Aceh Butuh MBG : Membaca Buku Gratis

Oleh : Danu Abian Latif 
Penulis Buku Opini Nakal Untuk Indonesia

Pak Muzakir Manaf selaku Gubernur Aceh harus mulai berani mengakui satu kenyataan pahit, persoalan terbesar Aceh hari ini bukan hanya, rekontruksi bencana banjir, kemiskinan ekonomi, infrastruktur yang belum merata, bahkan bukan sekadar persoalan gizi, persoalan terbesar Aceh adalah krisis kualitas sumber daya manusia yang ditandai dengan lemahnya budaya membaca dan rendahnya literasi masyarakat.

Di saat pemerintah pusat meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Aceh sebenarnya membutuhkan MBG varian lain, sebuah program yang tidak kalah penting, yakni MBG: Membaca Buku Gratis, sebab yang sedang kekurangan di Aceh hari ini bukan hanya gizi tubuh, melainkan juga gizi pengetahuan.

Banyak pihak berbicara tentang bagaimana anak-anak Aceh harus mendapatkan asupan makanan yang cukup agar mampu belajar dengan baik. Namun pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, setelah perut mereka kenyang, apa yang akan mengisi pikiran mereka?. Jika jawabannya anak-anak Aceh teracuni oleh media sosial, video pendek TIKTOK, dan informasi tanpa arah, maka hari ini Aceh sedang menyiapkan generasi yang kenyang secara fisik tetapi miskin secara intelektual.

Padahal Aceh bukanlah tanah yang lahir dari tradisi kebodohan, Aceh bukan daerah yang sejak awal tertinggal dalam ilmu pengetahuan, sebaliknya Aceh pernah menjadi salah satu pusat peradaban paling maju di Nusantara. Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, Aceh dikenal sebagai pusat perdagangan, diplomasi, pendidikan, dan pengembangan ilmu pengetahuan di Asia Tenggara. Para ulama dari berbagai wilayah datang ke Aceh untuk belajar dan mengajar. Naskah-naskah keilmuan ditulis, diskusi intelektual berkembang, bahasa, sastra, hukum, astronomi, filsafat, dan ilmu agama tumbuh dalam suasana yang sangat dinamis.

Ketika sebagian besar wilayah Nusantara masih terpecah dalam kerajaan-kerajaan kecil, Aceh telah menjalin hubungan diplomatik dengan berbagai kekuatan dunia, hal itu tidak mungkin terjadi tanpa kualitas sumber daya manusia yang unggul, dengan kata lain, masa keemasan Aceh tidak dibangun oleh kekayaan alam semata.

Masa keemasan Aceh dibangun oleh manusia-manusia yang berpengetahuan, tentunya mereka mempunyai budaya literasi yang baik mereka membaca, mereka menulis, mereka belajar banyak hal dan mereka diskusikan sehingga menghasilkan sebuah gagasan dan itu menjadi pondasi kemajuan Aceh pada saat itu. Karena itulah Aceh di hormati, di segani dan menjadi pusat peradaban di Nusantara.

Namun hari ini kejayaan itu seolah hanya tinggal cerita yang diulang dalam pidato tokoh Aceh dan terkenang di buku sejarah, kita bangga menyebut Aceh dengan julukan Serambi Mekkah, kita bangga menceritakan masa gemilanh Sultan Iskandar Muda. Tetapi kita lupa bertanya satu hal penting, apakah kualitas sumber daya manusia Aceh hari ini sudah mencerminkan kebesaran sejarah tersebut?. Jawabannya tentu saja belum dan itulah masalah yang harus diselesaikan pak Muzakir Manaf selaku Gubernur Aceh.

Generasi muda Aceh hari ini hidup di era yang sangat berbeda, mereka menghadapi persaingan global yang jauh lebih keras dibanding generasi sebelumnya, dunia tidak lagi menilai seseorang berdasarkan asal daerahnya, tetapi berdasarkan kemampuan dan pengetahuannya, tidak ada perusahaan yang merekrut seseorang karena berasal dari Aceh, tidak ada universitas terbaik dunia yang menerima mahasiswa karena bangga pada sejarah daerahnya, tapi hari ini yang dihargai adalah kompetensi, kemampuan berpikir, kreativitas dan kaya akan literasi dan sayangnya, budaya membaca belum menjadi kekuatan utama masyarakat Aceh.

Padahal membaca adalah pintu masuk menuju seluruh pengetahuan, tidak ada ilmuwan besar yang tidak membaca, tidak ada pemimpin besar yang tidak membaca, tidak ada inovator besar yang tumbuh tanpa membaca, semua pencapaian besar dalam sejarah manusia selalu dimulai dari pengetahuan.Karena itu, jika Aceh ingin mengembalikan kejayaannya, maka yang harus dibangun bukan hanya jalan, pelabuhan, atau gedung pemerintahan.

