Penulis Syahputra Ariga Ketua Umum PMGI
Gayo Lues, yang dikenal sebagai Negeri Seribu Bukit, menyimpan keindahan alam, hutan lebat, lahan pertanian subur, serta kopi dan getah pinus yang menopang ekonomi rakyat. Lebih dari itu, tarian Saman telah mengangkat nama Gayo Lues ke panggung dunia , juga menjadi identitas budaya Aceh yang mendunia.
Namun, di balik gemerlap potensi itu, realitas sosial-ekonomi masih suram. Pertumbuhan ekonomi stagnan di kisaran 3,6%, angka stunting tetap tinggi, pendidikan belum merata, anak putus sekolah masih banyak, infrastruktur dasar terbatas, dan lapangan kerja sulit tercipta. Ironisnya, kekayaan alam yang semestinya menjadi berkah justru lebih banyak dinikmati pihak luar.
Peluang yang Masih Terbuka
Jika dikelola dengan tepat, Gayo Lues memiliki peluang besar untuk lepas dari keterpurukan. Program nasional penurunan stunting, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan desa wisata bisa menjadi percepatan pembangunan.
Potensi ekonomi kreatif kopi, kerajinan tangan, dan wisata budaya juga memiliki pasar luas, apalagi di era digital. Lebih jauh, branding Gayo Lues sebagai ikon budaya Aceh bisa diperkuat lewat festival budaya dan Saman sebagai magnet internasional.
Ancaman yang Mengintai
Namun, peluang itu terancam jika tidak diantisipasi. Ketergantungan pada komoditas tunggal bisa membuat rakyat rentan ketika harga jatuh. Eksploitasi SDA tanpa kendali berisiko merusak lingkungan. Ketimpangan elite-politik-pemodal dengan rakyat bawah makin tajam. Ditambah krisis global dan urbanisasi, yang bisa membuat generasi muda meninggalkan kampung halaman.
Jalan yang Harus Ditempuh
Gayo Lues kini berada di persimpangan jalan. Untuk tidak tertinggal, strategi berikut harus segera didorong:
1. Optimalkan kekayaan lokal
SDA dan budaya jadi motor UMKM, pariwisata, serta ekonomi kreatif.
2. Bangun pendidikan dan keterampilan
Pemuda harus siap menghadapi era digital dan arus investasi.
3. Perkuat identitas budaya & solidaritas sosial
Benteng menghadapi ketimpangan dan kapitalisme yang menggerus.
4. Reformasi tata kelola SDA
Regulasi berpihak pada rakyat, menjaga lingkungan, dan menekan monopoli segelintir pihak.
Saatnya Menentukan Arah
Gayo Lues punya pilihan: membangun dengan cara inklusif dan berkelanjutan, atau terus membiarkan rakyat jadi penonton di tanah sendiri. Jangan sampai kekayaan alam dan budaya hanya jadi simbol, tanpa menyejahterakan masyarakat.
Mahasiswa dan pemuda Gayo Lues harus tampil di garda depan mengawal pembangunan, mengkritisi kebijakan, dan memastikan daerah ini dikenal bukan hanya karena Saman, tapi juga karena rakyatnya yang berdaulat, berdaya, dan sejahtera.























































Leave a Review