Penulis; Syarifuddin Abe
“Pada diri seseorang, kadang ingin membuat orang lain tertawa, terkadang akal sehatnya menolak melakukannya, hal ini karena takut dianggap badut vulgar.”(Plato)
Berbicara pandangan Plato (429-347 SM) tentang humor, dalam hal ini “tawa” adalah sesuatu yang menarik. Plato adalah murid langsung Socrates dan merupakan orang yang sangat memahami dan mengerti keberadaan gurunya itu. Pemahaman Plato terhadap Socrates, tidak hanya keluasan ilmu yang dimiliki Socrates, namun juga sangat paham tentang penderitaan yang dialami oleh Socrates. Hal inilah yang selalu membebani kehidupan Plato. Bagi Plato, penderitaan yang dialami Socrates merupakan penderitaannya juga.
Terhadap hal itu semua, Plato boleh dibilang menjadi orang yang sangat serius. Menjadi orang yang serius dikarenakan ketidakmampuannya memahami dan mengalami penderitaan yang dialami oleh Socrates. Mungkin, walau awalnya Plato sebagai seorang penyair, namun kemudian Plato menjadi orang yang jarang tertawa. Hal ini dapat dipahami karena Plato merupakan identitas dari kehidupan Socrates. Walau sosok Socrates yang serius namun kehidupannya penuh kelakuan yang menimbulkan lelucon, berbeda dengan Plato. Plato murid setia Socrates yang diakhir hidup gurunya, banyak merintih dan menangisi hidup gurunya itu.
Pengaruh Socrates sangat mendalam dalam hidupnya dan Plato menjadi murid yang paling setia bahkan walau Socrates telah tiada, Socrates tetap menjadi orang yang paling disayangin bahkan sebagai pujaannya. Plato mengalami dan memahami betul; bagaimana penderitaan yang dialami oleh Socrates. Walau bagi Socrates apa yang dialaminya itu bukan apa-apa, hanya sebagai bagian dari mengajarkan kepada manusia tentang kebenaran dan kebijaksanaan. Bagi Socrates, penderitaan dan kesengsaraan bagian dari rentetan kebenaran. Sebaliknya bagi Plato, hal yang demikian itu sebagai sebuah tragedi yang penuh ironi.
Plato-lah murid Socrates yang hari-harinya mengesampingkan tawa dan canda hanya untuk mengabdi secara penuh dan total kepada gurunya. Plato tanpa pamrih dan keinginan apapun, dengan kesungguhan dan pengabdian, Plato mengabdi sekaligus melayani gurunya siang-malam. Plato menjadi juru ilmunya Socrates. Plato-lah dalam sejarah dikenal sebagai murid yang selalu menulis semua pemikiran Socrates. Karya dialog Plato, karyanya yang menampilkan percakapan-percakapan yang menampilkan Socrates tokoh utama dalam karyanya itu. Bahkan ada yang mengatakan, sampai-sampai Plato tidak sempat menulis pemikirannya sendiri.
Plato adalah pengejawantahan Socrates. Semua pemikiran Socrates dilahapnya tanpa ada keraguan. Semua adalah kebenaran, semua adalah pengetahuan. Baginya, apa yang didapatkan dari Socrates itulah ilmu, itulah kebenaran dan itulah kebijaksanaan. Maka wajar kalau ada yang mengatakan, antara pemikiran Socrates dengan pemikiran Plato, tidak dapat dibedakan. Kalau boleh dikata; Plato adalah Socrates dan Socrates adalah Plato.
Coba bayangkan, gaya berpikir Plato saja berciri rasionalisme, idealisme dan ide-idenya malah melampaui realitas dengan menggali konsep yang abstrak. Demikian juga gurunya Socrates sebelumnya. Gaya berpikir Plato lebih ke nalar dan penuh logika. Bagi Plato kebenaran objektif dapat diraih melalui berpikir kritis dan logis dengan pendekatan deduktif disertai premis dalam menarik suatu kesimpulan. Plato adalah seorang idealis dengan argumennya bahwa, alam ide merupakan alam esensi yang penuh kesempurnaan, tidak pernah berubah bahkan abadi, sedangkan dunia yang dijalani manusia melalui indera, merupakan salinan yang bersifat reflektif, yang cacat di alam akhir, menjadi tidak sempurna di dunia empiris.
Plato juga filsuf yang meminati metafisika, bahkan ia kerap bertanya tentang eksistensi, realitas serta hakikat suatu keberadaan. Pandanganya yang bersifat dualistik, menjurus pada perbedaan antara tubuh dan jiwa. Tubuh adalah fisik sifatnya, sementara dan akan fana. Jiwa sesuatu yang immaterial mewakili hakikat sejati manusia. Pada tataran epistemologi, bagi Plato merupakan jenis pengetahuan yang sudah ada dalam jiwa manusia, sudah ada sejak azali. Untuk itulah Plato percaya, pengetahuan manusia sebernanya sudah ada dari awalnya, bukan pengetahuan baru, belajar adalah sebagai proses mengingat.
Plato juga sangat menginginkan dunia dipimpin oleh seorang filsuf, yang kemudian melahirkan memikiran tentang ‘negara ideal’, di kemudian hari orang lebih menganggap pimikirannya itu sebagai ‘negara utopia’. Plato hampir separuh hidupnya ingin mewujudkan negara yang memiliki penguasa berbudi luhur, memiliki kekuatan intelektual, dihiasi dengan moral yang baik, dengan demikian negara ideal adalah negara yang penuh kebijaksanaan. Negara akan diurus dengan serius dan sebaik-baiknya, bahkan tanpa cela. Sepatutnya filsuf sebagai pemimpin dan kepala negara.
Betapa besar cita-cita Plato. Ia merupakan filsuf dengan pemikirannya yang konsisten dan idealis. Ia mendambakan dunia yang serius dan dipimpin oleh orang yang serius. Mungkin, tragedi yang menimpa gurunya Socrates, demikian mempengaruhi dirinya. Mempengaruhi cara berpikirnya bahkan juga cita-citanya terhadap ilmu pengetahuan dan dunia yang ingin dijalaninya. Hukuman mati yang menimpa Socrates membuatnya jatuh sakit. Baginya, kebijaksanaan yang telah diajarkan oleh Socrates di Athena, seperti tidak membekas dan berbalas. Nasionalisme yang pernah dipersembahkan Socrates kepada negara yang dicintainya, pupus seketika oleh fitnah yang diamini oleh para oligarkhi yang berkuasa saat itu, yang sebagian besar juga merupakan sahabat, murid bahkan teman seperjuangan Socrates sendiri.
Setelah Socrates menjalani hukuman mati, Plato seperti kehilangan dunia. Anthena berubah seperti neraka. Maka dengan hati yang pilu, penuh gundah gulana dengan amarah yang memuncak, Plato meninggalkan Athena. Plato mengembara ke Megara, sebuah kota di Afrika. Yunani, yang merupakan kota yang tidak begitu jauh dari Athena. Plato juga mengembara ke Asia Kecil, Qairawan yang meliputi Cyrene atau Cyrenaica. Mesir, Italia bahkan ke Sicilia. Sepulang dari pengembaraannya itu, sekembalinya ke Athena, dengan cita-cita ‘negara ideal’-nya, di dekat tempat sakral pahlawan Akademus, Plato kemudian mendirikan Akademia (388/7 SM). Dalam sejarah Eropa, Akademia boleh disebut sebagai universitas pertama di Eropa.
Mengenal Plato
Plato adalah salah satu filsuf Yunani Kuno yang paling terkenal, pemikirannya melandasi dunia, pemikirannya juga mempengaruhi para filsuf Islam di kemudian hari. Pemikiran Plato, meliputi metafisika, etika, politik, sastra, seni, pendidikan dan sebagainya. Filsafat Plato dikenal dengan ide dasar tentang realitas yang lebih tinggi, di luar realitas yang dilihat mata, merupakan ide ideal yang objektif dan abadi. Ide-ide tersebut telah meletakkan dasar dalam tradisi filsafat yang kemudian dikenal dengan Platonisme.
Plato lahir di Athena, sekitar tahun 427 SM dari keluarga bangsawan. Nama awalnya adalah Aristocles yang kemudian lebih dikenal dengan Plato. Keluarganya memang memiliki tradisi politisi dan pemikir berpengaruh. Ibunya, Perictione memiliki darah dengan Solon yang merupakan pembuat undang-undang yang penuh legendaris di Yunani. Sejak muda Plato telah memiliki bakat sebagai intelektual dan sangat mencintai filsafat. Plato mahir bidang musik, puisi, bahasa, matematika bahkan senam dan gulat. Plato bahkan pernah berpartisipasi di olimpiade pada masanya.
Ayah Plato, Ariston merupakan seorang politikus, bahkan ia sangat menginginkan Plato mengikuti jejaknya. Namun Plato memiliki keinginan yang lain, ia menjadi seorang penyair dan gemar menulis puisi dan drama. Akan tetapi ketika Plato mendengar ada orang bijaksana di Yunani yaitu Socrates, maka Plato mencari cara agar dapat menjadi muridnya. Begitu juga ketika Plato tahu bahwa Socrates sangat tidak menyukai syair dan Socrates sangat menganjurkan mempelajari ilmu-ilmu yang dianggap benar, oleh Plato dibuanglah seluruh syair yang sudah ditulisnya dan belajarlah Plato dengan Socrates dengan penuh keyakinan. Sejak umur dua puluh tahun, Plato menjadi murid Socrates. Kurang lebih delapan tahun Plato menjadi murid Socrates dan setelah Socrates dihukum mati barulah Plato mengembara. Plato berumur kurang lebih delapan puluh satu tahun, dan meninggal pada tahun 347 SM.
Plato dan Humor
Di antara teori-teori humor, antara lain adalah superioritas, keganjilan, pelepasan atau ketergugahan dan sebagainya. Pada artikel sebelumnya, saya menjelaskan humor sebagai hal yang identik dengan sesuatu yang lucu, dapat menggugah orang lain tertawa. Orang menjadi tertawa dikarenakan ada sesuatu yang ganjil pada diri seseorang atau dikarenakan ada ketidakpantasan pada diri seseorang. Hal demikian inilah yang menjadi aneh pada diri Plato. Plato menganggap tidak pantas mentertawakan keganjilan atau ketidakpantasan yang ada pada diri seseorang. Oleh Plato, hal ini dianggap mengejek atau merendahkan diri seseorang. Bagi Plato, perbuatan demikian membuat orang menjadi malu.
Mentertawakan orang lain, bagi Plato sama saja menjadikan orang sebagai sebuah sasaran, sebuah objek. Mentertawakan kekurangan orang lain jangan menjadi suatu kebanggaan, hal ini sama saja menjatuhkan atau menghina orang. Itu merupakan sebuah kekonyolan. Oleh Plato dianggap tidak pantas dan tidak baik. Banyak filsuf yang menganggap humor sebagai sesuatu yang bersifat negatif, hal ini entah karena para filsuf terlalu serius dalam memikirkan sesuatu. Makanya, kebanyakan filsuf menganggap humor suka merendahkan orang lain. Terlalu suka mentertawankan orang lain, humor dianggap berhasil bila ada orang disalahkan atau malah merendahkan orang lain.
Terhadap beberapa teori yang saya sebutkan di atas, sebagian besar filsuf menganggap semua teori tersebut sama sekali tidak memadai, hanya Thomas Hobbes yang tampaknya mengiakan teori itu. Kita mengenal ungkapan Hobbes dan mempopulerkan homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi manusia yang lain. Plato secara khusus justru mentah-mentah menolak teori superioritas humor ini, bahkan teori superioritas dalam humor tersebut kalau tidak salah berasal dari Plato sendiri. Teori ini beranggapan, sesuatu yang membuat orang tertawa, dikarenakan orang merasa lebih baik (superior) dari orang yang ditertawakan. Lebih terkesan memandang rendah terhadap orang yang menjadi sasaran yang ditertawakan, bahkan orang akan menyadari bahwa seseorang itu memang dengan bangganya merasa berbeda dengan orang yang ditertawakan. Bagi Plato, teori ini terasa kejam dan terlalu menghina dan merendahkan sasaran yang ditertawakan.
