Dari Kampus ke Kantor Polisi: Saat Kritik Dipidana, Demokrasi Terluka

Penulis: Shafwan, Mahasiswa Hukum Universitas Jabal Ghafur Sigli

Kasus yang menimpa dua mahasiswa Universitas Jabal Ghafur (Unigha), Muhammad Pria Al Ghazi dan Mirzatul Akmal, patut menjadi perhatian bersama. Keduanya terlibat dalam aksi unjuk rasa dan kini tengah menghadapi proses hukum setelah dilaporkan oleh seorang staf kampus bernama Ismail ke Polres Pidie atas dugaan pemukulan. Al Ghazi disebut sebagai koordinator aksi, sementara Akmal adalah salah satu peserta. Kasus ini kini bergulir di Polres Pidie dan menyita perhatian publik.
Jumat, (19/07/2025)

Tidak ada yang membenarkan tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun, termasuk dalam aksi demonstrasi. Namun, penting untuk menempatkan persoalan ini dalam bingkai yang lebih luas. Mahasiswa memiliki hak konstitusional untuk menyampaikan aspirasi secara damai, sebagai bagian dari dinamika demokrasi dan kontrol sosial. Kampus sejatinya menjadi ruang dialog, bukan tempat untuk saling mempidanakan.

Lantas, bagaimana mungkin suara yang menyuarakan keadilan harus dibungkam oleh jalur hukum, padahal penyelesaiannya bisa ditempuh dengan cara yang lebih bijak?

Penyelesaian melalui jalur kekeluargaan dan musyawarah menjadi jalan tengah yang paling mencerminkan semangat akademik dan nilai-nilai ke-Acehan yang menjunjung tinggi silaturahmi serta kearifan lokal. Kampus seharusnya menjadi ladang dialog dan ruang bertumbuh, bukan ladang konflik dan pemidanaan.

Membuka ruang maaf dan menyelesaikan persoalan secara damai tidak menunjukkan kelemahan. Justru, hal tersebut memperlihatkan kekuatan moral yang lebih tinggi kekuatan untuk menyatukan, bukan memisahkan.

Perlu diingat, mahasiswa yang turun ke jalan bukanlah musuh. Mereka adalah suara dari dalam kampus yang sedang berupaya memperbaiki. Mendidik mereka untuk bersikap dewasa dalam menyampaikan pendapat jauh lebih penting daripada mengkerangkeng semangat kritis mereka dengan ancaman hukum.

Mari jadikan momen ini sebagai pelajaran berharga bahwa kampus, mahasiswa, dan staf akademik bisa menyelesaikan perbedaan dengan kepala dingin, bukan dengan tangan besi. Sebab dalam dunia pendidikan, musyawarah jauh lebih mendidik daripada pelaporan.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi