Katacyber.com | Simeulue – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Kabupaten Simeulue pada Oktober ini berlangsung tanpa gema. Tak ada hiruk pikuk publikasi, tak tampak gaung perayaan di ruang media, bahkan masyarakat pun nyaris tak mengetahui agenda hari bersejarah tersebut.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: ada apa dengan Pemerintah Daerah?
Ahmad Hidayat, akrab disapa Wak Rimba, salah satu pemuda Simeulue, menilai sepinya pemberitaan mencerminkan mandeknya komunikasi antara pemerintah dan insan pers.
“Biasanya momen seperti ini jadi ajang publikasi capaian pembangunan dan refleksi daerah. Tapi sekarang malah sepi. Ini bukan hal biasa, ini sinyal buruk,” ujarnya dengan nada kecewa.
Menurutnya, hilangnya semangat kolaborasi antara Pemda dan media justru memperlihatkan wajah pemerintahan yang tertutup dan kurang transparan.
“Bisa jadi para jurnalis merasa tak dilibatkan lagi, dianggap tak penting. Kalau begitu, jangan heran kalau akhirnya mereka memilih diam,” tegas Wak Rimba.
Padahal, insan pers adalah mitra strategis dalam membangun kepercayaan publik. Ketika akses informasi dibatasi, perayaan daerah pun kehilangan maknanya — menjadi sekadar seremoni internal tanpa resonansi publik.
HUT ke-26 Simeulue kali ini seolah membuka fakta lain: lemahnya komunikasi publik, minim partisipasi masyarakat, dan menguatnya kesan eksklusif di lingkar kekuasaan.
Pemerintah Daerah kini dituntut menjawab: apakah kesunyian ini sekadar kelalaian, atau tanda bahwa arah kepemimpinan kian menjauh dari semangat keterbukaan?
Sebuah perayaan seharusnya menyatukan, bukan membisukan.



























































Leave a Review