Katacyber.com | Meulaboh – Sejumlah 32 orang yang tergabung dalam Forum Mualaf Aceh Barat (FMAB) terdiri dari berbagai suku, hingga saat ini belum mendapatkan bantuan anggaran pembinaan dari pemerintah Aceh Barat.
Sekumpulan mualaf baik dari suku Nias, Batak dan Tionghoa yang berada di Aceh Barat ini sangat membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah setempat. Terutama untuk kemaslahatan para mualaf dalam mengikuti program pembinaan keyakinan.
Tgk. Mulkan Sinurat Ketua Forum Mualaf Aceh Barat saat kepada KataCyber di Meulaboh mengatakan bahwa saat forum mualaf Aceh Barat terbentuk hingga sekarang tidak ada perhatian khusus dari pemerintah setempat terutama terkait anggaran binaan.
“Dari awal forum ini berdiri belum ada bantuan secara objektif dari pemerintah, kalau yang lain Alhamdulillah ada sedikit-sedikit. Berbicara keyakinan bukanlah hal sepele, perlu adanya penanganan dan pembinaan secara kontinue. Tidak bisa hanya melalui syahadat lalu masuk Islam, kita perlu dibina dan semua ini perlu anggaran untuk menjalankan,” jelas Tgk Mulkan kepada Pewarta, Kamis (20/3/2025).
Ia menyebutkan, selama ini pihaknya hanya belajar agama seperti shalat, belajar ikraq dan Al-Qur’an, setiap hari Jum’at. Saat pelaksanaan banyak dari anggota forum tidak bisa fokus dan berhadir dikarenakan kurangnya biaya perjalanan serta keterbatasan ekonomi.
Selain itu, biya operasional untuk melakukan pembinaan juga minim, sehingga pelaksanaan terkadang jarang dilaksanakan.
Tgk Mulkan juga menyampaikan bahwa ada beberapa anggota forum yang kembali ke agama asal alias murtad dikarenakan tidak adanya pembekalan spritual secara khusus dan berlanjut.
“Dengan dengan demikian, harapan besar kami kepada pemerintah melalui dinas terkait unntuk memberikan perhatian khusus kepada forum ini” ujar Tgk. Mulkan.
Sebelumnya, kata Tgk Mulkan, Enam tahun lamanya terjadi kekosongan pada organisasi FMAB, tidak ada petugas atau pejabat didalamnya, sehingga tidak ada pembinaan bagi mualaf, terlebih lagi bagi mereka yang baru memeluk agama islam.
“Bagi mereka yang baru saja bersyahadat memeluk agama islam, terpaksa pembinaan dilakukan secara mandiri,” ucapnya.
Dikatakannya, setelah FMAB vakum selama enam tahun, baru tahun lalu, para mualaf di Aceh Barat diundang untuk kembali dilakukan pengukuhan dan dirinya diminta untuk menjadi ketua Organisasi Forum Mualaf Aceh Barat tersebut.
“Entah ada gerangan apa, tiba-tiba organisasi ini dipanggil lagi dan kepengurusannya dilantik kembali, padahal enam tahun sudah FMAB ini mati suri, kemana selama ini mereka” tegas Tgk. Mulkan.
Tgk. Mulkan berharap pemerintah bisa melakukan peninjauan terhadap forum mualaf tersebut, sehingga dengan dilakukan peninjauan pemerintah akan mengetahui apa yang tengah dialami oleh umat non muslim yang baru menjadi mualaf.
Akhir penyampaiannya ia mengatakan mualaf membutuhkan binaan pemerintah, baik melalui lembaga pemerintah maupun lembaga swadaya. Pembinaan ini bertujuan untuk membantu mualaf dalam memahami ajaran Islam dan berintegrasi ke dalam masyarakat Muslim.


























































Leave a Review