Bella Ciao, Indonesia!

Foto: jurnalposmedia.com

Oleh: Aulia Halsa

Pernah dengar lagu Bella Ciao?
Itu lagu perjuangan dari Italia, dinyanyikan para buruh, lalu dipakai para pejuang kemerdekaan melawan penjajah dan fasisme. Liriknya sederhana: tentang seseorang yang bangun di pagi hari dan sadar kalau ada penjajah di tanahnya. Maka ia berkata: “Bawa aku, wahai pejuang, karena aku siap mati demi kebebasan.”
Cukup dramatis. Tapi ya wajar. Zaman dulu, kalau nggak nekat, ya ditindas.

Sekarang, mari lompat ke Indonesia hari ini negeri demokrasi yang katanya merdeka tapi makin susah dibedakan dengan panggung teater. Para elit politik saling bersalaman di depan kamera, tapi di belakang panggung, mereka asik memainkan babak “kita lindungi yang kawan, kita kejar yang lawan.”

Apa kabar suara rakyat?
Rakyatnya? Masih ramai. Masih bersuara. Masih demo. Tapi yang dijawab justru narasi-narasi menghibur: “Negara baik-baik saja”, “itu cuma dinamika“, atau kalimat favorit: “hukum tetap berjalan.” Iya, berjalan… tapi arahnya kayak jalan tol, khusus untuk kendaraan plat khusus.
Ketika Bella Ciao menyuarakan perlawanan terhadap penjajahan, kita malah menyaksikan penguasa memberi grasi dan abolisi ke sesama kolega. Bahkan sebelum proses hukum tuntas, udah ada jaminan perlindungan. Bukan ke rakyat kecil, tapi ke para pemegang kartu elit. Aneh? Tidak juga. Ini Indonesia, bro.

Dan dalam situasi seperti ini, Wiji Thukul pernah menulis:
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang / suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan / dituduh subversif dan mengganggu keamanan / maka hanya ada satu kata: LAWAN!”

Sayangnya, satu kata itu kini terlalu sering ditukar dengan: “ya udahlah,” atau “yang penting aman.”
Kita butuh lagu perlawanan, tapi jangan cuma dinyanyiin. Yang ironis, Bella Ciao sekarang justru lebih sering diputar di acara TV atau TikTok, bukan di jalanan. Lagu perlawanan berubah jadi latar video aesthetic. Sementara itu, para buruh, mahasiswa, dan petani masih menunggu siapa yang mau benar-benar menyanyikannya dengan aksi nyata, bukan sekadar lipsync.

Mungkin kita memang butuh versi Indonesia dari lagu itu. Tapi bukan dalam bentuk nyanyian, melainkan keberanian berkata “tidak”. Tidak pada manipulasi hukum. Tidak pada elite yang merasa negara ini cuma playground mereka. Tidak pada kekuasaan yang makin lama makin mirip warisan keluarga.

Seperti kata Wiji Thukul:
Aku ingin menjadi peluru / menembus kata-kataku / dan menjelma perlawanan.”
Ciao”, Indonesia?
Kalau generasi muda diam, kalau media diam, kalau suara protes hanya jadi statistik medsos maka jangan kaget kalau besok kita bangun pagi dan menemukan bahwa yang hilang bukan lagi kebebasan, tapi akal sehat.

Bella Ciao bukan sekadar lagu. Ia pengingat: bahwa yang membedakan kita dari budak bukan gelar atau gaji, tapi kemampuan untuk bilang “cukup!”
Jadi, mari kita nyanyikan lagu itu, bukan dengan nada, tapi dengan sikap.
Una mattina mi son svegliato… e ho trovato l’invasor.
Pagi ini aku terbangun… dan menemukan penjajah.
Sayangnya, dia tak datang dari luar. Tapi dari dalam rumah kita sendiri.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi