Kebebasan Pers dan Kekangan Politik: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Oleh : Danu Abian Latif
Penulis Buku Opini Nakal untuk Indonesia

Tidak dapat di pungkiri kehidupan politik di Indonesia sangat di pengaruhi oleh peran media, baik itu media digital maupun media cetak. Peran media dalam politik sangat luar biasa pengaruhnya dalam membentuk citra politikus dengan menggiring opini publik dan memberikan presepsi terhadap isu politik.

Akibatnya, media sosial muncul sebagai platform baru untuk debat politik. Saya perhatikan di dunia nyata, politisi semakin aktif menggunakan platform seperti ini untuk melindungi kepentingan merekaTak heran jika mereka memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk meningkatkan popularitasmenyebarkan pesan-pesan politik, bahkan merekrut kandidat politik. Namun hal ini menimbulkan permasalahan baru, seperti hoaks, kampanye hitam, dan manipulasi opini melalui algoritma. Dalam konteks ini, media sosial lebih berguna sebagai sarana komunikasi dibandingkan sebagai sumber informasi yang obyektif.

Mulai dari pengumpulan informasi hingga pemilihan sudut pandang tertentu, media telah sangat memengaruhi cara masyarakat memandang politik. Media juga mempunyai kekuasaan yang besar dalam membentuk opini publik, yang dapat membantu atau menghambat kemajuan. Saya telah melihat bagaimana sebuah berita dengan pesan yang jelas dapat mengubah persepsi masyarakat terhadap pemimpin tanpa sepengetahuan mereka. Ini adalah contoh nyata mutualisme antara media dan politik: keduanya diperlukan.

Jika kita fokus pada mutualisme, kita akan memperhatikan dua entitas yang bekerja sama untuk saling menguntungkan. Begitu juga hubungan media-politik di Indonesia, yang pada titik tertentu dapat mencerminkan simbiosis yang saling menguntungkan. Media memperoleh manfaat politik melalui informasi, akses, dan berita dari pemerintah, politik, dan partai politik. Di sisi lain, politik sangat bergantung pada media untuk menyampaikan pesannya kepada masyarakat umum.

Saya berpendapat bahwa di Indonesia, kehidupan media yang netral semakin terancam, terutama ketika kita memasukkan kasus-kasus politik yang penuh intrik, banyak orang mungkin tidak menyadari betapa besar pengaruh politik terhadap apa yang kita bahas di media. Entah itu dalam bentuk pemasaran politik dan pemasaran yang dibalut dalam narasi informasi, atau informasi yang paling menonjolkan aspek kualitas seorang kandidat, sedangkan aspek buruknya sengaja ditutupi. Dalam kondisi seperti ini, media menjadi parasit bagi dirinya sendiri. Ia kehilangan posisinya sebagai penjaga stabilitas statistik dan malah menjadi bagian dari mesin politik yang menipu.

Meskipun hubungan antara media dan politik selalu berjalan lancar, kita tidak bisa menutup mata bahwa ada kecenderungan bahwa relasi ini akan berubah menjadi parasitisme. Dari sisi positifnya, saya melihat bahwa media dapat dimanfaatkan oleh politik untuk kepentingan pribadi atau institusi yang positif. Media, yang seharusnya menjadi alat kontrol sosial, seringkali berubah menjadi alat propaganda yang memperkuat citra para politisi. Kita bisa melihatnya dalam bentuk pemberitaan yang bias, manipulasi fakta, atau informasi yang sengaja disebarkan untuk menciptakan foto yang bagus bagi tokoh politik yang positif.

Kebebasan pers yang kita harapkan seringkali terasa jauh dari kenyataan. Dalam banyak kasus, saya merasakan bahwa media, meski kini tidak diatur secara langsung oleh negara, tetap bersifat terikat oleh politik tertentu. Kita bisa melihat berapa banyak media besar yang dimiliki melalui peristiwa-peristiwa yang juga mempunyai kepentingan politik. Di sinilah manipulasi media terasa sangat kuat, meski tidak selalu terlihat secara langsung. Media, yang seharusnya bebas, sering kali dibatasi karena kepentingan finansial dan politik yang memengaruhi keputusan editorial dan pemberitaan.

Kebebasan pers di Indonesia sedang dilematis. Kita sering melihat media harus menghadapi kondisi yang tidak ideal, di mana kebebasan mereka menyampaikan informasi harus dibayar dengan ancaman atau mungkin intimidasi. Ada saat-saat ketika media dianggap penting oleh pemerintah atau negara tertentu akan menjadi sasaran tekanan atau pembungkaman. Pada titik ini, hubungan antara politik dan media dapat beralih keparasitisme, dimana media tidak lagi menjadi penyampai kebenaran, namun menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan.

Hubungan antara media dan politik di Indonesia sangatlah kompleks. Media dan politik memang memiliki hubungan yang kuat, namun penting bagi kita untuk mempertanyakan apakah relasi ini selalu bermanfaat, atau apakah ada kalanya satu pihak merugikan pihak lain. Media kini bukan lagi milik rakyat, tapimilik penguasa ungkapan ini bisa diterapkan pada keadaan yang kita hadapi saat ini. Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai masyarakat untuk lebih tanggap terhadap informasi yang adadan menyadari bahwa media bukanlah kebenaran mutlak, melainkan sebuah sudut pandang yang dibentuk melalui banyakfaktor, termasuk politik.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi