Omon-Omon Pembangunan Terowongan Gurute

Sudah lebih dari satu dekade masyarakat wilayah Barat-Selatan Aceh dijejali omon-omon terkait pembangunan terowongan gunung Gurutee. Dari Gubernur ke Plt, dari janji ke wacana, proyek ini tak pernah lebih dari bahan retorika politik musiman. Saat Zaini Abdullah berkuasa, wacana ini muncul, tapi tak ada kemajuan berarti. Lalu di masa Irwandi, kembali digaungkan, tapi sebatas desain di atas kertas.

Kini, Gubernur Mualem kembali dielu-elukan dengan slogan “Aceh Hebat” pun pernah menyuarakan terowongan ini, tapi nyatanya nihil alias nyaris jadi pembodohan rakyat Aceh. dari dulu hingga saat ini, tak satu meter pun Gunung Gurutee dibor. Di saat wilayah Timur dan Utara Aceh dimanjakan dengan jalan tol dan konektivitas modern, kami di Barat-Selatan masih harus melintasi kelok tajam dan jurang longsor demi sekadar sampai ke rumah.

Setiap musim hujan, lintasan Gunung Gurutee berubah menjadi jalur penuh teror. Batu-batu raksasa bisa jatuh kapan saja, membawa maut tanpa aba-aba. Jalan licin, berkabut, dan sempit, seolah alam pun lelah menunggu janji manusia. Truk-truk terpaksa antri berjam-jam, mobil pribadi waswas di tiap tikungan, dan nyawa para pengendara hanya digantungkan pada doa dan nasib. Gurutee bukan lagi sekadar gunung, ia menjadi simbol ketidakpedulian pemerintah terhadap rakyat di barat selatan. Jika mereka yang duduk di Meuligoe Pemerintah Aceh pernah melewati jalan ini saat hujan deras, mungkin mereka akan tahu rasanya menggenggam nyawa di balik kemudi.

Ketidakadilan ini terlalu telanjang untuk disembunyikan. Ketika jalan tol dan proyek-proyek besar tumbuh subur di wilayah Timur dan Utara, masyarakat Barat-Selatan hanya diberi harapan hampa. Pemerintah Aceh tampak tak peduli terhadap kenyamanan dan keselamatan warga yang setiap hari harus melintasi Gurutee, bertaruh nyawa di tikungan dan tebing rawan longsor. Tidak ada upaya serius, tidak ada pernyataan tegas, bahkan sekadar niat pun tak tampak. Apakah nyawa kami di barat selatan tak cukup berharga untuk dipikirkan? Atau kami memang sengaja dibiarkan terisolasi agar terus tunduk dan diam?

Bukan hanya masyarakat yang merasakan dampak ini, tetapi ketidakpedulian terhadap keselamatan dan kesejahteraan kami juga mengekang potensi ekonomi daerah. Para petani, nelayan, dan pengusaha di barat selatan harus menanggung beban lebih besar untuk distribusi barang dan hasil pertanian karena jalur transportasi yang rawan. Hal ini menghambat produktivitas dan menambah biaya logistik yang pada gilirannya mempengaruhi harga jual barang. Semestinya, proyek terowongan Gurutee ini menjadi prioritas, karena tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Aceh, terutama di bagian Barat Selatan.

Terowongan Gurutee bukanlah sebuah proyek mewah yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang, ini adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk keselamatan bersama. Jika jalan tol dapat dibangun dalam waktu singkat di wilayah lain, mengapa pembangunan terowongan sepanjang dua kilometer ini begitu sulit direalisasikan? Sudah lebih dari cukup alasan untuk segera mengalihkan perhatian pemerintah Aceh dan pusat pada proyek yang satu ini. Rakyat tak akan lagi rela ditipu dengan janji-janji kosong. Kami menginginkan tindakan nyata, bukan kata-kata manis yang hanya menguap saat masa jabatan berakhir.

Jika pemerintah pusat masih berpikir bahwa Aceh hanya sebuah daerah kecil yang bisa diabaikan dalam perencanaan besar Indonesia, mereka salah besar. Ketimpangan pembangunan antara Barat-Selatan dan wilayah lainnya adalah cerminan nyata dari kegagalan sistem pemerintahan yang seharusnya lebih adil. Kami bukan sekadar penerima bantuan, kami adalah bagian penting dari Republik ini. Kami berhak atas akses yang setara terhadap pembangunan dan kesejahteraan.

Karena itu, suara-suara dari barat selatan tak boleh lagi dibungkam oleh janji manis dan senyum palsu pejabat. Kami muak dengan narasi “masih dikaji”, “sedang dirancang”, atau “terkendala anggaran”kata-kata yang terus diulang tanpa aksi. Kami ingin rencana yang nyata, kami menuntut tenggat waktu yang jelas. Bila suara ini terus diabaikan, jangan salahkan rakyat jika mulai melawan. Aceh bukan hanya Banda Aceh, bukan hanya Sigli, Lhokseumawe, atau Langsa. Aceh juga Tapaktuan, Calang, Blangpidie, Meulaboh, dan seluruh wilayah yang selama ini hanya diberi janji, tapi tak pernah disentuh nyata.

Pemerintah Aceh harus tahu, kesabaran rakyat bukan tanpa batas. Dan terowongan Gurutee bukan sekadar proyek; ia adalah simbol ketegasan: apakah pemerintah masih berpihak pada seluruh rakyatnya, atau hanya peduli pada siapa yang dekat dengan kursi kekuasaan.

*Penulis adalah Maulana Iqbal (Ketua Umum HMI Komisariat Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh).

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi