Mobil Dinas Rp2,6 Miliar vs Rakyat Pascabencana: Pemkab Aceh Singkil Tumpul Nurani, Tajam ke Fasilitas Pejabat

Oleh : Alfan salam

Presiden Mahasiswa STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh (TDM)

Rencana pengadaan mobil dinas Bupati Aceh Singkil senilai Rp2,6 miliar dari APBK menuai kecaman keras dari Presiden Mahasiswa STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh (TDM), Alfa Salam. Ia menilai kebijakan tersebut sangat tidak berempati, mengingat masyarakat Aceh Singkil hingga kini masih berjibaku dalam proses pemulihan pascabencana banjir.

Menurut Alfa Salam, keputusan ini merupakan tamparan bagi akal sehat publik sekaligus bukti nyata krisis nurani pemerintah daerah. Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum pulih, banyak warga masih kehilangan penghasilan dan bantuan belum sepenuhnya menjangkau seluruh korban, Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil justru mempertontonkan prioritas yang memalukan dan tidak bermoral.

“Anggaran itu adalah uang rakyat. Seharusnya dipergunakan untuk menyelamatkan dan memulihkan kehidupan masyarakat, bukan untuk mempertebal kenyamanan dan kemewahan pejabat,” tegas Alfa Salam.

Ia menambahkan, jika pemerintah daerah tidak mampu berpihak kepada masyarakat yang sedang kesulitan, maka seharusnya para pejabat terkait berani turun dari jabatannya.

Lebih lanjut, Alfa Salam menilai rencana ini memperlihatkan wajah pemerintah daerah yang terputus dari realitas penderitaan rakyat. Kebijakan tersebut sekaligus menegaskan bahwa krisis kemanusiaan tidak dianggap sebagai kondisi darurat oleh para pengambil kebijakan.

“Rp2,6 miliar bukan angka kecil. Uang sebesar itu bisa digunakan untuk membantu ratusan keluarga korban banjir, memperbaiki infrastruktur darurat, serta mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat terdampak,” ujarnya.

Alfa Salam menegaskan, apabila pengadaan mobil dinas ini tetap dipaksakan, maka Bupati Aceh Singkil patut dinilai telah kehilangan legitimasi moral sebagai pemimpin rakyat. Menurutnya, kebijakan ini bukan hanya salah arah, tetapi juga menyakitkan, mencederai rasa keadilan publik, dan melukai hati masyarakat Aceh Singkil yang masih berjuang bangkit dari bencana.

Ia juga menyoroti bahwa sebelumnya telah muncul isu pengadaan iPhone 16 Pro dan iPad pada tahun 2025 dengan pagu anggaran Rp90 juta. Kini, kembali mencuat rencana pengadaan mobil dinas Rp2,6 miliar pada tahun 2026. Rangkaian kebijakan tersebut, kata Alfa, semakin memperjelas bahwa Pemerintah Aceh Singkil lebih sibuk berhias dan berfoya-foya di tengah tangisan rakyat yang ekonominya masih lumpuh.

“Kami melihat dengan sangat jelas bahwa orientasi kebijakan pemerintah hari ini tidak berpihak kepada rakyat. Ini bukan lagi soal administrasi anggaran, tetapi soal moral, empati, dan keberpihakan. Ketika rakyat diminta bersabar dan bangkit, pejabat justru memanjakan diri,” tegasnya.

Oleh karena itu, Alfa Salam mengajak seluruh masyarakat Aceh Singkil untuk sadar, membuka mata, dan tidak lagi diam melihat kebijakan yang mencederai nurani publik. Ia menilai masyarakat harus berani menilai dan mengoreksi pemimpinnya, karena pemimpin yang minim empati dan moral hanya akan melahirkan kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

“Diam berarti membiarkan ketidakadilan terus berlangsung. Aceh Singkil membutuhkan pemimpin yang hadir bersama rakyat saat susah, bukan pemimpin yang menikmati kenyamanan di atas penderitaan masyarakat,” tutup Alfa Salam.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi