Katacyber.com, Banda Aceh – Budi Hasan, jebolan aktivis mahasiswa Universitas Serambi Mekah (USM) menyampaikan setiap kali bencana datang, yang paling cepat merasakan dampaknya adalah masyarakat, rumah terendam, sawah rusak, akses jalan terputus, dan penghasilan hilang. Namun yang sering datang belakangan justru kepastian dari Pemerintah Aceh lebih tampil banyak drama, bukan tindakan nyata, jujur dan transparans.
“Belakangan ini, publik dihebohkan oleh pernyataan Menteri Pertanian yang menyinggung lambannya proses penanganan dan pencairan anggaran di Aceh. Terlepas dari siapa yang benar, satu hal yang tidak bisa dibantah adalah masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan ketika pemerintah gagal bergerak dengan cepat.” Ujar Budi Hasan, Kamis (06/08/2026).
Menurutnya, seorang pemimpin dipilih bukan hanya untuk hadir saat peresmian atau menyampaikan pidato, tetapi untuk mengambil keputusan ketika rakyat sedang berada dalam kesulitan. Jabatan bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan amanah yang harus dibuktikan melalui kerja nyata.
“Jika memang hambatan terjadi karena birokrasi, mengapa tidak segera diselesaikan? Jika anggaran sudah tersedia, mengapa masyarakat masih harus menunggu? Jika koordinasi menjadi masalah, mengapa tidak diperbaiki sejak awal? Pertanyaan-pertanyaan ini layak dijawab secara terbuka kepada publik.” ujarnya.
Dia melanjutkan, masyarakat Aceh tidak membutuhkan saling menyalahkan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah, bukan memperpanjang polemik.
“Keterlambatan dalam penanganan bencana bukan sekadar persoalan administrasi. Setiap hari yang terbuang berarti semakin banyak warga kehilangan mata pencaharian, anak-anak kehilangan kenyamanan, dan keluarga harus bertahan dalam ketidakpastian.” tegasnya.
Budi Hasan berharap sudah saatnya Pemerintah Aceh menunjukkan bahwa kepemimpinan diukur dari kecepatan bertindak, bukan banyaknya alasan. Kritik bukanlah bentuk kebencian, melainkan pengingat bahwa kekuasaan berasal dari rakyat dan harus kembali untuk kepentingan rakyat.
“Aceh tidak membutuhkan pemimpin yang hanya hadir ketika kamera menyala. Aceh membutuhkan pemimpin yang hadir ketika rakyat menangis, bekerja ketika keadaan sulit, dan bertanggung jawab ketika ada persoalan. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling pandai beralasan. Sejarah akan mengingat siapa yang benar-benar bekerja untuk rakyat.” tutupnya.
























































Leave a Review