Oleh Danu Abian Latif
Penulis Buku Opini Nakal untuk Indonesia
Bau menyengat itu bukan lagi sekadar gangguan ia telah menjadi tanda waktu baru di Kota Langsa. Setelah banjir menghantam kota ini dan air mulai surut, yang tersisa bukan hanya genangan kotor di pinggir jalan, bukan sekadar lumpur yang menempel di tembok rumah-rumah warga. Yang tersisa adalah tumpukan sampah yang menggunung di setiap sudut kota plastik, pakaian basah, kasur rusak, bangkai hewan, sisa makanan yang membusuk, hingga limbah rumah tangga yang bercampur dengan lumpur hitam. Bau itu merayap, menusuk dari pagi hingga malam, seolah ingin menegaskan bahwa Langsa sedang berada di ambang krisis kesehatan yang serius dan perlu penyelesaian segera.
Di banyak titik, terutama kawasan padat penduduk seperti Gampong Jawa, Gampong Teungoh, Alue Dua, Matang Seulimeng, Pondok Kemuning, hingga Desa-desa di Langsa Barat dan Timur, sampah ditumpuk begitu saja di tepi jalan. Tumpukan itu awalnya sekadar penanda kekacauan pasca banjir warga membersihkan rumah dan meletakkan barang-barang rusak di luar. Tetapi seiring hari berjalan, truk pengangkut sampah tak kunjung datang rutin, sementara jumlah sampah terus bertambah. Bau menyengat mulai berbaur dengan udara lembap, dan pada siang hari aroma panas bercampur dengan busuk sampah membuat siapa pun enggan membuka jendela rumah. Malam pun tidak lebih ramah angin yang semestinya membawa kesejukan justru mengirimkan gelombang bau tak sedap yang memaksa warga menutup hidung dengan kain.

Di sinilah Langsa memasuki fase darurat sampah. Pasca banjir yang menghancurkan ratusan rumah, merusak fasilitas umum, serta memaksa ribuan warga mengungsi, kota yang baru saja berjuang bangkit kini dipaksa menghadapi ledakan sampah yang bisa memicu rantai wabah penyakit. Risiko diare, leptospirosis, infeksi kulit, penyakit saluran pernapasan, hingga potensi munculnya kluster demam berdarah kini mengintai di balik gunungan sampah yang dibiarkan terlalu lama. Kota ini sedang hidup dalam ruang tunggu sebuah krisis kesehatan, sementara langkah penanganan masih berjalan lambat—terlalu lambat untuk sebuah situasi yang aroma busuknya sudah dapat dirasakan bahkan tanpa perlu turun dari kendaraan.
Jika dicermati, Langsa tidak benar-benar kekurangan tenaga untuk bergerak. Warga membersihkan rumah mereka dengan cepat. Para relawan telah hadir dari hari pertama. Namun permasalahan sampah pasca banjir bukanlah soal gotong royong semata. Ia adalah masalah tata kelola, kesiapan pemerintah, koordinasi lintas perangkat daerah, dan pemahaman bahwa pasca bencana adalah fase paling rawan dalam siklus pemulihan. Sayangnya, pemahaman itu seolah belum sepenuhnya hadir dalam kebijakan pemerintah. Di beberapa lokasi, truk sampah baru muncul setelah tumpukan sudah sebesar bukit kecil. Di titik lain, truk hanya lewat satu kali, sementara volume sampah bertambah dua kali lipat setiap harinya.
Para warga, yang baru saja melalui malam-malam penuh kecemasan saat banjir, kini kembali bertemu masalah baru di depan pintu rumah mereka. Sampah yang menggunung bukan sekadar benda tak berguna ia adalah simbol bahwa sistem penanggulangan darurat pasca banjir tidak berjalan sesuai kebutuhan. Warga bercerita bahwa kasur yang terendam banjir sudah ia keluarkan lima hari lalu, namun hingga kini masih teronggok penuh lumpur di depan rumah. “Baunya bukan main, Dek. Rumah sudah bersih, tapi depan rumah masih kayak tempat pembuangan liar,” keluhnya sambil menunjuk tumpukan sampah yang sudah mulai dipenuhi lalat.
Jika hanya bau busuk, warga mungkin masih bisa bertahan. Tetapi ketika lalat mulai menyerbu makanan, ketika nyamuk berkembang biak di genangan air yang bercampur sampah, ketika anak-anak mulai batuk setelah bermain di luar rumah, situasi ini bukan lagi sekadar persoalan estetika kota. Ini adalah peringatan dini bahwa Langsa bisa menghadapi gelombang penyakit pasca banjir yang lebih sulit dari bencana itu sendiri. Setiap hari yang terbuang tanpa penanganan cepat membuat risiko penyakit meningkat. Dan bila suatu kota sudah memasuki fase wabah, penanganannya jauh lebih rumit daripada sekadar mengangkut sampah.
Masalah utama yang dirasakan warga sebenarnya sederhana kehadiran pemerintah belum sebanding dengan skala masalah. Masyarakat ingin pemerintah hadir bukan hanya dalam bentuk pernyataan di media, tetapi dalam gerak nyata di lapangan. Warga butuh kecepatan, bukan sekadar rencana. Mereka butuh tindakan, bukan sekadar himbauan. Langsa memang bukan satu-satunya daerah yang menghadapi krisis sampah pasca banjir, tetapi kota ini kini menjadi contoh bagaimana sebuah kota kecil dapat terseret ke jurang masalah besar jika koordinasi penanganan tidak dilakukan secara maksimal.
Beberapa hari setelah banjir surut, aliran sungai kembali stabil, dan hujan semakin jarang turun. Ini seharusnya menjadi momen terbaik untuk membersihkan kota secepat mungkin. Namun justru di fase inilah sampah terlihat semakin menumpuk. Dari hari ke hari, gunungan sampah semakin besar, seakan menegaskan bahwa kota ini belum benar-benar bangkit. Di sepanjang jalan utama, bau menyengat membuat pedagang terpaksa menutup kios lebih cepat. Warung kopi yang biasanya ramai hingga larut malam kini sepi karena pelanggan enggan duduk dekat tumpukan sampah.
Para pekerja harian yang harus melintas di jalan-jalan yang penuh sampah mengeluhkan mual karena aroma busuk yang menusuk. Bahkan beberapa sekolah melaporkan bahwa tumpukan sampah di dekat lingkungan mereka telah mengganggu proses belajar karena lalat terus masuk ke ruang kelas. Anak-anak yang baru kembali ke sekolah setelah hari-hari banjir kini harus belajar dengan rasa tidak nyaman dan potensi terpapar kuman.
Ketika masalah sampah tak kunjung ditangani, muncul kekhawatiran lain bahwa air tanah bisa tercemar. Sampah yang membusuk bercampur dengan air banjir yang menggenang di selokan. Saat air meresap kembali ke tanah, bakteri, parasit, dan bahan kimia dari sampah bisa masuk ke sumur warga. Risiko ini tidak terlihat secara kasat mata, tetapi dampaknya dapat muncul beberapa minggu kemudian dalam bentuk diare akut atau penyakit pencernaan lainnya. Beberapa warga yang menggunakan air sumur bahkan sudah mulai mengeluhkan aroma aneh yang muncul ketika mereka merebus air. Bila ini benar, maka krisis kesehatan tinggal menunggu waktu.
Di beberapa daerah yang lebih terpencil, sampah bahkan dibiarkan menutupi jalan kecil, membuat akses menjadi sempit dan licin. Anak-anak harus berhati-hati melintasinya karena khawatir terpeleset. Sementara itu, hujan kecil yang turun pada malam-malam tertentu membuat sampah menjadi basah kembali, menghasilkan bau lebih menyengat dan mengundang lebih banyak hewan liar seperti tikus. Tikus adalah ancaman serius karena mereka dapat membawa leptospira, bakteri penyebab leptospirosis, penyakit berbahaya yang bisa menimbulkan gagal ginjal bahkan kematian bila tidak ditangani cepat. Ketika tikus mulai berkeliaran di dekat rumah warga, ancaman itu semakin nyata.
Pemerintah memang telah menggerakkan sebagian armada kebersihan, tetapi kapasitasnya jelas tidak sebanding dengan volume sampah yang muncul dalam waktu singkat. Setiap rumah yang terendam banjir menghasilkan satu hingga dua meter kubik sampah. Dalam skala kota, ini berarti ribuan meter kubik sampah harus ditangani dalam waktu bersamaan. Langsa membutuhkan setidaknya dua hingga tiga kali lebih banyak armada dari kapasitas normal untuk bisa mengendalikan situasi. Namun armada tambahan itu tidak terlihat. Truk tetap datang, tetapi dengan ritme yang jauh dari cukup.
Yang membuat warga semakin resah adalah ketidakpastian. Tidak ada jadwal pasti kapan sampah mereka akan diangkut. Tidak ada titik koordinasi yang jelas. Tidak ada peta penanganan yang diinformasikan secara terbuka. Warga hanya bisa berharap—dan menunggu. Sementara mereka menunggu, lalat bertambah, nyamuk bertambah, dan bau busuk semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Keputusasaan ini akhirnya memunculkan tanya besar sampai kapan?
Langsa perlu bergerak cepat. Pemerintah harus menjadikan darurat sampah ini sebagai prioritas utama, bukan sekadar kegiatan rutin. Bila perlu, libatkan TNI, Polri, relawan lintas organisasi, dan pekerja kebersihan tambahan . Situasi darurat membutuhkan tindakan darurat, bukan operasi kecil-kecilan. Harus ada strategi terpadu yang langsung menargetkan titik-titik paling kritis kawasan padat penduduk, pasar, sekolah, fasilitas umum, dan jalan utama.
Selain pengangkutan sampah besar, pemerintah juga perlu menyediakan tempat pembuangan sementara yang aman. Banyak sampah sekarang hanya ditumpuk dekat drainase, dan ketika hujan turun, sampah kembali hanyut ke parit lalu menyumbat aliran air. Ini bisa menciptakan banjir baru meski hujan hanya sebentar. Kota yang baru saja lepas dari banjir tidak boleh dibiarkan kembali tenggelam hanya karena sampah.
Pemerintah juga harus melakukan penyemprotan disinfektan di area-area terburuk, terutama dekat sekolah dan permukiman anak-anak. Lalat dan nyamuk harus ditekan jumlahnya sebelum berkembang menjadi vektor penyakit. Begitu pula edukasi kesehatan harus disebarkan seluas mungkin bagaimana mengelola sampah sementara, bagaimana menjaga kebersihan air, bagaimana mencegah penyakit pasca banjir, bagaimana melindungi anak-anak agar tidak bermain di dekat sampah.
Krisis sampah ini bukan hanya tentang siapa yang salah, tetapi tentang siapa yang bertindak. Kota Langsa sedang berada dalam situasi yang membutuhkan kepemimpinan tegas. Pemulihan pasca banjir bukan sekadar membangun rumah yang rusak, tetapi memastikan lingkungan kembali aman, bersih, dan sehat. Tidak ada artinya rumah sudah dicat ulang jika di depan rumah masih berdiri gunungan sampah yang siap membawa penyakit. Tidak ada artinya warga kembali ke rumah masing-masing jika mereka harus menghirup udara busuk setiap hari dan mengkhawatirkan kesehatan keluarga mereka.
Di tengah kekacauan ini, suara warga bersatu dalam satu harapan penanganan cepat, tepat, dan menyeluruh. Mereka tidak meminta hal mustahil. Mereka hanya meminta hak dasar—lingkungan yang bersih, udara yang layak dihirup, dan kondisi yang aman bagi anak-anak mereka. Hak yang seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah, terlebih ketika kota baru saja menjadi korban bencana.
Langsa menghadapi ujian besar. Ujian yang tidak terlihat sekeras arus banjir, tetapi dampaknya bisa lebih mematikan. Ujian ini hadir dalam bentuk gunungan sampah, bau menyengat yang menguasai udara, lalat yang memenuhi meja makan, nyamuk yang berkembang tanpa henti, dan ancaman wabah yang menunggu di balik kelengahan. Kota ini bisa memilih bergerak cepat dan menyelamatkan kesehatan ribuan warganya, atau membiarkan waktu berlalu dan membayar konsekuensinya dalam bentuk krisis kesehatan yang jauh lebih parah.
Masyarakat Langsa telah berjuang melewati banjir. Mereka telah membersihkan rumah dengan tangan mereka sendiri. Mereka telah mengungsi, kembali, dan mencoba bangkit. Sekarang giliran pemerintah untuk memastikan mereka tidak melawan ancaman baru sendirian.nKarena di setiap sudut kota, bau busuk yang menusuk itu bukan sekadar tanda sampah yang menumpuk. Itu adalah alarm keras bahwa Langsa sedang menuju darurat kesehatan.
Alarm yang semakin hari semakin kencang, semakin menyengat, dan semakin mendesak. Sebelum terlambat, sebelum penyakit datang menyerbu rumah-rumah warga, sebelum kota kembali jatuh ke dalam krisis baru, pemerintah harus segera bertindak. Langsa tidak boleh dibiarkan jatuh ke dalam gelombang bencana kedua bukan oleh air, tapi oleh sampah yang tidak diurus.






















































Leave a Review