Urgensi Memimpin Sayap Partai Politik secara Visioner dan Merakyat

Oleh Zulfata., S.Ud., M.Ag (Ketua Umum Sayap Partai Politik Perjuangan Aceh- DPP AMMPA)

 

Bagi sebagian kalangan, mungkin merasa muak bahkan sudah lelah dengan yang namanya politik. Secara manusiawi, memang perjalanan potik itu berliku, mati berkali-kali bahkan dapat berakibat fatal. Namun demikian, di balik itu semua masih ada peluang, masih ada kesempatan untuk mengendalikan dan menyelamatkan umat manusia dengan “coretan pena” kekuasaan. Dalam konteks ini, pendulum kekuasaan terus berayun tanpa henti melintasi batas ruang dan waktu hingga dunia ini belum diambil paksa oleh yang maha kuasa.

Panjangnya lintasan perjalan politik sebagai kuasa kontrak sosial politik yang terus mengalir di setiap persimpangan generasi, mengharuskan partai politik visioner dan telaten dalam mengelola potensi sayap partai politik. Sederhananya, sayap partai politik identik dengan gairah anak muda, identik dengan kaum terbarukan, haus tantangan dan perubahan “cara main”.

Matang atau tidaknya sebuah partai politik juga diukur oleh sejauhmana partai politik mampu membuka jalan dan ruang ekspresi dan kreasi anak muda agar terjadinya sinergitas politik di tubuh lintas partai. Sehingga konstruksi politik partai semakin solutif, responsis dan bergerak maju untuk mampu menjawab tantangan kerakyatan di masa yang akan datang.

Terlepas dari potret personalitas di tubuh partai yang melanda Indonesia hari ini, proses perkaderan politik sebagai bentuk proses politik dan transformasi politik, dan selanjutnya sebagai penyambung estafet kepemimpinan politik. Posisi sayap partai mesti dipandang sebagai laoratorium politik. Syap partai adalah kunci. Kecanggihan suatu partai politik dapat dicerminkan dari sejauhmana eksistensi sayap partai politiknya. Lemah sayap partai, maka itu sinyal suatu partai pasti lemah, demikian sebaliknya.

Disadari atau tidak, sayap partai adalah ujung tombak perkaderan politik. Berintergitas atau tidaknya calon pemimpin ke depan yang diorbitkan oleh mesin partai politik sangat ditentukan bagaimana partai canggih menyetting kader sayap partainya. Fenomena munculnya tokoh politik karbitan, perampok APBN, pejabat publik bermental “pencuri kambing” dapat dicegah melalui upaya pembenahan kaderisasi politik di tubuh partai politik.

Atas dasar inilah mengapa sayap partai politik harus didedak dan disokong untuk mandiri.  Sehingga kematangan politik dan tarik ulur kepentingan serta bermental baja dapat melekat kuat di tubuh partai politik.

Sebagai ketua sayap partai lokal, terlebih partai lokal baru yang berusaha kuat untuk menerobos badai petir iklim politik tak menentu, intervensi menyasar liar. Penulis merasa mendapat suatu tantangan unik saat diberikan amanah dalam memimpin sayap partai politik. Sebab belantara politik anak muda masa kini terkadang sulit ditangkap penguasa yang tak respons dan mati inspirasinya menyelamatkan bangsa dan negara. Misalnya, seorang pemimpin daerah yang tak mampu memahami aspirasi generasi muda adalah nama lain dari produk partai yang tak benar-benar mencerdaskan dan memandirikan anak muda.

Lebihnya, memimpin sayap partai lokal juga dilihat dari sisi kehebatan pertarungan sejarah dan politik di Aceh. Aceh adalah satu-satunya daerah yang memiliki partai lokal di Indonesiadengan segala pengorbanan masyarakat terdahulu yang tak terbayarkan oleh anggaran maupun aturan khusus. Untuk itu, pemimpin sayap partai lokal harus memiliki daya tahan yang kuat dan nilai tawar yang tinggi di hadapan meja perundingan kebijakan, baik di level lokal maupun nasiona hingga internasional. Jika tidak, legasi kedudukan partai lokal akan lenyap digilas politik pemburu rente yang mulai mercuni elit politik lokal hari ini. Misalnya adalah pihak-pihak politisi pasca konflik Aceh relah menggadai kekayaan energi dan anggaran kompensasi konflik hanya untuk menyelamatkan diri sendiri.

Dalam konteks ini pula, atas nama Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Angkatan Muda Mudi Perjuangan Aceh (AMMPA) mengajak seluruh sayap partai politik di Aceh, seluruh generasi muda Aceh di manapun berada, untuk mampu memberi cahaya pencerah bagi kebijakan politik hari ini, agar tidak menjadi predator bagi rakyat Aceh secara berkepanjangan.

Seluruh sayap partai di Aceh didorong untuk mampu mandiri sembari membuka ruang komunikasi politik agar kuasa politik Aceh ke depan tidak mudah diporak-prandakan oleh pihak-pihak terlanjur kaya raya dalam mengeruk sumber daya alam di Aceh. Karena secara politik, sumber daya alam di Aceh sejatinya rakyat Aceh hari ini tidak lagi ada yang miskin. Untuk itu, ketua sayap partai di Aceh ada baiknya jangan menjadi bagian dari pecundang dan melacurkan diri terhadap pihak-pihak yang tak jujur membantu rakyat Aceh yang semakin terhimpit hari ini.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi