Cak Imin, Jangan Adu HMI dan PMII; Pecah Belah yang Tak Beretika

Penulis Apriadi Rama Putra

Di tengah carut-marutnya dinamika politik dan sosial kemahasiswaan Indonesia, ucapan dari Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin kembali menggema, bukan karena inspirasi atau terobosan, melainkan karena luka. Luka yang dibuka kembali oleh pernyataan tak elok yang menyinggung hubungan antara Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dua organisasi besar yang punya sejarah panjang dalam perjalanan republik ini, justru dipertentangkan oleh tokoh yang seharusnya menjadi penjaga akal sehat. Sebuah paradoks menyakitkan ketika seorang elite politik yang juga senior dalam dunia pergerakan mahasiswa melontarkan narasi yang justru memecah.

Cak Imin, tarek kembali ucapanmu! Sebab yang kau bangun bukan jembatan, melainkan sekat. Dan sekat itu sedang membara, siap membakar persaudaraan intelektual yang sejak lama dijaga oleh kader-kader pergerakan lintas organisasi.

PMII dan HMI adalah dua sayap pergerakan mahasiswa yang lahir dari rahim yang sama: keprihatinan atas nasib bangsa. HMI lahir di tengah arus kolonialisme dan keinginan untuk melahirkan intelektual muslim yang nasionalis. PMII kemudian muncul sebagai anak kandung Nahdlatul Ulama yang ingin membawa nilai-nilai ahlussunnah wal jamaah ke dalam nalar aktivisme.

Namun ketika Cak Imin yang secara historis adalah alumni PMII membanding-bandingkan keduanya, apalagi dalam konteks kompetisi politik yang sempit, maka ia telah gagal membaca sejarah. Pernyataannya justru menghidupkan kembali narasi politik identitas yang semestinya telah dikubur dalam-dalam oleh generasi intelektual hari ini.

Mengapa harus membenturkan? Mengapa harus mempertentangkan? Bukankah kualitas kepemimpinan dan intelektual seseorang tidak ditentukan dari organisasi mana ia berasal, melainkan dari integritas, kerja keras, dan visi kebangsaannya?

Cak Imin bukan orang sembarangan. Ia adalah Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan mantan Wakil Ketua DPR RI. Pernyataannya bukan sekadar opini personal, melainkan bisa dibaca sebagai statement politik. Dan ketika seorang stakeholder justru memelihara sentimen sektarian di dalam tubuh mahasiswa, maka itu adalah kegagalan moral yang tidak bisa dianggap remeh.

Kita bisa berkaca dari kisah sejarah Indonesia sendiri. Pada masa Orde Lama, tokoh-tokoh seperti Mohammad Natsir (Masyumi) dan Soekarno (PNI) kerap berseberangan ideologi, namun mereka tetap duduk dalam satu meja untuk membicarakan bangsa. Bahkan Tan Malaka, dalam bukunya “Madilog” (Materialisme, Dialektika, Logika), menekankan pentingnya nalar dalam perjuangan. Ia menyindir para aktivis setengah matang yang lebih senang berdebat soal identitas daripada menyelesaikan persoalan-persoalan rakyat.

Dalam konteks global, kita bisa belajar dari pidato John F. Kennedy yang mengatakan, “Let us not seek the Republican answer or the Democratic answer, but the right answer.” Artinya, yang harus dikedepankan bukan dari mana seseorang berasal, tapi kebenaran dan keadilan yang ia bawa.

Seorang senior dalam dunia aktivisme semestinya menjadi teladan. Ia bukan hanya menjadi pemimpin yang memberi arah, tetapi juga katalisator persatuan. Ketika Cak Imin justru memecah, maka yang dipertanyakan bukan hanya kualitas pikirannya, tapi juga kematangan etikanya.

Sudah saatnya para stakeholder berhenti menggunakan organisasi mahasiswa sebagai alat legitimasi politik. PMII dan HMI bukan kaki tangan elite, mereka adalah laboratorium pemikiran yang harus dijaga independensinya. Ketika keduanya dibenturkan demi kepentingan sesaat, maka itu sama artinya dengan membunuh akar intelektualitas mahasiswa dari dalam.

Opini ini bukan hanya ditujukan untuk Cak Imin, melainkan untuk seluruh elite politik yang pernah menjadi bagian dari dunia kemahasiswaan. Jangan jadikan masa lalu kalian sebagai alat politik untuk memecah masa depan bangsa.

Ketika kalian gagal bersikap adil terhadap organisasi yang pernah membesarkan kalian, maka kalian sedang menunjukkan bahwa kekuasaan telah membunuh integritas.

Jangan anggap ini seruan emosi. Ini adalah jeritan dari anak-anak muda yang melihat idolanya berubah menjadi oportunis. Dari aktivis menjadi elit yang sinis. Dari orator kampus menjadi provokator.

Mari renungkan kembali kutipan bijak dari Soe Hok Gie:

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

Dan satu pesan terakhir dari Tan Malaka:

“Terbentur, terbentur, terbentur… terbentuk.”

Namun sayangnya, bagi sebagian senior, yang terbentuk bukan kebijaksanaan, melainkan kesombongan atas nama sejarah.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi