Katacyber.com | Kutacane– Polemik pengelolaan Universitas Gunung Leuser (UGL) yang dinilai penuh praktik manipulatif akademik masih menjadi sorotan publik dan netizen se-tanah air, Kamis (23/10/2025).
Reza Irawan Syah Putra sebagai Kepala Biro Katacyber.com Aceh Tenggara mengatakan temuan investigasi yang dimaksud dibantah oleh narasi prestasi yang dilakukan oleh Rektor Universitas Gunung Leuser (UGL), Dr. Indra Utama dengan dalih UGL berprestasi, serta menunjukkan sertifikat penghargaan.
“Jangan hanya karena sentimen pribadi, anda menebar fitnah dan kebencian. Saya paham siapa dibalik anda.” Ujar Rektor UGL sembari menampakkan sertifikat.
Sementara itu, Reza menilai sikap rektor UGL tersebut seolah-olah tidak paham terkait praktik buruk yang telah menjadi rahasia umum serta dianggap lazim di UGL, misalnya sistem perjokian hingga jual beli nilai terhadap mahasiswa.
“Saya memandang ini sebagai sebuah absurditas dan ironi besar di tengah iklim skeptisisme publik yang semakin menajam. Sebuah fakta sederhana patut menjadi renungan: Di negeri ini, kredensial akademik setingkat Ijazah milik Presiden Republik Indonesia saja terus-menerus menjadi bahan polemik dan gugatan publik. Lantas, atas dasar apa Rektor UGL merasa cukup dan percaya diri mengklaim prestasi hanya bermodalkan sertifikat?” tegas Reza.
Selanjutnya, Reza menyarankan agar Rektor UGL jangan melupakan prinsip tahu sama tahu dalam praktik mafia pendidikan di Aceh Tenggara, sehingga temuan investigasi biro katacyber.com Aceh Tenggara tidak dianggap sebagai ancaman, melainkan dapat dijadikan landasan evaluasi dan pembenahan agar UGL dikelola secara berintegritas dan transparan.
“Upaya memoles citra dengan menonjolkan sertifikat partisipasi baik itu seminar, lokakarya, atau pelatihan merupakan sebuah evaluasi terhadap makna prestasi yang sesungguhnya dalam konteks kepemimpinan akademik. Itu lucu. Prestasi seorang Rektor tidak diukur dari seberapa banyak ia duduk sebagai peserta atau tamu di sebuah acara. Prestasi sejati diukur dari terobosan kebijakan, peningkatan mutu lulusan, transparansi tata kelola, dan yang paling fundamental: keberaniannya membersihkan kampus dari praktik-praktik lancung yang merusak integritas. Ketika kampus masih diselimuti isu dugaan jual beli nilai dan perjokian, klaim prestasi berbasis sertifikat adalah sebuah narasi membual.” terang Reza (23/10).
Reza menyandingkan polemik sertifikat yang ditonjolkan Rektor UGL tersebut dengan polemik Ijazah Jokowi yang masih menjadi perbincangan politik tanah air.
“Sertifikat atau ijazah bukanlah ukuran yang tepat dalam menilai sistem atau praktik pendidikan yang jujur. Polemik berkepanjangan mengenai ijazah Presiden Jokowi misalnya, seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pejabat publik, terutama di dunia pendidikan. Seharunya Rektor UGL paham maksud ini. Sikap Rektor UGL Indra Utama yang mengklaim prestasinya dengan sertifikat di tengah standar publik yang sekritis itu, bukan hanya naif, tetapi juga terkesan meremehkan nalar kritis masyarakat Aceh Tenggara.” ujar Reza lagi.
Hingga berita ini dipublikasi, Reza mengaku telah menjaga sejumlah nama para saksi dan bukti terkait polemik praktik buruk di UGL, sehingga saksi dan bukti tidak perlu disampaikan kepada pihak UGL. Alasannya demi menjaga kode etik terkait keamanan narasumber dalam investigasi.
“Seharusnya Rektor UGL Indra Utama bersikap dewasa dan mengedepankan jiwa seorang rektor yang berwawasan luas serta visioner, bukan justru menghabiskan energi untuk berapologi dan menuding temuan investigasi kami adalah bentuk fitnah dan menyebar kebencian. Panggung kampus harus merdeka, cerdas menerima kritikan. Juga seharusnya Rektor UGL itu malu dengan memamerkan koleksi sertifikat tapi kenyataan buruk. Publik di Aceh Tenggara pun tahu kondisi manipulatif UGL dari dulu hingga kini.” tutup Reza.





















































Leave a Review