Sebagian para pemikir, termasuk para filsuf, Plato di antaranya, teori superioritas humor tersebut sangat tidak tepat sasaran, tidak relevan, karena hal yang membuat seseorang merasa superior memang sesuatu hal yang tidak lucu. Tidak menarik. Maka jangan dianggap salah bila sebagian besar filsuf, sejak zaman Yunani Kuno sampai abad dua puluh, humor masih dianggap sebagai ejekan atau mengejek. Tawa yang mengarah kepada cemoohan, tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang lucu dan hal ini juga bukan sebuah kecerdasan.
Bagi Plato, tawa adalah sesuatu yang buruk selama tawa itu lebih bersifat mengejek dan merendahkan. Tawa lebih dituju dalam melihat kekurangan atau kekonyolah pada diri orang lain, menjadikan orang lain sebagai tertawaan merupakan sesuatu yang tidak tepat. Plato memang tidak main-main, baginya ada unsur hierarkis dalam tawa. Ada sebuah dinamika yang berbentuk kekuasaan bahkan ada sisi kompetensi yang dimanfaatkan untuk menjadi bahan tertawaan. Ada yang merasa lebih atau di atas terhadap orang yang menjadi sasaran tertawaan. Dalam pengembangan teori superioritas humor ini juga, pandangan Plato telah menjadi rujukan berbagai kalangan dalam berbagai penelitian tentang humor.
Plato juga menganggap, humor membuat seseorang hilang kesadarannya, sehingga orang tanpa sadar akan tidak fokus dan sering hilang kendali serta akan jauh dari hal-hal yang bersifat rasional. Rasionalitas seseorang akan luput bahkan menjadi hilang ketika gelak tawa terjadi secara berlebihan. Tawa yang tidak terkontrol, bagi Plato adalah tawa yang menghilangkan kesadaran diri seseorang. Semisal, ketika seseorang mentertawakan orang lain yang lagi mengalami suatu peristiwa, tanpa kendali yang rasional orang sering terpeleset dan akan mentertawakan secara berlebihan, apalagi tertawa dengan mengeluarkan kata-kata yang membuat orang lain tersinggung atau menjadi malu dan hal yang demikian ini akan merugikan diri sendiri, terutama orang yang menjadi objek tertawaan. Bagi Plato, mentertawakan kelemahan orang lain, apalagi dilandasi oleh rasa senang dan gembira, secara moral merupakan perbuatan yang tidak baik bahkan tercela.
Manusia juga perlu mempertimbangkan sisi kemanusiaannya. Jangan sampai ketika mentertawakan orang lain justru hilang kemanusiaannya. Tidak ada manusia yang suka direndahkan apalagi dipermalukan dihadapan orang banyak. Untuk itulah Plato menganggap, humor terkadang mendatangkan pertentangan dengan kondisi dan keadaan yang dialami manusia. Apakah itu sikap serius atau nilai-nilai intelektual yang dimiliki manusia. Tawa yang kurang terkontrol akan melemahkan kemampuan berpikir manusia, sehingga akan berdampak negatif bagi diri seseorang. Bagi Plato, humor selalu menghadirkan pertentangan-pertentangan pada sebuah kondisi yang diinginkan, tawa yang dihasilkan oleh humor justru melemahkan kemampuan berpikir manusia.
Semua orang, ketika rasa senang, gembira, bahagia selalu melewatinya dengan rasa syukur dan tertawa. Tertawa menjadi sebuah kemerdekaan dan tertawa pula merupakan kebahagiaan yang sederhana. Oleh Plato tawa merupakan sesuatu yang menyenangkan, karena sesuatu yang menarik dan selalu menggoda manusia untuk melakukannya. Plato juga mengingatkan, agar seseorang dalam tertawa harus mampu mengontrol emosinya agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang di luar batas kewajaran. Dengan demikian, siapa saja akan selalu dalam kewarasannya dan tidak terganggu rasionalitas dan kecerdasan yang dimiliki setiap manusia. Tawa memang menyehatkan, selama tawa itu diposisikan pada hal-hal yang sehat, tegas Plato.



























































Leave a Review