Penulis Raudhatul Jannah – Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Email: rrauzah248@gmail.com
Akhir-akhir ini ramai dibicarakan soal penggunaan Artificial Intelligence (AI) di kalangan mahasiswa. Kecerdasan buatan kini semakin populer, terutama karena kemampuannya membantu menyelesaikan berbagai tugas akademik. Mulai dari pembuatan makalah, tugas kuliah, hingga penulisan skripsi, banyak mahasiswa yang memanfaatkan layanan seperti ChatGPT, Gemini, atau Perplexity.
Bagi sebagian mahasiswa, AI dianggap sebagai “teman belajar” yang siap membantu kapan saja. Sebagai mahasiswa, saya juga mengakui bahwa AI sangat membantu ketika membutuhkan jawaban cepat atau referensi tambahan. Bahkan, ada yang menyebut AI sebagai “asisten pribadi” yang bisa memberikan ide, menyusun struktur tulisan, hingga mengedit tugas presentasi. Tidak heran jika banyak mahasiswa kini mulai bergantung pada teknologi ini.
Namun, di balik semua kemudahan tersebut, muncul sisi negatif yang tak bisa diabaikan. Ketergantungan terhadap AI membuat sebagian mahasiswa kehilangan kemampuan berpikir kritis. Saat dosen memberikan tugas, tidak sedikit yang langsung menyalin hasil dari AI tanpa membaca atau memahami isinya. Akibatnya, kemampuan menulis, menganalisis, dan berargumentasi semakin menurun. Jika kebiasaan ini terus dibiarkan, mahasiswa berisiko kehilangan jati diri akademik mereka sendiri.
Fenomena ini juga berdampak pada integritas akademik. Tugas atau karya ilmiah yang disusun dengan bantuan AI sering kali tidak lagi mencerminkan kemampuan asli mahasiswa. Karena itu, beberapa kampus mulai menetapkan aturan pembatasan penggunaan AI, terutama untuk karya ilmiah dan skripsi. Banyak mahasiswa yang akhirnya kesulitan saat sidang karena tidak benar-benar memahami isi tulisannya sendiri sebab sebagian besar dihasilkan oleh mesin, bukan hasil pemikirannya.
Meski begitu, AI tidak selalu membawa dampak negatif. Jika digunakan secara bijak, AI justru bisa menjadi alat bantu belajar yang efektif. Mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk mencari ide baru, memahami struktur tulisan akademik, atau mempelajari konsep yang sulit dijelaskan di kelas. Kuncinya adalah menempatkan AI sebagai pendukung, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia. Jawaban yang diberikan AI sebaiknya disaring terlebih dahulu, bukan diterima mentah-mentah.
Menolak AI sepenuhnya juga bukan solusi. Mahasiswa yang lahir di era digital harus belajar hidup berdampingan dengan teknologi. AI dapat membantu mereka memahami materi kuliah dan mempercepat proses belajar, asalkan hasil akhirnya tetap disusun dengan pemikiran sendiri. Dengan begitu, kemampuan berpikir kritis tetap terasah dan efisiensi belajar tetap terjaga.
Fenomena ini juga menjadi pengingat bagi dosen dan lembaga pendidikan. Metode pengajaran dan penilaian harus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Misalnya, tugas-tugas sebaiknya menekankan pada analisis pribadi, refleksi, atau kerja kolaboratif yang menuntut orisinalitas. Dengan cara ini, mahasiswa terdorong untuk tetap berpikir kreatif dan kritis, bukan sekadar mencari jawaban cepat dari mesin.
Pada akhirnya, fenomena AI di kalangan mahasiswa tidak bisa dilihat secara hitam putih. AI dapat menjadi alat bantu yang luar biasa jika digunakan dengan bijak, namun juga bisa menjadi jebakan jika disalahgunakan. Jawaban dari pertanyaan “AI membantu atau malah sebaliknya?” bergantung pada penggunanya sendiri seberapa cerdas dan bertanggung jawab mahasiswa dalam memanfaatkannya.



























































Leave a Review