Ada dua pilihan warna ketika kita menjalani sebuah kehidupan. Hitam dan putih. Namun seringkali manusia masuk pada wilayah abu-abu. Sulit memisahkan antara hitam dan putih.
Itulah gambaran perjalanan hidup seorang photografer sekaligus jurnalis senior, Beng Aryanto. Sebagai jurnalis, Beng sungguh-sungguh harus bisa memilah antara yang hitam dan putih. Pilihannya; tidak ada abu-abu. Harus ada garis tegas batas pemisah mana hitam, mana putih, meski itu sangat tipis sekali.
“Hitam, hitam, putih-putih. Jangan campur aduk keduanya. Meski kita seringkali terjebak di dalamnya, tapi ini manusiawi. Yang penting kita tetap berusaha untuk selalu konsisten memilih di jalur putih,” ungkap Beng Aryanto, putra asli Betawi menjabarkan filosofi kehidupannya.
Beng menegaskan, profesi jurnalis yang dia jalani semenjak muda, memberikan pengalaman dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Dirinya menjadi terasah untuk selalu menggunakan akal dan hati nurani secara simultan
Menapaki Seni dan Jurnalisme yang Inspiratif
Bambang Aryanto, SE yang dikenal dengan panggilan Beng Aryanto (55 tahun), adalah seorang profesional yang memiliki kecintaan mendalam terhadap berbagai bentuk seni, mulai dari seni bela diri, musik, photography, dan sinematography.
Sejak masa kanak-kanak, Beng telah menunjukkan minat besar dalam dunia seni ini. Ia belajar mengaji dan silat, kemudian aktif sebagai vokalis band sejak SMP hingga SMA, berpartisipasi dalam berbagai festival musik dan pertunjukan.
Ketertarikannya pada seni visual dimulai pada kelas 3 SMP ketika ia belajar photography secara otodidak. Saat SMA, Beng menjadi wartawan foto lepas untuk media musik ibu kota seperti majalah “HAI” dan beberapa media fesyen. Dari sini, kecintaannya pada dunia jurnalistik terus berkembang, membawanya menjadi wartawan muda di harian Pelita pada tahun 1989-1992.
Lika likunya sebagai photographer junior di kalangan para photographer senior, dan berkat dukungan seorang redaktur sebuah majalah remaja ternyata menjadikan Beng sebagai seorang jurnalis dengan karakter yang khas dan tetap low profile
” Awal keinginan menjadi seorang jurnalis itu karena ingin melatih keahlian memotret sebenarnya, dan mengenal dunia photography itu sejak tahun 1985 dimana saat itu masih SMP, ” kata pria yang akrab di sapa Beng, saat ditemui, Minggu (5/3/25) pagi di Jakarta.
Dalam ingatan Beng, memiliki kakak ipar seorang pemain bola nasional dan sering keluar negeri ia pernah beberapa kali beli kamera analog tapi tidak bisa memakainya.
” Nah! Saya belajar untuk bisa menggunakan, belajar dari temen kakak yang kuliah di photography di Amrik (Amerika Serikat.red) dan kita sering ngobrol bagaimana cara memotret, mengunakan kamera manual analog,” kenangnya
Menurut Beng, masa lalu ketika masih jaman analog bisa belajar memotret itu tidaklah murah, lantaran harus bisa membeli negatif film dan mencetaknya yang terbilang cukup mahal .
Tahun 1987 untuk mengasah keahlian memotretnya Beng bekerja freelance di sebuah media musik remaja yang cukup digandrungi anak anak muda di ibukota.
Menurut Beng, menempati posisi freelance dimedia favorit kala itu tidaklah mudah, selain foto harus baik dan bagus sesuai kriteria, kadang jarang juga mendapat kesempatan pada liputan yang diinginkan, dan sangat bergantung pada kebutuhan sang redaktur.
” Sedikit demi sedikit Saya juga belajar menulis walaupun waktu itu tulisannya masih kacau balau karena dan untungnya ada wartawan senior dan redaktur ikut memperbaik kata kata atau informasinya menjadi enak dibaca,” sambung Beng
Selain freelance di majalah Hai, sekitar tahun 88an. Beng juga ikut freelance sebagai photographer fashion di majalah mode Jakarta
” Karena majalah itu bulanan tantangannya tuh kurang wah ! apa lagi menjadi seorang freelance kadang tiap terbit sebulan sekali terasa kelamaan . Akhirnya saya coba masuk Harian Umum Pelita yang kala itu surat kabar tersebut termasuk 10 besar media di Indonesia,” tandas Beng
Beng merasa tuntutan bisa bekerja dimasa sekolah karena orang tuanya hanyalah seorang pegawai negeri rendahan dengan anak cukup banyak 9 bersaudara.” Tentu apa yang Saya alami baik sekolah maupun kehidupan ekonomi itu terbatas dan sementara Saya punya impian ingin seperti temen temen yang lain dengan kehidupan ekonominya lebih baik,” tutur Beng mengingat masa kecilnya yang kerap berjuang untuk meraih impian
Kariernya di dunia jurnalistik meliputi berbagai posisi, mulai dari wartawan lepas, wartawan, redaktur, hingga pimpinan redaksi baik media cetak koran dan majalah, hingga media online dan televisi.
Sejak masa sekolah, Beng menggunakan bakat photography nya untuk mendukung keluarganya yang memiliki keterbatasan ekonomi. Kala itu, ia bercita-cita menjadi photographer profesional agar dapat membantu orang tua dan membiayai pendidikannya sendiri. Tekadnya yang kuat membuat dia mampu meraih berbagai sertifikasi nasional dan internasional dalam jurnalistik dan photography.
Pada tahun 1996, Beng mendirikan Warna Production untuk memenuhi permintaan klien dalam berbagai kebutuhan , seperti sampul kaset, poster,Photo Shot/ photography produk, hingga dokumentasi pernikahan. Tak hanya photography, sejak 2012 ia terjun juga ke dunia cinematography, memulai dari posisi still photo, asisten produser hingga menjadi sutradara dan produser.
Tahun 2009 dan 2011, Beng ikut dalam pembuatan film layar lebar yang cukup hits dan beredar di beberapa negara dan masuk nominasi kategori film bergensi dunia international. Film Merantau yang rilis tahun 2009 disusul The Raid Redemption tahun 2011 mengukir sejarah dunia cinematography Indonesia sebagai film action terbaik saat itu yang dibintangi Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan sebagai aktor utama di film tersebut .
Beng pun sering mengisi workshop sebagai pembicara baik pada kegiatan jurnalistik maupun konten kreatif di berbagai instansi dan sekolah.
Selama berkecimpung di dunia jurnalistik, banyak pengalaman berharga yang ia terlibat di dalamnya. Antara lain, peliputan di daerah konflik, seperti peristiwa 1998, DOM Aceh 2001, konflik Poso, bahkan pengungkapan kasus-kasus besar seperti e-KTP dan kasus umroh First Travel.
Salah satu liputannya yang cukup menonjol adalah investigasi mendalam mengenai aktivitas pertambangan emas di Poboya, Palu, yang dipublikasikan pada Juli 2017. Dalam laporan investigasi yang dimuat sebagai liputan utama sebuah majalah tambang dan energi dengan cover story: “Tambang Emas Poboya, Bom Waktu di Palu”, Beng secara intens terlibat. Nyaris sebulan lebih dia harus berada di Palu untuk mengumpulkan data dan fakta.
Lewat liputannya itu, Beng mengungkap risiko yang dihadapi ribuan penambang yang setiap hari memasuki lubang tambang sedalam 15 hingga 20 meter untuk mencari batuan yang mengandung emas. Ia juga menyoroti perubahan mata pencaharian masyarakat setempat dari petani menjadi penambang akibat daya tarik emas, serta dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan tersebut.
Dalam setiap langkahnya di lapangan, tidak sedikit risiko yang ia harus hadapi, termasuk ancaman keselamatan dirinya. Tapi, Beng tetap teguh pada prinsipnya untuk menyampaikan informasi faktual kepada publik sebagai bentuk pengabdian dan jihadnya.
Sehingga, patut disematkan, semangatnya dalam berkarya dan mengabdikan hidupnya di dunia seni dan jurnalistik menjadi inspirasi bagi banyak orang. Beng Aryanto adalah contoh nyata bagaimana kerja keras, dedikasi, dan kecintaan pada seni dapat membentuk perjalanan hidup yang penuh makna (Dz)


























































Leave a Review