Penulis Danu Abian Latif ( Buku Opini Nakal untuk Indonesia)
Di tengah meningkatnya tensi global mulai dari konflik antara Israel dan Iran, persaingan geopolitik Amerika Serikat dan Tiongkok, hingga ketegangan baru antara blok Barat dan Timur Tengah, Indonesia tetap berada dalam posisi aman, bahkan strategis. Mengapa demikian? Karena Indonesia bukanlah musuh bagi kekuatan besar tersebut. Sebaliknya, Indonesia adalah pasar potensial dan mitra dagang strategis yang lebih bernilai jika dijaga, bukan diserang.
Kebijakan Luar Negeri Bebas Aktif
Sejak era Presiden Soekarno hingga kini, Indonesia menganut prinsip politik luar negeri “bebas aktif.” Artinya, Indonesia tidak memihak pada blok manapun, namun aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.
Indonesia tidak memiliki basis militer asing, tidak tergabung dalam aliansi militer seperti NATO, dan memilih jalur diplomatik dalam menyelesaikan berbagai masalah global. Dengan demikian, negara-negara besar tidak melihat Indonesia sebagai ancaman langsung, melainkan sebagai kekuatan regional yang netral.
China: Investasi Lebih Penting daripada Invasi
Hubungan Indonesia dan Tiongkok sangat erat, khususnya dalam bidang ekonomi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, menurut General Administration of Customs of China (GACC), volume perdagangan antara kedua negara mencapai lebih dari US$150 miliar.
Banyaknya sektor investasi proyek-proyek besar China seperti Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang datanya dirilis oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dan didanai oleh China Development Bank (CDB) serta pengembangan kawasan industri Morowali dan berbagai smelter nikel yang dikelola oleh Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan dilaporkan oleh BKPM serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), merupakan hasil kerja sama strategis antara perusahaan-perusahaan Indonesia dan Tiongkok.”
Indonesia juga merupakan pemasok nikel terbesar dunia komoditas kunci dalam industri baterai dan kendaraan listrik yang menjadi prioritas global, termasuk Tiongkok. Maka, menyerang Indonesia berarti merusak rantai pasok nikel yang vital bagi industri nasional Tiongkok.
Amerika Serikat: Indonesia adalah Mitra Strategis
Amerika Serikat secara resmi menetapkan Indonesia sebagai Mitra Strategis Komprehensif pada era Presiden Biden. Kerja sama antara kedua negara mencakup berbagai sektor dari pertahanan, energi, teknologi digital, hingga pendidikan dan perubahan iklim.
Indonesia dan AS juga tengah menjajaki kerja sama dalam pengolahan mineral kritis, terutama nikel dan kobalt. Langkah ini memungkinkan perusahaan AS mendapatkan akses terhadap sumber daya penting bagi transisi energi bersih.
Dalam konteks Indo-Pasifik, Indonesia dipandang sebagai kekuatan penyeimbang yang dapat menjaga stabilitas kawasan tanpa memihak secara terang-terangan. Oleh sebab itu, bukan hanya tidak masuk akal bagi AS untuk memusuhi Indonesia, tetapi justru penting untuk mempertahankannya sebagai mitra.
Israel dan Iran: Indonesia Bukan Medan Pertempuran
Meski tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, Indonesia dikenal sebagai pendukung kuat perjuangan Palestina. Sikap ini dilakukan secara konsisten dan diplomatis tanpa konfrontasi langsung. Israel pun tidak melihat Indonesia sebagai ancaman strategis.
Di sisi lain, hubungan Indonesia dengan Iran juga cenderung positif dalam kerangka GNB (Gerakan Non-Blok) dan kerja sama energi. Meskipun konflik antara Israel dan Iran memanas, kawasan Asia Tenggara terutama Indonesia tidak menjadi bagian dari arena konflik tersebut.
Fakta geopolitik lainnya, baik Israel maupun Iran memiliki kepentingan untuk mempertahankan hubungan dagang dan diplomatik di kawasan Asia. Mengusik Indonesia justru akan mempersempit akses mereka ke pasar ASEAN.
Keunggulan Ekonomi sebagai Tembok Perlindungan
Indonesia adalah ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan salah satu pasar konsumen terbesar di dunia. Dengan lebih dari 275 juta penduduk, daya beli kelas menengah yang terus tumbuh, serta sumber daya alam yang melimpah ndonesia menjadi pusat perhatian dunia.
Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,1% pada tahun 2025. Investasi asing langsung (FDI) Indonesia meningkat signifikan, mencapai lebih dari Rp 230 triliun di kuartal pertama 2025. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan tentu saja China dan AS, berebut peluang untuk menanamkan modal.
Sektor-sektor strategis seperti energi terbarukan, pertambangan, logistik, manufaktur, dan ekonomi digital menjadi magnet utama. Dalam konteks ini, menyerang Indonesia secara militer hanya akan merugikan para investor global, termasuk negara-negara besar itu sendiri.
Strategi Diplomasi Ekonomi
Pemerintah Indonesia, khususnya di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan dilanjutkan Presiden Prabowo, menerapkan strategi diplomasi ekonomi yang cermat. Hubungan bilateral diperkuat tidak hanya dari sisi politik, tetapi juga investasi dan perdagangan.
Langkah Indonesia untuk bergabung atau menjalin relasi erat dengan forum seperti BRICS, ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP), dan G20 menunjukkan komitmen untuk menjadi kekuatan global yang independen namun bersahabat. Dalam kunjungan kenegaraan ke Rusia, misalnya, Presiden Prabowo membahas kerja sama teknologi pertahanan dan energi nuklir sipil, tanpa mengganggu relasi dengan negara barat.
Strategi ini tidak hanya memperluas opsi kemitraan Indonesia, tetapi juga menciptakan redundansi geopolitik suatu bentuk “asuransi politik” yang memperkecil risiko permusuhan.
Posisi Geopolitik yang Menguntungkan
Secara geografis, Indonesia berada di jalur laut tersibuk di dunia Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok. Stabilitas di kawasan ini penting bagi kelancaran perdagangan global, baik bagi AS, Tiongkok, Jepang, maupun Eropa.
Oleh karena itu, menjaga perdamaian di Indonesia adalah kepentingan bersama. Konflik bersenjata di wilayah ini hanya akan mengganggu ratusan miliar dolar nilai perdagangan yang melintasi laut Indonesia setiap tahun.
Indonesia sebagai Mediator, Bukan Provokator
Indonesia dikenal aktif dalam diplomasi perdamaian. Dalam konflik Rusia-Ukraina, Indonesia mengambil peran netral dan bahkan menawarkan diri sebagai mediator. Begitu pula dalam isu Palestina-Israel dan Laut Cina Selatan, Indonesia memilih jalur dialog.
Karakter ini menjadikan Indonesia tidak hanya dihormati, tetapi juga dipercaya. Negara-negara besar lebih suka menjalin hubungan dengan Indonesia sebagai mitra diplomatik, bukan lawan militer.
Mitigasi Risiko Global Tanpa Konfrontasi
Meski dunia dilanda ketegangan, Indonesia telah membangun sistem mitigasi risiko global yang tangguh. Dalam menghadapi konflik Timur Tengah yang bisa berdampak pada harga minyak, Indonesia menyiapkan cadangan strategis dan jalur logistik alternatif.
Selain itu, Indonesia memperkuat industri domestik seperti pertahanan, pangan, dan energi untuk meningkatkan ketahanan nasional. Semua ini dilakukan tanpa melibatkan diri dalam aliansi militer global.
Indonesia Lebih Dibutuhkan daripada Diancam
Berdasarkan fakta-fakta di atas, jelas bahwa negara-negara seperti AS, Israel, Iran, dan Tiongkok tidak memiliki alasan kuat untuk memusuhi Indonesia. Sebaliknya, mereka memiliki banyak alasan untuk menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis.
Indonesia bukan hanya pasar besar dan sumber daya strategis, tetapi juga mitra diplomatik yang rasional, netral, dan aktif membangun perdamaian. Dengan strategi diplomasi ekonomi, diversifikasi hubungan luar negeri, serta peran sebagai penjaga stabilitas kawasan, Indonesia menempatkan dirinya sebagai aset geopolitik global.
Di dunia yang semakin kompleks dan terpolarisasi, posisi Indonesia yang bersahabat dan terbuka justru menjadi nilai strategis yang tak tergantikan. Maka, alih-alih diperangi, Indonesia akan terus dilirik, dijaga, dan dihormati.




















































Leave a Review