Oleh: Syarifuddin Abe
Bicara tentang rasa, pasti tidak akan pernah habisnya, pasti tidak akan pernah selesai. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rasa adalah tanggapan oleh hati terhadap sesuatu yang dialami oleh pancaindra, seperti sedih, bimbang, takut. Demikian juga halnya dengan sense of humor, rasa atau berupa kesadaran yang ada dalam individu yang merangsang untuk tertawa atau memiliki kecenderungan yang khusus hanya untuk tertawa (Cahyono: 2002). Rasa humor juga merujuk terhadap perbedaan dari kebiasaan seseorang terhadap semua jenis perilaku, pengalaman, sikap afektif serta kemampuan-kemampuan berkenaan dengan hal-hal yang bersifat gembira, yang membangkitkan gairah dari sesuatu yang lucu, tertawa, dan sebagainya.
Rasa humor, kata Gus Dur (1986), merupakan cerminan pada diri seseorang atau masyarakat, berkenaan dengan daya tahannya yang tinggi ketika berhadapan dengan sebuah kepahitan dan kesengsaraan. Ketika kita mampu mentertawakan diri sendiri, itu menunjukkan kita memiliki keseimbangan antara kebutuhan dan rasa hati di satu pihak dan merasa memiliki keterbatasan pada sisi yang lain. Kepahitan yang diakibatkan oleh kesengsaraan dapat diimbangi melalui pengetahuan nyata terhadap penerimaan pada kesengsaraan tanpa memiliki patah semangat dalam hidup. Humor merupakan suatu sublimasi dari sebuah pengalaman yang melahirkan sikap kearifan pada diri seseorang serta pada suatu masyarakat.
Setiap orang pasti memiliki sense of humor, tinggal bagaimana cara seseorang dalam menghadirkan humor itu. Maka sense of humor merupakan kemampuan pada diri seseorang dalam mengekspresikan dan menikmati humor, bahkan bagaimana seseorang dalam mempersepsikan terhadap humor itu sendiri. Secara singkat dapat dijelaskan, adanya kemampuan pada diri seseorang dalam merespons suatu masalah dalam kehidupan melalui sikap penuh gembira dan optimistis. Setiap orang tidak harus menyembunyikan rasa humornya, bagaimanapun juga, rasa humor pasti dimiliki oleh setiap orang. Bagaimana pun caranya seseorang menyembunyikannya pasti akan terbongkar. Pasti orang-orang akan mengetahuinya. Sadar atau tidak sadar, oleh seseorang pasti akan menemukan rasa humor yang dimiliki dan dipendam oleh seseorang. Lagi pula, kenapa harus malu terhadap rasa humor yang kita dimiliki?
Setiap orang harus sadar, kita harus memiliki sense of humor ini, walaupun berbeda-beda kadar yang dimiliki. Orang yang memiliki sense of humor menunjukkan telah dapat menjalani dan melewati hidupnya dengan nyaman. Persoalan-persoalan yang dihadapi dalam hidupnya tidak lagi dipandang sebagai masalah, bahkan sudah merasa nyaman dengan masalah yang dihadapi. Sudah santai dengan masalahnya, masalah sudah dianggap sebagai teman dalam hidupnya. Orang yang menganggap masalah sebagai teman hidupnya adalah orang-orang yang memiliki spiritualitas yang tinggi. Masalah tidak lagi dipandang sebagai ancaman hidup, namun sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup; dalam hidup tentu ada susah dan senang, begitu seterusnya.
Orang yang masih mampu tertawa ketika masalah menghampirinya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dalam mengelola hidupnya dengan baik. Memiliki sikap optimis. Tuhan menjadi inspirasi dalam melewati berbagai masalah yang dihadapinya. Kalau dipikir-pikir, siapa orang yang tidak memiliki masalah dalam hidupnya. Seorang Nabi yang notabenenya sebagai kekasih Allah, juga memiliki masalah dalam kehidupannya, apalagi kita sebagai manusia biasa. Hanya saja, kita perlu belajar, agar masalah yang dihadapi tidak membuat kita terpuruk. Kalau kita tidak mampu menghadapinya, paling tidak, rasa sabar dan menyerah diri kepada Tuhan menjadi jalan awal dalam memahami masalah yang lagi kita hadapi.
Menurut Thorson dan Powell (1997), sense of humor merupakan multidimensi, didalamnya memiliki kemampuan dalam menciptakan dan menghadirkan humor, dapat mengenali humor, memiliki kemampuan untuk mengapresiasikan humor, serta dapat menggunakan humor sebagai mekanisme coping dalam mencapai tujuan sosial. Setiap individu pasti menginginkan humor, baginya humor menjadi alat untuk membuat senang dan gembira. Sebagaimana dijelaskan oleh Nebraska University, bahwa humor yang dipenuhi gelak tawa dapat menghilangkan stres, menyingkirkan nafsu amarah, bahkan menyatukan keluarga yang lagi dihinggapi masalah. Adanya sense of humor, juga dapat mencegah penyakit jantung yang dialami manusia bahkan dapat memperpanjang usia manusia.
