Pacuan Kuda Gayo Didorong Jadi Motor Pemulihan Ekonomi, HMI: Jangan Hanya Seremonial

Katacyber.com | Aceh Tengah – Di bawah langit Takengon yang sejuk dan sarat nilai tradisi, derap kaki kuda tak lagi sekadar tontonan budaya. Bagi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Takengon–Bener Meriah, Pacuan Kuda Tradisional Gayo tahun ini harus dimaknai lebih dalam sebagai momentum strategis untuk mendorong pemulihan ekonomi masyarakat pasca-bencana, Selasa (14/04/2026).

Ketua Umum HMI Cabang Takengon–Bener Meriah, Afdhalal Gifari, menegaskan bahwa event tahunan yang digelar oleh pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata Aceh Tengah tersebut tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial semata. Menurutnya, pacuan kuda harus dijadikan episentrum kebangkitan ekonomi lintas sektor, terutama bagi masyarakat kecil yang terdampak langsung oleh kondisi pasca-bencana.

“Event ini bukan hanya tentang siapa yang menang di lintasan. Lebih dari itu, ini adalah ruang hidup bagi masyarakat bawah. Harus ada dampak nyata yang dirasakan secara ekonomi,” ujar Afdhalal.

Ia mengingatkan agar euforia perhelatan tidak hanya dinikmati oleh segelintir pihak, sementara para pengurus kuda dan pekerja kandang yang menjadi bagian penting dari ekosistem pacuan justru terpinggirkan. Bagi mereka, kata Afdhalal, event ini merupakan sumber penghidupan yang sangat berarti.

“Para pengurus kuda ini adalah tulang punggung. Tanpa mereka, pacuan tidak akan pernah ada. Maka sudah seharusnya mereka juga menjadi pihak yang paling merasakan manfaat ekonomi dari kegiatan ini,” katanya.

Selain itu, HMI juga menyoroti peran penting pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memadati area pacuan. Dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, kehadiran ribuan pengunjung menjadi peluang vital bagi para pedagang kecil untuk kembali memperoleh penghasilan.

Menurut Afdhalal, pemerintah perlu memastikan bahwa perputaran ekonomi yang tercipta benar-benar menjangkau sektor informal dan pelaku usaha lokal, bukan hanya terpusat pada aspek hiburan semata.

Lebih lanjut, ia mendorong adanya kolaborasi lintas sektor dalam menyukseskan event tersebut. Ia menilai, setiap instansi pemerintah harus bergerak secara simultan sesuai dengan tugas dan fungsinya agar anggaran yang dialokasikan tidak sekadar habis untuk penyelenggaraan, tetapi juga menjadi instrumen pemulihan ekonomi yang efektif.

“Tidak bisa parsial. Semua pihak harus terlibat. Kalau ini dikelola secara serius, pacuan kuda bisa menjadi medium percepatan pemulihan daerah, bukan sekadar agenda tahunan,” tegasnya.

HMI juga memetakan sejumlah aspek penting yang menjadi alasan kuat mengapa pacuan kuda perlu didukung secara maksimal. Di antaranya adalah peningkatan kesejahteraan sektor informal seperti pengurus kuda dan buruh harian, penguatan daya tahan UMKM melalui peningkatan transaksi ekonomi, serta pemulihan psikologis masyarakat melalui ruang-ruang budaya yang memperkuat solidaritas sosial.

Menutup pernyataannya, Afdhalal mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melihat pacuan kuda sebagai momentum konsolidasi bersama dalam membangun kembali Aceh Tengah.

“Ini bukan hanya soal tradisi, tetapi tentang bagaimana kita bangkit bersama. Kita tunjukkan bahwa Aceh Tengah kuat, mandiri, dan tetap bersatu dalam bingkai budaya Gayo,” pungkasnya.

Di lintasan pacu nanti, yang berpacu bukan hanya kuda-kuda terbaik Gayo, tetapi juga harapan masyarakat untuk kembali berdiri tegak di tengah tantangan yang ada.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi