Oleh: Syarifuddin Abe
Dalam dunia intelektual, mungkin kita pernah mendengar istilah rideologi, merupakan bentuk ilmu yang mempelajari fenomena tentang tertawa. Kita sampai bingung sendiri, tertawa saja kok mesti dipelajari begitu? Mungkin kita bertanya, kok ada ya ilmu yang mempelajari tentang tertawa? Makanya, tertawa kemudian dikenal sebagai sebuah fenomena. Kenapa orang tertawa? Kenapa orang sampai tertawa? Apa yang menyebabkan orang tertawa? Kenapa orang mesti tertawa?
Ada juga orang yang anti tertawa. Anti tertawa dalam arti menganggap tertawa itu hukumnya haram atau dilarang. Dalilnya tidak usah saya tulis. Kita kembalikan kepada orang yang takut tertawa. Maka kita akan menemukan dalam kehidupan kita banyak orang yang takut tertawa, sehingga untuk tertawa saja orang mesti menahannya. Sampai mulutnya dikatup kuat-kuat agar seseorang itu menjadi tidak tertawa. Sampai muka dan wajahnya terlihat gemoy dan seperti orang menahan kencing. Menurut Jaya Suprana (2013), orang banyak terjebak dengan makna tertawa, banyak salah menafsirkan tentang tertawa atau orang menafsirkan tertawa secara tidak lengkap.
Selagi anda dapat tertawa, pergunakan waktu untuk tertawa. Kalau takut tertawa sendiri, takut dianggap gila alias sedeng bin putouh kawat, maka cari media untuk tertawa, agar tertawa anda ada alasan dan tidak menjadi ketakutan orang atau anda tidak ditertawakan hanya karena orang tidak tahu kenapa anda tertawa. Akibat dari orang salah menafsirkan atau keliru dalam memahami tertawa, maka muncul nilai-nilai yang tidak atau kurang mendukung. Secara logika, ada kontradiksinya dalam hal pandangan terhadap yang dinamakan dengan tertawa itu. Ada yang setuju bahwa tertawa itu sehat, ada juga yang menganggap bahwa tertawa itu sesuatu yang kurang atau dianggap tidak serius. Ini juga yang menjadi salah dan keliru dalam memandang orang yang suka tertawa.
Sebenarnya, keliru tentang tertawa di sini sudah bisa diukur. Apakah dari segi cara orang memandang tawa, atau dari segi kontradiksinya. Pada segi kesehatan, merupakan hal yang paling serius yang dihadapi oleh setiap orang. Kalau saya bilang, sakit misalnya, itu 90% dialami oleh seseorang, karena persoalan pikiran. Iri hati, susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah. Cemburu yang tidak pada tempatnya. Rasa dengki melihat orang lain sukses, dan sebagainya. Itu semua mengundang diri kita untuk sakit. Apalagi hal-hal negatif yang tidak kita sadari, menjadi menumpuk dalam pikiran kita, maka tunggu saja, seperti kita mengundang penyakit. Penyakit akan datang, kalau sudah datang tidak ada kamus menyerah itu penyakit.
Keadaan logika kontradiktif sudah merupakan salah satu elemen hakiki dari tertawa itu. Kalau kita pikir-pikir, jelas atau tidaknya, tertawa secara logis kontradiktif atau memang kondisi logika kontradiktif sendiri itulah yang menghadirkan tertawa. Sebagaimana kasus logika itu sendiri, kita menjadi tertawa yang diakibatkan oleh kebingungan kita karena tidak sanggup atau karena logika kita menjadi tumpul ketika kita ingin tertawa. Seperti kita mentertawakan kebingungan daya logika yang menghadirkan problem dan masalah ketika berpikir; yang mana duluan? Telur dahulu atau ayam dahulu? Telur akan menetas menjadi ayam atau ayam yang akan bertelur yang kemudian bertelur lalu menetas lagi jadi ayam.
Anda mungkin akan tertawa bahkan menjadi bahagia ketika di tengah malam sunyi mendengar bayi yang tertawa sendirian. Malah anda beranggapan, sang bayi sudah bisa tertawa. Anda tertawa karena menganggap bayi tertawa bahwa ia sudah bisa tertawa. Tapi sebaliknya, ketika ada orang dewasa tertawa anda justru memakai berbagai dalil lalu menterjemahkan tertawanya itu. Padahal tertawa itu merupakan sebuah kewajaran, sesuatu yang sehat, bahkan baik berdasarkan ilmu kesehatan. Di sinilah pentingnya logika bagi manusia, yang merupakan anugrah dari Tuhan, agar tidak salah menterjemahkan atau bahkan untuk tidak mampu menandingi Tuhan, di sini pula agar kita tidak salah memahami. Inilah kekuasaan Tuhan bagi manusia, yang kemudian lahirnya “persepsi”. Termasuk persepsi tentang tertawa itu. salah satu yang lain, misalnya tentang bencana.
Demikian juga ketika bencana hadir di tengah-tengah kehidupan kita. Humor kadang menjadi sesuatu kebangkitan dari keterpurukan yang kita alami. Humor menjadi nuansa yang kuat bagi kita agar kita menjadi tidak terlena oleh kesakitan dan keterpurukan. Humor bukan sesuatu yang menyakitkan dalam bencana. Mungkin juga bencana itu bagian dari humor Tuhan yang kita sendiri tidak sanggup untuk menterjemahkannya. Seperti halnya orang sufi mengenal Tuhannya. Mungkin kita sering membaca kisah-kisah sufi. Ketika para sufi berada pada puncak daripada makrifatnya, orang sufi biasa saja mentertawakan Tuhan. Malah Tuhan seperti dimain-mainkan oleh mereka. Padahal sebenarnya, tidak.
Sesuatu yang menjadi berbeda pada diri orang awam yang menganggap Tuhan Mahamarah, Maha Mengazab dan sebagainya. Oleh orang awam, ketika bencana terjadi, yang disalahkan selalu orang lain. Orang lain menjadi objek kesalahan. Karena maksiat merajalela-lah. Karena Tuhan murka-lah. Karena dilaksankan konser-lah. Karena banyak umat yang tidak sembahyang-lah. Karena umat jauh dari Tuhan-lah. Karena umat tidak melaksanakan perintah Tuhan-lah, dan sebagainya. Yang dilihat orang lain selalu. Tidak berani melihat dan mengukur dirinya. Menolak bercermin, malah kalau ada, dipecahkan. Terlalu menganggap dirinya bersih dan suci. Terlalu merasa dialah yang melaksanakan perintah Tuhan dengan benar dan sungguh-sungguh. Terlalu menganggap orang lain banyak berbuat dosa dan maksiat, sementara dia selalu bersama Tuhan. Tidak pernah merasa sedikit pun kalau dia juga berbuat dosa? Takut dibilang orang, apa juga….?
Berbeda dengan cara pandang orang sufi. Bagi orang sufi, ketika musibah atau bencana terjadi, mereka melihat ke dalam dirinya. Apa yang salah aku perbuat, sehingga Tuhan menjadi marah. Apa yang salah dengan diriku, sehingga menjadi begini? Lalu yang dilakukan orang sufi adalah instrospeksi diri, lalu bertobat. Memuja dan memuji Tuhan. Mohon ampun kepada Tuhan. Bagi orang sufi, ketika sesuatu terjadi dalam lingkaran hidupnya, yang paling utama dilakukannya adalah merenung, introspeksi; ada apa dengan diriku? Kenapa bencana bisa terjadi? Apa salahku? Padahal aku selalu memuja dan memuji-Mu? Lalu meriset diri. Mencari kesalahan; apa yang pernah dilakukannya?
Bencana bagi orang sufi adalah dosa dirinya. Dosa dirinya karena merasa lalai pada kewajibannya kepada Tuhan. Mereka tidak ada waktu untuk mengintip kesalahan orang lain. Yang menjadi pertanyaan baginya adalah, apa yang membuat aku menjadi lalai? Betul apa yang dikatakan oleh Rasulullah, “ad-dun-yā matā’un”, dunia adalah permainan. Hadis ini memang lebih ke sebuah metafora. Tapi secara awam boleh saja diartikan sebagaimana kebanyakan orang memahami ‘permainan’ itu sendiri. Bagi sufi, dunia tidak dalam arti sebagai sebuah realitas yang sesungguhnya, melainkan sebagai sebuah laboratorium untuk diuji. Di mana setiap orang akan mengalami ujian hidup. Boleh juga dimaknai sebagai sebuah permainan tempat jiwa menyusun bekal kehidupan untuk menuju sebuah perjalanan kembali kepada Sang Pencipta, Cinta Sejati.
Titik fokus dari semua itu adalah bertumpu pada bagaimana oleh seseorang mampu memahami sebuah pembelajarannya. Apa yang dialaminya di dunia. Bagaimana seseorang sampai pada titik pemurnian hati serta menjalani dan dapat menghadirkan sebuah kesadaran spiritual. Terhadap hal ini, titik fokusnya bukan pada pengejaran materi yang berupa mencari kesenangan yang bersifat duniawi. Bagi sufi, apa saja dalam alam semesta sebagai sebuah manifestasi dari sifat-sifat Ilahi. Semua aktivitas yang bersifat keduniaan merupakan ‘permainan’, atau bahasa di buku-buku sering kita jumpai dengan tarian kosmik, di mana Sang Ilahi dapat mengungkapkan keberadaan diri-Nya dan para sufi dapat menyaksikan serta berpartisipasi bersamanya dengan penuh kesadaran dan cinta.
Para sufi selalu berusaha agar dunia bukan sesuatu yang membuatnya terlena. Dunia memang tempat para sufi berkarya. Dunia memang salah satu dimesi bagi sufi untuk sukses. Dunia bagi sufi adalah musafir. Tapi bukan sebagai tempat permainan, sehingga apa pun yang membuat mereka menjadi rugi dan untung, tidak bersifat permanen. Dunia adalah permaianan dalam arti untuk membebaskan hati dari kekhawatiran dan keterikatan terhadap sesuatu yang dapat melalaikan. Di sinilah pentingnya niat, sehingga apa saja yang dilakukan oleh para sufi menjadi ibadah. Setiap aspek ‘permainan’ (hidup) menjadi sebuah pengabdian serta penyerahan diri kepada kehendak Ilahi. Hal ini oleh para sufi bukan untuk meremehkan dan merendahkan kehidupan, melainkan mencoba untuk memahaminya dalam kontek lebih besar dan sakral, sehingga apa pun yang dilakukan yang bersifat keduniaan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Ilahi.
Berbeda dengan orang awam dalam memandang “dunia adalah permainan”, mereka berpegang pada al-Qur’an Surah al-An’am, ayat 23 dan , ayat 20; dunia sebagai permaian, tempat senda gurau dan sebagai tempat meraih kesenangan yang sifatnya menipu. Pemainan yang dapat melalaikan kehidupan hakiki di akhirat. Apalagi kalau hidup di dunia selalu terlena oleh permainannya yang dapat melupakan pertanggungjawabannya. Kesenangan dunia bersifat fana, tidak kekal, berbeda jauh dari kehidupan akhirat yang abadi. Bagi orang beriman, dunia menjadi bekal untuk mempersiapkan kehidupan di akhirat kelak, setelah mengalami kematian.
Dunia ini sebagai permainan, bagi orang awam dunia ini suatu saat akan berakhir dan lenyap, tidak ada yang abadi. Kesenangan dunia melalaikan sifatnya, menjadikan manusia lupa tujuan akhiratnya, disibukkan oleh hal-hal yang tidak bermanfaat. Bagi orang awam, dunia selalu memperdaya, seakan-akan kesenangan dunia adalah kebahagiaan sejati, padahal hanya permaian yang dapat menjadikan manusia sombong dan lalai. Bagi orang awam, dunia ini persinggahan, tempat beramal. Dunia menjadi sarana menuju akhirat. Dunia tidak menjadi daya tipu yang dapat menjebak oleh materialisme dan permainan dunia yang dapat menjauhkan diri dari Tuhan.
Apa yang kita rasakan selama ini, ketika bencana melanda Sumatra: Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Mungkin yang terjadi kita saling menyalahkan. Pada satu sisi itu tidak dapat dielakkan. Ada banyak alasan dan bukti yang menyebabkan terjadinya banjir dan tanah lonsor. Seperti deforestasi, pembalakan liar, mengundulan hutan dan sebagainya. Sehingga pohon yang semestinya menjadi tempat penyerapan air, namun karena akibat pengundulan hutan akhirnya air tidak terserap, menggenang dan akhirnya terjadilah bencana seperti yang tidak kita harapkan. Hal demikian ini ditambah lagi pihak pemerintah terlambat penanganan serta hiruk-pikuk pemerintah dengan berbagai tanggapan yang seolah-olah menutup mata, malah menyalahkan masyarakat dan media social yang terlalu memviralkan yang tidak sebenarnya.
Pada sisi yang lain, kita disibukkan oleh tanggapan banyak agamawan. Ada yang mengatakan ujian, cobaan. Malah ada yang lebih ekstrim, bencana dianggap sebagai azab atau murka Tuhan. Pada tahap ini dengan berbagai alasan dan argumen yang dikembangkan, sehingga masyarakat korban bencana menjadi terbelah dalam menerima dan menanggapinya. Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani, bencana adalah ujian atau cobaan keimanan bagi setiap Muslim. Bencana harus menjadi bahan introspeksi diri dari kesalahan-kesalahan diri. Mungkin saja kita lupa kepada Tuhan, sehingga tanpa sadar kita bermaksiat. Atau kita sering menyakiti orang lain, bahkan sering melalaikan kewajiban kita kepada Tuhan. Bagi Abdul Qodir, ini merupakan dosa besar. Dengan bencana ini, boleh saja Tuhan ingin mengukur keimanan seseorang. Dengan bencana membuat kita dekat atau justru semakin menjauh dari Tuhan.
Demikian juga bagi al-Ghazali, bencana harus disikapi dengan ketenangan dan kesabaran. Manusia harus selalu mengoreksi diri, melakukan introspeksi diri dari kesalahan yang dilakukan. Kesalahan tidak hanya dilakukan ketika sadar namun juga ada yang dilakukan dalam keadaan tidak sadar. Segala ujian dan cobaan harus menjadi jalan untuk melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Setiap ujian dan cobaan selalu ada hikmahnya, maka berpikir positif kepada Allah adalah jalan terbaik dalam memahami hikmah itu sendiri.
Ketika seseorang mampu memahami dan mengambil hikmah dari apa yang dirasakan dan yang menimpa dirinya, maka akan menjadi orang yang yang mampu memahami makna sebuah kehilangan. Setiap kita pasti akan mengalami kehilangan, hanya saja bagaimana reaksi kita dalam menghadapi kehilangan itu. Semua orang akan mengalami kehilangan, sebagaimana kehilangan yang dialami oleh korban banjir ekologis di Aceh. Kehilangan orang yang dicintai, rumah, kebun, sawah, dan harta benda lainnya. Akibat kehilangan itu membuat kita bersedih. Semua orang boleh bersedih, Rasulullah juga pernah mengalami kehilangan dan itu juga membuat Rasulullah bersedih bahkan menitikkan air mata. Bagaimana kisah Rasulullah ketika kehilangan ibundanya Aminah, kehilangan anaknya Ibrahim yang paling ia cintai, kehilangan istri tercintanya Khadijah al-Kubra, kehilangan pamannya Abu Thalib yang selalu membela beliau dalam memperjuangkan Islam di Mekkah.
Bagi yang memahami kehilangan akan memandangnya bukan sebagai akhir yang menyedihkan. Apa yang dialami oleh Rasulullah harus menjadi pedoman bagi kita dalam memahami bencana ekologis ini. Semua kita akan mengalaminya, mungkin bentuk dan situasinya saja yang berbeda dan bagaimana caranya kita menyikapinya. Bagi kita harus menjadi pelajaran dari setiap pengalaman yang kita hadapi. Bencana yang kita alami semestinya menjadikan kita semakin dekat dengan Allah, penuh tawakkal dan pasrah serta meningkatkan keyakinan bahwa semua yang pernah kita miliki semata-mata atas izin dan milik Allah semata. Kehilangan sebagai jalan menguji kesabaran, keikhlasan, keridhaan serta kepercayaan seorang muslim kepada Tuhan. Penderitaan karena kehilangan akan dimurnikan jiwanya dari keterikatan yang bersifat duniawi. Kehilangan juga akan mengingat manusia bahwa segala sesuatu yang bersifat materi hanya sementara, tidak kekal, akan fana.



























































Leave a Review