Ternak Kelulut; Solusi Polemik Lingkungan & Cegah Konflik Gajah

Oleh : Misbah, Praktisi Kami Sahabat Leuser (KSL)

Provinsi Aceh adalah salah satu wilayah dengan kawasan hutan yang mendominasi sekitar 55% dari total daratan. Perkembangan populasi manusia dan zaman yang terus berkembang menciptakan relung kehidupan semakin sempit. Hal ini menyebabkan banyak hal mulai dari ekonomi yang menjadi alasan dasar, untuk menghalalkan segala cara, sehingga pada titik ini sebuah kebutuhan ternodai oleh keserakahan dan rasa ketidak puasan terhadap sesuatu yang dimiliki.

Hutan tropis yang luas di Provinsi Aceh kian tergredadasi keberadaannya akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab, per juli 2024 DLHK Aceh melaporkan sekitar 3,09 ribu ha hutan aceh hilang angka ini meningkat 1,93 ribu ha dari tahun sebelumnya. Akibatnya masyarakat dihadiahi problematika berkepanjangan seperti konflik satwa liar, bencana alam yang terjadi sepanjang tahun, sumber air yang tercemar, cuaca semakin panas, dan sebagainya.

Desa Seumanah Jaya, Kec. Ranto Pereulak, Aceh Timur salah satunya, desa ini sebelumnya wilayah hijau dengan keragaman tumbuhan komoditas unggul terutama lemon yang berhasil produksi ratusan ton pertahunnya. Kemudian anjloknya harga pasar menjadi awal perubahan arah negatif. Pada tahun 2020-2022 sawit terus berkembang sehingga alih fungsi lahan terjadi.

Era baru yang negatif tersebut menimbulkan konflik gajah berkepanjangan hingga hari ini, akibat dari habitat gajah yang terganggu karena lahan sawit semakin meluas, di tambah dengan aktifitas illegal logging tinggi menyebabkan keadaan desa ini semakin runyam, terutama akses jalan utama yang rusak total akibat dua aktifitas di atas.

Menanggapi masalah di atas pada tahun 2023 kelompok masyarakat yang sadar bersama Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) membentuk kelompok ternak linut/kelulut sebagai langkah ekonomi hijau yang menjanjikan kedepannya. Kelompok ini di namai “Kelompok Linut Lestari Desa Seumanah Jaya”. Peternakan berada di perbatasan pagar gajah power fancing seumanah jaya dan terdapat juga di tengah desa serta di rumah anggota kelompok yang masing-masing mempunyai 2/3 stup madu.

Selama proses ini berjalan telah banyak manfaat yang dirasakan oleh masyarakat terutama dari segi ekonomi, dimana hasil panen menjadi penghasilan tambahan, dimana Madu kelukut dihargai Rp.500.000-600.000/liter. Sehingga madu ini di ibaratkan emas cair, madu juga tergolong superfood yang dapat mencegah stunting pada anak.

Selain itu ruang hijau baru di tengah-tengah wilayah sawit akan terealisasikan, di sebabkan peternakan kelulut bergantung pada ketersediaan pakan dari berbagai jenis tumbuhan berbunga dan berbuah. Tumbuhan agroforestri juga menjadi pilihan sebagai pakan sehingga adanya sumber ekonomi lain selain madu.

Dengan program tersebut kini kelompok linut lestari berada di jalur yg benar untuk terus berkembang, dalam hal ini kegiatan dan produksi dari kelompok telah di ikut sertakan di perlombaan Bumdes desa tingkat Nasional dengan program ketahanan pangan dan pencegahan stunting pada anak usia dini.

Berbicara terkait konflik gajah dengan keberadaan kelulut ini sangat menarik untuk di kulas bersama-sama. Terdapat fakta mencegangkan dari serangga kecil ini, tidak banyak yang tahu ternyata kelulut tidak di sukai oleh gajah di sebabkan cara hidupnya yang berkoloni.

Koloni kelulut melakukan aktifitas harian secara sosial dengan melibatkan seluruh kastanya, hal ini menciptakan suara dengungan serta melepaskan feromon ke udara.

Feromon merupakan zat atau hormon kimia alami yang di mililiki oleh serangga sosial termasuk kelulut, feromon ini berfungsi untuk memanggil koloni untuk bergabung, berdasarkan hal itu gajah merespon hal tersebut sebagai ancaman sehingga menyebabkan gajah pecah konsentrasinya dalam beraktifitas.

Salah satu suksesor peternakan madu kelulut di Aceh yaitu Mahdi Ismail via media liputan menyatakan bahwa hal tersebut benar adanya, kelulut dapat menghalau pergerakan kelompok gajah liar.

Hal ini juga di dadasari oleh hasil penelitian yang di lakukan menunjukkan bahwa feromon yang di lepaskan koloni kelulut menjadi ancaman bagi gajah pada titik lemahnya seperti mulut, mata, dan belalainya.

Abusalim sebagai ketua linut lestari menyampaikan, dengan adanya binaan yayasan HAkA melalui program linut ini alhamdulillah beliau dan kelompok beserta masyarakat sudah mulai merasakan manfaatnya mulai dari terbatas nya pergerakan gajah di area peternakan kelulut, kesehatan masyarakat, ekonomi, dan sebagainya. Harapanya kedepan kelompok ini bisa lebih baik dan menjadi percontohan bagi desa lain.

Sepenggal cerita dari kelompok linut lestari kita dapat mengambil pelajaran bagi kehidupan kita yaitu jika tidak bisa menjaga alam maka jangan merusaknya jangan melihat kepentingan pribadi dan kelompok tapi lihatlah kepentingan manusia lainnya, keserakahan adalah bom waktu yang akan melukai semua manusia di kemudian hari.

SALAM LESTARI!

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi