Humor di Tengah Bencana

Oleh: Syarifuddin Abe

Sebelumnya, saya memohon maaf sangat. Artikel ini lahir dari refleksi saya di tengah kesedihan melihat bencana yang terjadi di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan sumatera Barat. Sekali lagi, saya memohon maaf, tidak kepada pemerintah Republik Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto, melainkan permintaan maaf saya yang sedalam-dalamnya kepada pemimpin ke tiga provinsi tersebut, yang terkhusus kepada Gubernur Aceh yang saya banggakan dan saya cintai, Bapak Muzakir Manaf atau kita kenal dengan panggilan Muallim.

Apresiasi yang sangat luar biasa kepada gubernur Aceh ini. Siang-malam tidak pernah berhenti hadir di tengah-tengah masyarakatnya, Tanpa lelah dan tanpa pamrih. Tidak hanya di tengah siang bolong bahkan dalam gelap gulita malam Muallim tetap mengunjungi masyarakat Aceh yang sedang menimpa musibah. Tampak dari wajahnya rasa sedih dan prihatin yang mendalam. Walau capek dan lelah, ia sembunyikan, yang penting baginya dapat terjun dan melihat langsung masyarakat aceh yang tertimpa bencana itu. Mungkin Muallim sedang hilang rasa tawanya, sehingga air matanya bercucuran melihat nasib provinsi yang sedang di nahkhodainya itu. Air matanya telah membuat banyak kalangan tersentuh dan iba. Memang Muallim mantan komandan perang. Memang Muallim pemimpin dari banyak kombatan yang menuntut kemerdekaan tanah Aceh. Tapi air mata yang keluar dari Muallim bukan sebuah kekalahan, bukan sandiwara, tetapi sebagai sebuah jawaban betapa Muallim mencintai rakyatnya. Mungkin, kalau kita mampu mendengar nuraninya, pasti nurani Muallim berkata, “Tuhan, jangan Engkau berikan ujian kepada rakyatku, yang rakyatku sendiri tidak mampu menghadapinya”.

Muallim bukan tidak ada tekanan, tekanan itu pasti ada. Itu lumrah terjadi. Bukan tertekan karena melihat negeri yang dipimpinnya yang telah menjadi porak-poranda oleh musibah banjir dan tanah longsor, namun tertekan oleh sikap pemerintah Republik Indonesia sendiri, terutama oleh Presiden Prabowo yang hingga kini masih bersikukuh menganggap tidak perlu menjadikan musibah ini sebagai bencana nasional. Mungkin Muallim seperti dua sisi mata uang, satu segi sedih hingga menangis melihat Aceh demikian hancurnya, segi yang lain lebih sedih lagi melihat tingkah dan tanggapan dari pemerintah Republik Indonesia. Merupakan satu-satunya tumpuan untuk dapat menolong masyarakat Aceh.

Banyak netizen. Banyak influenzer. Tidak hanya di tik tok, instagram, face books, bahkan di youtube yang mengecam tindakan pemerintah Republik Indonesia yang seperti belum tersentuh hatinya untuk meningkatkan status bencana di Sumatera itu. Sampai-sampai ada yang mengatakan, pemerintah Republik Indonesia tidak perlu menunggu sampai korban mencapai ribuan orang, sehingga baru kemudian dapat meningkatkan status bencana. Pemerintah cukup dengan pendekatan hati nurani dan sisi kemanusiaanya saja, sehingga tanpa serta merta secepatnya dapat menaikkan status bencana itu. Mungkin juga tidak mesti menunggu mendapatkan tongkat nabi Musa.

Tongkat Nabi Musa? Demi Allah, tidak mungkin Allah berikan tongkat Nabi Musa kepada presiden Prabowo dan tongkat Nabi Musa sendiri bukan tongkat yang dapat diperjualbelikan. Apalagi dapat dijual di pasar loak. Tidak mungkin juga akan ada tongkat Nabi Musa ke dua dan ke tiga. Tongkat Nabi Musa ya milik Nabi Musa. Kalaupun mungkin Tuhan memberikan tongkat Nabi Musa untuk presiden Prabowo, apa presiden Prabowo pandai menggunakannya? Apa tidak akan disalahgunakan? Bukankah dulu Prabowo sudah pernah punya tongkat? Itu, tongkat komando. Tapi sudah diambil kembali oleh Panglima TNI waktu itu, Jenderal Wiranto, yang kini merupakan salah satu penasehat presiden Prabowo sendiri. Kalau dipikir-pikir, kekuasaan presiden Prabowo saat ini, melebihi kekuasaan tongkat Nabi Musa waktu itu, hanya saja presiden kita tidak percaya diri atau mungkin tidak sadar atau sadar tapi ada bayang-bayang lain yang menutupi dan membisiki kesadarannya?

Bencana memang bukan sesuatu yang diinginkan oleh siapa saja yang merasa dirinya sebagai makhluk Tuhan. Namun bencana dapat hadir kapan, di mana dan pada saat apa saja. Kita dalam suasana dan keadaan apa saja, bencana bisa tiba-tiba datang. Kita sedang tidur, duduk-duduk, sedang bersenda gurau dengan istri dan anak-anak, sedang memenuhi suatu undangan atau sedang melaksanakan suatu hajatan. Bencana bisa datang dengan tiba-tiba. Tidak diduga-duga. Tidak ada pemberitahuan. Sadar atau tidak sadar, bencana pasti akan datang. Maka jangan kaget. Bencana itu tidak mesti harus besar namun yang kecil dapat juga dikategarikan sebagai bencana. Manusia pun beraksi dan melihatnya dengan berbagai macam bentuknya terhadap bencana, boleh sebagai musibah, ujian, kutukan atau murka Tuhan. Setiap manusia juga harus mampu melihat musibah itu berdasarkan kadar keimanannya. Berdasarkan kadar pengetahuan dan ilmunya. Boleh juga berdasarkan pengalamannya. Atau berdasarkan bahasa yang mampu dimaknainya. Kata Tuhan, “kalian belum Aku anggap hamba-Ku, sebelum kalian Aku uji”.

Pada artikel saya ini juga, saya tidak memandang musibah itu dari sisi sosial, agama atau budaya. Artikel saya ini melihat musibah dari sisi humor. Humor yang saya maksudkan di sini, bukan humor dalam arti kata, saya ingin mentertawakan musibah itu. bukan ingin mentertawakan bencana itu. bukan ingin mentertawakan korban bencana itu. Namun humor yang saya maksudkan di sini, humor dapat hadir dalam situasi atau setelah bencana itu terjadi. Boleh saja humor hadir dari bahasa yang dipakai oleh korban di tengah-tengah bencana, sadar atau tidak sadar. Boleh jadi juga tingkah yang keluar dari korban bencana sehingga membuat orang lain tersenyum dan tertawa. Atau bagi korban bencana sengaja menciptakan humornya dengan tujuan untuk menghibur dirinya.

Kata KH. Abdurrahman Wahid (1986), atau yang kita kenal dengan Gus Dur, humor merupakan sublimasi dari hadirnya sebuah kearifan dalam sebuah masyarakat. Rasa humor yang hadir di tengah-tengah suatu masyarakat merupakan cerminan dari daya tahan yang tinggi, yang hadir di tengah-tengah kepahitan dan kesengsaraan yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Para korban bencana boleh saja sedih, menangis atau menjerit sejadi-jadinya, namun ketika senyum mampu dihadirkan di tengah-tengah kepahitan dan kesengsaraan yang dirasakannya merupakan sebuah daya tahan yang sangat luar biasa. Humor tidak mesti dilihat dari segi negatif, justru humor akan banyak positifnya apabila humor dapat ditempatkan pada sisi dan tempat yang semestinya. Makanya, humor merupakan sebuah daya tahan bagi seseorang yang sedang menghadapi suatu keadaan.

Kata Gus Dur lagi, kemampuan untuk mentertawakan diri sendiri menunjukkan adanya keseimbangan antara tuntutan terhadap kebutuhan dan rasa hati pada satu pihak serta adanya kesadaran akan keterbatasan diri pada pihak lain lagi. Kita perlu adanya suatu kesadaran dalam melihat sebuah musibah atau bencana. Kita perlu adanya rasa bahwa apa yang kita hadapi masih kecil dibandingkan dengan musibah yang dialami dan dihadapi oleh orang lain. Kadang, rasa resiliensi sangat penting agar kita tidak hanya memandang bahwa seolah-olah musibah dan bencana kita-lah satu-satunya yang besar. Yang paling sulit kita hadapi. Untuk itu, semangat, sabar bahkan kita harus bangkit, merupakan satu-satunya yang harus ada dalam diri kita. Bukankah Tuhan berkata, “jangan bersedih”. Jangan larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Sebagaimana janji Tuhan dalam kitab suci-Nya, “setiap kesulitan pasti Tuhan berikan kemudahan dan sesungguhnya setiap kesulitan pasti Tuhan berikan kemudahan”.

Terus lanjut Gus Dur, kesulitan dan kepahitan yang diakibatkan oleh kesengsaraan, kemudian dapat diimbangi oleh pengetahuan nyata akan keharusan menerima kesulitan dan kesengsaraan tanpa patah semangat untuk hidup. Hidup masih panjang, maka apa pun yang dihadapi harus menjadi titi awal dari kehidupan yang mesti dan pasti dijalani selanjutnya. Yang namanya hamba, yang namanya makhluk, yang namanya ‘yang diciptakan’, itu sudah pasti akan ada cobaan, akan ada ujian, akan diuji oleh ‘Yang Menciptakan’ terus-menerus. Ujian dan cobaan tergantung cara seseorang dalam memandangnya. Kalau dalam istilah masyarakat Aceh, kalau orangnya birah, tergores saja, padahal belum tampak keluar darahnya, mungkin akan menjadi musibah atau bencana besar baginya. Tapi bagi orang-orang yang sering menghadapi kesulitan hidup, mungkin sebuah musibah atau bencana yang diterima dan dihadapinya belum dianggapnya besar. Malah akan menjadi batu loncatan baginya untuk bangkit dan menjadi cerminan kebangkitan dari sebuah ujian yang dihadapinya.

Ketika musibah dan bencana terjadi, yang mampu mentertawakan diri kita adalah diri kita sendiri. Tidak mungkin orang lain datang untuk mentertawakan kita. Nanti malah akan ada tuduhan, atau akan dianggap mentertawakan korban bencana. Tersenyum dan tertawa dapat diartikan bagian dari sebuah kebangkitan pada diri seseorang yang tertimpa bencana. Kita mungkin, sering melihat di film-film, ada seseorang yang terkena tembakan tiada henti hingga roboh ke tanah oleh musuh bebuyutannya, kemudian dia terkapar berdarah-darah, ketika ia mencoba untuk bangkit dan tidak mau menerima kekalahannya, lalu memaksakan diri tertawa. Dalam hal musibah dan bencana ini, kenapa kemampuan mentertawakan diri sendiri merupakan bagian yang menentukan? Untuk itulah, seseorang dituntut untuk mampu mengenal dirinya sendiri, sebelum memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal yang ada dalam perilaku diri sendiri seseorang. Sebelum seseorang akan merasakan kepahitan dan kesengsaraan menghampirinya. Tujuannya adalah agar seseorang tidak mengeluh, tidak menjerit, bahkan tidak hilang semangat dan tidak sedih yang berkepanjangan.

Pada sisi musibah dan bencana yang melanda Sumatera, saya belum melihat ada humor dalam masyarakat yang tertimpa bencana. Mungkin saja ada, namun belum saya temukan. Namun yang saya temukan banyak humor lahir di luar masyarakat yang tertimpa musibah dan bencana itu, khususnya lelucon dan lawak yang dilakukan oleh orang-orang gede. Orang hebat. Kaum oligarkhi. Yang saya maksudkan di sini adalah (maaf, jangan bilang-bilang ke orang lain ya?) pihak pemerintah Republik Indonesia sendiri. Saya tidak mengatakan ini sebagai wujud ketidakpedulian mereka atau ketidaktersentuhnya sisi kemanusiaan mereka. Mungkin mereka lagi sibuk mengurus negara ini oleh kesibukan yang berat. Terserah pihak-pihak yang menterjemahkan sendiri.

Kita bisa melihat lelucon presiden Prabowo misalnya. Musibah yang demikian dahsyatnya, sudah memakan korban lebih seribuan, banyak korban kehilangan rumah dan tanahnya, bahkan ada yang dusun dan kampong hilang tanpa bekas. Masih dianggap biasa-biasa saja, masih dianggapnya mampu diselesaikan. Masih terlalu percaya kepada bawahannya. Masih percaya kepada pembisik-pembisiknya. Padahal perkembangan di lapangan sama sekali belum terlihat. Sudah tiga minggu lamanya. Masyarakat perlu sentuhan. Masyarakat perlu harapan dan harapannya adalah kehadiran pemimpin negara di sisinya. Pemimpin betul-betul hadir di tengah-tengah mereka. Bukan pada tempat yang jauh dari musibah. Yang di tempat itu juga penuh simulasi yang seolah-olah mereka semua sangat peduli pada masyarakat yang tertimpa bencana. Padahal itu hanya lawak sesama mereka. Padahal itu hanya Asal Bapak Senang. Hanya akal-akalan.

Kalau pemimpinnya suka pada sesuatu yang penuh rekayasa, maka semua kunjungan dan kehadirannya selalu dipenuhi oleh rekayasa-rekayasa murahan. Tidak ada daya-upayanya untuk tidur langsung di lapangan atau di tengah-tengah lokasi bencana. Dengan itu, presiden dapat memantau langsung. Dapat merasakan langsung penderitaan rakyatnya. Malah dapat memberikan perintah secara langsung. Sehingga dapat membangkitkan atau dapat memberikan semangat untuk bawahan dan anak buahnya untuk bekerja lebih serius. Dapat melihat secara langsung serta merasakan apa yang dialami oleh rakyatnya.

Presiden kita masih rapat ke rapat. Sudah tahu banjir dan longsor ini diakibatkan oleh pembalakan liar, pegundulan hutan, bahkan termasuk penanaman sawit yang berlebihan. Tapi pihak pemerintah terus mengatakan bukan, tidak ditemukan pegundulan hutan. Pihak pemerintah secara ganti-gantian menolak dengan berbagai alsannya. Bahkan presiden dengan mudah dan gampang mengatakan akan membuka lahan kelapa sawit baru di Papua? Menteri pertanian malah ingin membuka ribuan hektar sawah lagi di Papua? Apa yang telah dilihatnya secara langsung di lapangan semata-mata tidak menjadi pengetahuan baginya. Pantas, ketika meninjau ke lapangan presiden hanya mendengar laporan dan apa yang disampaikan oleh oleh bawahannya. Hanya memberi sambutan dan yang hadir pun mereka yang sudah dilatih atau ditatar. Tidak menghadirkan para korban lalu mendengar keluhan mereka, sehingga presiden dapat mengambil kesimpulan dan mengeluarkan beberapa kebijakan untuk menyelesaikan keluhan yang diterima dari rakyatnya. Turun di tengah-tengah masyarakatnya hanya dalam waktu terbatas dan selanjutnya mengejar agenda di tempat lain lagi. Betapa lucunya tingkah dan laku pemimpin kita terhadap rakyatnya.

Ketika Sumatera sudah kolap dengan bencana, pihak pemerintah dengan santainya ingin membuka lahan di tempat lainnya. Dan ini seperti ingin menolak anggapan dan apa yang sedang masyarakat rasa dan alami. Presiden juga menolak ditetapkannya status bencana nasional sambil menolak bantuan beberapa negara luar terhadap masyarakat berdampak bencana. Menterinya malah menganggap bantuan yang diberikan oleh negara lain masih kecil dibandingkan oleh Negara Republik Indonesia sendiri. Menteri kita ini masih menghitung-hitung lalu mebanding-bandingkan. Kita menjadi malu punya menteri yang meremehkan terhadap bantuan dari Negara tetangganya. Ketika orang lain membantu dan kita dalam keadaan kesusahan, bukan nominalnya yang dilihat, tapi betapa ikhlasnya mereka membantu dan merasakan penderitaan yang kita alami dan rasakan. Malah ada menterinya yang lain lagi, datang membawa beberapa truk bantuan dari pemerintah, sambil menekan kepala daerah untuk tidak meminta status bencana nasional. Lalu kepala daerah tertentu dengan wajah tertekan bicara di depan pers bahwa pemerintah hadir untuk membantu dan meringankan masyarakat dampak bencana

Ada juga menteri yang datang sambil memanggul karung beras, sebagai sebuah pencitraan bahwa menteri tersebut memiliki rasa kepeduliannya. Setelah itu pulang ke Jakarta makan makanan enak dan lezat sambil menghisap cerutu. Ada juga wakil rakyat sebuah partai politik datang dengan gaya selebritis sambil menjual ketampanannya, memakai rompi, sampai-sampai ada yang nyelutuk, sudah seperti tentara Israel saja. Padahal masyarakat korban bencana masih berjibaku dengan lumpur dan bantuan banyak yang belum tersentuh dan sampai ke masyarakat korban bencana. Ada juga wakil rakyat merasa kalah saing dengan pekerja sosial yang nyata-nyatanya turun langsung ke tengah-tengah masyarakat korban bencana sambil membantu meringankan beban para korban. Padahal si wakil rakyat tersebut belum terlihat batang hidungnya berada di tengah-tengah masyarakat yang berdampak musibah bencana. Lain lagi dengan ulah menteri kehutanan dan kroninya, dengan senyam-senyum tidak jelas, bicara tentang regulasi, mengancam perusahaan ini dan itu. Masih banyak lagi lelucon-lelucon dan humor-humor yang tidak memiliki bobotnya hadir di tengah masyarakat lagi bertahan hidup, sedangkan bantuan masih tersendat. Kita memang bangsa yang banyak dan unggul dalam pencitraan dan retorika.

Ada juga berton-ton bantuan yang belum bisa masuk ke daerah bencana dikarenakan ditahan dan dilarang masuk oleh kebijakan pemerintah Republik Indonesia sendiri. Yang sangat menyedihkan adalah bantuan sudah di depan mata, tapi melalui perpanjangtangan pemerintah ditolak dan terpaksa bantuan yang sudah sampai di depan mata, harus dikembalikan ke negara asalnya. Masyarakat tidak hanya dari dalam negeri saja, juga dari luar negeri, seperti masyarakat Aceh perantauan di Malaysia, yang sudah mengumpulkan berton-ton bantuan, yang tujuannya adalah membantu keluarga dan saudaranya di Aceh, tapi apa jadinya? Malah masih tertahan dan tidak bisa mauk ke Aceh. Kalau sudah begini jadinya, menjadi wajar kalau banyak netizen (dalam dan luar negeri) mengecam tindakan pemerintah itu sendiri. Satu sisi masyarakat korban bencana terharu dan sangat ingin menerima bantuan, tapi pada sisi lain masyarakat mesti menelan ludah dari mulutnya yang sudah kering, karena bantuan yang sudah di depan matanya tidak kunjung dapat diterimanya. Peresiden terus berulang-ulang mengatakan, “kita masih mampu menangani masyarakat kita sendiri, kita belum membutuhkan bantuan asing”.

Dalam kondisi musibah seperti ini, kita seperti sebuah dilema. Pemerintah sering berkata begini kemudian pada kesempatan yang lain berkata lain lagi. Kadang pemerintah mengeluarkan ucapannya yang berlawanan; pada satu kesempatan berkoar-koar akan menindak siapa saja dan perusahaan apa saja yang menebang pohon sembarangan. Tapi pada kesempatan yang lain memerintahkan untuk menanam kelapa sawit di tempat lain lagi. Bukankah untuk menanam kelapa sawit mesti ada lahan yang harus dibabat hutannya? Kita memang penuh dilema, satu segi kita punya presiden yang memang-memang dari umurnya sudah terlalu dan kelewat tua, tapi pada segi yang lain, kita punya wakil presiden yang belum cukup umurnya? Bicaranya juga masih belum nyambung. Dalam setiap kesempatan, kita dapat melihat, ditanya sesuatu oleh masyarakat, jawabannya selalu diawal mengena, tapi di tengah sampai ke ujungnya ngawur. Pidatonya lebih banyak kata; ‘ini paling penting’ atau ‘yang paling penting’ daripada kata berisi lainnya. Mungkin kita dapat melihat ketika wakil presiden kita berkunjung ke Bali ketika ingin melihat masyarakat korban banjir. Masak ada masyarakat yang berani berkata, “tolong bapak perintahkan kepada anak buah bapak saja, agar bapak tidak usah datang lagi nantinya”.

Sungguh sebuah ironi bagi korban bencana. Kita tidak berlu terlalu berharap banyak dari pemerintah kita; walaupun ketika kita tidak berharap terlalu banyak, memang itu maunya pemerintah. Tapi dengan pelan-pelan dan sedikit demi sedikit kita harus bangkit. Kita lupakan masa lalu yang salah memilih atau terlalu percaya dengan berbagai alasan yang kita terima. Mungkin kita terlalu percaya presiden kita ini dari institusi ini, orangnya begini, akan menjadikan negara kita nantinya begini, akan ditakuti oleh negara lain, dan sebagainya. Apa jadinya, ternyata itu bodong. Betapa humor yang mereka perlihatkan membuat kita sakit hati bahkan sangat memprihatinkan. Namun begitu kita masih dapat tertawa dengan humor-humor yang hadir dalam diri kita, yang tujuannya adalah untuk membangkitkan semangat hidup dari sebuah kepahitan yang sedang kita alami dan rasakan sendiri. Ketika kita dalam keadaan musibah dan mengalami bencana, hanya diri kita sendirilah yang dapat membuat kita tertawa. Tertawa bukan karena menyakitkan, tetapi tertawa karena kita masih ada semangat untuk hari esok yang lebih baik. Dan humor merupakan senjata paling ampun bagi suatu masyarakat dalam memelihara kewarasannya, tanpa harus merasakan lagi sakit atau lagi sehat.

Sekali humor, tetap humor. Hidup humor!

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi