Katacyber.com | Meulaboh — SMK Negeri 3 Meulaboh terus memperkuat program pendidikan berbasis dunia kerja melalui implementasi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dan Teaching Factory (TEFA). Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kompetensi peserta didik agar mampu menghasilkan lulusan yang siap kerja, siap kuliah, serta memiliki daya saing sesuai kebutuhan dunia industri.
Penguatan program tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan In House Training (IHT) BLUD Sekolah Menengah Kejuruan dan Implementasi Pembelajaran Teaching Factory (TEFA) yang dilaksanakan di SMK Negeri 3 Meulaboh, 17 hingga 19 September 2026.
Kegiatan ini mengusung semangat dan motto SMK Negeri 3 Meulaboh, “Berkarakter, Berkompeten, Siap Kerja, Siap Kuliah.”
Acara tersebut dibuka lansung oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Barat, T. Kamarizal, S.Pd. Dalam sambutannya a mengatakan, pelaksanaan IHT difokuskan pada pemberdayaan BLUD agar tidak sekadar menjadi formalitas kelembagaan, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi sekolah dan siswa.
“SMK itu wajib memiliki BLUD, sekurang-kurangnya ada unit produksi. Kita ingin BLUD ini aktif dan bisa melahirkan program atau ide yang bermuara pada peningkatan kualitas siswa,” ujar T. Kamarizal.
Ia menargetkan seluruh SMK di wilayah Aceh Barat ke depan dapat menjalankan BLUD secara aktif dan produktif. Pemerintah juga, katanya, akan terus mendukung kreativitas siswa sesuai kompetensi keahlian masing-masing.
Sementara itu, Plt. Kepala SMKN 3 Meulaboh, Dastur Syah, S.P., M.P., mengatakan, penerapan BLUD dan TEFA merupakan bagian dari upaya sekolah menyesuaikan proses pembelajaran dengan perkembangan serta tuntutan dunia industri.
“Program kami saat ini sejalan dengan program Dinas Pendidikan Aceh. Nantinya kita akan menjalankan program BLUD untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan berdaya saing, khususnya pada bidang busana, perhotelan dan kuliner,” ujarnya.
Menurutnya, konsep pembelajaran yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi di dalam kelas, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada siswa melalui lingkungan kerja dan praktik industri.
Dengan demikian, setelah menyelesaikan pendidikan, siswa diharapkan telah memiliki wawasan, keterampilan dan pengalaman yang sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.
“Setelah selesai dari sini, anak-anak yang telah mendapatkan ilmu atau wawasan industri sudah siap pakai atau siap bekerja sesuai bidang dan keahliannya masing-masing. Sehingga mereka dapat bersaing dengan tenaga kerja dari luar,” katanya.
Implementasi TEFA di SMK Negeri 3 Meulaboh juga diarahkan untuk memperkuat hubungan antara sekolah dengan dunia industri. Sekolah tidak hanya terpaku pada kurikulum nasional, tetapi terus berkolaborasi dengan industri agar kompetensi yang diberikan kepada siswa benar-benar relevan dengan kebutuhan lapangan kerja.
Salah satu bentuknya dilakukan melalui kerja sama pada kompetensi keahlian boga atau kuliner dengan sejumlah restoran. Siswa diberikan kesempatan untuk melaksanakan praktik langsung di industri, sementara guru juga mendapatkan pengalaman melalui kegiatan praktik di dunia usaha dan dunia industri.
“Intinya, mereka kita hadirkan ke sekolah, termasuk anak-anak kita berikan kesempatan untuk ikut praktik ke sana. Guru-guru kita juga ikut praktik ke industri. Nantinya guru akan mengajar sesuai dengan apa yang mereka alami dan dapatkan selama berada di industri,” jelasnya.
Pola tersebut diharapkan mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih kontekstual. Siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga terbiasa dengan standar kerja, budaya industri dan tuntutan profesionalisme yang akan mereka hadapi setelah lulus.
Dalam pelaksanaan IHT tersebut, SMK Negeri 3 Meulaboh menghadirkan sejumlah narasumber untuk memberikan penguatan terkait penerapan BLUD, TEFA serta peningkatan mutu pendidikan vokasi.
Di antaranya Rahardian dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Provinsi Aceh serta Dr. Muhib yang merupakan konsultan Dinas Pendidikan Aceh dalam bidang pemantauan mutu sekolah.
Kehadiran para narasumber tersebut diharapkan dapat memberikan wawasan dan pemahaman kepada seluruh tenaga pendidik mengenai tata kelola BLUD sekaligus memastikan proses pembelajaran dan kompetensi lulusan tetap mengacu pada standar yang telah ditetapkan.
Kegiatan IHT ini diikuti oleh guru-guru kejuruan, guru mata pelajaran umum dan unsur terkait lainnya. Kolaborasi antarguru tersebut dinilai penting agar pembelajaran umum dapat mendukung pembelajaran kejuruan secara lebih terpadu.
“Harapan kita semua guru, baik guru kejuruan maupun guru umum, bisa berkolaborasi dalam pembelajaran. Dengan begitu mereka memiliki modal yang kuat dalam menjalankan BLUD ini,” ujarnya.
BLUD dan TEFA, SMK Negeri 3 Meulaboh menargetkan terbentuknya ekosistem pendidikan vokasi yang semakin dekat dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Program tersebut sekaligus menjadi langkah sekolah untuk memastikan bahwa keterampilan yang diperoleh siswa tidak berhenti pada pembelajaran di sekolah, tetapi dapat diterapkan secara nyata di dunia kerja.
Dengan penguatan kerja sama industri, peningkatan kompetensi guru serta pengalaman praktik bagi siswa, SMK Negeri 3 Meulaboh terus mendorong terwujudnya lulusan yang memiliki karakter, kompetensi dan pengalaman kerja yang relevan.
Program tersebut sejalan dengan semangat sekolah untuk mewujudkan lulusan “Berkarakter, Berkompeten, Siap Kerja, Siap Kuliah”, sekaligus memperkuat posisi SMK sebagai lembaga pendidikan yang mempersiapkan generasi muda menghadapi kebutuhan dan persaingan dunia kerja. (GM)

























































Leave a Review