Rasa humor adalah suatu ketahanan pada diri seseorang. Rasa humor adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam menterjemahkan tingkat kesulitan yang dialaminya dalam kehidupan. Rasa humor adalah kemampuan yang ada pada diri seseorang, ketika berhadapan dengan situasi yang sulit. Bagaimana seseorang itu memandang kesulitan hidupnya? Bagaimana oleh seseorang itu ketika berhadapan dengan perasaan yang dialaminya. Sehingga rasa humor yang dimilikinya mampu bertahan terhadap apa yang sedang dihadapinya. Humor menjadi obat untuk melupakan rasa sakit dari kehidupan yang dijalaninya.
Sense of humor dapat menjadi sikap kearifan pada diri seseorang ketika berhadapan dengan individu atau sebuah komunitas. Menghibur dapat menjadi senjata ketika berhadapan dengan seseorang atau dengan sebuah komunitas. Orang yang punya sense of humor, biasanya memiliki kepekaan ketika berhadapan dengan sesuatu masalah. Maka humor dapat menjadi media dalam menghibur, apalagi hiburan sudah menjadi kebutuhan yang mutlak pada siapa saja bahkan hiburan dapat menjadi sebuah proses dalam mempertahakan hidup pada setiap individu.
Apa yang membuat orang bingung terhadap diri seseorang ketika seseorang itu berhadapan dengan situasi yang sulit. Orang yang tidak mampu mengekspresikan rasa humornya, akan dipersulit oleh suatu keadaan yang tidak menguntungkan dirinya. Terkadang, hal-hal yang menguntungkannya pun dianggap mempersulit dirinya. Segala sesuatu selalu dilihatnya sebagai hambatan. Melihat orang yang lagi tertawa pun dianggapnya mentertawakan dirinya.
Orang yang tidak mampu menghadirkan rasa humornya, akan banyak nyerocos bahkan akan lebih banyak mengeluh ketika berhadapan dengan sebuah situasi. Mereka akan lebih banyak menyendiri, bahkan bisa-bisa selalu dalam suasana putus asa, suka menyalahkan keadaan, suka mengeluh dan sebagainya. Ibarat orang yang lagi sakit gigi disuguhi makanan yang super enak pada sebuah pertemuan. Selalu memandang betapa tidak adilnya hidup yang dijalananinya. Bahkan Tuhan pun akan dipandang sebagai akibat dari apa yang dialaminya?
Sense of humor yang ada pada diri seseorang tak lain adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan. Segala sesuatu yang berasal dari Tuhan pasti memiliki manfaat bagi diri seseorang. Bicara tentang manfaat, tentu ada manfaat positif dan negatifnya. Bagi yang memiliki rasa humor dan paham memanfaatkannya tentulah akan membawa manfaat yang lebih baik. Haruslah pandai-pandai cara memanfaatkannya serta bagaimana harus bersikap dengan rasa humor yang dimilikinya. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang memiliki sense of humor yang tinggi sangat digemari oleh teman-temannya, bahkan sahabat dalam hidupnya akan terus bertambah.
Sebaliknya, orang yang tidak mampu memanfaatkan sense of humor, biasanya kaku dan kurang disenangi oleh teman-temannya. Kalau hidupnya kaku dan tegang ditambah serius melulu, alamat hidup seseorang seperti hidup sendiri. Orang yang duduk di sampingnya, seperti merasa duduk dengan jarak sebagaimana pada masa korona melanda. Orang yang hidupnya terlalu serius, bahkan terlampau terlalu serius; walau hidupnya dalam keramaian tak ubahnya hidup di tengah belantara hutan yang sunyi-sepi. Keramaiannya pun menjadi mubazir baginya.
Hidup yang terlalu serius tanpa bersentuhan dengan rasa humor adalah hidup yang kaku bahkan sia-sia, mendingan menjadi patung saja. Hidup seperti ini merupakan kehidupan yang tidak mampu untuk dinikmati. Kalau diumpamakan orang yang lagi tidur, tidurnya dipenuhi mimpi yang menakutkan melulu. Sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, tidak semua orang akan mampu memahami dan paham terhadap rasa humor yang dimilikinya. Karena rasa humor itu sebagai anugerah, maka bagi siapa saja memiliki rasa humor, tentunya harus pandai bersyukur, sehingga rasa humor yang ada padanya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Ada beberapa manfaat sense of humor bagi manusia, di antaranya; pertama, dapat menjadi media penghibur. Kedua, memiliki rasa bijaksana dalam menjalani kehidupan. Ketiga, dapat menyampaikan sesuatu hal dalam suatu majlis dengan menggunakan bahasa sindiran atau kritikan dengan nuansa humor. Keempat, dapat menjadi sarana persuasi dalam menyampaikan suatu informasi kepada seseorang atau suatu sekelompok. Kelima, dapat juga menjadi sebagai media dalam mendekati seseorang atau sekelompok orang. Keenam, dapat menjadi ciri seseorang yang dengannya menjadikan orang terkesan bahkan akan digemari oleh banyak kalangan. Ketujuh, menjadi efek positif bagi kesehatan mental manusia. Kedelapan, dapat meningkatkan kohesi interpersonal. Kesembilan, dapat menjadi media penakluk.
