Katacyber.com | Kuala Lumpur– Aceh Trading Committee (ATC) resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama Operasi (KSO) dengan perusahaan asal Malaysia, GT Empire Global Sdn. Bhd. (GTE) di Kuala Lumpur, Jumat (10/04/2026). Kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat perdagangan lintas negara yang menghubungkan langsung pelaku UMKM dan pengusaha ekspor Aceh dengan pasar internasional.
Penandatanganan dokumen dilakukan oleh Ketua (Petua) ATC, Zulkarnaini, dan perwakilan GTE, Nurainun. Kesepakatan ini bertujuan membangun integrasi rantai pasok dari hulu ke hilir, mulai dari pengumpulan hasil bumi di wilayah Aceh hingga distribusi di pasar Malaysia.
Mendorong Sektor Pertanian dan Ekonomi Masyarakat
Ketua ATC, Zulkarnaini, menegaskan bahwa kolaborasi ini membawa misi besar untuk meningkatkan taraf hidup petani serta produsen lokal di Aceh. Melalui akses pasar yang lebih luas, diharapkan komoditas lokal dapat bersaing di level global.
“Kami berharap kerja sama ini mampu memajukan sektor pertanian dan produk UMKM unggulan masyarakat. Hal ini diharapkan menciptakan multiplier effect terhadap pembukaan lapangan kerja baru serta menjadi sumber penguatan ekonomi bagi warga Aceh,” ujar Zulkarnaini pasca-penandatanganan.
Optimalisasi KEK Arun dan Jalur Logistik Tradisional
Dalam dokumen KSO tersebut, kedua belah pihak sepakat menjadikan Pelabuhan Krueng Geukueh sebagai titik sentralisasi pengumpulan barang ekspor. Langkah ini dilakukan dengan memanfaatkan regulasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe untuk memprioritaskan komoditas unggulan, seperti hasil laut, sayuran, buah-buahan, serta rempah-rempah.
Salah satu poin unik dalam kerja sama ini adalah penggunaan kapal kayu sebagai moda transportasi utama untuk pengiriman dari Aceh menuju pelabuhan tujuan di Malaysia (Port to Port & Door to Door Delivery). Strategi ini diharapkan dapat mengefisiensikan biaya logistik sekaligus menghidupkan kembali jalur perdagangan maritim tradisional yang strategis.
Mendukung Visi Gubernur untuk Konektivitas Aceh–Penang
Langkah strategis ini juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap visi Gubernur Aceh yang tengah memacu aktivasi rute pelayaran internasional langsung dari Lhokseumawe ke Penang pada tahun 2026. Pemerintah Aceh menargetkan pengoperasian kapal di jalur tersebut guna memangkas ketergantungan logistik pada daerah lain dan mempercepat arus perdagangan komoditas unggulan. Sinergi antara ATC dan GTE diprediksi akan mempercepat realisasi konektivitas ekonomi tersebut, sekaligus memantapkan posisi Aceh sebagai hub perdagangan strategis di Selat Malaka.
Pembagian Peran dan Kepatuhan Regulasi
Dalam perjanjian yang berlaku selama dua tahun ini, ATC berperan sebagai fasilitator dan mediator yang bekerja sama dengan perusahaan lokal untuk menjamin kualitas serta kontinuitas pasokan. Di sisi lain, GTE bertindak sebagai mitra pemasaran dan distribusi yang mengelola jaringan grosir, ritel, hingga freshmart di Malaysia dan pasar internasional lainnya.
Kerja sama ini juga menekankan kepatuhan penuh terhadap regulasi ekspor-impor di kedua negara. Hal ini mencakup prosedur karantina, kepabeanan (bea cukai), dan sertifikasi produk guna menjamin standar keamanan pangan internasional yang ketat.





















































Leave a Review