, baik dari wisatawan lokal maupun mancanegara, khususnya dari Malaysia yang selama ini menjadi pasar utama.
Pelaku travel Sabang, Zufikar, mengonfirmasi bahwa tanda-tanda keramaian akhir tahun sudah terlihat.
“Kita sudah mulai lihat suasana liburan mendekat. Orderan dan permintaan dari calon tamu sudah mulai masuk, baik wisatawan lokal maupun dari Malaysia,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa mayoritas pemesanan berasal dari wisatawan domestik yang ingin menikmati panorama dan ketenangan Sabang pada libur akhir tahun. Sejumlah armada seperti Hiace, Avanza, dan Innova telah mulai dipesan, baik untuk layanan lepas kunci maupun paket tur lengkap.
“Untuk tanggal-tanggal akhir tahun seperti 27, 28, hingga 30 Desember sampai 1 Januari 2026 sudah mulai terisi. Kami perkirakan memasuki Desember nanti, pemesanan akan lebih ramai lagi,” tambahnya.
Bagi para pelaku wisata, kondisi ini menjadi momentum positif pemulihan dan penguatan ekonomi lokal. Namun, mereka turut sejalan dengan DPRK Sabang yang menekankan bahwa peningkatan kunjungan tidak boleh menggeser komitmen menjaga Sabang.
Selain destinasi alam dan sejarah, daya tarik Sabang juga terletak pada kulinernya yang unik. Sate gurita, mie sedap khas Sabang, dan rujak Aceh menjadi hidangan yang dicari wisatawan. Rasanya khas, proses pengolahan masih mempertahankan unsur tradisional, dan menjadi penguat identitas kuliner daerah.
Ketua DPRK Sabang menilai bahwa kuliner khas juga harus dilindungi melalui standar kebersihan dan tata kelola, terutama pada masa kunjungan tinggi. Ia menegaskan bahwa kuliner adalah bagian dari pengalaman wisata yang turut membentuk citra sebuah destinasi.
Dalam berbagai kesempatan, Magdalaina selalu menekankan bahwa Sabang tidak boleh hanya menjadi tempat singgah sementara. Keindahan alam dan nilai sejarahnya harus terus dijaga agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
“Semangat kami adalah melestarikan Sabang untuk semua. Mari kita bersama-sama menjaga keindahan alam dan kekayaan sejarah Sabang,” tegasnya.

DPRK Sabang juga tengah memperkuat aturan terkait perlindungan lingkungan, termasuk pengelolaan sampah di kawasan wisata, pembatasan aktivitas yang berpotensi merusak ekosistem laut, dan pengawasan terhadap pembangunan fasilitas wisata agar tetap ramah lingkungan.
Kepala Dinas Pariwisata, Harry Susethia, menambahkan bahwa Sabang tidak hanya ingin menjadi tujuan wisata yang indah, tetapi juga tujuan wisata yang bertanggung jawab.
“Kami terus mendorong kolaborasi antar-instansi agar Sabang menjadi destinasi berkualitas, bukan sekadar ramai. Wisatawan harus mendapatkan kenyamanan, tetapi alam dan sejarah harus tetap kita jaga,” ujarnya.
Dengan kekuatan alam dan sejarah yang luar biasa, Sabang memiliki potensi besar menjadi model destinasi wisata berkelanjutan di Indonesia. Kehadiran DPRK yang aktif mengimbau, Dinas Pariwisata yang memperkuat fasilitas, pelaku travel yang menata layanan, serta masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan, menjadi fondasi yang kuat bagi masa depan pariwisata Sabang.
Keramaian akhir tahun yang mulai terasa harus dimaknai bukan sebagai puncak sesaat, tetapi sebagai momentum membangun sistem pariwisata yang lebih matang. Sabang perlu menjaga keseimbangan antara kunjungan yang terus meningkat dan kewajiban melindungi warisan wilayah.

Keindahan Sabang bukan hanya untuk diabadikan dalam foto, tetapi untuk dijaga dalam kehidupan nyata. Setiap wisatawan memiliki peran. Setiap warga memiliki tanggung jawab. Dan setiap kebijakan pemerintah harus menjadi jembatan antara perkembangan dan pelestarian.
Pariwisata yang kuat adalah pariwisata yang tidak meninggalkan kerusakan. Sabang adalah permata, dan permata hanya akan bersinar jika dirawat. [ADVERTORIAL]



























































Leave a Review