Sense of humor adalah sebuah kepekaan dapa diri seseorang. Jika seseorang tidak memiliki kepekaan, apapun yang dialami dan dirasakan tidak akan menimbulkan suatu kesan yang lucu. Seseorang yang memiliki sense of humor yang tinggi, akan mengalami kepekaan terhadap situasi apapun. Semua situasi yang dihadapinya adalah jalan lurus dalam melahirkan humor-humor yang segar. Sense of humor dapat lahir dari kebiasaan yang dialami oleh individu ketika berhadapan dalam situasi apapun, dapat lahir dari jenis perilaku, pengalaman, sikap, afeksi serta berupa kemampuan-kemampuan yang berhubungan dengan sikap senang, gembira, suka-cita, tawa, melucu dan sebagainya.
Sense of humor adalah potensi yang dimiliki oleh individu, kemunculannya diwujudkan dalam bentuk emosi riang dan gembira, dilakukannya dengan senyum dan tawa, hadirnya lewat proses-proses berpikir yang jenius, penuh logika berpikir serta kreatif. Di sinilah, humor menjadi sebuah karakter pada diri seseorang dengan cara mengaktualisasi dirinya. Secara umum, orang yang memiliki sense of humor, dengan kejeniusan yang dimilikinya hanya mentertawakan keberuntungan pada diri orang lain. Tidak untuk permusuhan, tidak untuk mengumbar bahasa dan sikap seksualitas, tidak merasa superior, tidak menjadikannya sombong serta tidak untuk menyakiti orang dengan humornya. Oleh karenanya, sense of humor adalah sebuah rasa kepekaan seseorang dalam merasakan humor serta suatu rasa untuk mengekspresikan serta mengapresiasi humor, hal ini juga yang mempermudah seseorang ketika berhadapan dengan sebuah permasalahan dalam hidupnya.
Memiliki selera humor, merupakan fitrah setiap manusia. Tidak ada orang yang tidak menyukai humor. Dalam filosofi Jawa, sebagaimana dijelaskan oleh Yulius Eko Priyambodo (2014), hidup manusia di dunia ini hanyalah mampir minum. Kesedihan dan penderitaan yang dialami manusia hanyalah lelucon pendek. Kebahagiaan dan kegembiraan tak lain adalah hiburan singkat. Maka bagi orang sufi, hidup tak lain sejatinya hanyalah mampir untuk tertawa. Dalam hidupnya, manusia hanya menghadapi dua hal; ya atau tidak, manis atau pahit, senang atau sengsara, sedih atau bahagia, maju atau mundur, mengeluh atau optimis, menangis atau tertawa. Hidup bukanlah sebuah teka-teki, sebuah kesemestian dan sebuah pilihan. Menjadi aneh bagi manusia, apabila dalam hidupnya tidak pernah bersentuhan dengan humor, karena tertawa dapat membawa manusia ke arah otentisitasnya. Tertawa menjadikan anda mengenal kehidupan di surga.
Ella Wheeler Wilcox pernah berkata, “tertawalah, maka dunia akan ikut tertawa bersama kalian” (Tony Buzan, 2010). Tertawa itu tidak pernah dilarang, siapa saja silahkan tertawa sampai sepuas-puasnya. Dengan tertawa seseorang telah mampu melewati hal-hal yang memperburuk hidupnya, maka tertawa adalah kebahagiaannya dalam mengisi hidupnya. Baginya, bahagia wujud hidup yang dikehendaki manusia dan tertawa salah satu ciri dari bahagia. Mana ada orang yang tertawa hidupnya tidak bahagia? Kalaupun ada, ia sedang mengejek kehidupannya sendiri.
Anda dipersilahkan tertawa sambil lompat-lompat, atau sambil berguling-guling di lantai. Mau hahaha atau hihihi atau hehehe atau hohoho bahkan dalam bentuk senyum simpul sekalipun, dipersilahkan. Tidak ada yang melarang kita tertawa, asalkan kita tertawa dalam kewajaran dan kesemestian. Jangan pula karena tertawa tidak dilarang dan boleh tertawa sepuas-puasnya, maka kita tertawa terus hingga tidak pernah berhenti, ini salah juga. Jangan hanya karena tertawa tidak pada tempatnya lalu kita dianggap stress atau gila atau bahkan tidak normal. Tertawa adalah sifat manusiawi yang ada pada manusia, maka tertawalah dalam kewajarannya.
Untuk itulah, setiap orang harus memiliki sense of humor serta sikap serius. Setiap orang harus memiliki kemampuan mengelolanya, kapan sikap sense of humor praktekkan, demikian juga sikap serius yang dimiliki. Dalam keadaan serius mungkin saja disispi rasa humor demikian juga sebaliknya. Tidak semua keadaan serius harus diakhiri dengan air mata, demikian juga tidak semua keadaan humor harus diakhiri dengan tertawa. Serius dan tertawa adalah sifat manusiawi.



























































Leave a Review