Hari ini yang harus di bangun oleh Pak Muzakir Manaf adalah manusia Aceh dan dalam membangun manusia harus melalui pendidikan, di mulai dengan budaya membaca di sinilah gagasan Membaca Buku Gratis menjadi sangat relevan. Program ini bukan sekadar membagikan buku kepada siswa, program ini adalah upaya membangkitkan kembali tradisi keilmuan Aceh yang pernah membuat daerah ini menjadi mercusuar peradaban Nusantara.

Bayangkan jika setiap anak Aceh sejak sekolah dasar memiliki akses terhadap buku-buku berkualitas, bayangkan jika setiap desa memiliki rumah baca yang aktif, bayangkan jika setiap sekolah memiliki jam membaca wajib, bayangkan jika setiap pelajar Aceh mendapatkan buku gratis setiap semester dan bayangkan jika dana Otonomi Khusus digunakan untuk menciptakan generasi pembaca terbesar di Indonesia.

Maka Aceh akan menjadi contoh bahwa yang sedang dibangun bukan sekadar program pendidikan, tetapi bagaimana merekonstruksi fondasi kebangkitan peradaban bagi generasi emas Aceh. Hari ini Aceh memiliki kelebihan yang tidak dimiliki banyak daerah lain, yaitu Dana Otonomi Khusus. Selama bertahun-tahun Aceh menerima dana dalam jumlah sangat besar untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun pertanyaannya adalah, apakah dana tersebut sudah benar-benar diarahkan untuk membangun kualitas manusia Aceh yang unggul?

Sebab sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar tidak pernah lahir dari banyaknya anggaran, peradaban besar lahir dari kualitas manusianya, Mesir kuno dikenang karena ilmuwannya, Yunani dikenang karena filsufnya, peradaban Islam dikenang karena para cendekiawannya, Aceh pada masa lalu dikenang karena ulama dan intelektualnya, maka jika Aceh ingin kembali besar, Aceh harus kembali melahirkan manusia-manusia besar dan itu tidak akan terjadi tanpa adanya budaya membaca.

Karena itu, Program Membaca Buku Gratis harus menjadi agenda strategis Pemerintah Aceh di masa pak Muzakir Manaf tidak bisa menunggu pemimpin selanjutnya, mekanismenya bisa dimulai dengan sangat sederhana, pemerintah mengalokasikan sebagian dana Otsus untuk pengadaan buku berkualitas bagi seluruh pelajar, setiap siswa mendapatkan voucher buku tahunan, perpustakaan sekolah diperkuat baik sarana dan prasarana yang memadai, rumah baca desa dihidupkan, perpustakaan digital Aceh dibangun, kompetisi literasi diperluas hingga tingkat gampong, penulis lokal diberdayakan, penerbit daerah didukung, komunitas literasi diajak bermitra.

Program ini tidak membutuhkan biaya sebesar proyek infrastruktur raksasa, tetapi dampaknya jauh lebih panjang, karena jalan yang dibangun hari ini mungkin rusak dalam sepuluh tahun, gedung yang dibangun hari ini mungkin perlu direnovasi dalam dua puluh tahun, namun seorang anak yang jatuh cinta pada buku hari ini dapat mengubah masa depan Aceh selama puluhan tahun ke depan.

Kelak dengan budaya literasi yang baik akan melahirkan generasi emas Aceh , kelak mereka akan menjadi guru, dokter, penelitian, pengusaha, pemimpin dan pada akhirnya peradaban Aceh akan kembali. Selama ini Aceh terlalu sering bernostalgia terhadap kejayaan sejarah.

Maka jika Aceh ingin kembali menjadi pusat peradaban, kembali menjadi daerah yang dihormati karena kualitas manusianya, kembali melahirkan pemimpin, ulama, akademisi, peneliti, dan inovator yang diperhitungkan di tingkat nasional maupun global, langkah pertama yang harus dilakukan oleh pak Muzakir Manaf adalah membangun lebih banyak pembaca.

Karena setiap peradaban besar selalu dimulai dari buku, setiap kebangkitan selalu dimulai dari pengetahuan dan setiap generasi emas selalu lahir dari budaya membaca, kini saatnya Aceh melahirkan generasi emas yang baru, dengan memastikan setiap anak Aceh memiliki akses yang sama terhadap ilmu pengetahuan.

Karena masa depan Aceh tidak akan ditentukan oleh berapa besar dana Otsus yang pernah diterima, masa depan Aceh akan ditentukan oleh berapa banyak anak muda yang membaca, berpikir, dan berani bermimpi besar dan untuk mewujudkan itu, Aceh membutuhkan MBG yang sesungguhnya: Membaca Buku Gratis, sebuah program untuk membangkitkan kembali semangat keilmuan yang pernah menjadikan Aceh salah satu pusat peradaban paling gemilang di Nusantara, sekaligus melahirkan generasi emas baru yang mampu membawa Aceh kembali berdiri terhormat di masa depan.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi