Mengulik Problem Pendidikan di Simeulue

Oleh: Alwan Samri (Ketua DPD Angkatan Muda Mudi Perjuangan Aceh (AMMPA) Kabupaten Simeulue)

 

Ketika kita menelaah dunia pendidikan di Kabupaten Simeulue dengan sudut pandang yang lebih luas dan mendalam, kita berhadapan dengan satu tantangan mendasar. Cara pandang kita masyarakat terhadap makna pendidikan itu sendiri.

Sejauh pengamatan saya, masih ada kecenderungan memandang pendidikan dalam bingkai yang sangat sempit dan kaku maknanya. Bagi sebagian besar masyarakat setempat, pendidikan sering disamakan hanya dengan menempuh bangku sekolah atau perguruan tinggi, yang kemudian dijadikan modal utama semata-mata untuk mencari pekerjaan semata. Terutama untuk mendaftar menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Seolah-olah tujuan akhir dari menuntut ilmu hanya berhenti pada status pekerjaan dan penghasilan yang dianggap terjamin. Tidak ada yang salah dengan tujuan mendapatkan pekerjaan atau menjadi PNS, namun yang menjadi perhatian adalah realita bahwa pendidikan kita seringkali hanya dianggap sebagai sarana menambah label gelar di belakang nama, sementara di sisi lain negara belum secara serius menyiapkan lapangan pekerjaan yang betul-betul memajukan kesejahteraan para kaum terdidik.

Tentu ini tantangan kita kedepan Seperti daerah terpencil Simeulue minsalkan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, pengangguran di Kabupaten Simeulue berada di angka 5,50%. Kelompok ini di dominasi usia produktif berkisar 18 sampai dengan 35 tahu. Artinya kita terjebak dari ilusi akan mental mengharap pekerjaan yang diberikan oleh negara.

Penulis termotivasi dengan tokoh-tokoh bangsa yang barangkali menjadi landasan berfikir kita sebagai masyarakat. Jika kita merujuk pada pemikiran para tokoh besar pendidikan, pandangan tersebut perlu diluruskan kembali. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, menegaskan hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan manusia. Memerdekakan di sini bukan berarti bebas tanpa aturan, melainkan bebas dari belenggu kebodohan, ketergantungan pikiran, dan keterbatasan wawasan. Sehingga, seseorang mampu mengembangkan potensi dirinya secara utuh dan menentukan arah hidupnya sendiri dengan bijak tanpa mempersempit makna pendidikan itu sendiri.

Pemikiran ini juga sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Tan Malaka, yang menyatakan bahwa pendidikan berfungsi untuk menata hati dan pikiran. Tujuannya adalah mempertajam kecerdasan agar mampu membedakan mana yang benar dan salah, memperhalus perasaan agar tumbuh rasa empati dan tanggung jawab sosial, serta memperkukuh tekad agar memiliki keinginan kuat untuk membangun lingkungan sekitarnya.

Pertanyaan apa ada yang salah cara kita memaknai pendidikan itu sendiri? Tentu dalam hal ini tidak ada yang salah. Melainkan kita terlalu kaku dan sempit memandang akan makna dari tujuan dari hakikat pendidikan yang lebih kompleks.

Untuk membedah lebih dalam dan membongkar belenggu cara pandang yang sempit ini, kita dapat merujuk pada gagasan Paulo Freire dalam karyanya yang terkenal, “pedagogy of the oppressed”, atau Pendidikan Kaum Tertindas. Dalam bukunya, Freire mengkritik apa yang ia sebut sebagai “model pendidikan bank, yakni pola pembelajaran yang hanya mengisi siswa dengan pengetahuan tanpa mengajarkan mereka berpikir kritis. Pola inilah yang tanpa disadari telah melanggengkan pandangan yang berkembang di tengah masyarakat kita. pendidikan dianggap sebagai barang yang bisa ditukar dengan pekerjaan, bukan sebagai proses pembebasan.

Freire mengingatkan bahwa pendidikan sejati adalah alat pembebasan. Ketika pendidikan hanya diartikan sebagai jalan satu-satunya untuk menjadi PNS, maka kita sedang membatasi potensi generasi muda. Kita mengajarkan mereka untuk bergantung pada sistem, bukan untuk menjadi pencipta perubahan. Padahal, Simeulue memiliki kekayaan alam, budaya, dan potensi yang sangat luas yang membutuhkan tenaga-tenaga cerdas yang mandiri. Baik di bidang pertanian, kelautan, pariwisata, kewirausahaan, maupun pelayanan masyarakat.

Nilai pendidikan tidak hilang hanya karena seseorang tidak bekerja sebagai pegawai negeri. Nilai pendidikan justru terlihat ketika seseorang mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, mengelola sumber daya dengan bijak, mengembangkan potensi daerah, dan berkontribusi memajukan lingkungannya.

Itulah makna memerdekakan diri. Kita Memiliki kemampuan untuk berdaya dan memberi manfaat, tanpa harus terikat pada satu jenis pekerjaan tertentu.

Sebagai masyarakat Simeulue, saya melihat perubahan cara pandang ini sebagai tugas penting. Kita harus mulai membangun narasi baru. Pendidikan bukanlah tiket semata untuk mendapatkan gaji, melainkan kunci untuk mengembangkan martabat, membebaskan pola pikir, dan membangun kemandirian. Ketika masyarakat Simeulue memahami pendidikan dalam makna yang lebih luas ini, maka generasi muda kita akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga berkarakter dan mampu mengangkat harkat serta kemajuan daerah tercinta kepulauan Ate Fulawan. Anak pulau adalah harapan, dan merekalah pemimpin masa depan yang akan menentukan arah kemajuan tanah ini.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi